Followers

Tuesday, September 8, 2009

Biografi Al Alamah Al arifbillah Almusnid Al Habib Umar Bin Hafidz

Al-Habib ‘Umar bin Hafiz

Beliau adalah al-Habib ‘Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafiz putera dari Abd-Allah putera dari Abi Bakr putera dari‘Aidarous putera dari al-Hussain putera dari al-Shaikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari ‘Abd-Allah putera dari ‘Abd-al-Rahman putera dari ‘Abd-Allah putera dari al-Shaikh ‘Abd-al-Rahman al-Saqqaf putera dari Muhammad Maula al-Daweela putera dari ‘Ali putera dari ‘Alawi putera dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad putera dari ‘Ali putera dari Muhammad Sahib al-Mirbat putera dari ‘Ali Khali‘ Qasam putera dari ‘Alawi putera dari Muhammad putera dari ‘Alawi putera dari ‘Ubaidallah putera dari al-Imam al-Muhajir to Allah Ahmad putera dari ‘Isa putera dari Muhammad putera dari ‘Ali al-‘Uraidi putera dari Ja’far al-Sadiq putera dari Muhammad al-Baqir putera dari ‘Ali Zain al-‘Abidin putera dari Hussain sang cucu laki-laki, putera dari pasangan ‘Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah al-Zahra puteri dari Rasul Muhammad s.a.w.

Beliau terlahir di Tarim, Hadramaut, salah satu kota tertua di Yaman yang menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim ulama yang dihasilkan kota ini selama berabad-abad. Beliau dibesarkan di dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam dan kejujuran moral dengan ayahnya yang adalah seorang pejuang martir yang terkenal, Sang Intelektual, Sang Da’i Besar, Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Shaikh Abu Bakr bin Salim. Ayahnya adalah salah seorang ulama intelektual Islam yang mengabdikan hidup mereka demi penyebaran agama Islam dan pengajaran Hukum Suci serta aturan-aturan mulia dalam Islam. Beliau secara tragis diculik oleh kelompok komunis dan diperkirakan telah meninggal, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Demikian pula kedua kakek beliau, al-Habib Salim bin Hafiz dan al-Habib Hafiz bin Abd-Allah yang merupakan para intelektual Islam yang sangat dihormati kaum ulama dan intelektual Muslim pada masanya. Allah seakan menyiapkan kondisi-kondisi yang sesuai bagi al-Habib ‘Umar dalam hal hubungannya dengan para intelektual muslim disekitarnya serta kemuliaan yang muncul dari keluarganya sendiri dan dari lingkungan serta masyarakat dimana ia dibesarkan.

Beliau telah mampu menghafal Al Qur’an pada usia yang sangat muda dan ia juga menghafal berbagai teks inti dalam fiqh, hadith, Bahasa Arab dan berbagai ilmu-ilmu keagamaan yang membuatnya termasuk dalam lingkaran keilmuan yang dipegang teguh oleh begitu banyaknya ulama-ulama tradisional seperti Muhammad bin ‘Alawi bin Shihab dan al-Shaikh Fadl Baa Fadl serta para ulama lain yang mengajar di Ribat, Tarim yang terkenal itu. Maka beliau pun mempelajari berbagai ilmu termasuk ilmu-ilmu spiritual keagamaan dari ayahnya yang meninggal syahid, al-Habib Muhammad bin Salim, yang darinya didapatkan cinta dan perhatiannya yang mendalam pada da’wah dan bimbingan atau tuntunan keagamaan dengan cara Allah s.w.t. Ayahnya begitu memperhatikan sang ‘Umar kecil yang selalu berada di sisi ayahnya di dalam lingkaran ilmu dan dhikr.

Namun secara tragis, ketika al-Habib ‘Umar sedang menemani ayahnya untuk sholat Jum‘ah, ayahnya diculik oleh golongan komunis, dan sang ‘Umar kecil sendirian pulang ke rumahnya dengan masih membawa syal milik ayahnya, dan sejak saat itu ayahnya tidak pernah terlihat lagi. Ini menyebabkan ‘Umar muda menganggap bahwa tanggung jawab untuk meneruskan pekerjaan yang dilakukan ayahnya dalam bidang Da‘wah sama seperti seakan-akan syal sang ayah menjadi bendera yang diberikan padanya di masa kecil sebelum beliau mati syahid. Sejak itu, dengan sang bendera dikibarkannya tinggi-tinggi, ia memulai, secara bersemangat, perjalanan penuh perjuangan, mengumpulkan orang-orang, membentuk Majelis-majelis dan da’wah. Perjuangan dan usahanya yang keras demi melanjutkan pekerjaan ayahnya mulai membuahkan hasil. Kelas-kelas mulai dibuka bagi anak muda maupun orang tua di mesjid-mesjid setempat dimana ditawarkan berbagai kesempatan untuk menghafal Al Qur’an dan untuk belajar ilmu-ilmu tradisional.

Ia sesungguhnya telah benar-benar memahami Kitab Suci sehingga ia telah diberikan sesuatu yang khusus dari Allah meskipun usianya masih muda. Namun hal ini mulai mengakibatkan kekhawatiran akan keselamatannya dan akhirnya diputuskan beliau dikirim ke kota al-Bayda’ yang terletak di tempat yang disebut Yaman Utara yang menjadikannya jauh dari jangkauan mereka yang ingin mencelakai sang sayyid muda.

Disana dimulai babak penting baru dalam perkembangan beliau. Masuk sekolah Ribat di al-Bayda’ ia mulai belajar ilmu-ilmu tradisional dibawah bimbingan ahli dari yang Mulia al-Habib Muhammad bin ‘Abd-Allah al-Haddar, semoga Allah mengampuninya, dan juga dibawah bimbingan ulama mazhab Shafi‘i al-Habib Zain bin Sumait, semoga Allah melindunginya. Janji beliau terpenuhi ketika akhirnya ia ditunjuk sebagai seorang guru tak lama sesudahnya. Ia juga terus melanjutkan perjuangannya yang melelahkan dalam bidang Da‘wah.

Kali ini tempatnya adalah al-Bayda’ dan kota-kota serta desa-desa disekitarnya. Tiada satu pun yang terlewat dalam usahanya untuk mengenalkan kembali cinta kasih Allah dan Rasul-Nya s.a.w pada hati mereka seluruhnya. Kelas-kelas dan majelis didirikan, pengajaran dimulai dan orang-orang dibimbing. Usaha beliau yang demikian gigih menyebabkannya kekurangan tidur dan istirahat mulai menunjukkan hasil yang besar bagi mereka tersentuh dengan ajarannya, terutama para pemuda yang sebelumnya telah terjerumus dalam kehidupan yang kosong dan dangkal, namun kini telah mengalami perubahan mendalam hingga mereka sadar bahwa hidup memiliki tujuan, mereka bangga dengan indentitas baru mereka sebagai orang Islam, mengenakan sorban/selendang Islam dan mulai memusatkan perhatian mereka untuk meraih sifat-sifat luhur dan mulia dari Sang Rasul Pesuruh Allah s.a.w.

Sejak saat itu, sekelompok besar orang-orang yang telah dipengaruhi beliau mulai berkumpul mengelilingi beliau dan membantunya dalam perjuangan da‘wah maupun keteguhan beliau dalam mengajar di berbagai kota besar maupun kecil di Yaman Utara. Pada masa ini, beliau mulai mengunjungi banyak kota-kota maupun masyarakat diseluruh Yaman, mulai dari kota Ta’iz di utara, untuk belajar ilmu dari mufti Ta‘iz al-Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya yang mulai menunjukkan pada beliau perhatian dan cinta yang besar sebagaimana ia mendapatkan perlakuan yang sama dari Shaikh al-Habib Muhammad al-Haddar sehingga ia memberikan puterinya untuk dinikahi setelah menyaksikan bahwa dalam diri beliau terdapat sifat-sifat kejujuran dan kepintaran yang agung.

Tak lama setelah itu, beliau melakukan perjalanan melelahkan demi melakukan ibadah Haji di Mekkah dan untuk mengunjungi makam Rasul s.a.w di Madinah. Dalam perjalanannya ke Hijaz, beliau diberkahi kesempatan untuk mempelajari beberapa kitab dari para ulama terkenal disana, terutama dari al-Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad al-Saqqaf yang menyaksikan bahwa di dalam diri ‘Umar muda, terdapat semangat pemuda yang penuh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya s.a.w dan sungguh-sungguh tenggelam dalam penyebaran ilmu dan keadilan terhadap sesama umat manusia sehingga beliau dicintai al-Habib Abdul Qadir salah seorang guru besarnya. Begitu pula beliau diberkahi untuk menerima ilmu dan bimbingan dari kedua pilar keadilan di Hijaz, yakni al-Habib Ahmed Mashur al-Haddad dan al-Habib ‘Attas al-Habashi.

Sejak itulah nama al-Habib Umar bin Hafiz mulai tersebar luas terutama dikarenakan kegigihan usaha beliau dalam menyerukan agama Islam dan memperbaharui ajaran-ajaran awal yang tradisional. Namun kepopuleran dan ketenaran yang besar ini tidak sedikitpun mengurangi usaha pengajaran beliau, bahkan sebaliknya, ini menjadikannya mendapatkan sumber tambahan dimana tujuan-tujuan mulia lainnya dapat dipertahankan. Tiada waktu yang terbuang sia-sia, setiap saat dipenuhi dengan mengingat Allah dalam berbagai manifestasinya, dan dalam berbagai situasi dan lokasi yang berbeda. Perhatiannya yang mendalam terhadap membangun keimanan terutama pada mereka yang berada didekatnya, telah menjadi salah satu dari perilaku beliau yang paling terlihat jelas sehingga membuat nama beliau tersebar luas bahkan hingga sampai ke Dunia Barat.

Negara Oman akan menjadi fase berikutnya dalam pergerakan menuju pembaharuan abad ke-15. Setelah menyambut baik undangan dari sekelompok Muslim yang memiliki hasrat dan keinginan menggebu untuk menerima manfaat dari ajarannya, beliau meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak kembali hingga beberapa tahun kemudian. Bibit-bibit pengajaran dan kemuliaan juga ditanamkan di kota Shihr di Yaman timur, kota pertama yang disinggahinya ketika kembali ke Hadramaut, Yaman. Disana ajaran-ajaran beliau mulai tertanam dan diabadikan dengan pembangunan Ribat al-Mustafa. Ini merupakan titik balik utama dan dapat memberi tanda lebih dari satu jalan, dalam hal melengkapi aspek teoritis dari usaha ini dan menciptakan bukti-bukti kongkrit yang dapat mewakili pengajaran-pengajaran di masa depan.

Kepulangannya ke Tarim menjadi tanda sebuah perubahan mendasar dari tahun-tahun yang ia habiskan untuk belajar, mengajar, membangun mental agamis orang-orang disekelilingnya, menyebarkan seruan dan menyerukan yang benar serta melarang yang salah. Dar-al-Mustafa menjadi hadiah beliau bagi dunia, dan di pesantren itu pulalah dunia diserukan. Dalam waktu yang dapat dikatakan demikian singkat, penduduk Tarim akan menyaksikan berkumpulnya pada murid dari berbagai daerah yang jauh bersatu di satu kota yang hampir terlupakan ketika masih dikuasai para pembangkang komunis. Murid-murid dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Kepulauan Comoro, Tanzania, Kenya, Mesir, Inggris, Pakistan, Amerika Serikat dan Kanada, juga negara-negara Arab lain dan negara bagian di Arab akan diawasi secara langsung oleh Habib Umar. Mereka ini akan menjadi perwakilan dan penerus dari apa yang kini telah menjadi perjuangan asli demi memperbaharui ajaran Islam tradisional di abad ke-15 setelah hari kebangkitan. Berdirinya berbagai institusi Islami serupa di Yaman dan di negara-negara lain dibawah manajemen al-Habib Umar akan menjadi sebuah tonggak utama dalam penyebaran Ilmu dan perilaku mulia serta menyediakan kesempatan bagi orang-orang awam yang kesempatan tersebut dahulunya telah dirampas dari mereka.

Habib ‘Umar kini tinggal di Tarim, Yaman dimana beliau mengawasi perkembangan di Dar al-Mustafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun dibawah manajemen beliau. Beliau masih memegang peran aktif dalam penyebaran agama Islam, sedemikian aktifnya sehingga beliau meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya.

AbuBakar Dan Benih Kehidupan

Mawlana Syaikh Nazim Adil, Mercy Oceans Book Two


Rasulullah bersabda bahwa buku catatan (amal) setiap orang akan ditutup ketika dia sudah meninggal, kecuali untuk 3 golongan. Yang pertama adalah mereka yang mengajak orang lain ke jalan yang benar melalui tulisan atau bukunya. Selama ada yang memperoleh petunjuk lewat tulisannya, dia masih mendapat rahmat Allah. Yang kedua adalah orang yang mengeluarkan sejumlah amal jariyah. Selama orang masih memanfaatkan pemberiannya itu, buku catatannya masih tetap ditulis setiap saat. Yang ketiga adalah orang yang meninggalkan anak yang saleh yang terus mendo’akannya. Selama mereka masih berdo’a, buku catatan orang tuanya tidak tertutup.
Allah Maha Mengetahui dan Dia membuat jalan bagi keimanan sesorang, orang tua dan leluhur anda, bahkan pada saat2 terakhir sekalipun. Kita harus bersyukur dengan rahmat Allah tersebut. Jika Allah memberikan izin perantaraan kepada Saya, Saya akan meminta untuk semua leluhur anda. Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani bercerita tentang Abu Bakar as Siddiq , sahabat Rasulullah yang paling terkenal di antara sahabat lainnya. Rasulullah mengagungkan nya dengan mengatakan bahwa jika iman Abu Bakar dibandingkan dengan seluruh ummat manusia, iman yang dimilikinya masih lebih berat. Pada Hari Perjanjian setiap orang akan ditanya oleh Allah, “Apakah Aku Tuhanmu?” kita semua menjawab, “Ya, Engkau adalah Tuhan kami.” Pada hari itu kalau bukan karena jasa Abu Bakar yang mengajarkan semua orang dengan kekuatan spiritualnya, tentu tidak ada seorang pun yang bisa menjawab benar.

Grandsyaikh melanjutkan bahwa setiap orang mempunyai satu bagian iman Abu Bakar , termasuk orang yang lemah imannya. Dari bagian itu begitu banyak orang akan masuk surga, tidak peduli orang itu menjalankan shalat atau tidak. Bagian iman itu menjaga setiap orang dari akhir yang buruk dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kalimat “Laa ilaha ilallah Muhammadur rasulullah” telah terukir dalam hati kita, hanya perlu satu kesempatan untuk menunjukkannya. Suatu ketika Saya pergi ke Madinah bersama Grandsyaikh, melewati gunung, lembah dan padang pasir yang gundul, tidak satu pun tanaman yang tampak.

Ketika kami tiba di Madinah, hujan turun selama 3 hari kemudian berhenti. 2 bulan kemudian kami kembali ke Damaskus, melewati jalan yang sama namun kali ini terlihat berbeda. Seluruh permukaan tanah dipenuhi rumput dan beraneka ragam bunga. Saya berdo’a, “Ya Allah, di mana benih-benih itu bersembunyi?” Allah telah menjaga mereka. Ketika rahmat dan kasih-sayang-Nya turun dalam bentuk hujan, dengan cepat mereka tumbuh. Begitu banyak orang yang mempunyai benih keimanan dalam hatinya. Benih itu terpendam jauh dalam hatinya dan mereka menunggu datangnya hujan rahmat. Rahmat tersebut bisa saja tertunda sampai akhir hayatnya. Ketika seseorang yang terbaring di tempat tidur menjelang ajalnya mulai menangis, maka tangisan itu akan mengundang datangnya rahmat, bahkan walaupun hanya dengan setetes air mata. Allah berfirman, “hamba-Ku menangis,” kemudian benih keimanan mulai terbuka, memenuhi hatinya sehingga hati menjadi hijau dengan cahaya keimanan yang sesungguhnya. Bagaikan gurun pasir yang ditumbuhi rerumputan, kemudian kematian datang kepadanya dan dia mulai menangis.
Itulah tandanya bahwa rahmat telah datang kepadanya. Hanya jika nyawa telah sampai ke tenggorokan lalu orang itu bersendawa barulah pintu taubat tertutup. Bisakah kalian menemukan orang yang tidak menangis menjelang kematiannya? Allah tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya. Dia mempunyai rahmat yang tidak terhingga dan dalam samudera rahmat-Nya kita semua bukanlah apa-apa. Setiap saat iman berkembang dan bertambah kuat, begitu juga dengan rahmat Allah. Jika anda melihat orang yang tampaknya kurang mendapat rahmat, ketahuilah bahwa dia juga sebenarnya kurang beriman. Rasulullah telah diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Siapa pun yang ingin menjerumus kan orang lain ke dalam neraka berarti dia tidak bersama Rasulullah. Ketika Nabi Musa marah kepada Korah karena yang bersangkutan dituduh berzina, beliau melakukan shalat 2 rakaat untuk memutuskan hukuman apa yang akan diberikan.

Allah berfirman kepadanya, “Lakukan apa yang kamu suka.” Nabi Musa memerintahkan bumi untuk menelannya. Ketika Korah mulai terbenam, dia memohon kepada Nabi Musa untuk memaafkannya, Wahai Musa, demi hubungan saudara kita, maafkanlah aku.” Korah semakin dalam ditelan bumi. Kemudian dia memohon lagi, sampai 3 kali ketika akhirnya seluruh tubuhnya tenggelam dalam perut bumi. Allah memperingatkan Nabi Musa , “Wahai Musa! Mengapa kamu tidak memaafkan Korah padahal dia sudah meminta maaf berkali-kali? Dengan Kebesaran dan Kemuliaanku, jika dia memanggil Nama-Ku sekali dan memohon, ‘Ya Tuhanku! Ampunilah aku’ Aku akan segera mengampuni nya. Wahai Musa! Kamu bukanlah yang menciptakannya, jadi kamu tidak mengetahui apa-apa mengenai kasih-sayang.

Akulah Sang Pencipta, dan Aku Maha Mengetahui (mengenai) kasih-sayang kepada ciptaanku.” Allah ingin membawa orang-orang ke dalam Samudera Rahmat-Nya dengan bermacam-macam cara. Kita harus mempunyai harapan untuk memperoleh rahmat-Nya. Ini adalah salah satu atribut Ilahi dan Allah senang melihat hamba-Nya mengenakan atribut-Nya. Seperti sabda Rasulullah ,“Wahai ummatku, berikanlah rahmat dan kasih-sayang kepada segala sesuatu di Bumi, sehingga Dia yang berada di Surga akan memberi rahmat dan kasih-sayang-Nya kepadamu.”

Mencari Cahaya SejatiNYA

KAPAN pun pencari spiritual yang penuh
kerinduan berusaha berhenti pada sesuatu yang
disingkapkan kepadanya,

maka ia diseru oleh suara-suara dari al-Haqq:

"Apa yang kamu cari masih ada di hadapanmu."

Dan aspek-aspek eksternal makhluk hampir tidak pernah menunjukkan pesonanya,

sehingga suara-suara
dari realitas batin mereka berseru,

“Ini hanyalah cobaan, maka janganlah kamu kafir!"

(Q.S. 2: 102)

PENCARI spiritual yang bersungguh-sungguh ter­kadang dibimbangkan oleh penglihatan batin dan pencerahan (yang dia alami). Allah memerintahkan untuk menyembah denga total dan sepenuhnya kepada nur-Nya yang absolut, bukan pada pantulan-­pantulannya yang sekunder. Jika kamu benar-benar dan bersungguh-sungguh mencari Kebenaran, maka kamu akan diarahkan untuk menggapai (saat) terbukanya selubung. Tetapi jika sebaliknya, maka kamu berada dalam konflik-konflik dan penderi­tan-penderitaan makhluk yang terus-menerus akibat syirik yang halus serta selubung-selubung (tabir/hijab) lainnya.

Ibnu Athoillah as Sakandary (Al-Hikam)


Uang dan Harta ( Mawlana syaikh Nazim al haqqani )

Orang hanya sibuk menghiasi diri mereka sendiri, mereka sangat mementingkan penampilan mereka. Tetapi yang penting dalam Hadirat Allah swt adalah spiritual kalian, bukan fisik kalian. Jikatubuh fisik mempunyai nilai, mereka telah mendirikan sebuah pasar untukjual-beli jasad yang sudah mati, tetapi tak seorang pun yangmenginginkan jasad mati tersebut. Tubuh fisik ini tidak mempunyai nilai dan kita juga mengetahui hal ini, tetapi ke mana perhatian kita? Bersama tubuh fisik kita atau bersama Allah swt? Mereka boleh saja mengenakan pakaian yang sangat indah, tetapi tetap saja itu tidak bernilai. Selama 24 jam mereka hanya berpikir: apa yang akan saya makan, minum dan saya pakai hari ini? Semua usaha ini adalah bukan untuk apa-apa, karena tubuh akan berakhir di kuburan.


Apa yang kita lakukan untuk Allah swt?


Setiap hari di waktu malam, tanyakan pada diri kalian sendiri: apa yang telah kulakukan untuk Allah swt?...

Eh, seharian aku mengumpulkan kertas. Kertas macam apa? Koran? Bukan, uang! Adasalah satu saudara kita yang pintar yang membawa satu bundel nota bankbekas kepada saya, ia telah mengumpulkannya, dibersihkan dan disetrika,bukannya menukarnya di bank untuk nota bank baru yang tak terpakai. Orang-orangbegitu sibuknya mengambil uang di bank dan menabungnya, merekaterobsesi dengan hal itu, dan itu bukanlah suatu atribut yang baik. Mengapa kalian menyimpan uang di bank? Saya berkata pada mereka, “Berikan uang kertas kalian, Saya akan menukarnya dengan emas akhirat,” tetapi orang-orang menolak dan bertanya, “Bagaimana mungkin?” “Berikan uang kertas kalian demi Allah swt, dan kalian akan mempunyai tukarannya berupa emas akhirat. Tetapi orang tidak menerima pertukaran semacam itu. Gunakan uang kalian demi Allah swt di sini, dan di akhirat kalian akan menemukan dengan bunga berupa emas. Di lain pihak nota bank dan kartu kredit tidak mempunyai nilai lagi. Tangan orang-orang akan bergetar, ketika mereka harus memberikan bahkan 5 Lira. Dan jika kalian akan memberikan emas di sini, demi Allah swt, kalian akan menemukan emas di akhirat sebagai bunganya. Sementara di lain pihak, kartu kredit tidak berguna. Tetapi orang-orang seperti tengah mabuk sekarang.


Mereka mengatakan kepada saya, di Istanbul sebuah pabrik terbakar dengan barang-barang senilai 250 milyar Lira Turki di dalamnya. Pemiliknyamerasa ragu dan terlewat untuk membayar 6 milyar, zakat yang semestinyaia bayar, dan sekarang kejadian ini terjadi pada dirinya. Membayarzakat adalah perintah Allah swt, tetapi orang-orang tidakmembayarkannya dan inilah yang menjadi alasan banyaknya bencana danpenderitaan menimpa orang. Dan api akan terus terbakar. Siapa yang tidak menjaga perintah Allah swt dan bersikap menentang perintah-Nya berada dalam bahaya. Pemerintah mana yang menjaga perintah-Nya? Sekarang kita berada di dunia, tetapi esok kita akan berada di akhirat. Apa yang kita lakukan di sini sekarang, akan diperlihatkan kepada kita esok di akhirat. Kita tidak menghormati Hukum Allah swt. Apa yang kita lakukan di sini akan terlihat jelas dan kita akan melihatnya di Hari Pembalasan. Itu akan terlihat jelas, seperti halnya kita bersama orang di rumah sakit di belakang mesin sinar X ini.

wamin Allah At tawfiq

Monday, December 8, 2008

Tertipu oleh Hawa Nafsu

Bersumber dari Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani Q


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Seseorang mungkin tinggal di rumah yang besar dengan perabotan yang indah. Ia mungkin memiliki perhiasan, emas dan mobil yang banyak. Tetapi merasa bahwa semua ini akan membuatnya bahagia hanyalah imajinasi saja, bukan kenyataan.

Seseorang mungkin pergi ke kafe, duduk sebentar, minum secangkir teh dan pergi. Yang lain punya kesempatan untuk pergi ke tempat yang lebih mahal, dengan lebih banyak hal-hal menarik yang bisa dinikmati. Dua keadaan tersebut sangat berbeda. Yang kaya membawa beban. Orang yang pertama membayar 50 sen (cukup untuknya). Yang kaya membayar 50 pound, 100 atau 500 pound dan itu akan jadi beban baginya, karena: Beban yang dibawa seseorang tergantung seberapa banyak ia memuaskan hawa nafsu fisiknya.

Yang dilakukan oleh beban terhadap seseorang ibarat penggilingan terhadap gandum (beban akan menggiling orang). Keserakahan akan berujung pada ketidakbahagiaan.

Para rasul dan penerus mereka, para awliya, memberi nasihat agar orang-orang hidup sederhana, dengan kehidupan yang mudah dan beban yang ringan.

Seperti orang yang bepergian tanpa membawa koper-koper. Saat turun dari pesawat ia bisa langsung keluar bandara. Tetapi orang yang membawa koper-koper yang berat, akan kerepotan.

Apakah penderitaan manusia ini?

Orang yang baik akan berbuat kebaikan untuk dirinya, orang yang jahat hanya akan menyusahkan dirinya.

Wa min Allah at tawfiq.

Kemuliaan Tanpa Akhir

Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Pada umumnya orang berpikir bahwa kemuliaan diperoleh karena memiliki uang yang lebih banyak. Atau karena memiliki lebih banyak perhiasan, pesawat terbang, pabrik, tanah, perusahaan atau gedung-gedung. Atau mereka mengira bahwa kemuliaan diperoleh karena menjadi seorang pejabat. Tingkat tertinggi bagi mereka adalah dengan menjadi presiden, perdana menteri atau jenderal. Dan mungkin berhasil kalian raih ketika kalian sudah hampir tiba di akhir hayat kalian, atau ketika kalian sudah menghabiskan hampir seluruh tenaga dan harapan kalian. Artinya, pada saat itu kalian telah menjalani hampir seluruh hidup kalian.

Orang biasanya paling menikmati hidup ketika mereka masih muda. Dan mungkin seseorang bisa mencapai kemuliaan yang tinggi dalam hidupnya, tetapi kondisi fisiknya sudah mencapai titik terendah, atau di bawah itu!

Seperti seseorang yang memiliki gigi, bisa makan kacang. Tetapi apa artinya jika ia diberi kacang setelah seluruh giginya rontok!?

Orang biasanya menerima kemuliaan duniawi ketika usianya sudah senja, dan perasaannya sudah tidak seperti dulu.

Kemuliaan di bidang materi itu mungkin diraih pada usia di mana kalian sudah tidak bisa menikmatinya lagi, seperti saat kalian mendambakannya pada masa muda kalian.

Kebanyakan orang dengan bodohnya berlari mengejar kemuliaan ini, yang sering sulit digapai, kemudian hidup mereka berakhir! Dan ketika mati, tidak ada lagi kemuliaan bagi mereka. Habis! Ia mencoba memperoleh kemuliaan dari hidup ini dan sekarang telah berakhir!

Kalian seharusnya mencari kemuliaan yang akan menyertai kalian selamanya. Abadi dan tanpa akhir.

Jangan biarkan kesempatan itu hilang!

Terserah pada kalian. Kalian bisa berlari mengambil lebih banyak dari dunia ini, tetapi tak lama kemudian, kalian akan menuju ke tempat yang gelap di kuburan.

Kalian ingin memperoleh kenikmatan di dunia ini, tetapi kenikmatan yang sesungguhnya berasal dari Allah SWT, dan hati kita diciptakan untuk berkah-Nya yang tanpa akhir.

Wa min Allah at tawfiq.

Sumber. Situs web Muhibbun Naqsybandi

Tuesday, November 25, 2008





As-salama layaikum wa rahmatullahi wa barakutuh.


Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Raheem alhamdulilahi rabbi'l-`alameen was-salaat was-salaam ala sayyid al mursaleen … wa nashadu an la ilah ila-Allah wa nashadu anna Sayyidina Muhammad (s) …khatim ar-rusul sayyid al-bashr, rasuli rabbi'l-`alameen.


I don't know from where I begin. May Allah bless Husayn Haqqani we are very happy we are here in this place that he opened with a lot of difficulties but this is a place for Ahl as-Sunnah wal-Jama`at.


And I asked for a title of what to speak and he said, "spirituality in Islam" and in front of Mawlana Abdus Sattar Khan I feel I have nothing to say and he is a role model for everyone to follow and brother Jamaluddin he brought a story that is many, many years behind.


And I will bring the story from the beginning.


That is one day I was in Jeddah and I decide to visit, because every Friday and Thursday I used to go to Madinat al-Munawwara to pray there as I was most of the time living there. So one day I was going and to the house I received a call form my Shaykh who is Cyprus and many of you know him and especially Shaykh Abdus Sattar Khan he is Mawlana Shaykh Muhammad Nazim al-Haqqani. He said, "Where are you going?" if there is permission I am going to visit the Prophet (s). He said, "Kiss his threshold for me." And when someone says something like that to you what do you say, "Especially your shaykh. But your mind begins to think, "How am I going to do that with all these barriers and guards? It is impossible."


So I went and I said it yesterday and I repeat it today: that when the Prophet (s) went into Isra and Mi'raj - and this is problem many of us are facing today and the answer comes with this story, and this is the meaning of spirituality. Spirituality is not something you hav to do but it is something besides charity and fasting and prayer and hajj but it is the way to reach the maqam al-ihsan that Mawlana Abdus Sattar quoted the hadith of Sayyidina `Umar (r) to reach state of Ihsan, you have to do the five pillars of Islam and accept the 6 pillars of iman and how to reach the state of Ihsan. And especially that is very complex and difficult to something you say I will go to that station by myself and then find oneself turning in circles. You must have guide. And if you seek out you will find the guides. Saints. And all saints are brothers and all of them love each other. I am not speaking about false saints but I am speaking about real saints that give their lives for their students.


So that time I went and that time I was driving 150, 160 km./hour about 120 miles per hour in order to reach quickly. Because he said, "go and kiss the threshold of the Prophet (s). There must be an opening. So I reached there safely and quickly by baraka of the Prophet (s). And I have to take a shower and go that holy place that Allah made piece of Paradise. The holy grave of the Prophet (s). The mistake we all make when we go to the Muwajaha, the holy place of Paradise I don't like to say grave it is heavy on my heart to say "grave"; it is qata`n min al-jannah a piece of Paradise. So when you pass by a Paradise in this world what do you do? You stay as long as you can, you don't want to go out.


So when we visit the Prophet (s), it is adab to stand as much as we can in his presence even not making du`a but only standing there trying to connect our heart with his heart. In a way that taffakur sa`atin khayran min ibaadati saba`een sunnah. That is for one hour when you are contemplating by yourself. How do you think it is when in presence of the Prophet (s)?


Everyone when passing there might stand 5 minutes, 7 minutes, 10 minutes and then go. Some might stand more and more and more and depends on how much they are in that connection. So in the guidance of our shuyukh we have visited the Prophet (s) with Mawlana Shaykh Nazim many times and may Allah give him long life and give long life to Mawlana Abdus Sattar. And I have seen how Mawlana Shaykh used to stand there and make du`a three and It is not a du`a really it is more like a conversation. You feel that you don't see that but you need a lot to reach that level of mushaahada. But you feel the presence.


Since I used to go with my shaykh since 1967 he used to spend one hour or 1.5 hour there was no barrier as there is today. You have to kiss and move today.


So he used to stand one and a half hour and then he moved to Abu Bakr as-Siddiq and he stood another half hour and then to Sayyidina `Umar (r) another half an hour and then to Bab Jibreel, mahbit al-wahy - you know where Sayyidina Jibreel Alayhissalam used to come with wahy to the Prophet (s) - and then we go back to the maqam of Sayyida Fatima az-Zahra Radiallahu anhu that Grandshaykh said, "that angels have moved Sayyidina Fatima holy body to the end to the place where Sayyidina `Isa Alayhissalam is to be buried" that is why awliyaullah see Sayyida Fatima there. and there he spends 45 minutes and then he goes to Bab at-Tawbah where he makes special du`a there (which is now closed) and makes sajda.


You have to take opportunity and whatever in my heart I was taking opportunity usually many guard come and tell you to move. But usually I don't stand by the beginning I stand by the wall. And that night however many guards and one of them with red beard and he is head of these guards. And he didn't approach me and he didn't let one guard to come to me. It is strange. Because you cannot stand one hour there or one and a half hours. They will come and say "move" even after five minutes.


So I finished and I was coming to kiss the pillar, the big pillar which is in the back as no one will see you. Then one of the big guards, the head of them, came towards me and I said to myself, "It is finished now." He came to me and said, "Do you want to kiss the threshold of the Prophet (s) ?" I said "yes." He took me to the door of the Prophet's (s) Holy Paradise and I was able to kiss the threshold of the Prophet (s) and everything disappeared no guards and I didn't seeing anything except the threshold of the Prophet (s). And I kissed the threshold, and then I stood up and then everything came back as normal and then he came to me and said, "give my salaams to Shaykh Nazim" that is where you saw me there. I went and left. He never knew Shaykh Nazim and Shaykh Nazim never called him and he never called Shaykh Nazim. How


I left and went to a school that is called Madrasat ash-Shoonah, ash-Shoonah School that Shaykh Nazim and Grandshaykh usually goes there to do seclusion there for many years. And I heard footsteps running behind me. And I said, "O they are coming" and I turned and one of the guards came and he was holding a very beautiful decorated Qur'an. And he gave it to me and said, "O Hisham." I never todl him my name. He said, "This is a gift from my father for Shaykh Nazim. My father is the head of the guards." I thanked him and didn't say anything or ask him anything. That is tark al-adab - beyond good conduct - to ask a question. Tariqah is not to ask anything. You listen. "asma`oo wa awoo – listen and act on what you heard."

If you understand you will be perfect, you reached the highest goal.

So I went, but I was so into that scene, you cannot understand that. For sure I understand it now. It was as if lost.
But is the mind in the head or the mind is in the heart? Shaykh Abdul Haqq. They asked the students this question and they said, "is the mind in the head." And he said, " no the mind is in the heart." Is the mind in the heart bigger or the mind in head bigger. The mind in the heart is bigger. Evidence? Allah gave us a mind that is in the head but with the mind that is in the head can you understand the universe?

ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِأً وَهُوَ حَسِيرٌ


Thumma irji`il-basara karratayni yanqallib ilayk al-basar khasiyan wa huwa haseer. Again turn thy vision a second time: (thy) vision will come back to thee dull and discomfited, in a state worn out. Al-Mulk, 67:4


Look at one star. Look two times even. Two times look at a star. At one star even. What did Allah say?


Yanqalib ilayk al basaru khasiyan wa huwa haseer. Your sight returns back turned down, khasiyan, defeated. Your eyes are defeated from one star. What do you think about 80 billion stars in our galaxy? So what do we know? Nothing. So by mind in the head we know nothing.


But by mind in the head we know nothing, but buy mind in the heart we know everything. What did Allah say to the Prophet (s) and the Prophet (s) said in holy hadith to us?

يقول الله : ما وسعني أرضي ولا سمائي ولكن وسعني قلب عبدي المؤمن


That is why Allah, the Exalted, said, "Neither heavens nor earth contained Me, but the heart of My believing servant contained Me."


Meaning: "the believer's heart contained My light, My attributes, the understanding of the universe." Not the Essence.


You think awliyaullah don't have power to pass beyond this universe. They have or they don't have? [they have!] Evidence? The Prophet (s) went beyond this universe or not? That universe that we are not seeing even one star. The Prophet (s) passed through 80 billion stars in our galaxy and then he passed 60 billion galaxies he passed all that and even further. Beyond this universe even. He reached Qaaba qawsayni.. so adna is what? It is so less that might be one centimeter might be 1 millimeter.


So Allah said to prophets, but specially to his saints. Qul ya Muhammad (s) in kuntum tuhiboon Allah fatabi`oonee yuhbibkumullah. This is khaas understanding for them.


Do awliyaullah follow the Prophet (s) or not. We might struggle to follow but they don't struggle. Allah gave them that flexibility, because they gave up their lives for the Prophet (s). That is spiritually. Spirituality means to follow the Prophet (s) in every step. That means that if the Prophet (s) went for Mi'raj you go for Mi'raj. Else you are not a wali. A Wali has to follow in footsteps of the Prophet (s). Does wali love Allah or not. Yes that is condition to be wali. Whereever the Prophet is moving they are following. That is why they can guide. They are following and learning and giving.


Look what Sayyidina Abdul Qadir Jilani Qaddasallahu Sirrahu said? This is Fath ar-Rabbani. I was reading this today and I said, "I have to mention it." I hope I still have it.

He said, "Ya Ghulam!" He calls his students who are big scholars, sitting facing them. They are sitting facing him and he is the Ghawth. He says, "Ya Ghulam!" You are a child still. You didn't reach maturity yet. That is dangerous if we ware not mature how are we going to obey? How are we going to be responsible? Are you going to be responsible Abdul Haqq, yes or no? I am asking you. You have to understand when he says, "Ya Ghulam!" There is a secret there.


Because he is Ghawth. I never said that before, because we were going through that book in Ramadan every morning. But i didnt explain it in this way. But they are saying to throw it now.

When you are not mature are you responsible? No.

So it means you aren't responsible. You are still the the one responsible. Of course he is responsible. Awliyaullah are responsible. If you take hand of your guide he is responsible to guide you. If he doesn't guide you he is responsible. If not he is the one responsible.


Fee kitab al-`ilmi wa hifdhihi bi ghayri `amal - you lost your time in writing knowledge and memorizing it without doing it." That is why it is dangerous. Many, many, many scholars spend their lives in doing what. They are doctors and scholars writing presentations but they are not doing what they learned.


He told them what? He said, "aysh yanf`ak. This is not literature Arabic, this aysh is slang. They put I like that as it is important. It means, "O stupid!" What is it going to benefit you if you are not doing it and not practicing it. You donkey. Spirituality is practice. Even you practice one amal a day it is better than memorizing thousands of them. What is the benefit of memorizing and not practicing?


And he quoted hadith of the Prophet (s) which I like to mention yaqool Allah azza wa jall bi 'l-anbiya wa 'l-`ulama, Allah on Day of Judgment says to the prophets and scholars, which means the pious people, "O if you thought yourself antum kuntum ru'atu al-khalqee fa ma sana`tum fee ruya'tum, that you are the ones authorized to be shepherds for the nations, what you have done with your sheep, with your flocks? What you showed them and what you taught them. You are responsible and you are liable."


That is why all prophets in Judgment Day where do they run? Towards Sayyidina Muhammad (s). As what are they going to answer. So if anbiya run to the Prophet (s) where is the `alim on that day. Is there any more `alim? Even Anbiya are shaking. Where are the `ulama that are sitting on chairs in dunya and giving fatwas as if they are the biggest peacocks.


Then they have to run to the Prophet (s) - not directly to Allah. If not accepting then go to hell directly.


So you see too many kings today, sitting on his chair like rooster on his chickens. We are thinking ourselves kings. We ourselves think we are kings. Ask 2 people that are similar in their understanding. Do you find. No you won't find them. Because each has his own opinion. So the Prophet (s) said, "If you are three, put one an amir." If you do that now they will fight one hour to see who is amir.


That is not spirituality. Spiritiuality is to submit. Taslimiyya.


Allah says to them antum kuntum khazaan kunuzikum you were the trustees or the containers of my treasures. Because all the treasures are in hands of kings. Hal wasaltum al-fuqara. Did you make relations with the poor? Sayyidina `Umar (r) when he became calipha, what he did? He was crying. His wife asked him, "why are you crying? You are calipha now." He said, "Now I have to cry. Before I was not liable or responsible. Now if anyone is hungry in the jungle I am responsible." He used to carry sacks of food on his back and distribute to the poor people.


You call youself kings and queens and you are holding the treasures of the world. They are raising the price of oil and sucking the blood of people. Today it is $60 from $160. Who raised it and who lowered it, in order to build their nations into every forbidden thing? How it went up and for what reason? To build their prostitution and alcoholic beverages. Go and see there. How it came? By them raising the price as a monopoly. And the poor become poorer and rich become richer.


He is saying that to them, and that is hadith of the Prophet (s) and quoted by Sayyidina Abdul Qadir Jilani Qaddasallahu Sirrahu and mentioned in Kanz al-`ummaal and many other hadith books. Did you take care of the poor; hal rabbaytum al-aytam, and did you take care of the orphans? How much food is sent to orphans and you find it next day in the market being sold. Wherever there are orphans and the food is sent to them..


"wa akhrajtahu al-haqq alladhee huw haqq al-fuqara - Did you take from your money what is written on you as My right to give to poor people?" You are under these questions.

So were do we stand now. Are we ghulam now or not? We are ghulam now because we are responsible. But since we are ghulam we are not responsible. It is not me saying, it is Sayyidina Abdul Qadir Jilani Qaddasallahu Sirrahu saying it. He will take responsibility for them. One wali is enough to take everyone and put in Paradise in maq`ad sidqin. He is Prophet for the Ummah he has to be with the Ummah, dunya and akhira. Be happy. You think the Prophet (s) can be alone in Paradise he has to have people with him.


Be happy, smile! that is maqam at-tashreef. And we go back to what we were saying.


When the Prophet (s) went in ascension, he saw Musa Alayhissalam and always Sayyidina Musa Alayhissalam has questions; he likes to ask questions.


Musa Alayhissalam said ya rabbeee arinee anthur ilayk. Allahu Akbar! It is so easy like that. Never the Prophet (s) has any question. Always sami`na wa ata`na - Listen and obey. Listen to Sayyidina Jibreel. Never did he have questions.


Only one time. When he left seven heavens and he was going up he asked are you not coming with me. He asked for him to accompany as friend. He said, "No, I cannot. I will burn completely if I try." Only the Prophet could go to that station.


Prophet moved to Divine Presence alone. He was in maqam at-tawheed. Today that is all they speak about tawheed, tawheed and all Muslims are kafir. Tawheed al-iloohiyya, tawheed ar-ruboobiyya and tawheed I forgot. Only they are muwahhid. Is the Prophet (s) going to be alone with only this group that came recently? What about the Muslims who came before they were not on tawheed, they are not going to Paradise?


Ya akhee. Even he said, "Ya akhee" but he said, "Ya sayyidee, Ya Rasulullah! Of course he said that. The Prophet (s) said, "ana sayyidi waladi adam wa la fakhr - I am the master of the children of Adam, and no pride."
So Sayyidina Musa (as) said, "Can I ask this question as this comes to my heart a lot?"

You said, "al-`ulama waarithatu'l-`ulama." With all respect to scholars and not these scholars but the real scholars like Sayyidina Abdul Qadir Jilani Qaddasallahu Sirrahu. Awliyaullah.


You said, "They are inheritors of the Prophet (s), could it be their knowledge is like our knowledge? Inheritors are not like prophets but they have knowledge like prophets. Can you give me the answer ya Rasulullah how these people are going to inherit from prophets?"


He called one, and he came in the presence of the Prophet. He called through the souls, fil arwaah, because Allah said, "alastu bi rabbikum qaaloo bala. So the Prophet (s) can bring any soul he wants in past and in the future. Allah gave him that power. He brought one and that is one coming later, after the time of the Prophet (s). He said, "That is one."


Musa Alayhissalam said, "What is your name?" He said, "Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Hamid al-Ghazali. Seven times. If he were able to say it 100 times he would have said it. But he felt shy from the Prophet (s), he said, "seven time is enough." Musa Alayhissalam said, "what is this? I thought you were an inheritor of the Prophet (s). Why did you say 'Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Hamid al-Ghazali'? "


If I can say "Muhammad" (s) until Judgment Day it will not stop. Why? Because as much as you say the name of the Prophet (s), Allah will order angels to mention your name in His Presence. That is why keep your tongue busy with salawaat on Prophet (s).


So he said, "Ya Musa Alayhissalam, why do you object when I say 'Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Hamid al-Ghazali' why didn't you object on yourself?" He said, " why?" because when Allah asked you what is in your hand, you said,
قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى
" … you gave all the classifications of the cane that you are going to use in your lifetime. Why? Because that is an honorary place. Maqam at-tashrif.

He said, "That is place of honor for me to be with the Prophet (s).


So that is difference between `alim and wali. How to imitate the Prophet (s)? He is happy to say Muhammad bin Muhammad.... He can say Muhammad Rasulullah, I can say Muhammad Sayyid ar-Rusul. I can say ...


So practice is what is important.


And I would like to add to what Mawlana Abdus Sattar said from the hadith of `Umar (r), that after he mentioned maqam al-ihsan and Sayyidina Jibreel said, "sadaqta" and then Sayyidina Jibreel asked more questions. And he asked him after he finished, "mata` as-sa`at ya Rasulullah - when is the day of Judgement?" Then the Prophet (s) said, "the one asked doesn't know more than the one who is asking." That is humbleness that he wants to hide himself. Then he gave the signs of it: "An tara al-hufaat al-araat yatataawaloona fil-bunyan - To see the naked barefooted Bedouins competing in high buildings." Now go to see the Gulf and you find them building the highest rises in the world and you find them building of one kilometer, and some meters more. That is going to be the highest. Buildings they are building in the desert and you still find them wearing slippers, they are Bedouins. Even they go to visit the presidents of Europe they wear slippers.


So that is not humiliating anyone but that is hadith of the Prophet (s). They have been raised like that.


"When you see the barefooted naked Bedouins competing in high rises." Are we seeing that or not? So what do we expect? There is no more time, O Muslims!


Allah shook the earth three weeks ago. Did you see that earthquake? Allah can make the earth to shakes when He wants to - that was the stock market crash. Allah made that in one minute to shake the whole world. That day [of judgment] is coming. So don't let it to cheat us.


Sayyidina Abdul Qadir Jilani Qaddasallahu Sirrahu says in this book another place, Anna an nabi qaala yunaadee munadee yawm al-qiyama ayn adh-dhalamah – on the Judgment Day a caller will call out, "Where are the oppressors? Let them come!"


We are afraid to be oppressor to ourselves. Are we oppressors or not? We don't know. Even he who doesn't know if he is oppressor, he is struggling. If we are not oppressors to ourselves it means we don't make sins. Then he is not oppressor. Do we make sins? Yes, say, "yes", and ask forgiveness, O our Lord forgive us, nastaghfiruka wa natooboo ilayk. That is better than saying, "no".
The Prophet said, "akhwafa ma akhaafu `alam ummatee ash-shirk al-khafee -The thing I fear most for my nation is the hidden shirk."

Did we do hidden shirk or not? Anything related to yourself is hidden shirk.

And then (going back to the hadith related by Sayyidina Abdul Qadir al-Jilani), it comes: "ayna awwaan adh-dhalama - Where are the helpers of the oppressors? Then another voice come: Ayna man yara lahu min qalaman. - and where are those seen with a pen?" The oppressors used a pen to judge people and send them to prison even though they are innocent. Dhalama oppressors are the ones who will benefit from anyone, even if they kill people, they don't care. That is what we call mafia.


Look today mafia everywhere. There is mafia in everything. Today if you don't pay your car ticket what happens? They send you to jail even. They send to you a warrant an dput points on your licenses. Tha is why people try not to get a ticket. For a ticket that costs $60 or $10 you are afraid and you try not to go to jail. These people, CEOs that sucked billions of dollars of human beings no one said, "I will put one of them in prison." These are dhalama or not? Are they oppressors or not? All these people who benefited from stock market will be asked on Judgment Day, they such the wealth of every poor, and they made the rich richer and the poor poorer. He said, "Where are the helpers of these dhalama?" Where are the brokers. Now the borkers are the helpers. He is describing them say. abdul Qadir Jilani 100 years ago. They made the rich richer. They are the commissioner. He knows them the commissioner they cheat you. They say to you "stocks are going down, buy gold now" and they sell you gold. They come to you when gold drops, they say, "Sell quickly." Then they come to you and buy, they make money. "Where are these ones?" he says.


Ayna man yara lahu min dawaat. Did you find anyone in this crowd that has ink bottle? Has anyone seen an ink bottle? Come here to witness on them.


Ajma`oohum waj`alhum fee taaboot min an-nar - Collect them and put them altogether in a coffin of fire. Akhrajahu adh-Dhahabi and ibh Hajr. And this is from Sayyidina Abdul Qadir al-Jilani.


That is from Sayyidina Abdul Qadir Jilani Qaddasallahu Sirrahu. That is general meaning of dhalama. Are we dhalama or not. Break it down. Zoom it in. We find ourselves dhalama in many things. So what Allah said in Holy Qur'an? And dhalama must go to that. Not these ones who suck money of people. No we are zooming in and we say "we are dhalama" and Allah gave a way for dhalama in the zoom-in process.


وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا


Wa maa arsalnaa min rasoolin illa liyuta`a biithni Allahi wa law annahum idh dhalamoo anfusahum jaooka faistaghfarullaha wa'staghfara lahumu ar-rasoolu la-wajadullaha tawwaaban raheeman


We sent not an apostle, but to be obeyed, in accordance with the will of Allah. If they had only, when they were unjust to themselves, come unto thee and asked Allah's forgiveness, and the Messenger had asked forgiveness for them, they would have found Allah indeed Oft-returning, Most Merciful. An-Nisa [4:64]


When you feel you have oppressed yourslef, come to presence of Muhammad (s). From here you can go to the presence of Muhammad (s) and say, "Ya sayyidee, ya Rasulullah." In your presence and you ask forgivenss on our behalf. Allah said, "They come in your presence Ya Muhammad (s), and you will ask forgiveness on their behalf, then Allah will forgive them." so this is our medicine. We say istaghfirullah `inda hadarati 'l-Mustafa wa bi jahi Nabiyyika al-Mustafa.