Friday, February 23, 2007
TENTANG WAHABI (2)
Diantara sifat2 wahabi yang tercela ialah kebusukan dan kekejiannya dalam melarang orang berziarah ke makam dan membaca sholawat atas Nabi s a w, bahkan dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) sampai menyakiti orang yang hanya sekedar mendengarkan bacaan sholawat dan yang membacanya dimalam Jum'at serta yang mengeraskan bacaannya di atas menara-menara dengan siksaan yang amat pedih.
Pernah suatu ketika salah seorang lelaki buta yang memiliki suara yang bagus bertugas sebagai muadzin, dia telah dilarang mengucapkan shalawat di atas menara, namun lelaki itu selesai melakukan adzan membaca shalawat, maka langsung seketika itu pula dia diperintahkan untuk dibunuh, kemudian dibunuhlah dia, setelah itu Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : "perempuan-perempuan yang berzina drimah pelacuran adalah lebih sedikit dosanya daripada para muadzin yang melakukan adzan di menara2 dengan membaca shalawat atas Nabi.
Kemudian dia memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya bahwa apa yang dilakukan itu adalah untuk memelihara kemurnian tauhid (kayaknya orang ini maniak atau menderita sindrom tertentu). Maka betapa kijinya apa yang diucapkannya dan betapa jahatnya apa yang dilakukanya (mirip revolusi komunisme).
Tidak hanya itu saja, bahkan diapun membakar kitab Dalailul Khairat (kitab ini yang dibaca para pejuang Afghanistan sehingga mampu mengusir Uni Sovyet / Rusia, namun kemudian Wahabi mengirim Taliban yang akan membakar kitab itu) dan juga kitab-kitab lainnya yang memuat bacaan-bacaan shalawat serta keutamaan membacanya ikut dibakar, sambil berkata apa yang dilakukan ini semata-mata untuk memelihara kemurnian tauhid.
Dia juga melarang para pengikutnya membaca kitab-kitab fiqih, tafsir dan hadits serta membakar sebagian besar kitab-kitab tsb, karena dianggap susunan dan karangan orang-orang kafir. Kemudian menyarankan kepada para pengikutnya untuk menafsirkan Al Qur'an sesuai dengan kadar kemampuannya, sehingga para pengikutnya menjadi BIADAB dan masing-masing menafsirkan Al Qur'an sesuai dengan kadar kemampuannya, sekalipun tidak secuilpun dari ayat Al Qur'an yang dihafalnya.
Lalu ada seseorang adari mereka berkata kepada seseorang : "Bacalah ayat Al Qur'an kepadaku, aku akan menafsirkanya untukmu, dan apabila telah dibacakannya kepadanya maka dia menafsirkan dengan pendapatnya sendiri. Dia memerintah kepada merak untuk mengamalkan dan menetapkan hukum sesuai dengan apa yang mereka fahami serta memperioritaskan kehendaknya diatas kitab-kitab ilmu dan nash-nash para ulama, dia mengatakan bahwa sebagian besar pendapat para imam keempat madzhab itu tidak ada apa-apanya.
Sekali waktu, kadang memang dia menutupinya dengan mengatakan bahwa para imam ke empat madzhab Ahlussunnah adalah benar, namun dia juga mencela orang-orang yang sesat lagi menyesatkan. Dan dilain waktu dia mengatakan bahwa syari'at itu sebenarnya hanyalah satu, namun mengapa mereka (para imam madzhab) menjadikan 4 madzhab.
Ini adalah kitab Allah dan sunnah Rasul, kami tidak akan beramal, kecuali dengan berdasar kepada keduanya dan kami sekali-kali tidak akan mengikuti pendapat orang-orang Mesir, Syam dan India. Yang dimaksud adalah pendapat tokoh-tokoh ulama Hanabilah dll dari ulama-ulama yang menyusun buku-buku yang menyerang fahamnya.
Dengan demikian, maka dia adalah orang yang mebatasi kebenaran, hanya yang ada pada sisinya, yang sejalan dengan nash-nash syara' dan ijma' ummat, serta membatasi kebathilan di sisinya apa yang tidak sesuai dengan keinginannya, sekalipun berada diatas nash yang jelas yang sudah disepakati oleh ummat.
Dan adalah dia adalah orang yang mengurangi keagungan Rasulullah s a w dengan banyak sekali atas dasar memelihara kemurnian tauhid. Dia mengatakan bahwa Nabi s a w itu tak ubahnya :"THORISY". Thorisy adalah istilah kaum orientalis yang berarti seseorang yang diutus dari suatu kaum kepada kaum yang lain. Artinya, bahwa Nabi s a w itu adalah pembawa kitab, yakni puncak kerasulan beliau itu seperti "Thorisy" yang diperintah seorang amir atau yang lain dalam suatu masalah untuk manusia agar disampaikannya kepada mereka, kemudian sesudah itu berpaling (atau tak ubahnya seorang tukang pos yang bertugas menyampaikan surat kepada orang yang namanya tercantum dalam sampul surat, kemudian sesudah menyampaikannya kepada yang bersangkutan, maka pergilah dia. Dengan ini maka jelaslah bahwa kaum Wahabi hanya mengambil al Qur'an sebagian dan sebagian dia tinggalkan).
Diantara cara dia mengurangi ke-agungan Rasulullah s a w ialah pernah mengatakan : "AKU MELIHAT KISAH PERJANJIAN HUDAIBIYAH, MAKA AKU DAPATI SEMESTINYA BEGINI DAN BEGINI", dengan maksud menghina dan mendustakan Nabi s a w (mirip mereka yang sok tahu waktu Nabi s a w membuat perjanjian itu - pen) dan seterusnya masih banyk lagi nada-nada yang serupa yang diucapkanya, sehingga para pengikutnyapun melakukan seperti apa yang dilakukannya dan berkata seperti apa yang diucapkannya itu.
Dan meraka (para pengikutnya itu) pun memberitahukan apa yang mereka ucapkan itu kepadanya namun dia menampakkan kerelaannya, serta boleh jadi mereka juga mengucapkan kata-kata itu dihadapan gurunya, namun rupa-rupanya dia juga merestuinya, sehingga ada sebagian pengikutnya yang berkata :
"SESUNGGUHNYA TONGKATKU INI LEBIH BERGUNA DARIPADA MUHAMMAD, KARENA TONGKATKU INI BISA AKU PAKAI UNTUK MEMUKUL ULAR, SEDANG MUHAMMAD SETELAH MATI TIDAK ADA SEDIKITPUN KEMANFA'ATAN YANG TERSISA DARINYA, KARENA DIA (RASULULLAH S A W) ADALAH SEORANG THORISY DAN SEKARANG SUDAH BERLALU".
Sebagian ulama' yang menyusun buku yang menolak faham ini mengatakan bahwa ucapan-ucapan seperti itu adalah "KUFUR" menurut ke empat madzhab, bahkan kufur menurut pandangan seluruh para ahli Islam.
Dari Kitab DURARUSSANIYAH FIR RADDI ALAL WAHABIYAH karya Syeikhul Islam Allamah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Asy-Syafi'i.
Catatan :
Jika kekurang-ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya kepada Nabi s a w sedemikian rupa, maka apakah masuk akalkah orang-orang kayak ini setia kepada sahabat dan kaum Salafush-Sholeh ? NOL BESAR, jadi pengakuannya sebagai akidah yang mengikuti Salaf-Sholeh / Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah penipuan untuk mengelabuhi orang-orang awam. Jika Nabi s a w dikatakan "Thorisy karena sudah berlalu", mengapa para pengikut Wahabi itu tidak juga mengatakan Muhammad bin Abdul Wahhab itu "sudah berlalu", kok masih diangung-agungkan dan diikuti dengan setia. Inilah yang dinamakan "PELARANGAN PENGKULTUSAN YANG MELAHIRKAN PENGKULTUSAN BARU".
Pernah suatu ketika salah seorang lelaki buta yang memiliki suara yang bagus bertugas sebagai muadzin, dia telah dilarang mengucapkan shalawat di atas menara, namun lelaki itu selesai melakukan adzan membaca shalawat, maka langsung seketika itu pula dia diperintahkan untuk dibunuh, kemudian dibunuhlah dia, setelah itu Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : "perempuan-perempuan yang berzina drimah pelacuran adalah lebih sedikit dosanya daripada para muadzin yang melakukan adzan di menara2 dengan membaca shalawat atas Nabi.
Kemudian dia memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya bahwa apa yang dilakukan itu adalah untuk memelihara kemurnian tauhid (kayaknya orang ini maniak atau menderita sindrom tertentu). Maka betapa kijinya apa yang diucapkannya dan betapa jahatnya apa yang dilakukanya (mirip revolusi komunisme).
Tidak hanya itu saja, bahkan diapun membakar kitab Dalailul Khairat (kitab ini yang dibaca para pejuang Afghanistan sehingga mampu mengusir Uni Sovyet / Rusia, namun kemudian Wahabi mengirim Taliban yang akan membakar kitab itu) dan juga kitab-kitab lainnya yang memuat bacaan-bacaan shalawat serta keutamaan membacanya ikut dibakar, sambil berkata apa yang dilakukan ini semata-mata untuk memelihara kemurnian tauhid.
Dia juga melarang para pengikutnya membaca kitab-kitab fiqih, tafsir dan hadits serta membakar sebagian besar kitab-kitab tsb, karena dianggap susunan dan karangan orang-orang kafir. Kemudian menyarankan kepada para pengikutnya untuk menafsirkan Al Qur'an sesuai dengan kadar kemampuannya, sehingga para pengikutnya menjadi BIADAB dan masing-masing menafsirkan Al Qur'an sesuai dengan kadar kemampuannya, sekalipun tidak secuilpun dari ayat Al Qur'an yang dihafalnya.
Lalu ada seseorang adari mereka berkata kepada seseorang : "Bacalah ayat Al Qur'an kepadaku, aku akan menafsirkanya untukmu, dan apabila telah dibacakannya kepadanya maka dia menafsirkan dengan pendapatnya sendiri. Dia memerintah kepada merak untuk mengamalkan dan menetapkan hukum sesuai dengan apa yang mereka fahami serta memperioritaskan kehendaknya diatas kitab-kitab ilmu dan nash-nash para ulama, dia mengatakan bahwa sebagian besar pendapat para imam keempat madzhab itu tidak ada apa-apanya.
Sekali waktu, kadang memang dia menutupinya dengan mengatakan bahwa para imam ke empat madzhab Ahlussunnah adalah benar, namun dia juga mencela orang-orang yang sesat lagi menyesatkan. Dan dilain waktu dia mengatakan bahwa syari'at itu sebenarnya hanyalah satu, namun mengapa mereka (para imam madzhab) menjadikan 4 madzhab.
Ini adalah kitab Allah dan sunnah Rasul, kami tidak akan beramal, kecuali dengan berdasar kepada keduanya dan kami sekali-kali tidak akan mengikuti pendapat orang-orang Mesir, Syam dan India. Yang dimaksud adalah pendapat tokoh-tokoh ulama Hanabilah dll dari ulama-ulama yang menyusun buku-buku yang menyerang fahamnya.
Dengan demikian, maka dia adalah orang yang mebatasi kebenaran, hanya yang ada pada sisinya, yang sejalan dengan nash-nash syara' dan ijma' ummat, serta membatasi kebathilan di sisinya apa yang tidak sesuai dengan keinginannya, sekalipun berada diatas nash yang jelas yang sudah disepakati oleh ummat.
Dan adalah dia adalah orang yang mengurangi keagungan Rasulullah s a w dengan banyak sekali atas dasar memelihara kemurnian tauhid. Dia mengatakan bahwa Nabi s a w itu tak ubahnya :"THORISY". Thorisy adalah istilah kaum orientalis yang berarti seseorang yang diutus dari suatu kaum kepada kaum yang lain. Artinya, bahwa Nabi s a w itu adalah pembawa kitab, yakni puncak kerasulan beliau itu seperti "Thorisy" yang diperintah seorang amir atau yang lain dalam suatu masalah untuk manusia agar disampaikannya kepada mereka, kemudian sesudah itu berpaling (atau tak ubahnya seorang tukang pos yang bertugas menyampaikan surat kepada orang yang namanya tercantum dalam sampul surat, kemudian sesudah menyampaikannya kepada yang bersangkutan, maka pergilah dia. Dengan ini maka jelaslah bahwa kaum Wahabi hanya mengambil al Qur'an sebagian dan sebagian dia tinggalkan).
Diantara cara dia mengurangi ke-agungan Rasulullah s a w ialah pernah mengatakan : "AKU MELIHAT KISAH PERJANJIAN HUDAIBIYAH, MAKA AKU DAPATI SEMESTINYA BEGINI DAN BEGINI", dengan maksud menghina dan mendustakan Nabi s a w (mirip mereka yang sok tahu waktu Nabi s a w membuat perjanjian itu - pen) dan seterusnya masih banyk lagi nada-nada yang serupa yang diucapkanya, sehingga para pengikutnyapun melakukan seperti apa yang dilakukannya dan berkata seperti apa yang diucapkannya itu.
Dan meraka (para pengikutnya itu) pun memberitahukan apa yang mereka ucapkan itu kepadanya namun dia menampakkan kerelaannya, serta boleh jadi mereka juga mengucapkan kata-kata itu dihadapan gurunya, namun rupa-rupanya dia juga merestuinya, sehingga ada sebagian pengikutnya yang berkata :
"SESUNGGUHNYA TONGKATKU INI LEBIH BERGUNA DARIPADA MUHAMMAD, KARENA TONGKATKU INI BISA AKU PAKAI UNTUK MEMUKUL ULAR, SEDANG MUHAMMAD SETELAH MATI TIDAK ADA SEDIKITPUN KEMANFA'ATAN YANG TERSISA DARINYA, KARENA DIA (RASULULLAH S A W) ADALAH SEORANG THORISY DAN SEKARANG SUDAH BERLALU".
Sebagian ulama' yang menyusun buku yang menolak faham ini mengatakan bahwa ucapan-ucapan seperti itu adalah "KUFUR" menurut ke empat madzhab, bahkan kufur menurut pandangan seluruh para ahli Islam.
Dari Kitab DURARUSSANIYAH FIR RADDI ALAL WAHABIYAH karya Syeikhul Islam Allamah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Asy-Syafi'i.
Catatan :
Jika kekurang-ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya kepada Nabi s a w sedemikian rupa, maka apakah masuk akalkah orang-orang kayak ini setia kepada sahabat dan kaum Salafush-Sholeh ? NOL BESAR, jadi pengakuannya sebagai akidah yang mengikuti Salaf-Sholeh / Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah penipuan untuk mengelabuhi orang-orang awam. Jika Nabi s a w dikatakan "Thorisy karena sudah berlalu", mengapa para pengikut Wahabi itu tidak juga mengatakan Muhammad bin Abdul Wahhab itu "sudah berlalu", kok masih diangung-agungkan dan diikuti dengan setia. Inilah yang dinamakan "PELARANGAN PENGKULTUSAN YANG MELAHIRKAN PENGKULTUSAN BARU".
TENTANG WAHABI (1)
Mazhab Wahhabi sering menimbulkan kontroversi berhubung dengan asal-usul dan kemunculannya dalam dunia Islam. Umat Islam umumnya salah menganggap mereka, dengan beranggapan bahwa mazhab mereka mengikuti pemikiran Ahmad ibn Hanbal dan alirannya, al-Hanbaliyyah atau al-Hanabilah yang merupakan salah satu mazhab dalam Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah.
Nama Wahhabi atau al-Wahhabiyyah kelihatan dihubungkan kepada nama `Abd al-Wahhab yaitu pendirinya Muhammad bin `Abd al-Wahhab al-Najdi. Ia tidak dinamakan al-Muhammadiyyah yang mungkin boleh dikaitkan dengan nama Muhammad bin `Abd al-Wahhab bertujuan untuk membedakan di antara para pengikut Nabi Muhammad saw dengan mereka, dan juga bertujuan untuk menghalangi segala bentuk eksploitasi (istighlal). Bagaimanapun, nama Wahhabi dikatakan ditolak oleh para penganut Wahhabi sendiri dan mereka menggelarkan diri mereka sebagai golongan al-Muwahhidun (unitarians) karena mereka mendakwa ingin mengembalikan ajaran-ajaran tawhid ke dalam Islam dan kehidupan murni menurut sunnah Rasulullah.
Mazhab Wahhabi pada zaman moden ini tidak lain dan tidak bukan, adalah golongan al-Hasyawiyyah karena kepercayaan2 dan pendapat2 mereka 100% sama dengan golongan yang dikenali sebagai al-Hasyawiyyah pada abad-abad yang awal.
Istilah al-Hasyawiyyah adalah berasal daripada kata dasar al-Hasyw yaitu penyisipan, pemasangan dan kemasukan. Nama ini diberikan kepada orang-orang yang menerima dan mempercayai semua hadisr yang dibawa masuk ke dalam Islam oleh orang-orang munafiq. Mereka mempercayai semua hadist yang dikaitkan kepada Nabi saw dan para sahabat baginda berdasarkan pengertian bahasa semata-mata tanpa melakukan penelitihan dan pemikiran. Bahkan sekiranya sesuatu “ hadist “ itu dipalsukan (tetapi orang yang memalsukannya memasukkan suatu rangkaian perawi yang baik kepadanya), mereka tetap menerimanya tanpa mempedulikan apakah teks hadist itu serasi dan selaras dengan al-Qur’an ataupun hadist yang diakui sahih atau sebaliknya.
Ahmad bin Yahya al-Yamani (m.840H/1437M) mencatatkan bahawa: “ Nama al-Hasyawiyyah digunakan kepada orang-orang yang meriwayatkan hadist2 sisipan yang sengaja dimasukkan oleh golongan al-Zanadiqah sebagaimana sabda Nabi saw dan mereka menerimanya tanpa melakukan interpretasi semula, dan mereka juga menggelarkan diri mereka Ashab al-Hadith dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah... Mereka bersepakat mempercayai konsep pemaksaan (Allah berhubungan dengan perbuatan manusia) dan tasybih (bahwa Allah seperti makhluk-Nya) dan mempercayai bahawa Allah mempunyai jasad dan bentuk serta mengatakan bahawa Allah mempunyai anggota tubuh ... “.
Al-Syahrastani (467-548H/1074-1153M) menuliskan bahawa: “ Terdapat sebuah kumpulan Ashab al-Hadith, iaitu al-Hasyawiyyah dengan jelas menunjukkan kepercayaan mereka tentang tasybih (yaitu Allah serupa makhluk-Nya) ... sehinggakan mereka sanggup mengatakan bahawa pada suatu ketika, kedua-dua mata Allah kesedihan, lalu para malaikat datang menemui-Nya dan Dia (Allah) menangisi (kesedihan) berakibat banjir Nabi Nuh a.s sehingga mata-Nya menjadi merah, dan `Arasy meratap hiba seperti suara pelana baru dan bahwa Dia melampaui `Arasy dalam keadaan melebihi empat jari di segenap sudut.” [Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, h.141.]
Definisi dan gambaran ini secara langsung menepati golongan Wahhabi yang menamakan diri mereka sebagai Ashab al-Hadist atau Ahl al-Hadist dan kerapkali juga sebagai Sunni, dan pada masa kini mereka memperkenalkan diri mereka sebagai Ansar al-Sunnah ataupun Ittiba` al-Sunnah.
Latar belakang Pengasas Mazhab Wahhabi
Muhammad bin `Abd al-Wahhab dilahirkan di perkampungan `Uyainah, salah sebuah kampung dalam Najd di bahagian selatan pada tahun 1115H/1703M. Bapaknya, `Abd al-Wahhab merupakan seorang Qadi di sini. Muhammad dikatakan pernah mempelajari bidang fiqh al-Hanbali dengan bapaknya, yang juga adalah salah seorang tokoh ulama al-Hanabilah. Semenjak kecil, dia mempunyai hubungan yang erat dengan pengkajian dan pembelajaran kitab-kitab tafsir, hadith dan akidah.
Pada masa remajanya, Muhammad selalu memperendah-rendahkan syiar agama yang biasanya dipegang oleh penduduk Najd, bukan saja di Najd bahkan sehingga sejauh Madinah selepas dia kembali daripada menunaikan haji. Dia sering mengada-adakan perubahan dalam pendapat dan pemikiran di dalam majlis-majlis agama, dan dia dikatakan tidak suka kepada orang yang bertawassul kepada Nabi saw di tempat kelahiran (marqad) baginda yang suci itu.
Kehidupannya selama beberapa tahun dihabiskan dengan mengembara dan berdagang di kota-kota Basrah, Baghdad, Iran, dan Damsyik (damaskus). Di Damsyik, dia telah mempelajari kitab-kitab karangan Ibn Taimiyyah al-Harrani (m.728H/1328M) yang mengandung ajaran2 yang berunsur kontroversi berbeda dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah.
Dia kembali ke Najd dan kemudian berpindah ke Basrah disini dia akhirnya berjumpa dengan Hempher yaitu seorang orientalis dan agen rahasia Inggeris. Hempher yang menyamar sebagai Sheikh Muhammad. Dia seorang yang ahli berbahasa Arab , Turki, Parsi, dan telah lama mempelajari Islam di Turki dan Iraq (untuk lebih jelasnya soal hempher ini silahkan klik http://asmar.perso.ch/hempher/spy/ insyaAllah untuk kemudian hari akan saya terjemahkan).
Hampher yang akhirnya mempengaruhi ideologi Ibn Wahhab ini, malah memperparah kesesatan Ibn Wahhab. Bersama Hempher inilah Ibn Wahhab sempat melakukan nikah mut’ah dengan seorang agen wanita inggeris yang menyamar sebagai Safiyyah selama 1 minggu. Dalam masa itu Ibn Wahhab tambah sesat lagi karena dalam terkapan 2 orang sekaligus. Pikirannya yang dangkal akhirnya membuatnya terbawa bermabuk-mabukan bersama istri mut’ahnya.
Kemudian atas usul Hempher, Ibn Wahhab hijrah ke Isfahan, Iran . Untuk itu dia memperpanjang masa nikah mut’ahnya bersama Safiyya menjadi 2 bulan.
Disana dia masuk dalam terkapan seorang agen Inggris juga yang menyamar sebagai Abd Karim yang mengenalkannya dengan seorang wanita agen Inggris (yahudi) yang menyamar sebagai Asiya yang jauh lebih cantik dari Safiyya dan akhirnya dinikah mut’ah pula. Dalam terkapan agen2 Inggeris inilah Ibn Wahhab dicekoki segalam macam pemikiran yang sesat, dan menyusun berbagai program untuk menghancurkan Islam .Silahkan pembaca teliti di http://asmar.perso.ch/hempher/spy/ .
Sedikit tambahan ….sekiranya pembaca membaca biografi Ibn Wahhab versi Wahabi …maka pembaca sekalian akan menemukan kalimat ini : “Di antara pendukung dakwahnya di kota Basrah ialah seorang ulama yang bernama Syeikh Muhammad al-Majmu’i “ . Inilah Hempher yang menyamar sebagai Syeikh Muhammad al-Majmu’i !!!. Dia sengaja mengiringi Ibn Wahhab kembali ke najd untuk mengawasi, menasihati dan mengimplementasikan program2 penghancuran Islam.
Kemudian dalam perjalanannya ke Syam, di Basrah Ibn Wahhab berupaya menyebarkan pemikirannya untuk mencegah ummat daripada melakukan syiar agama mereka dan menghalangi mereka daripada perbuatan tersebut. Justru itu penduduk Basrah bangkit menentangnya, dan menyingkirkannya daripada perkampungan mereka. Akhirnya dia melarikan diri ke kota al-Zabir.
Dalam perjalanan di antara Basrah dan al-Zabir, akibat terlalu penat berjalan karena kepanasan sehingga hampir2 menemui ajalnya, seorang lelaki (dari kota al-Zabir) telah menemuinya lalu membantunya ketika melihatnya berpakaian seperti seorang alim. Dia diberikan minuman dan dibawa kembali ke kota tersebut. Muhammad bin `Abd al-Wahhab berkeinginan untuk ke Syam tetapi dia tidak mempunyai bekal yang mencukupi, lalu pergi ke al-Ahsa’ dan dari situ, terus ke Huraymilah (dalam kawasan Najd) juga.
Pada tahun 1139H/1726M, bapaknya berpindah dari `Uyainah ke Huraymilah dan dia ikut serta dengan bapaknya dan belajar dengannya tetapi masih meneruskan penentangannya yang kuat terhadap amalan-amalan agama di Najd, yang menyebabkan terjadinya pertentangan dan perselisihan yang berkecamuk di antaranya dan bapanya di satu pihak dan, dia bersama dengan penduduk-penduduk Najd di pihak yang lain. Keadaan tersebut terus berlanjut hingga tahun 1153H/1740M ketika bapaknya meninggal dunia.[ Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, h.141]. Sejak itu, Ibn wahhab tidak lagi terikat. Dia telah mengemukakan akidah2nya yang sesat, menolak dan memerangi amalan2 agama yang dilakukan serta menyeru mereka bergabung bersama kelompoknya. Sebagian tertipu dan sebagian lagi meninggalkannya hingga dia mengumumkan kekuasaannya di Madinah.
Ibn Wahhab kembali ke `Uyainah yang diperintah oleh `Usman bin Hamad yang menerima dan memuliakannya dan berlakulah perjanjian di antara mereka berdua bahawa setiap seorang hendaklah mempertahankan yang lain dengan seorang memegang kekuasaan dalam perundangan Islam (al-tasyri`) dan seorang lagi dalam pemerintahan. Pemerintah `Uyainah mendukung dengan kekuatan dan Ibn Wahhab menyeru manusia mentaati pemerintah dan para pengikutnya.
Berita telah sampai kepada pemerintah al-Ahsa’ bahawa Muhammad bin `Abd al-Wahhab menyebarkan pendapat dan bid`ahnya, dan pemerintah `Uyainah menyokongnya. Beliau telah mengirimkan suatu surat peringatan dan ancaman kepada pemerintah `Uyainah. Pemerintah `Uyainah kemudian memanggil Muhammad dan memberitahunya bahawa dia enggan membantunya. Ibn `Abd al-Wahhab berkata kepadanya: “ Sekiranya engkau membantuku dalam dakwah ini, engkau akan menguasai seluruh Najd.” Pemerintah tersebut menyingkirkannya dan memerintahkannya meninggalkan `Uyainah dengan cara mengusirnya pada tahun 1160H/1747M.
Pada tahun itu, Muhammad keluar dari `Uyainah ke Dar`iyyah di Najd yang diperintah oleh Muhammad bin Sa`ud (m.1179H/1765M) yang kemudian mengunjungi, memuliakan dan menjanjikan kebaikan kepadanya. Sebagai balasannya, Ibn `Abd al-Wahhab memberikan kabar gembira kepadanya dengan jaminan penguasaan Najd keseluruhannya. Dengan cara itu, suatu perjanjian dimeterai.[ Al-Alusi, Tarikh Najd, h.111-113]. Penduduk Dar`iyyah mendukungnya sehingga akhirnya Muhammad ibn `Abd al-Wahhab dan Muhammad bin Sa`ud menyetujui perjanjian itu(`aqd al-Ittifaqiyyah).
Ibn Basyr al-Najdi yang dipetik oleh al-Alusi mengatakan: “ Penduduk Dar`iyyah pada masa itu dalam keadaan sangat menderita dan kepayahan, mereka lalu berusaha untuk memenuhi kehidupan mereka ... Aku lihat kesempitan hidup mereka pada kali pertama tetapi kemudian aku lihat al-Dar`iyyah selepas itu - pada zaman Sa`ud, penduduknya memiliki harta yang banyak dan senjata disaluti emas, perak, kuda yang baik, para bangsawan, pakaian mewah dsb,i daripada sumber-sumber kekayaan sehinggakan lidah kelu untuk berkata-kata dan gambaran secara terperinci tidak mampu diuraikan.”
“ Aku lihat tempat orang ramai pada hari itu, di tempat dikenali al-Batin - aku lihat kumpulan lelaki di satu pihak dan wanita di satu pihak lagi, aku lihat emas, perak, senjata, unta, kuda, pakaian mewah dan semua makanan tidak mungkin dapat digambarkan dan tempat itu pula sejauh mata memandang, aku dengar hiruk-pikuk suara-suara penjual dan pembeli ... “[Salah seorang pengarang `Uthmaniyyah menceritakannya dalam kitabnya, Tarikh Baghdad, h.152 tentang permulaan hubungan di antara Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan keturunan Sa`ud dengan cara yang berbeda tetapi kelihatan sama dengan apa yang diceritakan]
Harta yang banyak itu tidak diketahui datang dari mana, dan Ibn Basyr al-Najdi sendiri tidak menceritakan sumber harta kekayaan yang banyak itu tetapi berdasarkan fakta-fakta sejarah, Ibn `Abd al-Wahhab memperolehinya daripada serangan dan serbuan yang dilakukannya bersama-sama para pengikutnya terhadap kabilah2 dan kota2 yang kemudian meninggalkannya untuknya. Ibn `Abd al-Wahhab merampas harta kekayaan itu dan membagi-bagikan kepada penduduk Dar`iyyah.
Ibn `Abd al-Wahhab mengikuti kaedah khusus dalam pembagian harta rampasanyang dirampasbnya dari kaum muslimin . Ada kalanya, dia membagikannya hanya kepada 2 atau 3 orang pengikutnya. Amir Najd menerima bagian daripada ghanimah itu dengan persetujuan Muhammad bin `Abd al-Wahhab sendiri. Ibn `Abd al-Wahhab melakukan perbuatan yang buruk terhadap umat Islam yang tidak tunduk kepada hawa nafsu dan pendapatnya dan disamakan dengan kafir harbi dan dia menghalalkan harta mereka.
Ringkasnya, Muhammad ibn `Abd al-Wahhab kelihatan menyeru kepada agama Tawhid tetapi tawhid sesat ciptaannya sendiri, dan bukannya tawhid menurut seruan al-Qur’an dan al-Hadist. Siapa yang tunduk (kepada tawhidnya) akan terpelihara diri dan hartanya dan sesiapa yang menolak dianggap kafir harbi (yang perlu diperangi) darah dan hartanya halal.
Dengan alasan inilah, golongan Wahhabi menguasai medan peperangan di Najd dan kawasan2 di luarnya seperti Yaman, Hijaz, sekitar Syria dan `Iraq. Mereka mengaut keuntungan yang berlimpah daripada kota2yang mereka kuasai menurut kemauan dan kehendak mereka, dan jika mereka bisa menghimpunkan kawasan2 itu ke dalam kekuasaan dan kehendak mereka, mereka akan lakukan semua itu, tetapi jika sebaliknya mereka hanya datang untuk merampas harta kekayaan saja.[ Tarikh Mamlakah al-`Arabiyyah al-Sa`udiyyah, Vol. I, h..51].
Ibn Wahab memerintahkan orang2 yang cenderung mengikuti dakwahnya supaya memberikan bai`ah dan orang-orang yang enggan wajib dibunuh dan dibagi-bagikan hartanya. Oleh kerana itu, dalam proses membuang dan mengasingkan penduduk kampung di sekitar al-Ahsa’ untuk mendapatkan bai`ah itu, mereka telah menyerang dan membunuh 300 orang dan merampas harta -harta mereka.[ Tarikh Mamlakah al-`Arabiyyah al-Sa`udiyyah, Vol. I, h..51].
Bagi Muhamad bin Abdul Wahhab, situasi dan kondisi amat mendukung baginya untuk menyebarkan pemikiran-pemikirannya yang beracun ke tengah ummat. Karena kebodohan dan kebuta-hurufan menghinggapi seluruh kawasan Najd kala itu. Di samping itu, penguasa Ali Su'ud (keluarga Su'ud) membantu penyebaran dakwahnya dengan pedang. Dengan faktor-faktor inilah mereka memaksa manusia untuk berpegang kepada ajaran Wahabi, dan jika tidak, mereka akan mencapnya dengan label kufur dan syirik, serta menghalalkan harta dan darahnya. Mereka melakukan pembenaran atas tindakannya itu melalui sejumlah keyakinan rusak, dengan label "tauhid yang benar". Muhammad bin Abdul Wahhab memulai pembicaraannya tentang tauhid sebagai berikut:
"Tauhid ada dua macam: Tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah. Adapun mengenai tauhid rububiyyah, baik orang Muslim maupun orang kafir mengakui itu. Adapun tauhid uluhiyyah, dialah yang menjadi pembeda antara kekufuran dan Islam. Hendaknya setiap Muslim dapat membedakan antara kedua jenis tauhid ini, dan mengetahui bahwa orang-orang kafir tidak mengingkari Allah SWT sebagai Pencipta, Pemberi rezeki dan Pengatur. Allah SWT berfirman,
'Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka katakanlah, 'Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?' (QS. Yunus: 31)
'Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menjadikan langit dan buini dan menundukkan matahari dan bulan? 'Tentu mereka akan menjawab, 'Allah', maka betapakah mereka dapat dipalingkan (dari jalan yang benar).' (QS. al-'Ankabut: 61)
Jika telah terbukti bagi Anda bahwa orang-orang kafir mengakui yang demikian, niscaya Anda mengetahui bahwa perkataan Anda yang mengatakan "Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan dan tidak ada yang memberi rezeki kecuali Allah, serta tidak ada yang mengatur urusan kecuali Allah", tidaklah menjadikan diri anda seorang Muslim sampai Anda mengatakan, 'Tidak ada Tuhan selain Allah' dengan disertai melaksanakan artinya."[ Fi 'Aqa'id al-Islam, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 38]
Dengan pemahaman yang sederhana ini, yang tidak timbul melainkan dari kebodohan akan hikmah dan ayat-ayat Allah SWT, dia mengkafirkan seluruh masyarakat dengan mengatakan, "Sesungguh-nya orang-orang musyrik jaman kita -yaitu orang-orang Muslim- lebih keras kemusyrikannya dibandingkan orang-orang musyrik yang pertama. Karena, orang-orang musyrik jaman dahulu, mereka hanya menyekutukan Allah di saat lapang, sementara di saat genting mereka mentauhidkan-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi, 'Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)."'[Risalah Arba'ah Qawa'id, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 4]
Setiap orang yang bertawassul kepada Rasulullah saw dan para Ahlul Baitnya, atau menziarahi kuburan mereka, maka dia itu kafir dan musyrik; dan bahkan kemusyrikannya jauh lebih besar daripada kemusyrikan para penyembah Lata, 'Uzza, Mana dan Hubal. Di bawah naungan keyakinan inilah mereka membunuh orang-orang Muslim yang tidak berdosa dan merampas harta benda mereka. Adapun slogan yang sering mereka kumandangkan ialah, masuklah ke dalam ajaran Wahabi! dan jika tidak, niscaya Anda terbunuh, istri Anda menjadi janda, dan anak Anda menjadi yatim.
Saudaranya yang bernama Sulaiman bin Abdul Wahhab membantahnya di dalam kitabnya yang berjudul ash-Shawa'iq al-Ilahiyyah fi ar-Radd 'ala al-Wahabiyyah, "Sejak jaman sebelum Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu pada jaman para imam Islam, belum pernah ada yang meriwayatkan bahwa seorang imam kaum Muslimin mengkafirkan mereka, mengatakan mereka murtad dan memerintahkan untuk memerangi mereka. Belum pernah ada seorang pun dari para imam kaum Muslimin yang menamakan negeri kaum Muslimin sebagai negeri syirik dan negeri perang, sebagaimana yang Anda katakan sekarang. Bahkan lebih jauh lagi, Anda mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan perbuatan-perbuatan ini, meskipun dia tidak melakukannya.
Kurang lebih telah berjalan delapan ratus tahun atas para imam kaum Muslimin, namun demikian tidak ada seorang pun dari para ulama kaum Muslimin yang meriwayatkan bahwa mereka (para imam kaum Muslimin) mengkafirkan orang Muslim. Demi Allah, keharusan dari perkataan Anda ini ialah Anda mengatakan bahwa seluruh umat setelah jaman Ahmad -semoga rahmat Allah tercurah atasnya- baik para ulamanya, para penguasanya dan masyarakatnya, semua mereka itu kafir dan murtad. -Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."[ Risalah Arba'ah Qawa'id, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 4].
Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab juga berkata di dalam halaman 4, "Hari ini umat mendapat musibah dengan orang yang menisbahkan dirinya kepada Al-Qur'an dan sunnah, menggali ilmu keduanya, namun tidak mempedulikan orang yang menentangnya. Jika dia diminta untuk memperlihatkan perkataannya kepada ahli ilmu, dia tidak akan me-lakukannya. Bahkan, dia mengharuskan manusia untuk menerima per-kataan dan pemahamannya. Barangsiapa yang menentangnya, maka dalam pandangannya orang itu seorang yang kafir. Demi Allah, pada dirinya tidak ada satu pun sifat seorang ahli ijtihad. Namun demikian, begitu mudahnya perkataannya menipu orang-orang yang bodoh. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Ya Allah, berilah petunjuk orang yang sesat ini, dan kembalikanlah dia kepada kebenaran."
Akhirnya Ibn Wahab meninggal dunia pada tahun 1206H/1791M tetapi para pengikutnya telah meneruskan mazhabnya dan menghidupkan bid`ah dan kesesatannya kembali. Pada tahun 1216H/1801M, al-Amir Sa`ud al-Wahhabi mempersiapkan tentera yang besar terdiri daripada 20 000 orang dan melakukan serangan ganas ke atas kota suci Karbala’ di `Iraq.Karbala tempat cucu nabi saw yaitu Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib dimakamkan dan merupakan sebuah kota suci dihiasi dengan kemasyhuran dan ketenangan di hati umat Islam. Tentera Wahhabi mengepung dan memasuki kota itu dengan melakukan pembunuhan, rampasan, runtuhan dan kebinasaan. Wahhabi telah melakukan keganasan dan kekejaman di kota Karbala’ dengan perbuatan yang tidak mengenal batas prikemanusiaan dan tidak mungkin dapat dibayangkan. Mereka telah membunuh 5000 orang Islam atau bahkan lebih lagi, hingga disebutkan dalam sejarah mencapai 20 000 orang.
Ketika al-Amir Sa`ud menghentikan perbuatan keji dan kejamnya di sana, dia telah merampas banyak harta. Setelah melakukan keganasan yang cukup menjijikkan ini, dia kemudian menakluki Karbala’ untuk dirinya sehingga para penyair menyusun qasidah-qasidah penuh dengan rintihan, keluhan dan dukacita mereka.
Wahhabi 12 tahun kembali membuat serangan ke atas kota Karbala’ dan kawasan sekitarnya, termasuk Najaf. Mereka kembali sebagai perampas, penyamun dan pencuri pada tahun 1216H/1801M.
Al-`Allamah al-Marhum al-Sayyid Muhammad Jawwad al-`Amili mengatakan:[12][13]
“ Allah telah menentukan dan menetapkan dengan kebesaran dan keihsanan-Nya dan juga dengan berkah Muhammad saw, untuk melengkapkan bab ini pada kitab Miftah al-Karamah, selepas tengah malam 9 Ramadan al-mubarak tahun 1225H/1810M - menurut catatan penyusunnya ...” dengan kekacauan fikiran dan kecelaruan keadaan, orang-orang `Arab dikelilingi oleh orang-orang dari `Unaizah al-Wahhabi al-Khariji di al-Najaf al-Asyraf dan masyhad al-Imam al-Husayn r.a - mereka telah memintas jalan dan merampas hak milik para penziarah al-Husayn r.a . Mereka membunuh sebagian besar daripadanya, terdiri daripada orang-orang `Ajam, sekitar kuranng lebih 150 orang ...”
Jelaslah, bahwa tawhid yang diserukan oleh Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan kelompoknya adalah dengan darah dan harta orang yang menentang dakwah mereka,.
Al-Alusi dalam penjelasannya tentang Wahhabi mengatakan: “ Mereka menerima hadist2 yang datang dari Rasulullah saw bahwa Allah turun ke langit dunia dan berkata: Adakah orang-orang yang ingin memohon keampunan?”. Dan dia mengatakan: “ Mereka mengakui bahawa Allah ta`ala datang pada hari Qiyamat sebagaimana kata-Nya: “ dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya “ (al-Fajr (89): 23) dan sesungguhnya Allah menghampiri makhluk-Nya menurut kehendak-Nya seperti yang disebutkan: “ dan Kami lebih hampir kepadanya daripada urat lehernya “ (Qaf (50): 16).
Dapat dilihat dalam kitab al-Radd `ala al-Akhna’i oleh Ibn Taimiyyah bahwa dia menganggap hadist2 yang diriwayatkan tentang kelebihan ziarah Rasulullah saw sebagai hadith mawdu` (palsu). Dia juga turut menjelaskan “ orang yang berpegang kepada akidah bahawa Nabi masih hidup walaupun sesudah mati seperti kehidupannya semasa baginda masih hidup,” dia telah melakukan dosa yang besar. Inilah juga yang diiktiqadkan oleh Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan para pengikutnya, bahkan mereka menambahkan pemalsuan dan kebatilan Ibn Taimiyyah tersebut.
Para pengikut akidah Wahhabi yang batil memberikan tanggapan kepada para pengkaji yang melakukan penyelidikan mengenai Islam - meneliti kitab-kitab mereka hingga menyebabkan mereka akhirnya beranggapan bahwa Islam adalah agama yang kaku, beku, terbatas dan tidak dapat beradaptasi pada setiap masa dan zaman.
Lothrop Stodard berkebangsaan Amerika mengatakan: “ Kesan dari semua itu, kritikan2 telah timbul karena ulah Wahhabi berpegang kepada dalil tersebut dalam ucapan mereka hingga dikatakan bahawa Islam dari segi jawhar dan tabiatnya tidak mampu lagi berhadapan dengan perubahan menurut kehendak dan tuntutan zaman, tidak dapat berjalan seiringan dengan keadaan kemajuan dan proses perubahan serta tidak lagi mempunyai kesatuan dalam perkembangan kemajuan zaman dan perubahan masa ...”[ 15 Hadir al-`Alam al-Islami, Vol.I, h.264].
Penentangan Terhadap Mazhab Wahhabi
Para ulama al-Hanbali memberontak terhadap Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan mengeluarkan hukum bahwa akidahnya adalah sesat, menyeleweng dan batil . Tokoh pertama yang mengumumkan penentangan terhadapnya adalah bapaknya sendiri, al-Syaikh `Abd al-Wahhab, diikuti oleh saudaranya, al-Syaikh Sulayman. Kedua-duanya adalah daripada mazhab al-Hanabilah. Al-Syaikh Sulayman menulis kitab yang berjudul al-Sawa`iq al-Ilahiyyah fi al-Radd `ala al-Wahhabiyyah untuk menentang dan memeranginya. Di samping itu tantangan juga datang dari sepupunya, `Abdullah bin Husayn.
Mufti Makkah, Zaini Dahlan mengatakan: “ `Abd al-Wahhab, bapak Muhammad bin abdul wahab adalah seorang yang salih dan merupakan seorang tokoh ahli ilmu, begitulah juga dengan al-Syaikh Sulayman. Al-Syaikh `Abd al-Wahhab dan al-Syaikh Sulayman, kedua-duanya dari awal ketika Muhammad mengikuti pengajarannya di Madinah al-Munawwarah telah mengetahui pendapat dan pemikiran Muhammad yang meragukan. Kedua-duanya telah mengkritik dan mencela pendapatnya dan mereka berdua turut memperingatkan orang ramai mengenai bahayanya pemikiran Muhammad...”[ Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, h.357.]
Dalam keterangan Zaini Dahlan yang lain dikatakan bahawa “ bapaknya `Abd al-Wahhab, saudaranya Sulayman dan guru-gurunya telah dapat mengenali tanda2 penyelewengan agama (ilhad) dalam dirinya yang didasarkan kepada perkataan, perbuatan dan tentangan Muhammad bin abd wahab terhadap banyak persoalan agama.”[ Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, h.357.]
`Abbas Mahmud al-`Aqqad al-Misri mengatakan: “ Orang yang paling kuat menentang adalah saudaranya sendiri yaitu , al-Syaikh Sulayman, penulis kitab al-Sawa`iq al-Ilahiyyah. Beliau tidak mengakui saudaranya itu mencapai kedudukan berijtihad dan mampu memahami al-Kitab dan al-Sunnah. Al-Syaikh Sulayman berpendapat bahwa para Imam yang lalu, generasi demi generasi tidak pernah mengkafirkan ashab bid`ah, dalam hal ini tidak pernah timbul persoalan kufur sehingga timbulnya ketetapan mewajibkan mereka memisahkan diri daripadanya dan sehingga diharuskan pula memeranginya kerana alasan tersebut.”
Al-Syaikh Sulayman berkata lagi bahawa: “ Sesungguhnya perkara-perkara itu berlaku sebelum zaman al-Imam Ahmad bin Hanbal yaitu pada zaman para Imam Islam, dia mengingkarinya manakala ada di antara mereka juga mengingkarinya, keadaan itu berterusan sehingga dunia Islam meluas. Semua perbuatan itu dilakukan orang-orang yang kamu kafirkan mereka kerananya, dan tiada seorang pun daripada para Imam Islam yang menceritakan bahawa mereka mengkafirkan (seseorang) dengan sebab-sebab tersebut. Mereka tidak pernah mengatakan seseorang itu murtad, dan mereka juga tidak pernah menyuruh berjihad menentangnya. Mereka tidak menamakan negara-negara orang Islam sebagai negara syirik dan perang sebagaimana yang kamu katakan, bahkan kamu sanggup mengkafirkan orang yang tidak kafir kerana alasan-alasan ini meskipun kamu sendiri tidak melakukannya...”[ Al-Islam fi al-Qarn al-`Isyrin, h.108-109.]
Jelaslah bahwa Muhammad bin `Abd al-Wahhab bukan saja sengaja mengada-adakan bid`ah dalam pendapat dan pemikirannya, bahkan beberapa abad sebelumnya, pendapat dan pemikiran seperti itu telah pun didahului oleh Ibn Taimiyyah al-Harrani dan muridnya, Ibn al-Qayyim al-Jawzi dan tokoh-tokoh seperti mereka berdua.
Kemudian Muhammad bin `Abd al-Wahhab datang dengan membawa pemikiran Ibn Taimiyyah dan bersekongkol pula dengan keluarga Sa`ud dan salig mendukung di antara mereka dari segi pemerintahan dan keislaman. Di Najd, kesesatan telah tersebar dan faham al-Wahhabiyyah merebak ke seluruh pelosok tempat ibarat penyakit kangker (al-saratan) dalam tubuh badan manusia.
Dia menipu kebanyakan umat manusia, mazhab mereka mengatas namakan Tawhid dengan menjatuhkan hukuman ke atas Ahl al-Tawhid, menumpahkan darah umat Islam dengan alasan jihad menentang golongan musyrikin. Sehingga menyebabkan beribu-ribu orang manusia, lelaki dan wanita, kecil dan besar menjadi mangsa bid`ah mereka yang sesat. Ia turut juga menyebabkan perselisihan (khilaf) yang sempit semakin membesar dan menjadi-jadi di kalangan umat Islam. Musibah itu akhirnya sampai ke kepuncaknya dengan jatuhnya dua buah kota suci, Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah.
Penduduk Najd bermazhab Wahhabi memperolehi bantuan dan pertolongan Inggeris yang ingin melihat perpecahan negara Islam. Mereka dengan secara sengaja berusaha menghapuskan segala kesan dan tinggalan Islam di kota-kota Makkah dan Madinah dengan memusnahkan kubur para wali (awliya’) Allah, mencemarkan kehormatan kerabat / keluarga Rasulullah saw(Aal Rasulillah) dan lain-lain dengan perbuatan2 yang tidak senonoh untuk mengoncangkan hati dan perasaan umat Islam.
Sebagian ahli sejarah menyebutkan: “ Kemunculan secara tiba-tiba mazhab Wahhabi dan sewaktu mereka memegang kekuasaan di Makkah, operasi pemusnahan secara besar-besaran telah dilakukan oleh mereka dengan memusnahkan pertamanya, apa sahaja yang ada di al-Mu`alla, sebuah kawasan perkuburan Quraisy yang terdiri daripada kubah-kubah (qubbah) yang begitu banyak, termasuklah kubah-kubah Sayyidina `Abd al-Muttalib, datuk Nabi saw, Sayyidina Abi Talib, al-Sayyidah Khadijah sebagaimana yang telah mereka lakukan kepada kubah-kubah tempat kelahiran Nabi saw, Abu Bakr dan al-Imam `Ali. Mereka juga turut memusnahkan kubah zamzam dan kubah-kubah lain di sekitar Ka`bah, seterusnya diikuti oleh kawasan-kawasan lain yang mempunyai kesan dan peninggalan orang-orang salih.
Semasa mereka melakukan pemusnahan itu, mereka membuang kotoran sambil memukul gendang (al-tubul) dan menyanyi dengan mengeluarkan kata-kata mencaci dan menghina kubur-kubur ... sehingga dikatakan sebahagian daripada mereka sanggup kencing di atas kubur-kubur para salihin tersebut.”[ Takmilah al-Sayf al-Sayqal, h.190, untuk penelitian selanjutnya, lihat: Al-Jabarti, Kasyf al-Irtiyab, h.40.]
Sejarah mencatat salah satu jasa NU yang paling besar ialah ketika dunia digoncangkan oleh berdirinya al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Sa‘ûdiyyah. Seorang Gubernur Najd yang namanya Muhammad bin Su`ud dengan Muhammad bin Abdul Wahab mendeklarasikan berdirinya kerajaan Saudi Arabia, memisahkan diri dari kekuasaan sentral Khalifah Usmani di Turki, kemudian mereka menang di Timur, lantas mengadakan ekspansi ke Barat, masuk ke Mekkah.
Setelah menguasai Mekkah, orang Najd itu membikin goncangan terhadap dunia Islam yaitu pertama, rumah Abdul Muthalib dijadikan WC, rumahnya Abu Thalib dijadikan kandang khimar, kuburan di Ma`la diratakan dengan tanah, tidak pandang bulu Sayyidah Khadijah, Abdullah bin Zubair dan lain sebagainya. Selesai di Mekkah, kemudian pindah ke Madinah, kuburan di Baqi’, 15 ribu sahabat diratakan dengan tanah, sampai sekarang kita pun tidak bisa cari mana satu persatu, hanya kira-kira saja. Terakhir tinggal makam Rasulullah saw. bersama Abu Bakar Ra. dan Umar Ra., itu pun akan dibongkar.
Dari situ KH.Wahab Hasbullah dan teman-temannya terpanggil untuk membentuk yang dinamakan Komite Hijaz. Berangkatlah tiga orang, Kiai Wahab, Kiai Fathurrahman, dan H. Hasan Dipo. Sampai di Jeddah, diterima oleh Raja Abdul Aziz, dan Kiai Wahab memohon atas nama umat Islam negeri jauh agar pemerintah Saudi Arabia tidak membongkar Makam Rasulullah Saw. beserta Abu Bakar dan Umar. Kedua, hendaknya Pemerintah Saudi Arabia memberi kebebasan kepada dluyûf al-rahmân selama di Mekkah-Madinah, baik haji atau umrah, melaksanakan ibadahnya sesuai dengan mazhabnya masing-masing. Dan oleh Raja Abdul Aziz, semua permohonan itu dikabulkan. Sehingga sampai sekarang makam Rasul, Abu Bakar dan Umar masih ada.
Al-`Allamah al-Sayyid Sadr al-Din al-Sadr mengatakan:
“ Demi usia hidupku, sesungguhnya al-Baqi` telah menerima nasib yang sangat malang, karena hati2 yang kecewa, mengikuti nafsu dan berperangai kebudak-budakan, maka berlakulah pencetus kepada segala kecelakaan, apabila tiada lagi kedamaian. Bagi umat Islam kepada Allah diadukan, hak Nabi-Nya yang telah memberikan petunjuk dan syafaat.”
“ Celakalah anak cucu Yahudi dengan perbuatan tidak senonoh yang mereka lakukan, mereka tidak mendapat apa-apa daripadanya dengan membongkarkan harim Muhammad saw dan keluarganya . Neraka wail untuk mereka dengan apa yang mereka tentang terhadap orang-orang yang kuat. Mereka musnahkan kubur orang-orang salih dengan perasaan benci mereka. Hindarkanlah daripada mereka karena sesungguhnya mereka membenci orang-orang yang terpilih (di sisi Allah).”
Nabi Muhammad saw pernah bersabda bahwa: “ Apabila sesuatu bid`ah itu muncul di kalangan umatku, maka orang-orang alim hendaklah memperlihatkan dan menyampaikan ilmu mereka kerana kalau mereka tidak melakukannya, laknat Allah akan ditimpakan ke atas mereka.”
Rasulullah saw juga bersabda: “ Apabila bid`ah timbul dan orang-orang yang terkemudian daripada umat ini melaknat orang-orang yang terdahulu, maka barang siapa yang memiliki keilmuan, maka hendaklah menyampaikannya. Sesungguhnya orang yang menyembunyikan keilmuannya pada hari itu seumpama orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad.”
Para Siddiqin r.a dari keluarga Rasulullah saw mengatakan bahwa: “ Apabila bid`ah lahir, maka orang alim hendaklah menzahirkan keilmuannya, sekiranya dia tidak berbuat demikian, cahaya keimanan (Nur al-Iman) akan hilang.”
Atas dasar inilah Sunni telah bangkit menentang serangan mazhab Wahhabi. Mereka telah menulis, menerbitkan kitab2 dan menjelaskan keburukan dan kejahatan tokoh2 Wahabi yang berusaha untuk merealisasikan cita2 dan harapan penjajah Inggeris.
Kitab pertama yang ditulis untuk menolak dan menentang fahaman Muhammad ibn `Abd al-Wahhab ialah al-Sawa`iq al-Ilahiyyah fi al-Radd `ala al-Wahhabiyyah yang ditulis oleh al-Syaikh Sulayman, iaitu saudara kepada Muhammad sendiri.
Pada zaman itu, golongan Wahhabi telah meningkatkan serangan mereka yang merusakkan dan berbahaya terhadap Islam. Dan pengikutnya meneruskan penentangan dan peperangan yang didalangi oleh keluarga Sa`ud dengan bantuan daripada hasil keuntungan minyak mereka. Pemerintahan kesultanan Sa`udi telah memperuntukkan sejumlah besar hasil keuntungan minyak mereka untuk menyebarkan dan mengembangkan mazhab ciptaan penjajah Inggeris ini di kalangan orang Islam. Kalaulah tidak karena kekayaan yang besar itu tentulah mazhab Wahhabi tidak akan dapat bertahan hingga hari ini.
Kelihatan bahwa unsur-unsur penjajahan (al-isti`mar) Inggeris begitu jelas menerusi mazhab tersebut dan mereka mengambilnya sebagai cara yang terbaik untuk mewujudkan perpecahan, persengketaan, permusuhan, perselisihan dan pertentangan di kalangan umat Islam sendiri. Mazhab tersebut juga turut memperkuatkan dan memperkukuhkan matlamat penjajahan Inggeris dengan mengada-adakan fitnah di kalangan umat Islam seperti menuduh orang-orang Islam yang lain sebagai fasiq, kafir , musyrik , mubtadi’ , dsb.
Umat Islam yang tidak prihatin dan mempunyai pemikiran yang cetek dengan mudah diperdayakan oleh mereka sehingga akhirnya mereka secara sadar atau tidak, turut membantu usaha2 mazhab Wahhabi dan Inggeris. Bahkan melaksanakannya dalam kehidupan mereka menerusi perbuatan dan tindakan biadab terhadap umat Islam lain yang dianggap sebagai lawan2 mereka. Keadaan yang berlanjutan ini menyebabkan umat Islam menjadi lemah dan mudah dipermainkan oleh musuh2 Islam yang bertopeng Islam. -
Nama Wahhabi atau al-Wahhabiyyah kelihatan dihubungkan kepada nama `Abd al-Wahhab yaitu pendirinya Muhammad bin `Abd al-Wahhab al-Najdi. Ia tidak dinamakan al-Muhammadiyyah yang mungkin boleh dikaitkan dengan nama Muhammad bin `Abd al-Wahhab bertujuan untuk membedakan di antara para pengikut Nabi Muhammad saw dengan mereka, dan juga bertujuan untuk menghalangi segala bentuk eksploitasi (istighlal). Bagaimanapun, nama Wahhabi dikatakan ditolak oleh para penganut Wahhabi sendiri dan mereka menggelarkan diri mereka sebagai golongan al-Muwahhidun (unitarians) karena mereka mendakwa ingin mengembalikan ajaran-ajaran tawhid ke dalam Islam dan kehidupan murni menurut sunnah Rasulullah.
Mazhab Wahhabi pada zaman moden ini tidak lain dan tidak bukan, adalah golongan al-Hasyawiyyah karena kepercayaan2 dan pendapat2 mereka 100% sama dengan golongan yang dikenali sebagai al-Hasyawiyyah pada abad-abad yang awal.
Istilah al-Hasyawiyyah adalah berasal daripada kata dasar al-Hasyw yaitu penyisipan, pemasangan dan kemasukan. Nama ini diberikan kepada orang-orang yang menerima dan mempercayai semua hadisr yang dibawa masuk ke dalam Islam oleh orang-orang munafiq. Mereka mempercayai semua hadist yang dikaitkan kepada Nabi saw dan para sahabat baginda berdasarkan pengertian bahasa semata-mata tanpa melakukan penelitihan dan pemikiran. Bahkan sekiranya sesuatu “ hadist “ itu dipalsukan (tetapi orang yang memalsukannya memasukkan suatu rangkaian perawi yang baik kepadanya), mereka tetap menerimanya tanpa mempedulikan apakah teks hadist itu serasi dan selaras dengan al-Qur’an ataupun hadist yang diakui sahih atau sebaliknya.
Ahmad bin Yahya al-Yamani (m.840H/1437M) mencatatkan bahawa: “ Nama al-Hasyawiyyah digunakan kepada orang-orang yang meriwayatkan hadist2 sisipan yang sengaja dimasukkan oleh golongan al-Zanadiqah sebagaimana sabda Nabi saw dan mereka menerimanya tanpa melakukan interpretasi semula, dan mereka juga menggelarkan diri mereka Ashab al-Hadith dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah... Mereka bersepakat mempercayai konsep pemaksaan (Allah berhubungan dengan perbuatan manusia) dan tasybih (bahwa Allah seperti makhluk-Nya) dan mempercayai bahawa Allah mempunyai jasad dan bentuk serta mengatakan bahawa Allah mempunyai anggota tubuh ... “.
Al-Syahrastani (467-548H/1074-1153M) menuliskan bahawa: “ Terdapat sebuah kumpulan Ashab al-Hadith, iaitu al-Hasyawiyyah dengan jelas menunjukkan kepercayaan mereka tentang tasybih (yaitu Allah serupa makhluk-Nya) ... sehinggakan mereka sanggup mengatakan bahawa pada suatu ketika, kedua-dua mata Allah kesedihan, lalu para malaikat datang menemui-Nya dan Dia (Allah) menangisi (kesedihan) berakibat banjir Nabi Nuh a.s sehingga mata-Nya menjadi merah, dan `Arasy meratap hiba seperti suara pelana baru dan bahwa Dia melampaui `Arasy dalam keadaan melebihi empat jari di segenap sudut.” [Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, h.141.]
Definisi dan gambaran ini secara langsung menepati golongan Wahhabi yang menamakan diri mereka sebagai Ashab al-Hadist atau Ahl al-Hadist dan kerapkali juga sebagai Sunni, dan pada masa kini mereka memperkenalkan diri mereka sebagai Ansar al-Sunnah ataupun Ittiba` al-Sunnah.
Latar belakang Pengasas Mazhab Wahhabi
Muhammad bin `Abd al-Wahhab dilahirkan di perkampungan `Uyainah, salah sebuah kampung dalam Najd di bahagian selatan pada tahun 1115H/1703M. Bapaknya, `Abd al-Wahhab merupakan seorang Qadi di sini. Muhammad dikatakan pernah mempelajari bidang fiqh al-Hanbali dengan bapaknya, yang juga adalah salah seorang tokoh ulama al-Hanabilah. Semenjak kecil, dia mempunyai hubungan yang erat dengan pengkajian dan pembelajaran kitab-kitab tafsir, hadith dan akidah.
Pada masa remajanya, Muhammad selalu memperendah-rendahkan syiar agama yang biasanya dipegang oleh penduduk Najd, bukan saja di Najd bahkan sehingga sejauh Madinah selepas dia kembali daripada menunaikan haji. Dia sering mengada-adakan perubahan dalam pendapat dan pemikiran di dalam majlis-majlis agama, dan dia dikatakan tidak suka kepada orang yang bertawassul kepada Nabi saw di tempat kelahiran (marqad) baginda yang suci itu.
Kehidupannya selama beberapa tahun dihabiskan dengan mengembara dan berdagang di kota-kota Basrah, Baghdad, Iran, dan Damsyik (damaskus). Di Damsyik, dia telah mempelajari kitab-kitab karangan Ibn Taimiyyah al-Harrani (m.728H/1328M) yang mengandung ajaran2 yang berunsur kontroversi berbeda dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah.
Dia kembali ke Najd dan kemudian berpindah ke Basrah disini dia akhirnya berjumpa dengan Hempher yaitu seorang orientalis dan agen rahasia Inggeris. Hempher yang menyamar sebagai Sheikh Muhammad. Dia seorang yang ahli berbahasa Arab , Turki, Parsi, dan telah lama mempelajari Islam di Turki dan Iraq (untuk lebih jelasnya soal hempher ini silahkan klik http://asmar.perso.ch/hempher/spy/ insyaAllah untuk kemudian hari akan saya terjemahkan).
Hampher yang akhirnya mempengaruhi ideologi Ibn Wahhab ini, malah memperparah kesesatan Ibn Wahhab. Bersama Hempher inilah Ibn Wahhab sempat melakukan nikah mut’ah dengan seorang agen wanita inggeris yang menyamar sebagai Safiyyah selama 1 minggu. Dalam masa itu Ibn Wahhab tambah sesat lagi karena dalam terkapan 2 orang sekaligus. Pikirannya yang dangkal akhirnya membuatnya terbawa bermabuk-mabukan bersama istri mut’ahnya.
Kemudian atas usul Hempher, Ibn Wahhab hijrah ke Isfahan, Iran . Untuk itu dia memperpanjang masa nikah mut’ahnya bersama Safiyya menjadi 2 bulan.
Disana dia masuk dalam terkapan seorang agen Inggris juga yang menyamar sebagai Abd Karim yang mengenalkannya dengan seorang wanita agen Inggris (yahudi) yang menyamar sebagai Asiya yang jauh lebih cantik dari Safiyya dan akhirnya dinikah mut’ah pula. Dalam terkapan agen2 Inggeris inilah Ibn Wahhab dicekoki segalam macam pemikiran yang sesat, dan menyusun berbagai program untuk menghancurkan Islam .Silahkan pembaca teliti di http://asmar.perso.ch/hempher/spy/ .
Sedikit tambahan ….sekiranya pembaca membaca biografi Ibn Wahhab versi Wahabi …maka pembaca sekalian akan menemukan kalimat ini : “Di antara pendukung dakwahnya di kota Basrah ialah seorang ulama yang bernama Syeikh Muhammad al-Majmu’i “ . Inilah Hempher yang menyamar sebagai Syeikh Muhammad al-Majmu’i !!!. Dia sengaja mengiringi Ibn Wahhab kembali ke najd untuk mengawasi, menasihati dan mengimplementasikan program2 penghancuran Islam.
Kemudian dalam perjalanannya ke Syam, di Basrah Ibn Wahhab berupaya menyebarkan pemikirannya untuk mencegah ummat daripada melakukan syiar agama mereka dan menghalangi mereka daripada perbuatan tersebut. Justru itu penduduk Basrah bangkit menentangnya, dan menyingkirkannya daripada perkampungan mereka. Akhirnya dia melarikan diri ke kota al-Zabir.
Dalam perjalanan di antara Basrah dan al-Zabir, akibat terlalu penat berjalan karena kepanasan sehingga hampir2 menemui ajalnya, seorang lelaki (dari kota al-Zabir) telah menemuinya lalu membantunya ketika melihatnya berpakaian seperti seorang alim. Dia diberikan minuman dan dibawa kembali ke kota tersebut. Muhammad bin `Abd al-Wahhab berkeinginan untuk ke Syam tetapi dia tidak mempunyai bekal yang mencukupi, lalu pergi ke al-Ahsa’ dan dari situ, terus ke Huraymilah (dalam kawasan Najd) juga.
Pada tahun 1139H/1726M, bapaknya berpindah dari `Uyainah ke Huraymilah dan dia ikut serta dengan bapaknya dan belajar dengannya tetapi masih meneruskan penentangannya yang kuat terhadap amalan-amalan agama di Najd, yang menyebabkan terjadinya pertentangan dan perselisihan yang berkecamuk di antaranya dan bapanya di satu pihak dan, dia bersama dengan penduduk-penduduk Najd di pihak yang lain. Keadaan tersebut terus berlanjut hingga tahun 1153H/1740M ketika bapaknya meninggal dunia.[ Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, h.141]. Sejak itu, Ibn wahhab tidak lagi terikat. Dia telah mengemukakan akidah2nya yang sesat, menolak dan memerangi amalan2 agama yang dilakukan serta menyeru mereka bergabung bersama kelompoknya. Sebagian tertipu dan sebagian lagi meninggalkannya hingga dia mengumumkan kekuasaannya di Madinah.
Ibn Wahhab kembali ke `Uyainah yang diperintah oleh `Usman bin Hamad yang menerima dan memuliakannya dan berlakulah perjanjian di antara mereka berdua bahawa setiap seorang hendaklah mempertahankan yang lain dengan seorang memegang kekuasaan dalam perundangan Islam (al-tasyri`) dan seorang lagi dalam pemerintahan. Pemerintah `Uyainah mendukung dengan kekuatan dan Ibn Wahhab menyeru manusia mentaati pemerintah dan para pengikutnya.
Berita telah sampai kepada pemerintah al-Ahsa’ bahawa Muhammad bin `Abd al-Wahhab menyebarkan pendapat dan bid`ahnya, dan pemerintah `Uyainah menyokongnya. Beliau telah mengirimkan suatu surat peringatan dan ancaman kepada pemerintah `Uyainah. Pemerintah `Uyainah kemudian memanggil Muhammad dan memberitahunya bahawa dia enggan membantunya. Ibn `Abd al-Wahhab berkata kepadanya: “ Sekiranya engkau membantuku dalam dakwah ini, engkau akan menguasai seluruh Najd.” Pemerintah tersebut menyingkirkannya dan memerintahkannya meninggalkan `Uyainah dengan cara mengusirnya pada tahun 1160H/1747M.
Pada tahun itu, Muhammad keluar dari `Uyainah ke Dar`iyyah di Najd yang diperintah oleh Muhammad bin Sa`ud (m.1179H/1765M) yang kemudian mengunjungi, memuliakan dan menjanjikan kebaikan kepadanya. Sebagai balasannya, Ibn `Abd al-Wahhab memberikan kabar gembira kepadanya dengan jaminan penguasaan Najd keseluruhannya. Dengan cara itu, suatu perjanjian dimeterai.[ Al-Alusi, Tarikh Najd, h.111-113]. Penduduk Dar`iyyah mendukungnya sehingga akhirnya Muhammad ibn `Abd al-Wahhab dan Muhammad bin Sa`ud menyetujui perjanjian itu(`aqd al-Ittifaqiyyah).
Ibn Basyr al-Najdi yang dipetik oleh al-Alusi mengatakan: “ Penduduk Dar`iyyah pada masa itu dalam keadaan sangat menderita dan kepayahan, mereka lalu berusaha untuk memenuhi kehidupan mereka ... Aku lihat kesempitan hidup mereka pada kali pertama tetapi kemudian aku lihat al-Dar`iyyah selepas itu - pada zaman Sa`ud, penduduknya memiliki harta yang banyak dan senjata disaluti emas, perak, kuda yang baik, para bangsawan, pakaian mewah dsb,i daripada sumber-sumber kekayaan sehinggakan lidah kelu untuk berkata-kata dan gambaran secara terperinci tidak mampu diuraikan.”
“ Aku lihat tempat orang ramai pada hari itu, di tempat dikenali al-Batin - aku lihat kumpulan lelaki di satu pihak dan wanita di satu pihak lagi, aku lihat emas, perak, senjata, unta, kuda, pakaian mewah dan semua makanan tidak mungkin dapat digambarkan dan tempat itu pula sejauh mata memandang, aku dengar hiruk-pikuk suara-suara penjual dan pembeli ... “[Salah seorang pengarang `Uthmaniyyah menceritakannya dalam kitabnya, Tarikh Baghdad, h.152 tentang permulaan hubungan di antara Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan keturunan Sa`ud dengan cara yang berbeda tetapi kelihatan sama dengan apa yang diceritakan]
Harta yang banyak itu tidak diketahui datang dari mana, dan Ibn Basyr al-Najdi sendiri tidak menceritakan sumber harta kekayaan yang banyak itu tetapi berdasarkan fakta-fakta sejarah, Ibn `Abd al-Wahhab memperolehinya daripada serangan dan serbuan yang dilakukannya bersama-sama para pengikutnya terhadap kabilah2 dan kota2 yang kemudian meninggalkannya untuknya. Ibn `Abd al-Wahhab merampas harta kekayaan itu dan membagi-bagikan kepada penduduk Dar`iyyah.
Ibn `Abd al-Wahhab mengikuti kaedah khusus dalam pembagian harta rampasanyang dirampasbnya dari kaum muslimin . Ada kalanya, dia membagikannya hanya kepada 2 atau 3 orang pengikutnya. Amir Najd menerima bagian daripada ghanimah itu dengan persetujuan Muhammad bin `Abd al-Wahhab sendiri. Ibn `Abd al-Wahhab melakukan perbuatan yang buruk terhadap umat Islam yang tidak tunduk kepada hawa nafsu dan pendapatnya dan disamakan dengan kafir harbi dan dia menghalalkan harta mereka.
Ringkasnya, Muhammad ibn `Abd al-Wahhab kelihatan menyeru kepada agama Tawhid tetapi tawhid sesat ciptaannya sendiri, dan bukannya tawhid menurut seruan al-Qur’an dan al-Hadist. Siapa yang tunduk (kepada tawhidnya) akan terpelihara diri dan hartanya dan sesiapa yang menolak dianggap kafir harbi (yang perlu diperangi) darah dan hartanya halal.
Dengan alasan inilah, golongan Wahhabi menguasai medan peperangan di Najd dan kawasan2 di luarnya seperti Yaman, Hijaz, sekitar Syria dan `Iraq. Mereka mengaut keuntungan yang berlimpah daripada kota2yang mereka kuasai menurut kemauan dan kehendak mereka, dan jika mereka bisa menghimpunkan kawasan2 itu ke dalam kekuasaan dan kehendak mereka, mereka akan lakukan semua itu, tetapi jika sebaliknya mereka hanya datang untuk merampas harta kekayaan saja.[ Tarikh Mamlakah al-`Arabiyyah al-Sa`udiyyah, Vol. I, h..51].
Ibn Wahab memerintahkan orang2 yang cenderung mengikuti dakwahnya supaya memberikan bai`ah dan orang-orang yang enggan wajib dibunuh dan dibagi-bagikan hartanya. Oleh kerana itu, dalam proses membuang dan mengasingkan penduduk kampung di sekitar al-Ahsa’ untuk mendapatkan bai`ah itu, mereka telah menyerang dan membunuh 300 orang dan merampas harta -harta mereka.[ Tarikh Mamlakah al-`Arabiyyah al-Sa`udiyyah, Vol. I, h..51].
Bagi Muhamad bin Abdul Wahhab, situasi dan kondisi amat mendukung baginya untuk menyebarkan pemikiran-pemikirannya yang beracun ke tengah ummat. Karena kebodohan dan kebuta-hurufan menghinggapi seluruh kawasan Najd kala itu. Di samping itu, penguasa Ali Su'ud (keluarga Su'ud) membantu penyebaran dakwahnya dengan pedang. Dengan faktor-faktor inilah mereka memaksa manusia untuk berpegang kepada ajaran Wahabi, dan jika tidak, mereka akan mencapnya dengan label kufur dan syirik, serta menghalalkan harta dan darahnya. Mereka melakukan pembenaran atas tindakannya itu melalui sejumlah keyakinan rusak, dengan label "tauhid yang benar". Muhammad bin Abdul Wahhab memulai pembicaraannya tentang tauhid sebagai berikut:
"Tauhid ada dua macam: Tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah. Adapun mengenai tauhid rububiyyah, baik orang Muslim maupun orang kafir mengakui itu. Adapun tauhid uluhiyyah, dialah yang menjadi pembeda antara kekufuran dan Islam. Hendaknya setiap Muslim dapat membedakan antara kedua jenis tauhid ini, dan mengetahui bahwa orang-orang kafir tidak mengingkari Allah SWT sebagai Pencipta, Pemberi rezeki dan Pengatur. Allah SWT berfirman,
'Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka katakanlah, 'Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?' (QS. Yunus: 31)
'Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menjadikan langit dan buini dan menundukkan matahari dan bulan? 'Tentu mereka akan menjawab, 'Allah', maka betapakah mereka dapat dipalingkan (dari jalan yang benar).' (QS. al-'Ankabut: 61)
Jika telah terbukti bagi Anda bahwa orang-orang kafir mengakui yang demikian, niscaya Anda mengetahui bahwa perkataan Anda yang mengatakan "Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan dan tidak ada yang memberi rezeki kecuali Allah, serta tidak ada yang mengatur urusan kecuali Allah", tidaklah menjadikan diri anda seorang Muslim sampai Anda mengatakan, 'Tidak ada Tuhan selain Allah' dengan disertai melaksanakan artinya."[ Fi 'Aqa'id al-Islam, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 38]
Dengan pemahaman yang sederhana ini, yang tidak timbul melainkan dari kebodohan akan hikmah dan ayat-ayat Allah SWT, dia mengkafirkan seluruh masyarakat dengan mengatakan, "Sesungguh-nya orang-orang musyrik jaman kita -yaitu orang-orang Muslim- lebih keras kemusyrikannya dibandingkan orang-orang musyrik yang pertama. Karena, orang-orang musyrik jaman dahulu, mereka hanya menyekutukan Allah di saat lapang, sementara di saat genting mereka mentauhidkan-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi, 'Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)."'[Risalah Arba'ah Qawa'id, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 4]
Setiap orang yang bertawassul kepada Rasulullah saw dan para Ahlul Baitnya, atau menziarahi kuburan mereka, maka dia itu kafir dan musyrik; dan bahkan kemusyrikannya jauh lebih besar daripada kemusyrikan para penyembah Lata, 'Uzza, Mana dan Hubal. Di bawah naungan keyakinan inilah mereka membunuh orang-orang Muslim yang tidak berdosa dan merampas harta benda mereka. Adapun slogan yang sering mereka kumandangkan ialah, masuklah ke dalam ajaran Wahabi! dan jika tidak, niscaya Anda terbunuh, istri Anda menjadi janda, dan anak Anda menjadi yatim.
Saudaranya yang bernama Sulaiman bin Abdul Wahhab membantahnya di dalam kitabnya yang berjudul ash-Shawa'iq al-Ilahiyyah fi ar-Radd 'ala al-Wahabiyyah, "Sejak jaman sebelum Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu pada jaman para imam Islam, belum pernah ada yang meriwayatkan bahwa seorang imam kaum Muslimin mengkafirkan mereka, mengatakan mereka murtad dan memerintahkan untuk memerangi mereka. Belum pernah ada seorang pun dari para imam kaum Muslimin yang menamakan negeri kaum Muslimin sebagai negeri syirik dan negeri perang, sebagaimana yang Anda katakan sekarang. Bahkan lebih jauh lagi, Anda mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan perbuatan-perbuatan ini, meskipun dia tidak melakukannya.
Kurang lebih telah berjalan delapan ratus tahun atas para imam kaum Muslimin, namun demikian tidak ada seorang pun dari para ulama kaum Muslimin yang meriwayatkan bahwa mereka (para imam kaum Muslimin) mengkafirkan orang Muslim. Demi Allah, keharusan dari perkataan Anda ini ialah Anda mengatakan bahwa seluruh umat setelah jaman Ahmad -semoga rahmat Allah tercurah atasnya- baik para ulamanya, para penguasanya dan masyarakatnya, semua mereka itu kafir dan murtad. -Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."[ Risalah Arba'ah Qawa'id, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 4].
Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab juga berkata di dalam halaman 4, "Hari ini umat mendapat musibah dengan orang yang menisbahkan dirinya kepada Al-Qur'an dan sunnah, menggali ilmu keduanya, namun tidak mempedulikan orang yang menentangnya. Jika dia diminta untuk memperlihatkan perkataannya kepada ahli ilmu, dia tidak akan me-lakukannya. Bahkan, dia mengharuskan manusia untuk menerima per-kataan dan pemahamannya. Barangsiapa yang menentangnya, maka dalam pandangannya orang itu seorang yang kafir. Demi Allah, pada dirinya tidak ada satu pun sifat seorang ahli ijtihad. Namun demikian, begitu mudahnya perkataannya menipu orang-orang yang bodoh. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Ya Allah, berilah petunjuk orang yang sesat ini, dan kembalikanlah dia kepada kebenaran."
Akhirnya Ibn Wahab meninggal dunia pada tahun 1206H/1791M tetapi para pengikutnya telah meneruskan mazhabnya dan menghidupkan bid`ah dan kesesatannya kembali. Pada tahun 1216H/1801M, al-Amir Sa`ud al-Wahhabi mempersiapkan tentera yang besar terdiri daripada 20 000 orang dan melakukan serangan ganas ke atas kota suci Karbala’ di `Iraq.Karbala tempat cucu nabi saw yaitu Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib dimakamkan dan merupakan sebuah kota suci dihiasi dengan kemasyhuran dan ketenangan di hati umat Islam. Tentera Wahhabi mengepung dan memasuki kota itu dengan melakukan pembunuhan, rampasan, runtuhan dan kebinasaan. Wahhabi telah melakukan keganasan dan kekejaman di kota Karbala’ dengan perbuatan yang tidak mengenal batas prikemanusiaan dan tidak mungkin dapat dibayangkan. Mereka telah membunuh 5000 orang Islam atau bahkan lebih lagi, hingga disebutkan dalam sejarah mencapai 20 000 orang.
Ketika al-Amir Sa`ud menghentikan perbuatan keji dan kejamnya di sana, dia telah merampas banyak harta. Setelah melakukan keganasan yang cukup menjijikkan ini, dia kemudian menakluki Karbala’ untuk dirinya sehingga para penyair menyusun qasidah-qasidah penuh dengan rintihan, keluhan dan dukacita mereka.
Wahhabi 12 tahun kembali membuat serangan ke atas kota Karbala’ dan kawasan sekitarnya, termasuk Najaf. Mereka kembali sebagai perampas, penyamun dan pencuri pada tahun 1216H/1801M.
Al-`Allamah al-Marhum al-Sayyid Muhammad Jawwad al-`Amili mengatakan:[12][13]
“ Allah telah menentukan dan menetapkan dengan kebesaran dan keihsanan-Nya dan juga dengan berkah Muhammad saw, untuk melengkapkan bab ini pada kitab Miftah al-Karamah, selepas tengah malam 9 Ramadan al-mubarak tahun 1225H/1810M - menurut catatan penyusunnya ...” dengan kekacauan fikiran dan kecelaruan keadaan, orang-orang `Arab dikelilingi oleh orang-orang dari `Unaizah al-Wahhabi al-Khariji di al-Najaf al-Asyraf dan masyhad al-Imam al-Husayn r.a - mereka telah memintas jalan dan merampas hak milik para penziarah al-Husayn r.a . Mereka membunuh sebagian besar daripadanya, terdiri daripada orang-orang `Ajam, sekitar kuranng lebih 150 orang ...”
Jelaslah, bahwa tawhid yang diserukan oleh Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan kelompoknya adalah dengan darah dan harta orang yang menentang dakwah mereka,.
Al-Alusi dalam penjelasannya tentang Wahhabi mengatakan: “ Mereka menerima hadist2 yang datang dari Rasulullah saw bahwa Allah turun ke langit dunia dan berkata: Adakah orang-orang yang ingin memohon keampunan?”. Dan dia mengatakan: “ Mereka mengakui bahawa Allah ta`ala datang pada hari Qiyamat sebagaimana kata-Nya: “ dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya “ (al-Fajr (89): 23) dan sesungguhnya Allah menghampiri makhluk-Nya menurut kehendak-Nya seperti yang disebutkan: “ dan Kami lebih hampir kepadanya daripada urat lehernya “ (Qaf (50): 16).
Dapat dilihat dalam kitab al-Radd `ala al-Akhna’i oleh Ibn Taimiyyah bahwa dia menganggap hadist2 yang diriwayatkan tentang kelebihan ziarah Rasulullah saw sebagai hadith mawdu` (palsu). Dia juga turut menjelaskan “ orang yang berpegang kepada akidah bahawa Nabi masih hidup walaupun sesudah mati seperti kehidupannya semasa baginda masih hidup,” dia telah melakukan dosa yang besar. Inilah juga yang diiktiqadkan oleh Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan para pengikutnya, bahkan mereka menambahkan pemalsuan dan kebatilan Ibn Taimiyyah tersebut.
Para pengikut akidah Wahhabi yang batil memberikan tanggapan kepada para pengkaji yang melakukan penyelidikan mengenai Islam - meneliti kitab-kitab mereka hingga menyebabkan mereka akhirnya beranggapan bahwa Islam adalah agama yang kaku, beku, terbatas dan tidak dapat beradaptasi pada setiap masa dan zaman.
Lothrop Stodard berkebangsaan Amerika mengatakan: “ Kesan dari semua itu, kritikan2 telah timbul karena ulah Wahhabi berpegang kepada dalil tersebut dalam ucapan mereka hingga dikatakan bahawa Islam dari segi jawhar dan tabiatnya tidak mampu lagi berhadapan dengan perubahan menurut kehendak dan tuntutan zaman, tidak dapat berjalan seiringan dengan keadaan kemajuan dan proses perubahan serta tidak lagi mempunyai kesatuan dalam perkembangan kemajuan zaman dan perubahan masa ...”[ 15 Hadir al-`Alam al-Islami, Vol.I, h.264].
Penentangan Terhadap Mazhab Wahhabi
Para ulama al-Hanbali memberontak terhadap Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan mengeluarkan hukum bahwa akidahnya adalah sesat, menyeleweng dan batil . Tokoh pertama yang mengumumkan penentangan terhadapnya adalah bapaknya sendiri, al-Syaikh `Abd al-Wahhab, diikuti oleh saudaranya, al-Syaikh Sulayman. Kedua-duanya adalah daripada mazhab al-Hanabilah. Al-Syaikh Sulayman menulis kitab yang berjudul al-Sawa`iq al-Ilahiyyah fi al-Radd `ala al-Wahhabiyyah untuk menentang dan memeranginya. Di samping itu tantangan juga datang dari sepupunya, `Abdullah bin Husayn.
Mufti Makkah, Zaini Dahlan mengatakan: “ `Abd al-Wahhab, bapak Muhammad bin abdul wahab adalah seorang yang salih dan merupakan seorang tokoh ahli ilmu, begitulah juga dengan al-Syaikh Sulayman. Al-Syaikh `Abd al-Wahhab dan al-Syaikh Sulayman, kedua-duanya dari awal ketika Muhammad mengikuti pengajarannya di Madinah al-Munawwarah telah mengetahui pendapat dan pemikiran Muhammad yang meragukan. Kedua-duanya telah mengkritik dan mencela pendapatnya dan mereka berdua turut memperingatkan orang ramai mengenai bahayanya pemikiran Muhammad...”[ Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, h.357.]
Dalam keterangan Zaini Dahlan yang lain dikatakan bahawa “ bapaknya `Abd al-Wahhab, saudaranya Sulayman dan guru-gurunya telah dapat mengenali tanda2 penyelewengan agama (ilhad) dalam dirinya yang didasarkan kepada perkataan, perbuatan dan tentangan Muhammad bin abd wahab terhadap banyak persoalan agama.”[ Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, h.357.]
`Abbas Mahmud al-`Aqqad al-Misri mengatakan: “ Orang yang paling kuat menentang adalah saudaranya sendiri yaitu , al-Syaikh Sulayman, penulis kitab al-Sawa`iq al-Ilahiyyah. Beliau tidak mengakui saudaranya itu mencapai kedudukan berijtihad dan mampu memahami al-Kitab dan al-Sunnah. Al-Syaikh Sulayman berpendapat bahwa para Imam yang lalu, generasi demi generasi tidak pernah mengkafirkan ashab bid`ah, dalam hal ini tidak pernah timbul persoalan kufur sehingga timbulnya ketetapan mewajibkan mereka memisahkan diri daripadanya dan sehingga diharuskan pula memeranginya kerana alasan tersebut.”
Al-Syaikh Sulayman berkata lagi bahawa: “ Sesungguhnya perkara-perkara itu berlaku sebelum zaman al-Imam Ahmad bin Hanbal yaitu pada zaman para Imam Islam, dia mengingkarinya manakala ada di antara mereka juga mengingkarinya, keadaan itu berterusan sehingga dunia Islam meluas. Semua perbuatan itu dilakukan orang-orang yang kamu kafirkan mereka kerananya, dan tiada seorang pun daripada para Imam Islam yang menceritakan bahawa mereka mengkafirkan (seseorang) dengan sebab-sebab tersebut. Mereka tidak pernah mengatakan seseorang itu murtad, dan mereka juga tidak pernah menyuruh berjihad menentangnya. Mereka tidak menamakan negara-negara orang Islam sebagai negara syirik dan perang sebagaimana yang kamu katakan, bahkan kamu sanggup mengkafirkan orang yang tidak kafir kerana alasan-alasan ini meskipun kamu sendiri tidak melakukannya...”[ Al-Islam fi al-Qarn al-`Isyrin, h.108-109.]
Jelaslah bahwa Muhammad bin `Abd al-Wahhab bukan saja sengaja mengada-adakan bid`ah dalam pendapat dan pemikirannya, bahkan beberapa abad sebelumnya, pendapat dan pemikiran seperti itu telah pun didahului oleh Ibn Taimiyyah al-Harrani dan muridnya, Ibn al-Qayyim al-Jawzi dan tokoh-tokoh seperti mereka berdua.
Kemudian Muhammad bin `Abd al-Wahhab datang dengan membawa pemikiran Ibn Taimiyyah dan bersekongkol pula dengan keluarga Sa`ud dan salig mendukung di antara mereka dari segi pemerintahan dan keislaman. Di Najd, kesesatan telah tersebar dan faham al-Wahhabiyyah merebak ke seluruh pelosok tempat ibarat penyakit kangker (al-saratan) dalam tubuh badan manusia.
Dia menipu kebanyakan umat manusia, mazhab mereka mengatas namakan Tawhid dengan menjatuhkan hukuman ke atas Ahl al-Tawhid, menumpahkan darah umat Islam dengan alasan jihad menentang golongan musyrikin. Sehingga menyebabkan beribu-ribu orang manusia, lelaki dan wanita, kecil dan besar menjadi mangsa bid`ah mereka yang sesat. Ia turut juga menyebabkan perselisihan (khilaf) yang sempit semakin membesar dan menjadi-jadi di kalangan umat Islam. Musibah itu akhirnya sampai ke kepuncaknya dengan jatuhnya dua buah kota suci, Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah.
Penduduk Najd bermazhab Wahhabi memperolehi bantuan dan pertolongan Inggeris yang ingin melihat perpecahan negara Islam. Mereka dengan secara sengaja berusaha menghapuskan segala kesan dan tinggalan Islam di kota-kota Makkah dan Madinah dengan memusnahkan kubur para wali (awliya’) Allah, mencemarkan kehormatan kerabat / keluarga Rasulullah saw(Aal Rasulillah) dan lain-lain dengan perbuatan2 yang tidak senonoh untuk mengoncangkan hati dan perasaan umat Islam.
Sebagian ahli sejarah menyebutkan: “ Kemunculan secara tiba-tiba mazhab Wahhabi dan sewaktu mereka memegang kekuasaan di Makkah, operasi pemusnahan secara besar-besaran telah dilakukan oleh mereka dengan memusnahkan pertamanya, apa sahaja yang ada di al-Mu`alla, sebuah kawasan perkuburan Quraisy yang terdiri daripada kubah-kubah (qubbah) yang begitu banyak, termasuklah kubah-kubah Sayyidina `Abd al-Muttalib, datuk Nabi saw, Sayyidina Abi Talib, al-Sayyidah Khadijah sebagaimana yang telah mereka lakukan kepada kubah-kubah tempat kelahiran Nabi saw, Abu Bakr dan al-Imam `Ali. Mereka juga turut memusnahkan kubah zamzam dan kubah-kubah lain di sekitar Ka`bah, seterusnya diikuti oleh kawasan-kawasan lain yang mempunyai kesan dan peninggalan orang-orang salih.
Semasa mereka melakukan pemusnahan itu, mereka membuang kotoran sambil memukul gendang (al-tubul) dan menyanyi dengan mengeluarkan kata-kata mencaci dan menghina kubur-kubur ... sehingga dikatakan sebahagian daripada mereka sanggup kencing di atas kubur-kubur para salihin tersebut.”[ Takmilah al-Sayf al-Sayqal, h.190, untuk penelitian selanjutnya, lihat: Al-Jabarti, Kasyf al-Irtiyab, h.40.]
Sejarah mencatat salah satu jasa NU yang paling besar ialah ketika dunia digoncangkan oleh berdirinya al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Sa‘ûdiyyah. Seorang Gubernur Najd yang namanya Muhammad bin Su`ud dengan Muhammad bin Abdul Wahab mendeklarasikan berdirinya kerajaan Saudi Arabia, memisahkan diri dari kekuasaan sentral Khalifah Usmani di Turki, kemudian mereka menang di Timur, lantas mengadakan ekspansi ke Barat, masuk ke Mekkah.
Setelah menguasai Mekkah, orang Najd itu membikin goncangan terhadap dunia Islam yaitu pertama, rumah Abdul Muthalib dijadikan WC, rumahnya Abu Thalib dijadikan kandang khimar, kuburan di Ma`la diratakan dengan tanah, tidak pandang bulu Sayyidah Khadijah, Abdullah bin Zubair dan lain sebagainya. Selesai di Mekkah, kemudian pindah ke Madinah, kuburan di Baqi’, 15 ribu sahabat diratakan dengan tanah, sampai sekarang kita pun tidak bisa cari mana satu persatu, hanya kira-kira saja. Terakhir tinggal makam Rasulullah saw. bersama Abu Bakar Ra. dan Umar Ra., itu pun akan dibongkar.
Dari situ KH.Wahab Hasbullah dan teman-temannya terpanggil untuk membentuk yang dinamakan Komite Hijaz. Berangkatlah tiga orang, Kiai Wahab, Kiai Fathurrahman, dan H. Hasan Dipo. Sampai di Jeddah, diterima oleh Raja Abdul Aziz, dan Kiai Wahab memohon atas nama umat Islam negeri jauh agar pemerintah Saudi Arabia tidak membongkar Makam Rasulullah Saw. beserta Abu Bakar dan Umar. Kedua, hendaknya Pemerintah Saudi Arabia memberi kebebasan kepada dluyûf al-rahmân selama di Mekkah-Madinah, baik haji atau umrah, melaksanakan ibadahnya sesuai dengan mazhabnya masing-masing. Dan oleh Raja Abdul Aziz, semua permohonan itu dikabulkan. Sehingga sampai sekarang makam Rasul, Abu Bakar dan Umar masih ada.
Al-`Allamah al-Sayyid Sadr al-Din al-Sadr mengatakan:
“ Demi usia hidupku, sesungguhnya al-Baqi` telah menerima nasib yang sangat malang, karena hati2 yang kecewa, mengikuti nafsu dan berperangai kebudak-budakan, maka berlakulah pencetus kepada segala kecelakaan, apabila tiada lagi kedamaian. Bagi umat Islam kepada Allah diadukan, hak Nabi-Nya yang telah memberikan petunjuk dan syafaat.”
“ Celakalah anak cucu Yahudi dengan perbuatan tidak senonoh yang mereka lakukan, mereka tidak mendapat apa-apa daripadanya dengan membongkarkan harim Muhammad saw dan keluarganya . Neraka wail untuk mereka dengan apa yang mereka tentang terhadap orang-orang yang kuat. Mereka musnahkan kubur orang-orang salih dengan perasaan benci mereka. Hindarkanlah daripada mereka karena sesungguhnya mereka membenci orang-orang yang terpilih (di sisi Allah).”
Nabi Muhammad saw pernah bersabda bahwa: “ Apabila sesuatu bid`ah itu muncul di kalangan umatku, maka orang-orang alim hendaklah memperlihatkan dan menyampaikan ilmu mereka kerana kalau mereka tidak melakukannya, laknat Allah akan ditimpakan ke atas mereka.”
Rasulullah saw juga bersabda: “ Apabila bid`ah timbul dan orang-orang yang terkemudian daripada umat ini melaknat orang-orang yang terdahulu, maka barang siapa yang memiliki keilmuan, maka hendaklah menyampaikannya. Sesungguhnya orang yang menyembunyikan keilmuannya pada hari itu seumpama orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad.”
Para Siddiqin r.a dari keluarga Rasulullah saw mengatakan bahwa: “ Apabila bid`ah lahir, maka orang alim hendaklah menzahirkan keilmuannya, sekiranya dia tidak berbuat demikian, cahaya keimanan (Nur al-Iman) akan hilang.”
Atas dasar inilah Sunni telah bangkit menentang serangan mazhab Wahhabi. Mereka telah menulis, menerbitkan kitab2 dan menjelaskan keburukan dan kejahatan tokoh2 Wahabi yang berusaha untuk merealisasikan cita2 dan harapan penjajah Inggeris.
Kitab pertama yang ditulis untuk menolak dan menentang fahaman Muhammad ibn `Abd al-Wahhab ialah al-Sawa`iq al-Ilahiyyah fi al-Radd `ala al-Wahhabiyyah yang ditulis oleh al-Syaikh Sulayman, iaitu saudara kepada Muhammad sendiri.
Pada zaman itu, golongan Wahhabi telah meningkatkan serangan mereka yang merusakkan dan berbahaya terhadap Islam. Dan pengikutnya meneruskan penentangan dan peperangan yang didalangi oleh keluarga Sa`ud dengan bantuan daripada hasil keuntungan minyak mereka. Pemerintahan kesultanan Sa`udi telah memperuntukkan sejumlah besar hasil keuntungan minyak mereka untuk menyebarkan dan mengembangkan mazhab ciptaan penjajah Inggeris ini di kalangan orang Islam. Kalaulah tidak karena kekayaan yang besar itu tentulah mazhab Wahhabi tidak akan dapat bertahan hingga hari ini.
Kelihatan bahwa unsur-unsur penjajahan (al-isti`mar) Inggeris begitu jelas menerusi mazhab tersebut dan mereka mengambilnya sebagai cara yang terbaik untuk mewujudkan perpecahan, persengketaan, permusuhan, perselisihan dan pertentangan di kalangan umat Islam sendiri. Mazhab tersebut juga turut memperkuatkan dan memperkukuhkan matlamat penjajahan Inggeris dengan mengada-adakan fitnah di kalangan umat Islam seperti menuduh orang-orang Islam yang lain sebagai fasiq, kafir , musyrik , mubtadi’ , dsb.
Umat Islam yang tidak prihatin dan mempunyai pemikiran yang cetek dengan mudah diperdayakan oleh mereka sehingga akhirnya mereka secara sadar atau tidak, turut membantu usaha2 mazhab Wahhabi dan Inggeris. Bahkan melaksanakannya dalam kehidupan mereka menerusi perbuatan dan tindakan biadab terhadap umat Islam lain yang dianggap sebagai lawan2 mereka. Keadaan yang berlanjutan ini menyebabkan umat Islam menjadi lemah dan mudah dipermainkan oleh musuh2 Islam yang bertopeng Islam. -
Wednesday, February 7, 2007
Memperkuat Zikir dengan Asma “Allah”
Memperkuat Zikir dengan Asma “Allah”
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar Rabbani
Bismillah hirrohman nirRohim
Allah swt berfirman dalam kitabnya, Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah
kepada-Nya dengan penuh ketekunan (73:8). Qadi Thanaullah Panipati berkata,
“Ketahuilah bahwa ayat ini merujuk pada pengulangan nama yang pokok (ism
al-dzat),” yaitu “Allah.” (Qadi Thanaullah Panipati, Tafsir Mazhari (10:111)).
Arti yang sama secara mendalam juga terdapat pada bagian akhir ayat 6:91, Surah
al-Anam, “Katakanlah Allah. Kemudian biarkan mereka bermain dengan
kesesatannya.”
Rasulullah sallallahu alaihi wasalam bersabda, “Waktu tidak akan berjalan bila
“Allah Allah” tidak disebutkan lagi di bumi.” Menurut sanad yang lain, beliau
bersabda, “Waktu tidak akan berjalan pada seseorang yang mengucapkan “Allah,
Allah.” (Keduanya diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahih-nya, buku mengenai Iman,
bab 66 yang berjudul dzahab al-iman akhir al-zaman, “Hilangnya iman di akhir
zaman.”)
Imam Nawawi dalam komentarnya terhadap bab ini berkata, “Ketahuilah bahwa
riwayat kedua versi hadits ini sangat banyak dalam hal pengulangan nama Allah
dan begitulah adanya seperti yang ditemukan di semua sumber yang berwenang.”
(Nawawi, Syarh sahih Muslim, Dar al-Qalam, Beirut ed. Vol. ½ hal 537).
Imam Muslim menempatkan hadits ini dalam kepala bab, hilangnya iman di akhir
zaman, meskipun dalam hadits tersebut tidak disebutkan masalah iman. Hal ini
menunjukkan bahwa mengucapkan, “Allah, Allah” menunjukkan keimanan. Mereka yang
mengucapkannya menunjukkan keimanan mereka, dan sebaliknya mereka yang tidak
mengucapkannya tidak menunjukkan keimanan mereka. Oleh sebab itu mereka yang
memerangi orang yang mengucapkannya sebenarnya lebih buruk dari mereka yang
imannya lemah dan tidak mengucapkan “Allah, Allah”.
Imam Nawawi menyoroti keaslian dari pengulangan ini untuk membuktikan bahwa
pengulangan kata, “Allah, Allah” adalah sunna matsura, atau praktik yang
diwariskan oleh Rasulullah saw dan para Sahabat. Tetapi Ibnu Taymiyya mendesak
agar kata itu tidak berdiri sendiri, melainkan harus tersusun, misalnya dalam
bentuk seruan (yakni, “Ya Allah”) sehingga kontradiksi dengan sunnah.
Perlu dicatat bahwa translasi Shiddiqi terhadap Sahih Muslim mengandung
kesalahan translasi dari riwayat pertama yang dinyatakan di atas sebagai, “Waktu
(Berbangkit) tidak akan datang selama Allah masih diagungkan di dunia,” dan yang
kedua sebagai, “Waktu (Berbangkit) tidak akan datang kepada seseorang selama dia
berdoa kepada Allah.” Sebagian translasi ini adalah salah, tetapi sebagai
komentar dapat diterima karena mengucapkan “Allah, Allah”berarti berdoa
kepada-Nya. Hal ini berlaku bagi semua ibadah, sesuai dengan sabda Rasulullah,
“Berdoa—itulah arti ibadah.” (riwayat Tirmidzi dan lainnya). Namun untuk
mengakuratkan translasinya, bentuk kata yang disorot oleh Nawawi harus
dipertahankan dalam segala penjelasan mengenai hadits ini. Bukan sekedar “berdoa
kepada Allah ” tetapi dikatakan “Allah, Allah,” munurut kata-kata
diucapkan oleh Rasulullah sendiri.
Orang yang mengetahui bahwa zikir, “Allah, Allah” telah disebutkan oleh
Rasulullah saw sendiri tidak leluasa untuk memikirkan lebih dalam apakah zikir
itu digunakan oleh para Sahabat atau tidak, dengan maksud untuk menyelidiki
validitasnya. Validitasnya cukup dibuktikan dengan pernyataan bahwa Rasulullah
mengatakannya. Tambahan lagi, Bilal ra biasa berzikir, ”Ahad, Ahad” ketika dia
disiksa. Ibnu Hisham berkata dalam Sira-nya,
“Ibnu Ishaq meriwayatkan [dengan sanad transmisinya] bahwa, ‘Bilal ra adalah
seorang Muslim yang imannya kuat, hatinya suci… Umayya bin Khalaf biasa
menyiksanya dengan menjemurnya di panas matahari, menelantangkan tubuhnya dan
meletakkan sebuah batu besar di dadanya. Kemudian dia berkata, “Kamu tinggal di
sini sampai mati atau mau menyangkal Muhammad saw dan menyembah al-Latta dan
al-Uzza.” Selama menjalani siksaan ini, Bilal ra biasa mengucapkan, “Ahad,
Ahad”—“Satu, Satu!” (Ibnu Hajar menyatakannya dalam al-Isaba (1:171 #732).
Wa min Allah at Tawfiq
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar Rabbani
Bismillah hirrohman nirRohim
Allah swt berfirman dalam kitabnya, Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah
kepada-Nya dengan penuh ketekunan (73:8). Qadi Thanaullah Panipati berkata,
“Ketahuilah bahwa ayat ini merujuk pada pengulangan nama yang pokok (ism
al-dzat),” yaitu “Allah.” (Qadi Thanaullah Panipati, Tafsir Mazhari (10:111)).
Arti yang sama secara mendalam juga terdapat pada bagian akhir ayat 6:91, Surah
al-Anam, “Katakanlah Allah. Kemudian biarkan mereka bermain dengan
kesesatannya.”
Rasulullah sallallahu alaihi wasalam bersabda, “Waktu tidak akan berjalan bila
“Allah Allah” tidak disebutkan lagi di bumi.” Menurut sanad yang lain, beliau
bersabda, “Waktu tidak akan berjalan pada seseorang yang mengucapkan “Allah,
Allah.” (Keduanya diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahih-nya, buku mengenai Iman,
bab 66 yang berjudul dzahab al-iman akhir al-zaman, “Hilangnya iman di akhir
zaman.”)
Imam Nawawi dalam komentarnya terhadap bab ini berkata, “Ketahuilah bahwa
riwayat kedua versi hadits ini sangat banyak dalam hal pengulangan nama Allah
dan begitulah adanya seperti yang ditemukan di semua sumber yang berwenang.”
(Nawawi, Syarh sahih Muslim, Dar al-Qalam, Beirut ed. Vol. ½ hal 537).
Imam Muslim menempatkan hadits ini dalam kepala bab, hilangnya iman di akhir
zaman, meskipun dalam hadits tersebut tidak disebutkan masalah iman. Hal ini
menunjukkan bahwa mengucapkan, “Allah, Allah” menunjukkan keimanan. Mereka yang
mengucapkannya menunjukkan keimanan mereka, dan sebaliknya mereka yang tidak
mengucapkannya tidak menunjukkan keimanan mereka. Oleh sebab itu mereka yang
memerangi orang yang mengucapkannya sebenarnya lebih buruk dari mereka yang
imannya lemah dan tidak mengucapkan “Allah, Allah”.
Imam Nawawi menyoroti keaslian dari pengulangan ini untuk membuktikan bahwa
pengulangan kata, “Allah, Allah” adalah sunna matsura, atau praktik yang
diwariskan oleh Rasulullah saw dan para Sahabat. Tetapi Ibnu Taymiyya mendesak
agar kata itu tidak berdiri sendiri, melainkan harus tersusun, misalnya dalam
bentuk seruan (yakni, “Ya Allah”) sehingga kontradiksi dengan sunnah.
Perlu dicatat bahwa translasi Shiddiqi terhadap Sahih Muslim mengandung
kesalahan translasi dari riwayat pertama yang dinyatakan di atas sebagai, “Waktu
(Berbangkit) tidak akan datang selama Allah masih diagungkan di dunia,” dan yang
kedua sebagai, “Waktu (Berbangkit) tidak akan datang kepada seseorang selama dia
berdoa kepada Allah.” Sebagian translasi ini adalah salah, tetapi sebagai
komentar dapat diterima karena mengucapkan “Allah, Allah”berarti berdoa
kepada-Nya. Hal ini berlaku bagi semua ibadah, sesuai dengan sabda Rasulullah,
“Berdoa—itulah arti ibadah.” (riwayat Tirmidzi dan lainnya). Namun untuk
mengakuratkan translasinya, bentuk kata yang disorot oleh Nawawi harus
dipertahankan dalam segala penjelasan mengenai hadits ini. Bukan sekedar “berdoa
kepada Allah ” tetapi dikatakan “Allah, Allah,” munurut kata-kata
diucapkan oleh Rasulullah sendiri.
Orang yang mengetahui bahwa zikir, “Allah, Allah” telah disebutkan oleh
Rasulullah saw sendiri tidak leluasa untuk memikirkan lebih dalam apakah zikir
itu digunakan oleh para Sahabat atau tidak, dengan maksud untuk menyelidiki
validitasnya. Validitasnya cukup dibuktikan dengan pernyataan bahwa Rasulullah
mengatakannya. Tambahan lagi, Bilal ra biasa berzikir, ”Ahad, Ahad” ketika dia
disiksa. Ibnu Hisham berkata dalam Sira-nya,
“Ibnu Ishaq meriwayatkan [dengan sanad transmisinya] bahwa, ‘Bilal ra adalah
seorang Muslim yang imannya kuat, hatinya suci… Umayya bin Khalaf biasa
menyiksanya dengan menjemurnya di panas matahari, menelantangkan tubuhnya dan
meletakkan sebuah batu besar di dadanya. Kemudian dia berkata, “Kamu tinggal di
sini sampai mati atau mau menyangkal Muhammad saw dan menyembah al-Latta dan
al-Uzza.” Selama menjalani siksaan ini, Bilal ra biasa mengucapkan, “Ahad,
Ahad”—“Satu, Satu!” (Ibnu Hajar menyatakannya dalam al-Isaba (1:171 #732).
Wa min Allah at Tawfiq
Zikir dalam Suasana Cahaya Redup & Gerakan Selama Berdzikir
Zikir dalam Suasana Cahaya Redup & Gerakan Selama Berdzikir
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar Rabbani
Bismillah hirrohman nirRohim
Allah swt berfirman kepada Rasulullah saw, Wa min al-layli fa tahajjad bihi
nafilatan laka (Dan pada sebagian malam hari, bertahajjudlah kamu sebagai suatu
ibadah tambahan bagimu (17:79) dan Dia berfirman, Sesungguhnya bangun di waktu
malam adalah lebih khusuk dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” (73:6).
Keutamaan shalat di malam hari telah dikenal di seluruh buku hadits dan fiqih
karena pada saat itu tidak ada gangguan duniawi. Oleh sebab itu Imam Ghazali
menulis tentang topik ini, “Pikiran berakar dari mata… orang yang mempunyai
niat baik dan cita-cita yang tinggi tidak bisa dibelokkan dengan apa yang ada di
hadapannya, tetapi yang lemah akan terjebak olehnya. Pemecahannya adalah dengan
cara memutuskan hubungan dengan gangguan ini, yaitu dengan memejamkan mata,
shalat di tempat yang gelap, tidak membiarkan sesuatu berada di depannya yang
mungkin akan menarik perhatiannya dan tidak melakukan shalat di tempat yang
penuh dengan dekorasi. Oleh sebab itu para Awliya biasa beribadah di ruangan
yang gelap, sempit dan tidak banyak celah.” (Imam Ghazali, Ihya Ulum al-Din,
buku mengenai Shalat).
Gerakan selama Berzikir
Dalam rujukan terhadap hadits Muslim di mana Rasulullah saw memuji para
mufarridun, atau mereka yang berhati tunggal dalam mengingat Allah, Nawawi
berkata, “Riwayat yang lain adalah, ‘Mereka adalah orang-orang yang bergoyang
atau bergerak pada saat menyebut atau mengingat Allah (hum al-ladzina ihtazzu fi
zikir Allah), sehingga mereka menjadi sungguh-sungguh dalam berdoa dan hatinya
terikat kepada Allah.”
Imam Habib al-Haddad berkata, “Zikir kembali dari raut luar, yaitu lidah ke
raut dalam, yaitu hati, di mana dia mengakar dengan kuat dan dapat mengikat erat
anggota-anggota tubuhnya. Manisnya hal ini dapat dirasakan oleh orang-orang
yang berzikir dengan seluruh anggota tubuhnya sehingga hati dan kulitnya menjadi
lunak. Sebagaimana firman Allah, ‘Kemudian kulit dan hati mereka menjadi lunak
ketika mengingat Allah’ (39:23).” (Imam Habib al-Haddad, dalam Key to the
Garden, hal. 116).
“Pelunakan hati” terdiri atas sensitivitas dan perasaan takut yang ditimbulkan
dari kedekatan kepada Allah dan tajjali [manifestasi satu atau beberapa Atribut
Ilahi]. Cukup Allah saja yang menjadi Teman Dekat bagi seseorang!
Sedangkan untuk “pelunakan kulit”, ini adalah keadaan terekstasi dan bergoyang
dari satu sisi ke sisi yang lain akibat hubungan intim dan tajjali atau perasaan
takut dan takjub. Tak ada salahnya bagi orang yang mencapai keadaan ini dan
menyebabkan dia bergerak mengikuti irama, karena dalam penderitaan yang luar
biasa akan cinta dan hasrat yang menggebu, dia menemukan sesuatu yang
membangkitkan kerinduan yang paling dalam…
Desakan yang ditimbulkan oleh rasa takut dan takjub mengantarkan pada tangisan
dan memaksa orang menjadi gemetar dan rendah hati. Ini adalah keadaan yang
dialami oleh orang-orang beriman yang saleh (abrar), ketika mereka mendengar
Nama Allah diucapkan. “Hati mereka bergetar,” (39:23) kemudian hati mereka
menjadi lunak dan cenderung untuk menyukai zikir Allah karena mereka diliputi
ketenangan dan martabat, sehingga mereka tidak berlaku yg tidak baik, tidak
menganggap dirinya penting, berisik, atau menyombongkan dirinya. Allah
menggambarkan mereka sebagai orang yang akal sehatnya telah pergi, yang dengan
kelemah lembutan mereka menari dan melompat.
Wa min Allah at Tawfiq
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar Rabbani
Bismillah hirrohman nirRohim
Allah swt berfirman kepada Rasulullah saw, Wa min al-layli fa tahajjad bihi
nafilatan laka (Dan pada sebagian malam hari, bertahajjudlah kamu sebagai suatu
ibadah tambahan bagimu (17:79) dan Dia berfirman, Sesungguhnya bangun di waktu
malam adalah lebih khusuk dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” (73:6).
Keutamaan shalat di malam hari telah dikenal di seluruh buku hadits dan fiqih
karena pada saat itu tidak ada gangguan duniawi. Oleh sebab itu Imam Ghazali
menulis tentang topik ini, “Pikiran berakar dari mata… orang yang mempunyai
niat baik dan cita-cita yang tinggi tidak bisa dibelokkan dengan apa yang ada di
hadapannya, tetapi yang lemah akan terjebak olehnya. Pemecahannya adalah dengan
cara memutuskan hubungan dengan gangguan ini, yaitu dengan memejamkan mata,
shalat di tempat yang gelap, tidak membiarkan sesuatu berada di depannya yang
mungkin akan menarik perhatiannya dan tidak melakukan shalat di tempat yang
penuh dengan dekorasi. Oleh sebab itu para Awliya biasa beribadah di ruangan
yang gelap, sempit dan tidak banyak celah.” (Imam Ghazali, Ihya Ulum al-Din,
buku mengenai Shalat).
Gerakan selama Berzikir
Dalam rujukan terhadap hadits Muslim di mana Rasulullah saw memuji para
mufarridun, atau mereka yang berhati tunggal dalam mengingat Allah, Nawawi
berkata, “Riwayat yang lain adalah, ‘Mereka adalah orang-orang yang bergoyang
atau bergerak pada saat menyebut atau mengingat Allah (hum al-ladzina ihtazzu fi
zikir Allah), sehingga mereka menjadi sungguh-sungguh dalam berdoa dan hatinya
terikat kepada Allah.”
Imam Habib al-Haddad berkata, “Zikir kembali dari raut luar, yaitu lidah ke
raut dalam, yaitu hati, di mana dia mengakar dengan kuat dan dapat mengikat erat
anggota-anggota tubuhnya. Manisnya hal ini dapat dirasakan oleh orang-orang
yang berzikir dengan seluruh anggota tubuhnya sehingga hati dan kulitnya menjadi
lunak. Sebagaimana firman Allah, ‘Kemudian kulit dan hati mereka menjadi lunak
ketika mengingat Allah’ (39:23).” (Imam Habib al-Haddad, dalam Key to the
Garden, hal. 116).
“Pelunakan hati” terdiri atas sensitivitas dan perasaan takut yang ditimbulkan
dari kedekatan kepada Allah dan tajjali [manifestasi satu atau beberapa Atribut
Ilahi]. Cukup Allah saja yang menjadi Teman Dekat bagi seseorang!
Sedangkan untuk “pelunakan kulit”, ini adalah keadaan terekstasi dan bergoyang
dari satu sisi ke sisi yang lain akibat hubungan intim dan tajjali atau perasaan
takut dan takjub. Tak ada salahnya bagi orang yang mencapai keadaan ini dan
menyebabkan dia bergerak mengikuti irama, karena dalam penderitaan yang luar
biasa akan cinta dan hasrat yang menggebu, dia menemukan sesuatu yang
membangkitkan kerinduan yang paling dalam…
Desakan yang ditimbulkan oleh rasa takut dan takjub mengantarkan pada tangisan
dan memaksa orang menjadi gemetar dan rendah hati. Ini adalah keadaan yang
dialami oleh orang-orang beriman yang saleh (abrar), ketika mereka mendengar
Nama Allah diucapkan. “Hati mereka bergetar,” (39:23) kemudian hati mereka
menjadi lunak dan cenderung untuk menyukai zikir Allah karena mereka diliputi
ketenangan dan martabat, sehingga mereka tidak berlaku yg tidak baik, tidak
menganggap dirinya penting, berisik, atau menyombongkan dirinya. Allah
menggambarkan mereka sebagai orang yang akal sehatnya telah pergi, yang dengan
kelemah lembutan mereka menari dan melompat.
Wa min Allah at Tawfiq
Zikir adalah kewajiban terbesar manusia
Zikir adalah Kewajiban Terbesar Manusia
dan Merupakan Perintah Ilahi
Mawlana Syaikh Hisyam kabbani ar-Rabbani
Bismillah hirRohman nirRohim
Zikir adalah tindakan seorang hamba yang paling sempurna, dan ditekankan
ratusan kali di dalam al-Quran. Itu merupakan praktik penyembahan untuk
mendapatkan ridha Allah, senjata yang paling ampuh untuk mengatasi musuh, dan
perbuatan yang patut mendapat ganjaran. Zikir merupakan bendera Islam, semir
hati, inti dari ilmu tentang Iman, imunisasi terhadap kemunafikan, ibadah
terpenting, dan kunci dari segala kesuksesan.
Tidak ada batasan yang menyangkut metode, frekwensi atau waktu untuk berzikir
atau apapun mengenainya. Beberapa batasan dalam metode berzikir menyinggung
kewajiban khusus tertentu yang tidak dibicarakan di sini, misalnya dalam shalat
yang telah ditentukan. Syari’ah sangat jelas dan setiap orang telah mengetahui
kewajiban ini. Rasulullah saw bersabda bahwa penghuni Surga hanya akan
menyesali satu hal, tidak cukup mengingat Allah swt di dunia ini!
Allah berfirman dalam al-Quran, “Wahai orang-orang yang beriman, perbanyaklah
zikir!” (33:41). Dia berfirman bahwa hamba-Nya adalah, “Mereka yang mengingat
Tuhannya dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring,” (3:191); dengan kata lain,
mereka yang mengingat Allah setiap saat baik siang maupun malam. Allah
berfirman, Penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah
tanda-tanda bagi orang yang mengerti, mereka yang mengingat (dan mengucapkan dan
menyebut) Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring (3:190-191)
Aisyah ra berkata, sebagaimana yang diceritakan oleh Muslim, bahwa Rasulullah
saw mengingat Allah setiap saat baik siang maupun malam. Rasulullah bersabda,
“Jika hati kalian selalu dalam keadaan mengingat Allah, para Malaikat akan
mendatangi kalian sampai ke titik di mana mereka akan memberi salam kepada
kalian di tengah perjalanannya.” (riwayat Muslim).
Imam Nawawi mengomentari hadits ini dengan mengatakan, “Panorama semacam ini
akan terlihat pada orang yang terus-menerus melakukan meditasi (muraqaba),
refleksi (fikr), dan antisipasi (iqbal) terhadap alam berikutnya.” (Nawawi,
Syarh sahih Muslim). Muadz bin Jabal berkata bahwa Rasulullah juga bersabda,
“Para penghuni surga tidak akan menyesal kecuali satu hal, waktu yang telah
dilewati mereka tanpa mengingat Allah.” (diriwayatkan oleh Bayhaqi dalam Syuab
al-iman (1:392 #512-513) dan oleh Tabarani). Haythami dalam Majma al-zawaid
(110:74) berkata bahwa semua naratornya dapat dipercaya (thiqat), sementara
Sayuti dalam Jami al-saghir (#7701) menyatakan bahwa hadits itu (hasan).
Allah menempatkan zikir mempunyai nilai yang lebih dari pada shalat dengan
menjadikan shalat sebagai cara atau alat dan zikir sebagai sasarannya. Dia
berfirman, Perhatikanlah! Shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, tetapi
sesungguhnya, mengingat Allah lebih besar manfaatnya, dan lebih penting (29:45).
Beruntunglah orang yang mensucikan dirinya, dan mengingat nama Tuhannya, dan
mengerjakan shalat (87:14-15)
Maka dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku (20:14)
Qadi Abu Bakar bin al-Arabi menerangkan bahwa tidak ada amal yang sah tanpa
mengingat Allah (zikir). Siapapun yang tidak mengingat Allah dalam hatinya
ketika memberi shadaqa atau berpuasa, contohnya, berarti amalnya tidak lengkap.
Oleh sebab itu zikir bisa dipandang sebagai amal yang paling baik (dinyatakan
oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-bari (1989 ed. 11:251).
Zikir adalah sesuatu yang sangat penting. Abu Hurayra ra berkata bahwa
Rasulullah saw bersabda, “Bumi dan segala isinya dikutuk kecuali mereka yang
melakukan zikir, guru-guru dan semua muridnya.” (Tirmidzi menyatakan hadits ini
hasan, begitu pula Ibnu Majah, Bayhaqi dan lainnya. Suyuti menyebutkannya dalam
al-Jami al-saghir dari pernyataan al-Bazzar yang serupa dengan narasi Ibnu Masud
dan beliau mengatakan sahih. Tabarani juga menyatakannya dalam al-Awsat dari
Abu al-Darda).
Dengan menyebut kata “bumi dan segala isinya,” Rasulullah merujuk pada semua
yang menyatakan status atau eksistensinya terpisah dengan Allah, bukannya
menyatu dengan-Nya. Kenyataannya seluruh makhluk berzikir kepada Allah, karena
Allah berfirman bahwa semua ciptaan-Nya bertasbih kepada-Nya, dan tasbih adalah
salah satu jenis zikir. Allah berfirman mengenai Nabi Yunus as, ketika seekor
ikan paus menelannya, “Jika dia bukan termasuk orang-orang yang bertasbih
kepada-Ku (musabbihin), dia akan tinggal dalam perut paus itu hingga Hari
Pembalasan (37:143-144).
Hadits Rasulullah yang baru saja disebutkan juga menekankan pentingnya
mengikuti seorang guru yang mempunyai pengetahuan, karena tidak ada yang bisa
mencegah datangnya kutukan selain berkah. Inilah yang dimaksud oleh Abu Yazid
al-Bistami ketika beliau berkata, “Siapapun yang tidak memiliki Syaikh,
Syaikhnya adalah setan.” Hal ini diperkuat dengan dua hadits Rasulullah saw.
Abu Bakar ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Jadilah orang
yang terpelajar (alim) atau murid (mutaallim), atau pendengar (mustami) atau
seorang pecinta (muhibb), tetapi jangan menjadi orang kelima karena kalian akan
binasa. (al-Haythami berkata dalam Majma al-zawaid (1:22), “Tabarani menyatakan
dalam al-Mujam al-saghir (2:9), al-Mujam al-awsat, dan al-Mujam al-kabir, juga
al-Bazzar [dalam Musnad-nya], dan semua naratornya dianggap dapat dipercaya.”
Hal itu juga dinyatakan oleh Abu Nuaym dalam Hilyat al-awliya (7:237) dan
al-Khatib dalam Tarikh baghdad (12:295)).
Sakhawi berkata, “Ibnu Abd al-Barr berkata, ‘orang kelima adalah orang yang
memperlihatkan permusuhan kepada para ulama dan meremehkan mereka, dan siapapun
yang tidak mencintai mereka menunjukkan penghinaan kepada mereka atau dalam
tahap ingin menghina mereka, dan di sana terletak kehancuran.’ (Sakhawi,
al-Maqasid al-hasana (hal.88#134). Lihat buku Ibnu Abd al-Barr yang berjudul
Jami bayan al-ilm wa fadlih (1:30)).
Rasulullah bersabda, “Al-baraqa ma akabirikum,’ Berkah bersama yang lebih tua’
(riwayat Ibnu Hibban dalam sahih-nya, al-Hakim yang menyatakan bahwa hadits itu
sahih, dan Ibnu Daqiq al-Id juga memperkuatnya).
Riwayat lain menyatakan, “Ketika yang muda mengajar yang tua, maka berkah
telah dicabut.” (Lihat buku Sakhawi, al-Maqasid al-hasana hal. 155-159#290).
Orang yang melaksanakan zikir memiliki peringkat tertinggi di hadapan Allah.
Orang-orang yang menyebut nama Allah dengan konsentrasi telah disebutkan dalam
al-Quran. Efek terhadap hatinya juga telah dijelaskan dalam al-Quran,
Di dalam rumah yang Allah telah izinkan supaya dimuliakan dan untuk mengingat
Nama-Nya di rumah itu, Dia dipujikan siang dan malam oleh orang orang-orang yang
perniagaan dan jual-beli tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari mengingat
nama-Nya (24:36-37).
Mereka yang beriman dan hati mereka tentram karena mengingat Allah ingatlah
sesungguhnya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (13:28)
Selama peristiwa Isra dan Mi’raj Rasulullah saw diangkat hingga ke titik di
mana beliau mendengar guratan Pena, yang menunjukkan tulisan Takdir Ilahi.
Beliau melihat seseorang yang lenyap ke dalam cahaya Singgasana Allah.
Rasulullah bertanya, “Siapa ini? Apakah ini seorang Malaikat? Dia berkata
kepadanya, “Bukan!” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah ini Nabi?” Jawaban yang
didapat juga “Bukan!” Kalau begitu siapa dia?” Jawabannya adalah, “Ini adalah
orang yang lidahnya basah dengan mengingat Allah di dunia, hatinya terikat
kepada masjid, dan dia tidak pernah mencela Ayah dan Ibunya. ”(Syaikh Muhammad
Alawi al-Maliki menyatakannya dalam kumpulan teksnya yang berjudul al-Anwar
al-bahiyya min isra wa miraj khayr al-bariyya, yang berisi narasi lisan mengenai
topik tersebut.)
Dalam hadits lain dilaporkan, Seorang pria mendatangi Rasulullah saw dan
berkata, “Wahai Rasulullah, hukum dan persyaratan dalam Islam terlalu banyak
buatku. Katakanlah sesuatu yang dapat aku jaga selalu (yakni, khususnya sebagai
ganti dari banyaknya aturan dan persyaratan yang harus dilaksanakan secara
umum).” Dengan membaca hal itu pria tersebut berkata bahwa terlalu banyak
persyaratan yang harus dipenuhi, orang harus mengerti bahwa dia tidak yakin
kalau dia dapat menjaga semuanya. Dia menginginkan sesuatu yang dia yakin dapat
dijaganya. Rasulullah bersabda, “(Aku menasihatimu untuk melakukan satu hal)
Jagalah lidahmu agar selalu basah dengan zikir kepada Allah.
(Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hadits ini baik
(hasan).
Dalam Islam telah dikenal bahwa pekerjaan terbaik di jalan Allah adalah
berjihad. Tetapi Rasulullah tetap menempatkan zikir di atas jihad dalam hadits
yang autentik berikut ini.
Abu al-Darda ra meriwayatkan, “Suatu ketika Rasulullah saw bertanya kepada
sahabatnya, ‘Sudahkah Aku jelaskan kepada kalian tentang amal yang paling baik,
pekerjaan terbaik di mata Tuhanmu, yang akan mengangkat status kalian di Hari
Kemudian, dan membawa lebih banyak kebajikan daripada membelanjakan emas dan
perak sebagai pelayanan kepada Allah atau ikut serta dalam jihad dan membunuh
atau terbunuh di jalan Allah? Ia adalah zikir kepada Allah.’” (diriwayatkan
oleh Malik dalam Muwatta, juga Musnad-nya Ahmad, Sunan-nya Tirmidzi, Ibnu Majah,
dan Mustadrak-nya Hakim, al-Bayhaqi. Hakim dan yang lain menyatakan hadits itu
sahih).
Abu Saiid ra berkata, “Rasulullah saw ditanya, ‘Siapakah hamba Allah yang
mempunyai peringkat terbaik di hadapan-Nya pada Hari Kebangkitan?’ Beliau
menjawab, ‘Orang yang paling banyak mengingat Allah.’ Aku berkata, ‘Wahai
Rasulullah, bagaimana dengan seseorang yang berperang di jalan Allah?’ Beliau
menjawab, ‘Bahkan jika dia melawan orang-orang kafir dan musyrikin dengan
pedangnya hingga patah, dan menjadi merah dengan darah mereka, sesungguhnya
mereka yang berzikir lebih baik peringkatnya. (diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi
dan Bayhaqi).
Abd Allah bin Umar berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Segala sesuatu
mempunyai semir atau pengkilap, dan semir untuk hati adalah zikir kepada Allah.
Tak ada yang lebih diperhitungkan untuk menyelamatkan diri dari azab Allah
selain zikir kepada Allah. Beliau pernah ditanya apakah ini juga tidak
diterapkan untuk jihad di jalan Allah, dan beliau menjawab, “Bahkan tidak untuk
seseorang yang harus menghujani pedangnya hingga patah.” (Bayhaqi
meriwayatkannya dalam Kitab al-daawat al-kabir begitu juga dalam Shuab al-iman
(1:396#522), juga al-Mundhiri dalam al-Targhib (2:396) dan Tabrizi
menyebutkannya dalam Mishkat al-masabih, pada bagian terakhir buku doa).
Wa min Allah at Tawfiq
dan Merupakan Perintah Ilahi
Mawlana Syaikh Hisyam kabbani ar-Rabbani
Bismillah hirRohman nirRohim
Zikir adalah tindakan seorang hamba yang paling sempurna, dan ditekankan
ratusan kali di dalam al-Quran. Itu merupakan praktik penyembahan untuk
mendapatkan ridha Allah, senjata yang paling ampuh untuk mengatasi musuh, dan
perbuatan yang patut mendapat ganjaran. Zikir merupakan bendera Islam, semir
hati, inti dari ilmu tentang Iman, imunisasi terhadap kemunafikan, ibadah
terpenting, dan kunci dari segala kesuksesan.
Tidak ada batasan yang menyangkut metode, frekwensi atau waktu untuk berzikir
atau apapun mengenainya. Beberapa batasan dalam metode berzikir menyinggung
kewajiban khusus tertentu yang tidak dibicarakan di sini, misalnya dalam shalat
yang telah ditentukan. Syari’ah sangat jelas dan setiap orang telah mengetahui
kewajiban ini. Rasulullah saw bersabda bahwa penghuni Surga hanya akan
menyesali satu hal, tidak cukup mengingat Allah swt di dunia ini!
Allah berfirman dalam al-Quran, “Wahai orang-orang yang beriman, perbanyaklah
zikir!” (33:41). Dia berfirman bahwa hamba-Nya adalah, “Mereka yang mengingat
Tuhannya dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring,” (3:191); dengan kata lain,
mereka yang mengingat Allah setiap saat baik siang maupun malam. Allah
berfirman, Penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah
tanda-tanda bagi orang yang mengerti, mereka yang mengingat (dan mengucapkan dan
menyebut) Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring (3:190-191)
Aisyah ra berkata, sebagaimana yang diceritakan oleh Muslim, bahwa Rasulullah
saw mengingat Allah setiap saat baik siang maupun malam. Rasulullah bersabda,
“Jika hati kalian selalu dalam keadaan mengingat Allah, para Malaikat akan
mendatangi kalian sampai ke titik di mana mereka akan memberi salam kepada
kalian di tengah perjalanannya.” (riwayat Muslim).
Imam Nawawi mengomentari hadits ini dengan mengatakan, “Panorama semacam ini
akan terlihat pada orang yang terus-menerus melakukan meditasi (muraqaba),
refleksi (fikr), dan antisipasi (iqbal) terhadap alam berikutnya.” (Nawawi,
Syarh sahih Muslim). Muadz bin Jabal berkata bahwa Rasulullah juga bersabda,
“Para penghuni surga tidak akan menyesal kecuali satu hal, waktu yang telah
dilewati mereka tanpa mengingat Allah.” (diriwayatkan oleh Bayhaqi dalam Syuab
al-iman (1:392 #512-513) dan oleh Tabarani). Haythami dalam Majma al-zawaid
(110:74) berkata bahwa semua naratornya dapat dipercaya (thiqat), sementara
Sayuti dalam Jami al-saghir (#7701) menyatakan bahwa hadits itu (hasan).
Allah menempatkan zikir mempunyai nilai yang lebih dari pada shalat dengan
menjadikan shalat sebagai cara atau alat dan zikir sebagai sasarannya. Dia
berfirman, Perhatikanlah! Shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, tetapi
sesungguhnya, mengingat Allah lebih besar manfaatnya, dan lebih penting (29:45).
Beruntunglah orang yang mensucikan dirinya, dan mengingat nama Tuhannya, dan
mengerjakan shalat (87:14-15)
Maka dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku (20:14)
Qadi Abu Bakar bin al-Arabi menerangkan bahwa tidak ada amal yang sah tanpa
mengingat Allah (zikir). Siapapun yang tidak mengingat Allah dalam hatinya
ketika memberi shadaqa atau berpuasa, contohnya, berarti amalnya tidak lengkap.
Oleh sebab itu zikir bisa dipandang sebagai amal yang paling baik (dinyatakan
oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-bari (1989 ed. 11:251).
Zikir adalah sesuatu yang sangat penting. Abu Hurayra ra berkata bahwa
Rasulullah saw bersabda, “Bumi dan segala isinya dikutuk kecuali mereka yang
melakukan zikir, guru-guru dan semua muridnya.” (Tirmidzi menyatakan hadits ini
hasan, begitu pula Ibnu Majah, Bayhaqi dan lainnya. Suyuti menyebutkannya dalam
al-Jami al-saghir dari pernyataan al-Bazzar yang serupa dengan narasi Ibnu Masud
dan beliau mengatakan sahih. Tabarani juga menyatakannya dalam al-Awsat dari
Abu al-Darda).
Dengan menyebut kata “bumi dan segala isinya,” Rasulullah merujuk pada semua
yang menyatakan status atau eksistensinya terpisah dengan Allah, bukannya
menyatu dengan-Nya. Kenyataannya seluruh makhluk berzikir kepada Allah, karena
Allah berfirman bahwa semua ciptaan-Nya bertasbih kepada-Nya, dan tasbih adalah
salah satu jenis zikir. Allah berfirman mengenai Nabi Yunus as, ketika seekor
ikan paus menelannya, “Jika dia bukan termasuk orang-orang yang bertasbih
kepada-Ku (musabbihin), dia akan tinggal dalam perut paus itu hingga Hari
Pembalasan (37:143-144).
Hadits Rasulullah yang baru saja disebutkan juga menekankan pentingnya
mengikuti seorang guru yang mempunyai pengetahuan, karena tidak ada yang bisa
mencegah datangnya kutukan selain berkah. Inilah yang dimaksud oleh Abu Yazid
al-Bistami ketika beliau berkata, “Siapapun yang tidak memiliki Syaikh,
Syaikhnya adalah setan.” Hal ini diperkuat dengan dua hadits Rasulullah saw.
Abu Bakar ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Jadilah orang
yang terpelajar (alim) atau murid (mutaallim), atau pendengar (mustami) atau
seorang pecinta (muhibb), tetapi jangan menjadi orang kelima karena kalian akan
binasa. (al-Haythami berkata dalam Majma al-zawaid (1:22), “Tabarani menyatakan
dalam al-Mujam al-saghir (2:9), al-Mujam al-awsat, dan al-Mujam al-kabir, juga
al-Bazzar [dalam Musnad-nya], dan semua naratornya dianggap dapat dipercaya.”
Hal itu juga dinyatakan oleh Abu Nuaym dalam Hilyat al-awliya (7:237) dan
al-Khatib dalam Tarikh baghdad (12:295)).
Sakhawi berkata, “Ibnu Abd al-Barr berkata, ‘orang kelima adalah orang yang
memperlihatkan permusuhan kepada para ulama dan meremehkan mereka, dan siapapun
yang tidak mencintai mereka menunjukkan penghinaan kepada mereka atau dalam
tahap ingin menghina mereka, dan di sana terletak kehancuran.’ (Sakhawi,
al-Maqasid al-hasana (hal.88#134). Lihat buku Ibnu Abd al-Barr yang berjudul
Jami bayan al-ilm wa fadlih (1:30)).
Rasulullah bersabda, “Al-baraqa ma akabirikum,’ Berkah bersama yang lebih tua’
(riwayat Ibnu Hibban dalam sahih-nya, al-Hakim yang menyatakan bahwa hadits itu
sahih, dan Ibnu Daqiq al-Id juga memperkuatnya).
Riwayat lain menyatakan, “Ketika yang muda mengajar yang tua, maka berkah
telah dicabut.” (Lihat buku Sakhawi, al-Maqasid al-hasana hal. 155-159#290).
Orang yang melaksanakan zikir memiliki peringkat tertinggi di hadapan Allah.
Orang-orang yang menyebut nama Allah dengan konsentrasi telah disebutkan dalam
al-Quran. Efek terhadap hatinya juga telah dijelaskan dalam al-Quran,
Di dalam rumah yang Allah telah izinkan supaya dimuliakan dan untuk mengingat
Nama-Nya di rumah itu, Dia dipujikan siang dan malam oleh orang orang-orang yang
perniagaan dan jual-beli tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari mengingat
nama-Nya (24:36-37).
Mereka yang beriman dan hati mereka tentram karena mengingat Allah ingatlah
sesungguhnya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (13:28)
Selama peristiwa Isra dan Mi’raj Rasulullah saw diangkat hingga ke titik di
mana beliau mendengar guratan Pena, yang menunjukkan tulisan Takdir Ilahi.
Beliau melihat seseorang yang lenyap ke dalam cahaya Singgasana Allah.
Rasulullah bertanya, “Siapa ini? Apakah ini seorang Malaikat? Dia berkata
kepadanya, “Bukan!” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah ini Nabi?” Jawaban yang
didapat juga “Bukan!” Kalau begitu siapa dia?” Jawabannya adalah, “Ini adalah
orang yang lidahnya basah dengan mengingat Allah di dunia, hatinya terikat
kepada masjid, dan dia tidak pernah mencela Ayah dan Ibunya. ”(Syaikh Muhammad
Alawi al-Maliki menyatakannya dalam kumpulan teksnya yang berjudul al-Anwar
al-bahiyya min isra wa miraj khayr al-bariyya, yang berisi narasi lisan mengenai
topik tersebut.)
Dalam hadits lain dilaporkan, Seorang pria mendatangi Rasulullah saw dan
berkata, “Wahai Rasulullah, hukum dan persyaratan dalam Islam terlalu banyak
buatku. Katakanlah sesuatu yang dapat aku jaga selalu (yakni, khususnya sebagai
ganti dari banyaknya aturan dan persyaratan yang harus dilaksanakan secara
umum).” Dengan membaca hal itu pria tersebut berkata bahwa terlalu banyak
persyaratan yang harus dipenuhi, orang harus mengerti bahwa dia tidak yakin
kalau dia dapat menjaga semuanya. Dia menginginkan sesuatu yang dia yakin dapat
dijaganya. Rasulullah bersabda, “(Aku menasihatimu untuk melakukan satu hal)
Jagalah lidahmu agar selalu basah dengan zikir kepada Allah.
(Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hadits ini baik
(hasan).
Dalam Islam telah dikenal bahwa pekerjaan terbaik di jalan Allah adalah
berjihad. Tetapi Rasulullah tetap menempatkan zikir di atas jihad dalam hadits
yang autentik berikut ini.
Abu al-Darda ra meriwayatkan, “Suatu ketika Rasulullah saw bertanya kepada
sahabatnya, ‘Sudahkah Aku jelaskan kepada kalian tentang amal yang paling baik,
pekerjaan terbaik di mata Tuhanmu, yang akan mengangkat status kalian di Hari
Kemudian, dan membawa lebih banyak kebajikan daripada membelanjakan emas dan
perak sebagai pelayanan kepada Allah atau ikut serta dalam jihad dan membunuh
atau terbunuh di jalan Allah? Ia adalah zikir kepada Allah.’” (diriwayatkan
oleh Malik dalam Muwatta, juga Musnad-nya Ahmad, Sunan-nya Tirmidzi, Ibnu Majah,
dan Mustadrak-nya Hakim, al-Bayhaqi. Hakim dan yang lain menyatakan hadits itu
sahih).
Abu Saiid ra berkata, “Rasulullah saw ditanya, ‘Siapakah hamba Allah yang
mempunyai peringkat terbaik di hadapan-Nya pada Hari Kebangkitan?’ Beliau
menjawab, ‘Orang yang paling banyak mengingat Allah.’ Aku berkata, ‘Wahai
Rasulullah, bagaimana dengan seseorang yang berperang di jalan Allah?’ Beliau
menjawab, ‘Bahkan jika dia melawan orang-orang kafir dan musyrikin dengan
pedangnya hingga patah, dan menjadi merah dengan darah mereka, sesungguhnya
mereka yang berzikir lebih baik peringkatnya. (diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi
dan Bayhaqi).
Abd Allah bin Umar berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Segala sesuatu
mempunyai semir atau pengkilap, dan semir untuk hati adalah zikir kepada Allah.
Tak ada yang lebih diperhitungkan untuk menyelamatkan diri dari azab Allah
selain zikir kepada Allah. Beliau pernah ditanya apakah ini juga tidak
diterapkan untuk jihad di jalan Allah, dan beliau menjawab, “Bahkan tidak untuk
seseorang yang harus menghujani pedangnya hingga patah.” (Bayhaqi
meriwayatkannya dalam Kitab al-daawat al-kabir begitu juga dalam Shuab al-iman
(1:396#522), juga al-Mundhiri dalam al-Targhib (2:396) dan Tabrizi
menyebutkannya dalam Mishkat al-masabih, pada bagian terakhir buku doa).
Wa min Allah at Tawfiq
Majelis zikir dengan suara keras dan berjamaah
Mawlana Syaikh Hisham Kabbani ar Rabbani
Bismillah hirRohman nirRohim
Kutipan hadits qudsi berikut, dimulai dengan, ”Mereka yang mengingat-Ku dalam
suatu majelis,” mengadakan perkumpulan untuk berzikir keras secara kolektif
sebagai pintu gerbang untuk mendapatkan janji Allah ‘Ingatlah Aku, maka Aku akan
mengingatmu’ Tidak heran bila perkumpulan semacam itu mendapat pujian yang
tertinggi dan berkah dari Allah dan Rasulullah saw sebagaimana dinyatakan dalam
banyak hadits yang autentik.
Menurut Bukhari dan Muslim:
“Rasulullah saw bersabda bahwa Allah mempunyai Malaikat yang berkelana untuk
menemukan orang-orang yang berzikir [dan dalam versi yang lain dari Imam Muslim,
majalis, ‘perkumpulan’ zikir]. Ketika mereka menemukan sekelompok orang (qawm)
yang berzikir dengan keras [dalam Imam Muslim yang lain dikatakan bahwa mereka
duduk bersama mereka], mereka memanggil satu sama lain dan menempatkan diri
mereka dalam sebuah lapisan sampai ke surga yang pertama. (Ini untuk menyatakan
para Malaikat dalam jumlah yang tidak terbatas akan berada di atas mereka. Dia
tidak mengatakan, “Ketika mereka menemukan satu orang.” Oleh sebab itu untuk
mendapatkan ganjaran semacam ini harus dilakukan dalam suatu kelompok.)
Allah bertanya kepada para Malaikatnya dan Dia telah mengetahuinya, (Dia
bertanya untuk menekankan apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya dan untuk
memfasilitasi pemahaman kita), “Apa yang dikatakan oleh hamba-hamba-Ku?” (Dia
tidak berkata, “hamba,” tetapi ibadi, “hamba-hamba” dalam bentuk jamak).
Para Malaikat berkata, “Mereka memuji-Mu (tasbih) dan mengagungkan Nama-Mu
(takbir), dan memberi-Mu Atribut terbaik (tamjid). Allah bertanya, “Apakah
mereka pernah melihat-Ku?” Para Malaikat berkata, “Wahai Tuhanku! Mereka tidak
melihat-Mu.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana jika mereka melihat-Ku?” Malaikat
menjawab, “Wahai Tuhanku, jika mereka melihat-Mu mereka akan lebih
sungguh-sungguh lagi dalam beribadah, tamjid dan tasbih.
Dia bertanya, “Apa yang mereka minta?” Para Malaikat menjawab, “Mereka memohon
surga-Mu!” Dia bertanya, “Apakah mereka sudah melihat surga?” Malaikat berkata,
“Wahai Tuhan kami, tidak, mereka belum melihatnya.” Dia berkata, “Dan bagaimana
keadaan mereka bila mereka melihatnya?” Malaikat berkata, “Jika mereka melihat
surga, mereka akan lebih terikat dan tertarik kepadanya!” Dia bertanya, “Apa
yang mereka takutkan dan lari darinya? (Ketika seseorang mengatakan, “Ya Ghaffar
(Wahai Yang Maha Pengampun), Ya Sattar (Wahai Yang Maha Menyembunyikan)
Itu berarti seseorang takut kepada-Nya karena dosa-dosanya. Orang itu memohon
kepada-Nya untuk menyembunyikan kesalahannya dan memohon ampunan-Nya.) Malaikat
berkata, “Mereka takut dan melarikan diri dari api neraka.” Dia berkata, “Dan
apakah mereka telah melihat api neraka?” Malaikat berkata, “Wahai Tuhan kami,
tidak, mereka belum melihat api neraka.”
Dia bertanya, “Bagaimana jika mereka melihat api neraka?” Malaikat berkata,
“Jika mereka melihat api-Mu mereka akan melarikan diri sejauh-jauhnya, dan
bahkan akan lebih takut lagi.” Dan Allah berkata, “Aku menjadikanmu sebagai
saksi (Allah tidak membutuhkan saksi karena Dia mengatakan, “Cukup Allah saja
sebagai saksi” (4:79, 4:166, 10:29, 13:43, 29:52). “Menjadikanmu sebagai saksi”
di sini maksudnya “menjamin kalian”) bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Allah
telah mengampuni mereka karena, sebagaimana pada awal hadits dinyatakan bahwa
mereka adalah sekelompok orang yang mengucapkan Nama-nama Allah dan
mengingat-Nya melalui zikir).
Salah satu Malaikat berkata, “Wahai Tuhanku, seseorang berada di sana yang
tidak tergabung dalam majelis itu, tetapi datang atas maksud yang lain.” (Orang
itu datang dengan niat bukan untuk berzikir, untuk meminta sesuatu kepada
seseorang). Allah berkata, “Majelis ini adalah sedemikian rupa sehingga orang
yang duduk bersama mereka diampuni dosa-dosanya.” Almarhum Imam Ahmad Mashhur
al-Hadad (meninggal pada 1416/1995) berkata dalam bukunya Miftah al-janna:
“Hadits ini menunjukkan keutamaan yang terdapat dalam majelis zikir, dan pada
setiap orang yang hadir melakukannya dengan keras dan serempak, karena
frase-frase, “Mereka memohon kepada-Mu” dalam bentuk jamak, dan “Mereka adalah
orang-orang yang duduk,” mempunyai arti bahwa mereka yang berkumpul untuk
mengingat Allah dan mengerjakannya secara serempak, sesuatu yang hanya bisa
dilakukan dengan keras, karena seseorang yang berzikir pelan, dalam hati tidak
perlu mencari suatu pertemuan dengan orang lain.”
Lebih jauh hal ini ditunjukkan oleh hadits qudsi yang berbunyi, “Allah
berfirman, Aku seperti yang diharapkan oleh hamba-Ku, Aku bersamanya ketika dia
mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku mengingatnya dalam
diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku dalam kelompok, Aku menyebutkan namanya dalam
suatu pertemuan yang lebih baik darinya…” (Bukhari dan Muslim). Jadi, zikir
dalam hati dibedakan dengan zikir keras melalui firman-Nya, “mengingat-Ku dalam
dirinya,” yang berarti, “dalam hati (diam),” dan “dalam suatu kelompok,” yang
berarti “keras”.
Zikir dalam suatu majelis hanya bisa dilakukan dengan keras dan serempak.
Sehingga hadits di atas mengandung bukti bahwa zikir yang dilakukan dengan keras
dalam suatu majelis merupakan sejenis zikir yang dimuliakan yang disebutkan
dalam majelis tertinggi (al-mala al-ala) oleh Tuhan kita Yang Maha Mulia dan
para Malaikat yang berada di dekat-Nya, “yang terus mengagungkan-Nya siang dan
malam, dan tidak pernah merasa lelah” (21:20).
Daya tarik merupakan bukti yang jelas antara mereka yang melakukan zikir di
dunia abadi, yang telah diciptakan dengan kepatuhan yang telah melekat dalam
dirinya dan mengingat Allah menjadi sifatnya dan dinamakan Malaikat dengan
mereka yang melakukan zikir di dunia yang padat, yang sifatnya dipenuhi dengan
kelemahan dan gangguan dan dinamakan manusia. Ganjaran bagi manusia dalam
melakukan zikir adalah mereka akan diangkat ke peringkat yang serupa dengan
Majelis Tertinggi, yang kemuliaan dan kenikmatannya cukup bagi setiap orang.
(Imam Ahmad Mashhur al-Hadad, Miftah al-janna, terj. Mustafa Badawi, Key to the
Garden, Quilliam Press hal.107-108)
Allah memberikan perbedaan yang nyata bagi mereka yang mengingat-Nya. Abu
Hurayra berkata, “Dalam perjalanan ke Makkah, Rasulullah saw melewati puncak
sebuah gunung yang dinamakan Jumdan (membeku di tempatnya), pada saat itu beliau
berkata, ‘Bergeraklah (siru)! Ini adalah Gunung Jumdan, dan orang yang
berpikiran tunggal (al-mufarridun) adalah yang paling utama.’ Mereka bertanya,
‘Siapa yang berpikiran tunggal, wahai Rasulullah?’ Beliau berkata, ‘Pria dan
wanita yang mengingat Allah tanpa henti (al-dzakirun allah katsiran wa
al-dzakirat).” (diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Muslim, dalam sahih-nya, pada
permulaan buku Zikir).
Gunung itu menyusul orang-orang sebab gunung itu juga berzikir. Ibnu Qayyim
al-Jawziyya menerangkan bahwa istilah mufarridun mempunyai dua arti, yaitu:
muwahhidun, orang-orang yang terikat dalam tawhid yang mendeklarasikan Ke-Esaan
Allah sebagai satu kelompok (tidak perlu sendiri), atau mereka yang beliau sebut
ahad furada, orang yang sama namun sebagai individu yang duduk sendiri (Ibnu
Qayyim al-Jawziyya, Madarij al-salikin). Dari contoh ini terbukti bahwa dalam
keterangan Ibnu Qayyim al-Jawziyya, duduk dalam zikir bisa dilakukan sendiri
atau dalam kelompok.
Dalam keterangan lain mengenai mufarridun, Ibnu Qayyim al-Jawziyya merujuk
istilah tersebut kepada “mereka yang hatinya bergetar ketika mengucapkan zikir
Allah, merasuk ke dalamnya secara terus-menerus, tidak mempedulikan apa yang
orang katakan atau lakukan terhadap mereka.” Hal ini karena Rasulullah saw
bersabda, udzkur Allaha hatta yaqulu majnun “Mengingat dan menyebut Allah
sebanyak yang kalian inginkan, sampai orang berkata bahwa kalian gila dan
bodoh.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, Ibnu Hibban dalam Sahih-nya,
dan al-Hakim yang menyatakan bahwa hadits itu sahih).
Mufarridun adalah orang-orang yang sungguh hidup. Abu Musa as melaporkan,
“Perbedaan orang-orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak
mengingat-Nya adalah bagaikan orang yang hidup dengan orang mati.” (Bukhari).
Ibnu Umar ra melaporkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ketika kalian
melintasi kebun-kebun di Surga, ambillah manfaat darinya.” Para sahabat
bertanya, “Apa yang dimaksud dengan kebun-kebun di Surga itu, Ya Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Lingkaran zikir. Para Malaikat Allah berkelana mencari
lingkaran zikir, dan ketika mereka menemukannya, mereka akan mengelilinginya
dengan rapat.” (Tirmidzi dan Ahmad menyatakan hadits ini hasan gharib).
Abu Saiid al-Khudri dan Abu Hurayra ra melaporkan bahwa Rasulullah bersabda,
“Ketika sekelompok orang mengingat Allah, Malaikat mengelilingi mereka dan
rahmat menyelimuti mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah
menyebutkan mereka mereka kepada mereka yang bersama-Nya.” (Diriwayatkan oleh
Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan Bayhaqi).
Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi meriwayatkan dari Muawiya bahwa, “Rasulullah
pergi menuju lingkaran para sahabatnya dan bertanya, ‘Apa yang membuat kalian
duduk di sini?’ Mereka menjawab, ‘Kami duduk di sini untuk mengingat dan
menyebut Nama Allah (nadzkurullaha) dan untuk mengagungkan Dia (wa nahmaduhu)
sebab Dia membimbing kita kepada jejak Islam dan Dia menganugerahkan nikmat
kepada kita.’ Dengan segera beliau mendesak mereka demi Allah dan bertanya lagi
apakah hanya itu alasan mereka duduk di sana.
Mereka berkata, ‘Demi Allah, kami duduk di sini hanya untuk itu.’ Saat itu
Rasulullah berkata, ‘Aku tidak meminta kalian untuk bersumpah karena ada
kegelisahan di antara kalian, tetapi hanya karena Jibril datang kepadaku dan
memberitahuku bahwa Allah mengatakan kepada Malaikat bahwa Dia bangga kepada
kalian!’
Perhatikan bahwa dalam hadits di atas dinyatakan dengan kata jalasna, atau
“kami duduk,” dalam bentuk jamak, bukan tunggal. Itu melambangkan adanya
asosiasi manusia dalam suatu kelompok, dan bukan satu orang.
Syahr bin Hawashab menyatakan, “Suatu hari Abu al-Darda ramemasuki Masjid
Bayt al-Maqdis (Jerusalem) dan melihat orang berkumpul mengelilingi pemimpin
zikir mereka (mudzakkir) yang mengingatkan mereka. Mereka mengeraskan suara
mereka, menangis dan berdoa. Abu al-Darda berkata, “Hidup Ayahku dan Ibuku aku
korbankan untuk mereka yang merintih terus menerus sebelum hari perintihan!”
Lalu dia berkata, “Wahai Ibnu Hawshab, mari kita segera bergabung dengan mereka.
Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Jika kalian melihat semak belukar Surga,
gembalakan ternakmu di sana.’
Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan semak belukar
Surga?’ Beliau menjawab, Lingkaran orang-orang yang mengingat, demi Dzat yang
jiwaku berada dalam Genggamannya, tak satu pun orang yang berkumpul untuk
mengingat Allah kecuali dikelilingi dengan rapat oleh para Malaikat, rahmat
menyelubungi mereka, dan Allah menyebutkan mereka dalam Kehadirat-Nya, dan
ketika mereka ingin pergi, seseorang memanggil mereka dengan berkata,
Pengampunan telah dibangkitkan, perbuatan buruk kalian telah diubah menjadi amal
kebaikan!’
Lalu Abu al-Darda mendatangi mereka dan duduk bersama mereka dengan antusias.”
(Hafiz Ibnu al-Jawzi menyatakan hal ini dengan rantai transmisinya dalam bab
yang berjudul, “Sebutan bagi orang elit yang biasa menghadiri majelis pembaca
hikayat” dalam bukunya al-Qussas wa al-mudzakkirin (Pembaca Hikayat dan Orang
yang Mengingatkan) ed. Muhammad Basyuni Zaghlul (Beirut: Dar al-kutub
al-ilmiyya, 1406/1986) hal. 31).
Uraian-uraian di atas menunjukkan bukti-butkti mengenai bolehnya melakukan
zikir keras, dalam kelompok dan pengertian zikir, termasuk memberi peringatan
dan menceritakan kembali kisah-kisah yang bermanfaat bagi jiwa.
Kekerasan (suara) dalam Berzikir
Rasulullah memuji orang yang awwah (arti harfiahnya, orang yang berkata, ah,
ah!); yaitu keras dalam zikirnya walaupun yang lain mencemoohkannya. Ahmad
menceritakan dengan sanad yang baik dari Uqba bin Amir,
“Rasulullah berkata tentang seorang pria yang bernama Dzu al-Bijadayn, “innahu
awwah (dia adalah orang yang banyak mengucapkan ah, ah!). hal ini disebabkan
karena dia adalah orang yang sangat banyak berzikir kepada Allah dengan membaca
al-Quran, dan dia akan meninggikan suaranya ketika berdoa.” (Ahmad dalam Musnad
4:159)
Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim as, ”Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang
yang awwah dan halim” (9:114, 11:75); menurut Tafsir al-jalalayn, “menangis dan
sangat menderita karena takut kepada Tuhannya.” (halim = penuh kasih sayang dan
lemah lembut). Rasulullah berdoa untuk menjadi awwah dalam doa
berikut, “rabbi ijalni ilayka awwahan (Ya Allah, jadikanlah aku orang yang
menangis ah kepada-Mu.” Hadits ini diceritakan oleh Tirmidzi (Tirmidzi, kitab
daawat #102, hasan sahih), Ibnu Majah (Ibnu Majah, Du’a #2), dan Ahmad (Ahmad,
Musnad 1:227) dengan sanad yang kuat sebagai berikut: (Yahya bin Said, al-Qattan
Sufyan, al-Thawri Shuba, Amr bin Murra ,Abd Allah bin al-Harits, Taliq bin Qays,
al-Hanafi bin Abbas).
Rasulullah biasa berdoa dengan doa ini, “Ya Tuhanku! Tolonglah aku dan jangan
membuatku menghadapi kesulitan, berikanlah aku kemenangan dan jangan memberikan
kemenangan kepada orang terhadapku, buatlah rencana untukku dan bukan untuk
melawanku, bimbinglah aku dan berikanlah kemudahan untuk membimbingku,
sanggupkanlah aku dalam menghadapi orang yang menentangku. Ya Tuhanku!
Jadikanlah aku orang yang sangat bersyukur kepada-Mu (syakkaran laka), banyak
mengingat-Mu (dzakaran laka), banyak berdoa kepada-Mu (rahhaban laka), patuh
dengan sempurna kepada-Mu (mitwaan ilayka), rendah hati kepada-Mu (mukhbitan
laka), selalu menangis dan kembali kepada-Mu (awwahan muniban)!…”
Wa min Allah at Tawfi
Bismillah hirRohman nirRohim
Kutipan hadits qudsi berikut, dimulai dengan, ”Mereka yang mengingat-Ku dalam
suatu majelis,” mengadakan perkumpulan untuk berzikir keras secara kolektif
sebagai pintu gerbang untuk mendapatkan janji Allah ‘Ingatlah Aku, maka Aku akan
mengingatmu’ Tidak heran bila perkumpulan semacam itu mendapat pujian yang
tertinggi dan berkah dari Allah dan Rasulullah saw sebagaimana dinyatakan dalam
banyak hadits yang autentik.
Menurut Bukhari dan Muslim:
“Rasulullah saw bersabda bahwa Allah mempunyai Malaikat yang berkelana untuk
menemukan orang-orang yang berzikir [dan dalam versi yang lain dari Imam Muslim,
majalis, ‘perkumpulan’ zikir]. Ketika mereka menemukan sekelompok orang (qawm)
yang berzikir dengan keras [dalam Imam Muslim yang lain dikatakan bahwa mereka
duduk bersama mereka], mereka memanggil satu sama lain dan menempatkan diri
mereka dalam sebuah lapisan sampai ke surga yang pertama. (Ini untuk menyatakan
para Malaikat dalam jumlah yang tidak terbatas akan berada di atas mereka. Dia
tidak mengatakan, “Ketika mereka menemukan satu orang.” Oleh sebab itu untuk
mendapatkan ganjaran semacam ini harus dilakukan dalam suatu kelompok.)
Allah bertanya kepada para Malaikatnya dan Dia telah mengetahuinya, (Dia
bertanya untuk menekankan apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya dan untuk
memfasilitasi pemahaman kita), “Apa yang dikatakan oleh hamba-hamba-Ku?” (Dia
tidak berkata, “hamba,” tetapi ibadi, “hamba-hamba” dalam bentuk jamak).
Para Malaikat berkata, “Mereka memuji-Mu (tasbih) dan mengagungkan Nama-Mu
(takbir), dan memberi-Mu Atribut terbaik (tamjid). Allah bertanya, “Apakah
mereka pernah melihat-Ku?” Para Malaikat berkata, “Wahai Tuhanku! Mereka tidak
melihat-Mu.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana jika mereka melihat-Ku?” Malaikat
menjawab, “Wahai Tuhanku, jika mereka melihat-Mu mereka akan lebih
sungguh-sungguh lagi dalam beribadah, tamjid dan tasbih.
Dia bertanya, “Apa yang mereka minta?” Para Malaikat menjawab, “Mereka memohon
surga-Mu!” Dia bertanya, “Apakah mereka sudah melihat surga?” Malaikat berkata,
“Wahai Tuhan kami, tidak, mereka belum melihatnya.” Dia berkata, “Dan bagaimana
keadaan mereka bila mereka melihatnya?” Malaikat berkata, “Jika mereka melihat
surga, mereka akan lebih terikat dan tertarik kepadanya!” Dia bertanya, “Apa
yang mereka takutkan dan lari darinya? (Ketika seseorang mengatakan, “Ya Ghaffar
(Wahai Yang Maha Pengampun), Ya Sattar (Wahai Yang Maha Menyembunyikan)
Itu berarti seseorang takut kepada-Nya karena dosa-dosanya. Orang itu memohon
kepada-Nya untuk menyembunyikan kesalahannya dan memohon ampunan-Nya.) Malaikat
berkata, “Mereka takut dan melarikan diri dari api neraka.” Dia berkata, “Dan
apakah mereka telah melihat api neraka?” Malaikat berkata, “Wahai Tuhan kami,
tidak, mereka belum melihat api neraka.”
Dia bertanya, “Bagaimana jika mereka melihat api neraka?” Malaikat berkata,
“Jika mereka melihat api-Mu mereka akan melarikan diri sejauh-jauhnya, dan
bahkan akan lebih takut lagi.” Dan Allah berkata, “Aku menjadikanmu sebagai
saksi (Allah tidak membutuhkan saksi karena Dia mengatakan, “Cukup Allah saja
sebagai saksi” (4:79, 4:166, 10:29, 13:43, 29:52). “Menjadikanmu sebagai saksi”
di sini maksudnya “menjamin kalian”) bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Allah
telah mengampuni mereka karena, sebagaimana pada awal hadits dinyatakan bahwa
mereka adalah sekelompok orang yang mengucapkan Nama-nama Allah dan
mengingat-Nya melalui zikir).
Salah satu Malaikat berkata, “Wahai Tuhanku, seseorang berada di sana yang
tidak tergabung dalam majelis itu, tetapi datang atas maksud yang lain.” (Orang
itu datang dengan niat bukan untuk berzikir, untuk meminta sesuatu kepada
seseorang). Allah berkata, “Majelis ini adalah sedemikian rupa sehingga orang
yang duduk bersama mereka diampuni dosa-dosanya.” Almarhum Imam Ahmad Mashhur
al-Hadad (meninggal pada 1416/1995) berkata dalam bukunya Miftah al-janna:
“Hadits ini menunjukkan keutamaan yang terdapat dalam majelis zikir, dan pada
setiap orang yang hadir melakukannya dengan keras dan serempak, karena
frase-frase, “Mereka memohon kepada-Mu” dalam bentuk jamak, dan “Mereka adalah
orang-orang yang duduk,” mempunyai arti bahwa mereka yang berkumpul untuk
mengingat Allah dan mengerjakannya secara serempak, sesuatu yang hanya bisa
dilakukan dengan keras, karena seseorang yang berzikir pelan, dalam hati tidak
perlu mencari suatu pertemuan dengan orang lain.”
Lebih jauh hal ini ditunjukkan oleh hadits qudsi yang berbunyi, “Allah
berfirman, Aku seperti yang diharapkan oleh hamba-Ku, Aku bersamanya ketika dia
mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku mengingatnya dalam
diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku dalam kelompok, Aku menyebutkan namanya dalam
suatu pertemuan yang lebih baik darinya…” (Bukhari dan Muslim). Jadi, zikir
dalam hati dibedakan dengan zikir keras melalui firman-Nya, “mengingat-Ku dalam
dirinya,” yang berarti, “dalam hati (diam),” dan “dalam suatu kelompok,” yang
berarti “keras”.
Zikir dalam suatu majelis hanya bisa dilakukan dengan keras dan serempak.
Sehingga hadits di atas mengandung bukti bahwa zikir yang dilakukan dengan keras
dalam suatu majelis merupakan sejenis zikir yang dimuliakan yang disebutkan
dalam majelis tertinggi (al-mala al-ala) oleh Tuhan kita Yang Maha Mulia dan
para Malaikat yang berada di dekat-Nya, “yang terus mengagungkan-Nya siang dan
malam, dan tidak pernah merasa lelah” (21:20).
Daya tarik merupakan bukti yang jelas antara mereka yang melakukan zikir di
dunia abadi, yang telah diciptakan dengan kepatuhan yang telah melekat dalam
dirinya dan mengingat Allah menjadi sifatnya dan dinamakan Malaikat dengan
mereka yang melakukan zikir di dunia yang padat, yang sifatnya dipenuhi dengan
kelemahan dan gangguan dan dinamakan manusia. Ganjaran bagi manusia dalam
melakukan zikir adalah mereka akan diangkat ke peringkat yang serupa dengan
Majelis Tertinggi, yang kemuliaan dan kenikmatannya cukup bagi setiap orang.
(Imam Ahmad Mashhur al-Hadad, Miftah al-janna, terj. Mustafa Badawi, Key to the
Garden, Quilliam Press hal.107-108)
Allah memberikan perbedaan yang nyata bagi mereka yang mengingat-Nya. Abu
Hurayra berkata, “Dalam perjalanan ke Makkah, Rasulullah saw melewati puncak
sebuah gunung yang dinamakan Jumdan (membeku di tempatnya), pada saat itu beliau
berkata, ‘Bergeraklah (siru)! Ini adalah Gunung Jumdan, dan orang yang
berpikiran tunggal (al-mufarridun) adalah yang paling utama.’ Mereka bertanya,
‘Siapa yang berpikiran tunggal, wahai Rasulullah?’ Beliau berkata, ‘Pria dan
wanita yang mengingat Allah tanpa henti (al-dzakirun allah katsiran wa
al-dzakirat).” (diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Muslim, dalam sahih-nya, pada
permulaan buku Zikir).
Gunung itu menyusul orang-orang sebab gunung itu juga berzikir. Ibnu Qayyim
al-Jawziyya menerangkan bahwa istilah mufarridun mempunyai dua arti, yaitu:
muwahhidun, orang-orang yang terikat dalam tawhid yang mendeklarasikan Ke-Esaan
Allah sebagai satu kelompok (tidak perlu sendiri), atau mereka yang beliau sebut
ahad furada, orang yang sama namun sebagai individu yang duduk sendiri (Ibnu
Qayyim al-Jawziyya, Madarij al-salikin). Dari contoh ini terbukti bahwa dalam
keterangan Ibnu Qayyim al-Jawziyya, duduk dalam zikir bisa dilakukan sendiri
atau dalam kelompok.
Dalam keterangan lain mengenai mufarridun, Ibnu Qayyim al-Jawziyya merujuk
istilah tersebut kepada “mereka yang hatinya bergetar ketika mengucapkan zikir
Allah, merasuk ke dalamnya secara terus-menerus, tidak mempedulikan apa yang
orang katakan atau lakukan terhadap mereka.” Hal ini karena Rasulullah saw
bersabda, udzkur Allaha hatta yaqulu majnun “Mengingat dan menyebut Allah
sebanyak yang kalian inginkan, sampai orang berkata bahwa kalian gila dan
bodoh.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, Ibnu Hibban dalam Sahih-nya,
dan al-Hakim yang menyatakan bahwa hadits itu sahih).
Mufarridun adalah orang-orang yang sungguh hidup. Abu Musa as melaporkan,
“Perbedaan orang-orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak
mengingat-Nya adalah bagaikan orang yang hidup dengan orang mati.” (Bukhari).
Ibnu Umar ra melaporkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ketika kalian
melintasi kebun-kebun di Surga, ambillah manfaat darinya.” Para sahabat
bertanya, “Apa yang dimaksud dengan kebun-kebun di Surga itu, Ya Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Lingkaran zikir. Para Malaikat Allah berkelana mencari
lingkaran zikir, dan ketika mereka menemukannya, mereka akan mengelilinginya
dengan rapat.” (Tirmidzi dan Ahmad menyatakan hadits ini hasan gharib).
Abu Saiid al-Khudri dan Abu Hurayra ra melaporkan bahwa Rasulullah bersabda,
“Ketika sekelompok orang mengingat Allah, Malaikat mengelilingi mereka dan
rahmat menyelimuti mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah
menyebutkan mereka mereka kepada mereka yang bersama-Nya.” (Diriwayatkan oleh
Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan Bayhaqi).
Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi meriwayatkan dari Muawiya bahwa, “Rasulullah
pergi menuju lingkaran para sahabatnya dan bertanya, ‘Apa yang membuat kalian
duduk di sini?’ Mereka menjawab, ‘Kami duduk di sini untuk mengingat dan
menyebut Nama Allah (nadzkurullaha) dan untuk mengagungkan Dia (wa nahmaduhu)
sebab Dia membimbing kita kepada jejak Islam dan Dia menganugerahkan nikmat
kepada kita.’ Dengan segera beliau mendesak mereka demi Allah dan bertanya lagi
apakah hanya itu alasan mereka duduk di sana.
Mereka berkata, ‘Demi Allah, kami duduk di sini hanya untuk itu.’ Saat itu
Rasulullah berkata, ‘Aku tidak meminta kalian untuk bersumpah karena ada
kegelisahan di antara kalian, tetapi hanya karena Jibril datang kepadaku dan
memberitahuku bahwa Allah mengatakan kepada Malaikat bahwa Dia bangga kepada
kalian!’
Perhatikan bahwa dalam hadits di atas dinyatakan dengan kata jalasna, atau
“kami duduk,” dalam bentuk jamak, bukan tunggal. Itu melambangkan adanya
asosiasi manusia dalam suatu kelompok, dan bukan satu orang.
Syahr bin Hawashab menyatakan, “Suatu hari Abu al-Darda ramemasuki Masjid
Bayt al-Maqdis (Jerusalem) dan melihat orang berkumpul mengelilingi pemimpin
zikir mereka (mudzakkir) yang mengingatkan mereka. Mereka mengeraskan suara
mereka, menangis dan berdoa. Abu al-Darda berkata, “Hidup Ayahku dan Ibuku aku
korbankan untuk mereka yang merintih terus menerus sebelum hari perintihan!”
Lalu dia berkata, “Wahai Ibnu Hawshab, mari kita segera bergabung dengan mereka.
Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Jika kalian melihat semak belukar Surga,
gembalakan ternakmu di sana.’
Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan semak belukar
Surga?’ Beliau menjawab, Lingkaran orang-orang yang mengingat, demi Dzat yang
jiwaku berada dalam Genggamannya, tak satu pun orang yang berkumpul untuk
mengingat Allah kecuali dikelilingi dengan rapat oleh para Malaikat, rahmat
menyelubungi mereka, dan Allah menyebutkan mereka dalam Kehadirat-Nya, dan
ketika mereka ingin pergi, seseorang memanggil mereka dengan berkata,
Pengampunan telah dibangkitkan, perbuatan buruk kalian telah diubah menjadi amal
kebaikan!’
Lalu Abu al-Darda mendatangi mereka dan duduk bersama mereka dengan antusias.”
(Hafiz Ibnu al-Jawzi menyatakan hal ini dengan rantai transmisinya dalam bab
yang berjudul, “Sebutan bagi orang elit yang biasa menghadiri majelis pembaca
hikayat” dalam bukunya al-Qussas wa al-mudzakkirin (Pembaca Hikayat dan Orang
yang Mengingatkan) ed. Muhammad Basyuni Zaghlul (Beirut: Dar al-kutub
al-ilmiyya, 1406/1986) hal. 31).
Uraian-uraian di atas menunjukkan bukti-butkti mengenai bolehnya melakukan
zikir keras, dalam kelompok dan pengertian zikir, termasuk memberi peringatan
dan menceritakan kembali kisah-kisah yang bermanfaat bagi jiwa.
Kekerasan (suara) dalam Berzikir
Rasulullah memuji orang yang awwah (arti harfiahnya, orang yang berkata, ah,
ah!); yaitu keras dalam zikirnya walaupun yang lain mencemoohkannya. Ahmad
menceritakan dengan sanad yang baik dari Uqba bin Amir,
“Rasulullah berkata tentang seorang pria yang bernama Dzu al-Bijadayn, “innahu
awwah (dia adalah orang yang banyak mengucapkan ah, ah!). hal ini disebabkan
karena dia adalah orang yang sangat banyak berzikir kepada Allah dengan membaca
al-Quran, dan dia akan meninggikan suaranya ketika berdoa.” (Ahmad dalam Musnad
4:159)
Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim as, ”Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang
yang awwah dan halim” (9:114, 11:75); menurut Tafsir al-jalalayn, “menangis dan
sangat menderita karena takut kepada Tuhannya.” (halim = penuh kasih sayang dan
lemah lembut). Rasulullah berdoa untuk menjadi awwah dalam doa
berikut, “rabbi ijalni ilayka awwahan (Ya Allah, jadikanlah aku orang yang
menangis ah kepada-Mu.” Hadits ini diceritakan oleh Tirmidzi (Tirmidzi, kitab
daawat #102, hasan sahih), Ibnu Majah (Ibnu Majah, Du’a #2), dan Ahmad (Ahmad,
Musnad 1:227) dengan sanad yang kuat sebagai berikut: (Yahya bin Said, al-Qattan
Sufyan, al-Thawri Shuba, Amr bin Murra ,Abd Allah bin al-Harits, Taliq bin Qays,
al-Hanafi bin Abbas).
Rasulullah biasa berdoa dengan doa ini, “Ya Tuhanku! Tolonglah aku dan jangan
membuatku menghadapi kesulitan, berikanlah aku kemenangan dan jangan memberikan
kemenangan kepada orang terhadapku, buatlah rencana untukku dan bukan untuk
melawanku, bimbinglah aku dan berikanlah kemudahan untuk membimbingku,
sanggupkanlah aku dalam menghadapi orang yang menentangku. Ya Tuhanku!
Jadikanlah aku orang yang sangat bersyukur kepada-Mu (syakkaran laka), banyak
mengingat-Mu (dzakaran laka), banyak berdoa kepada-Mu (rahhaban laka), patuh
dengan sempurna kepada-Mu (mitwaan ilayka), rendah hati kepada-Mu (mukhbitan
laka), selalu menangis dan kembali kepada-Mu (awwahan muniban)!…”
Wa min Allah at Tawfi
Tuesday, February 6, 2007
assab'ul-matsani dan empat wali qutub
Suatu ketika Rasulullah saw. mengadu kepada Tuhan: “Aku akan meninggalkan dunia ini, Aku akan meninggalkan umatku. Siapakah yang akan menuntun mereka setelahku? Bagaimana nasib mereka sesudahku?”, Allah lalu menurunkan firman-Nya :
" وآتيناك سبعا من المثاني والقرآن العظيم "
Jangan khawatir, Aku telah mengaruniakanmu Assab’ul-matsani dan al-Qur’an yang agung. Dengan keduanya maka umat islam sesudahmu akan selamat dari kesesatan (bila mereka berpegang kepadanya).
Assab’ul-matsani dan al-Qur’an, dua pegangan yang menyelamatkan kita dari kesesatan, dua perkara yang telah membuat Rasul tenang meninggalkan umat. Apakah Assab’ul-matsani itu? dan apakah al-Qur’an itu? Mungkin semua kita tahu apa itu al-Qur’an, sebuah kitab suci yang mengandung tuntunan-tuntunan Tuhan kepada para hamba-Nya, yang tentunya bila diamalkan dengan baik maka selamatlah kita.
Namun tentunya Qur’an saja tidak akan cukup? Lalu bagaimana dengan Assab’ul-matsani? apakah semua kita mengetahuinya? dan sudahkah kita mengamalkannya atau berpegang kepadanya? Dan mengapa Assab’ul-matsani menempati posisi pertama sebelum al-Qur’an? sedikit tidak itu menunjukkan bahwa Assab’ul-matsani merupakan pegangan yang sangat urgen, yang tanpanya keisalaman seseorang menjadi samar dan diragukan.
Ironinya, para ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan firman-Nya “Sab’an minal-matsani”. Ada yang mengatakan bahwa Assab’ul-matsani itu adalah surat Fatihah dengan alasan karena surat Fatihah adalah induknya al-Qur’an dan secara kebetulan jumlah ayatnya pun tujuh ayat.
Ada pula yang menafsirkannya dengan tujuh surat terpanjang dalam al-Qur’an, yaitu: Surat-surat Baqarah, Ali Imran. Annisa’, al-Ma’idah, al-An’am, al-A’raf dan al-Anfal (bersama Attaubah).
Ada yang berpendapat bahwa Assab’ul-matsani adalah al-Qur’an itu sendiri.
Dan masih banyak lagi penafsiran lain tentang apa itu Assab’ul-matsani. Sebagaimana mereka juga berbeda pendapat tentang; kapan malam Lailatul-qadr, apa itu Ism a’zam, apa itu Shalat wustha, kapan waktunya Sa’atul-ijabah, siapa itu wali Allah, apa itu Kaba’ir, dan lain sebagainya. Agaknya para ulama’ memang tak pernah lepas dari perbedaan. Apapun sebabnya, kita tetap meyakini adanya hikmah yang tersirat. Dan apapun faktanya, kita tetap harus mencari yang benar lalu menerimanya dan juga membelanya. Yang salah, kita maafkan bersama, mungkin saja bukan rizki mereka. Yang berijtihad dengan baik dan benar, tetap akan dapat pahala. Sementara mereka yang menjadikan hawa nafsu sebagai alat penafsir utama, tanpa landasan ilahi yang bisa diterima “Wa man lam yaj’alillahu lahu nuran fama lahu min nur”, maka laknat sudah menyelimuti mereka. Belum mendapat nur dan restu dari Allah, sudah seenak-enaknya menafsirkan firman Allah.
Bila kita teliti dengan seksama, kita akan melihat sejumlah penafsiran di atas ternyata belum mampu memberikan sebuah kepuasan, sebab walau tampak berbeda namun sebetulnya sama dan tak berbeda, semuanya menisbatkan Assab’ul-matsani itu kepada al-Qur’an itu sendiri, baik itu surat Fatihah, tujuh surat terpanjang maupun yang lainnya, semua itu adalah al-Qur’an (bagian dari al-Qur’an). Sebuah tanda tanya yang harus terungkap adalah: Bukankah Allah swt. telah menyebutkan “Aku telah mengaruniakanmu Assab’ul-matsani dan al-Qur’an yang agung”? bila Allah telah menyebut al-Qur’an setelah Assab’ul-matsani maka sudah tentu Assab’ul-matsani adalah perkara lain selain al-Qur’an. Tidakkah kita menyadari hal itu?
Bila Assab’ul-matsani adalah surat Fatihah, bukankah surat Fatihah merupakan bagian dari al-Qur’an itu sendiri? bukankah Allah telah menyebut al-Qur’an sesudahnya “wal-Qur’an al-azim”? yang mana surat Fatihah sudah terkandung di dalamnya? Ataukah surat Fatihah itu bukan bagian dari al-Qur’an?
Apabila Assab’ul-matsani itu adalah al-Qur’an atau sebagian dari isi al-Qur’an, tidakkah cukup Allah mengatakan: Aku telah memberimu al-Qur’an (saja, tanpa menyebut Assab’ul-matsani)? bukankah al-Qur’an telah mencakup semua surat-suratnya termasuk Fatihah dan tujuh surat terpanjang?
Lalu mengapa Assab’ul-matsani disebutkan oleh Allah? Walhasil, Assab’ul-matsani adalah perakra lain selain al-Qur’an. Bukan al-Qur’an, bukan pula beberapa surat atau ayatnya. Kalau anda masih bersikeras mengatakan Assab’ul-matsani itu adalah surat Fatihah, maka anda telah berani memisahkannya dari al-Qur’an! dan anda telah menodai kemukjizatan firman-Nya yang terlepas dari segala kecacatan, bahasa dan sastranya.
“Sab’an minal-matsani” terdiri dari tiga kata; Sab’an, Min dan al-Matsani. Sab’an berarti tujuh. Min berarti dari. Sementara al-Matsani adalah bentuk jama’ dari Matsna yang artinya dua-dua. Dengan demikian maka Matsani berarti empat-empat (berkelompok-kelompok, setiap kelompok terdiri dari empat).
Kelompok-kelompok itu amat banyak, namun Allah hanya menyebutkan / mengutus tujuh kelompok saja dari kelompok-kelompok itu (sebagai pemimpin matsani yang lain) “Sab’an minal-matsani”; Tujuh kelompok dari kelompok-kelompok al-Matsani.
Tujuh kelompok itulah yang disebut dan dimaksud dengan Assab’ul-matsani, yang mana setiap kelompok terdiri dari empat orang.
Tujuh kelompok itulah yang bertugas melayani Rasul dan umat sejak awal penciptaan sampai kiamat menjelang.
Tujuh kelompok itulah yang akan menunjuki umat ke jalan yang benar.
Tujuh kelompok itulah yang akan membimbing umat dalam mengamalkan al-Qur’an.
Tujuh kelompok itulah yang akan meneruskan dan mewarisi perjuangan Rasul saw.
Tujuh kelompok itulah yang akan melayani sandal Rasul saw. demi menjunjung tinggi siyadah beliau.
Tujuh kelompok itulah yang bila diikuti, dipegang dan ditaati umat maka selamatlah mereka dari kesesatan.
Tujuh kelompok itulah pelayan-pelayan Rasul dan umat sampai hari kiamat (maupun sesudahnya).
Allah berfirman: “Wa atainaka sab’an minal-matsani wal-Qur’anal-azim”; Aku telah mengutus demi kamu hai Muhammad tujuh kelompok matsani yang akan melayanimu dan melayani umatmu, Akupun telah menurunkan al-Qur’an agar menjadi pegangan kedua bagi umatmu.
Mengapa al-Qur’an dinomorduakan oleh Allah swt.? Jawabannya adalah karena seorang penunjuk lebih diutamakan dari pada sebuah buku petunjuk. Allah swt. berfirman:
" قد جاءكم من الله نور وكتاب مبين "
Telah datang kepadamu: (1) seorang Rasul, dan (2) al-Qur’an. Maka Rasul itu lebih penting dari pada al-Qur’an, sebab al-Qur’an (buku petunjuk) tidak akan difahami dengan benar tanpa Rasul (seorang penunjuk).
Allah swt. juga berfirman:
" فالذين آمنوا به وعزروه ونصروه واتبعوا النور الذي أنزل معه أولئك هم المفلحون "
Orang-orang yang beruntung adalah apabila mereka: (1) beriman kepada Nabi Muhammad, (2) memuliakannya (3) membelanya, kemudian (4) mengikuti kitab suci yang dibawanya. Maka haruslah kita mencari seorang penunjuk, kemudian mencintainya, menghormatinya, membelanya, mengagung-agungkannya dan mentaatinya, setelah itu barulah kita mengikuti buku petunjuk yang ia bawa.
Dari itulah Allah swt. mendahulukan Assab’ul-matsani sebelum al-Qur’an. Bukan karena al-Qur’an itu tidak penting, melainkan karena tanpa seorang penerang dan penunjuk maka al-Qur’an tak dapat difahami dengan benar dan tak dapat diamalkan dengan baik.
Lalu… siapakah Assab’ul-matsani itu? siapa saja kelompok-kelompok itu?
Maulana Syekh Mukhtar ra. menyebutkan bahwasanya tujuh kelompok (Assab’ul-matsani) tersebut adalah sebagai berikut :
1. Empat pemimpin para mala’ikat Kurubiyyin / Alin / Haffin hawlal-arsy.
2. Empat pemimpin para mala’ikat Falakiyyin : Jibril, Mika’il, Israfil dan Izra’il Alaihimussalam.
3. Empat pemimpin para nabi dan rasul yang disebut dengan Ulul-azmi : Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa Alaihimussalam.
4. Empat Pemimpin para sahabat Rasul yang disebut dengan Khulafa’ rasyidin : Saidina Abu Bakr, Saidina Umar bin Khaththab, Saidina Utsman bin Affan dan Saidina Ali bin Abi Thalib Radliallahu anhum ajma’in.
5. Empat pemimpin para penulis wahyu (al-Qur’an) yang disebut dengan al-Abadilah / Abadilatul-Qur’an : Saidina Abdullah bin Umar, Saidina Abdullah bin Azzubair, Saidina Abdullah bin Mas’ud dan Sadina Abdullah bin Abbas Radliallahu anhum ajma’in.
6. Empat pemimpin para imam syari’at (mazhab fiqh) yang disebut dengan al-A’immah al-Arba’ah / A’immatul-mazahibil-arba’ah : Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asysyafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal Radliallahu anhum ajma’in.
7. Empat pemimpin para imam tarekat (tasawuf), pemimpin para auliya’ullah yang disebut dengan al-Aqthab al-Arba’ah (empat wali kutub) / A’immatuththariqah wal-haqiqah : Syekh Ahmad Arrifa’i, Syekh Abdul-Qadir al-Jailani, Syekh Ahmad al-Badawi dan Syekh Ibrahim Addusuqi Radliallahu anhum ajma’in.
Tujuh kelompok di atas-lah Assab’ul-matsani itu, yang memimpin semua matsani yang lain, yang semuanya berjumlah 28 orang sebanyak huruf-huruf dalam bahasa arab.
Ketujuh kelompok itu dipimpin oleh tiga penguasa tertinggi yaitu: Imam al-Hasan, Imam al-Husain dan Imam al-Mahdi Radliallahu anhum.
Allah swt. berfirman: “Ha Mim, Ain Sin Qaf”. Ha Mim telah diulang dalam al-Qur’an sebanyak tujuh kali yang mana hal tersebut mengisyaratkan kepada Assab’ul-matsani di atas, sedangkan Ain Sin Qaf hanya disebut satu kali saja dalam al-Qur’an, yang mana ketiga huruf itu mengisyaratkan kepada tiga pemimpin Assab’ul-matsani (Imam al-Hasan, Imam al-Husain dan Imam al-Mahdi Radiallahu anhum ajma’in).
Sementara pemimpin tertinggi (Ra’is Akbar) yang mengepalai dan mengasuh mereka semua adalah: Rasulullah wa Habibullah Sayyiduna wa Maulana Muhamamd Shallallahu alaihi wa sallam.
Dalam sebuah hadits Rasul menyebutkan bahwa Assab’ul-matsani itu adalah surat Fatihah. Itu benar, namun yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah bahwasanya Assab’ul-matsani (tujuh kelompok) itu telah diisyaratkan oleh salah satu ayat dalam surat Fatihah, tepatnya pada firman-Nya :
" اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم "
Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau karuniai nikmat. Mereka itulah Assba’ul-matsani, sebagaimana firman Allah :
" الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا "
Orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan orang-orang shalih, mereka itulah sebaik-baik teman. Mereka itulah Assab’ul-matsani.
Di antara makna lain dari kata Matsani adalah : bentuk jama’ dari Matsniyyah yang artinya: besi yang dibengkokkan. Itu mengisyaratkan bahwa Assab’ul-matsani adalah orang-orang atau kelompok-kelompok yang telah sampai kepada Allah swt. lalu dikembalikan oleh-Nya ke bumi untuk membimbing umat kepada-Nya.
Kata Matsani juga berasal kata dari Tsana’ yang artinya pujian, tentunya tujuh kelompok di atas telah mendapat pujian suci dari Tuhan mereka, Allah Subhanahu wata’ala.
Di antara tujuh kelompok di atas, nampaknya kelompok terakhir-lah yang cukup asing bagi umat. Para mala’ikat kurubyyin, mala’ikat falakiyyin, nabi ulul-azmi, khulafa’ rasyidin, empat abadilah dan imam mazhab empat… sudah cukup populer. Sedangkan empat wali kutub tertinggi yang mengepalai semua auliya’ Allah di muka bumi ini dan mengimami tarekat dan hakekat sampai muncul Imam al-Mahdi, tidak begitu banyak diketahui atau dikenal orang. Mungkin saja karena salah satu ciri khas para wali adalah: tersembunyi. Namun walau demikian mereka cukup masyhur di kalangan orang-orang yang telah mendapatkan petunjuk Allah, yakni mereka para pecinta tasawuf dan pengikut tarekat. Mereka adalah pecinta Rasul dan Ahlul-bait.
Oleh karena itu, dalam hal ini penulis ingin mengutip perkataan Syekh Abul-Huda Ashshayyadi ra. dalam kitabnya Qiladatul-Jawahir yang berbunyi sebagai berikut :
قد اشتهر في المشرق والمغرب بين المسلمين شأن الأربعة الأقطاب المعظمين، أعني شيخنا ومفزعنا السيد أحمد الكبير الحسيني الرفاعي، وسيدنا السيد الشيخ عبد القادر الجيلاني الحسني، وسيدنا السيد الشيخ أحمد البدوي الحسيني، وسيدنا السيد الشيخ إبراهيم الدسوقي الحسيني . فهؤلاء الأربعة بلا ريب خلاصة بقية السلف، وأئمة جميع الخلف، وأعلام الأولياء، وأولياء الصلحاء، وأشياخ الخرقة والطريقة، وأقطاب الطريقة والحقيقة . ثبتت لدى المسلمين غوثيتهم وولايتهم، ووجبت عند الموحدين حرمتهم ورعايتهم، وهم رضي الله عنهم بمنزلة واحدة في النسب والمرتبة، إلا أن الأقوال تنوعت فيهم وفي مشاربهم وأحوالهم ومذاهبهم، وقد وفق الله لكل واحد منهم من أتباعه من جمع آثاره وذكر أخلاقه وأطواره
Beliau juga telah membuat sebuah nazam (sya’ir) tentang empat wali kutub, bunyinya :
والأوليا اذكرهم بخير أنهم # تبعوا الرسول بصحبة الآدابِ
خدموا شريعته وما اتبعوا الهوى # متمسكين بأشرف الأسبابِ
صحت ولايتهم بشاهد حالهم # فعلوا وصاروا وجهة الطلابِ
لهم الكرامات التي ظهرت بنا # كالشمس ما حجبت ببرد سحابِ
شهدت بها مذ شوهدت أهل الملا # وهي اختصاص الواهب السلابِ
ظهروا ببرهان الرسول تسلسلا # حتى لعهد الأربع الأقطابِ
ابن الرفاعي ثم عبد القادر الـ # ـجبلي وإبراهيم والعطابِ
قال الرفاعيون أحمد شيخنا # سلك الطريق بدق أنجح بابِ
ورأى الخضوع طريقة وحقيقة # تقضي بترك الزهور والإعجابِ
وسرى على سنن الحبيب ملازما # أحواله في السلب والإيجابِ
فلذاك قدمناه تقديما به # قام الدليل لنا بلا إسهابِ
والقادرية ثم فرقة أحمد آل # بدوي كل قال ذاك جوابِي
وكذاك أتباع الدسوقي ثم من # ينمى لغير طريقة ورحابِ
جزموا بصدق الأتباع لشيخهم # فراوه أعلا الأوليا الأنجابِ
فإذا توضحت الحقائق للذي # يدري بغير مسائل وجوابِ
ما كان من قول وفعل وارد # عن شيخ إرشاد رفيع جنابِ
زنه بميزان الشريعة واعتمد # في الأمر نص المصطفى الأوابِ
واعمل لحسن الظن بالتأويل في # ما دق من شطح لسد البابِ
وإذا نأى التأويل فانكر نسبة الـ # ـمنقول واحفظ حرمة الأحبابِ
واسلك طريق الهاشمي محمد # فسواه مردود بكل كتابِ
صلى عليه الله ما لمع الضحى # والآل والأزواج والأصحابِ
Masing-masing dari empat wali kutub itu mendirikan sebuah tarekat ra’isi (induk) yang memimpin semua tarekat sufi yang lain, Syekh Ahmad Arrifa’i ra. mendirikan Tarekat Rifa’iah, Syekh Abdul-Qadir al-Jailani ra. mendirikan Tarekat Qadiriah, Syekh Ahmad al-Badawi ra. mendirikan Tarekat Ahmadiah, dan Syekh Ibrahim Addusuqi ra. mendirikan Tarekat Burhamiah. Empat tarekat sufi tersebut lahir dari dua tarekat ibu-bapak yakni Tarekat Naqsyabandiah dan Tarekat Khalwatiah. Kedua tarekat ibu-bapak itu bersumber dari Saidina Abu Bakr ra. dan Saidina Ali ra. yang kemudian digabung oleh Imam al-Junaid ra. lalu bercabang lagi menjadi empat tarekat induk yang dipimpin oleh empat wali kutub. Pada zaman sekarang ini semua tarekat sufi yang ada mesti melalui salah satu dari empat wali kutub atau semuanya dalam silsilah terekat masing-masing, kalau tidak, maka tarekat tersebut masih diragukan keabsahannya.
Untuk mengenal lebih jauh empat wali kutub masyhur di atas maka pembaca boleh menelaah kitab-kitab di bawah ini :
1. Qiladatul-Jawahir fi Dzikril-Gautsirrifa'i wa Atba'ihil-Akabir oleh Syekh Abul-Huda Ashshayyadi ra.
2. Al-Ayatuzzahirah fi Manaqibil-Auliya' wal-Aqthabil-Arba'ah oleh Syekh Mahmud al-Ghirbawi.
3. Farhatul-Ahbab fi Akhbaril-Arba'atil-Aqthab oleh Syekh Muhammad bin Hasan al-Khalidi ra.
4. dan lain-lain.
Berbicara so’al tugas para wali kutub tertinggi itu, kita dapat melihat peran-peran para imam mazhab yang empat dalam membimbing umat dalam hal syari’at. Oleh karena islam terdiri dari tiga martabat; islam, iman dan ihsan, maka para imam mazhab bertugas untuk memperbaharui dan mempermudah urusan syari’at umat (islam) yang kemudian para wali kutub bertugas untuk memperbaharui dan mempermudah perjalanan spiritual / tarekat umat (iman), yang akhirnya dengan kemantapan dua martabat itu hamba dengan mudah mencapai hakekat (ihsan). Syari’at dan tarekat tidaklah berbeda atau saling bertentangan, melainkan ia merupakan tangga-tangga yang harus dilalui oleh setiap hamba secara bertahap demi meraih derajat yang mulia di sisi Allah dan demi sebuah kesempurnaan dalam pengabdian kepada-Nya (kamalul-iman). Keislaman seseorang tentu menjadi tidak sempurna bila dijalani tanpa dua asas tersebut. Bermazhab untuk kesempurnaan zahir dan bertarekat untuk kesempurnaan batin.
Sebagaimana seorang hamba layaknya bermazhab (bermazhabkan salah satu dari mazhab fiqh yang empat), maka di sisi lain ia juga mesti bertarekat, dengan mengikuti / menganut salah satu tarekat dari empat tarekat sufi di atas. Atau mengikuti tarekat lain yang menjadi cabang dari salah satu tarekat induk tersebut.
Bila keluar dari mazhab yang empat dalam bersyari’at, dan keluar dari tarekat induk yang empat dalam bertarekat, maka tidak akan diterima oleh-Nya. Pintu ijtihad mutlak sudah tertutup, dan izin untuk mendirikan tarekat (induk) sudah berakhir.
Apakah Rasul pernah bermazhab? Apakah Rasul pernah bertarekat? Tentu tidak, sebab beliau merupakan sumber dan asal semua mazhab dan tarekat yang ada. Tidaklah mungkin seorang Rasul menganut mazhab muridnya, tidaklah mungkin beliau mengikuti tarekat pewarisnya. Justru para imam dan wali kutub-lah yang mengikuti beliau dan melalui tuntunan dan restu beliaulah mereka membuat mazhab dan tarekat agar diikuti oleh umat sesudahnya.
Dari itu penulis menasehati mereka yang mengatakan; Tidak ada mazhab dalam islam. Ketahuilah bahwa empat mazhab dan empat tarekat itu telah direstui dan diutus oleh Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu kala demi kemudahan umat dalam menjalankan syari’at-Nya. Tanpa mereka, semuanya tidak akan pernah stabil. Ingin membuat mazhab sendiri atau tarekat sendiri, ingin menjalankan syari’at islam tanpa melalui mereka, ingin bersuluk menuju Allah tenpa melalui jalan mereka, ingin kembali langsung kepada Qur’an dan Sunnah tanpa melalui hasil ijtihad mereka, maka dijamin tidak akan menghasilkan buah yang memuaskan. Bukankah kita sendiri yang selalu berdo’a; “Ihdinashshirathal-mustaqim, shirathalladzina an’amta alaihim” Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan mereka yang Engkau karuniai nikmat (para nabi, para rasul, para sahabat, para imam mazhab dan para wali kutub)?
Sebagaimana Rasul telah mengutus Saidina Mu’az bin Jabal ra. ke Yaman sebagai makan (tempat) untuk menjadi penunjuk jalan / membawa hidayah, maka beliau-pun mengutus seorang hadi (penunjuk jalan) pada setiap zaman (waktu) sesuadah beliau wafat? agar umat beliau dapat menemukan hidayah-Nya… kapanpun, dan dimanapun.
Allah berfirman:
" من يهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا "
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu hai Muhammad tak akan mampu mempertemukannya dengan seorang wali mursyid (seorang penunjuk).
Tanpa seorang wali mursyid maka tenggelamlah hamba dalam lautan kesesatan. Qur’an dan Sunnah tidak akan pernah cukup tanpa seorang wali mursyid yang akan menuntun dan membimbing. Melalui restu dan petunjuk Allah maka Rasul-pun segera mempertemukan kita dengan wali mursyid yang menjadi pewarisnya, semoga Allah memberi hidayah kepada kita… amin.
Dengan niat yang suci, hati yang bersih dari segala sifat sombong dan angkuh, serta cinta yang mendalam kepada Rasul dan para auliya’ maka perjalanan menuju wali mursyid tidaklah jauh, sehingga hidayah Allah dapat kita nikmati dengan penuh ria.
Setelah empat wali kutub itu mendirikan tarekat induk masing-masing dan menanam bibit-bibit hidayah dan mahabbah dalam hati para pengikut setia, maka ajal-pun tak lupa menjemput mereka ke Rafiq A’la, yang kemudian muncullah para penerus-penerus sejati yang akan terus membimbing umat ke jalan-Nya, jalan penuh reda dan cinta. Para penerus sejati itulah para imam mujaddid setiap zaman, mereka adalah Auliya’ Mursyidun dan Ulama’ yang menjadi pewaris-pewaris Rasul, yang amat takut kepada Allah dan tahu rahasia-rahasia asma’ Allah.
Akhir kata… Disamping mengikuti tuntunan Qur’an dan Sunnah, semoga kita tidak lupa pula mengikuti dan berpegang teguh kepada Assab’ul-matsani (beserta para penerus) yang telah diutus oleh-Nya. Semoga kita tetap berlindung di bawah naungan mereka, agar selamat dari dunia sampai akhir masa… amin.
Mengikuti mereka adalah merupakan tuntutan Allah dalam Qur’an-Nya kepada kita, dan juga merupakan seruan Rasul dalam haditsnya “Udldlu alaiha binnawajiz”. Mereka adalah utusan-utusan-Nya, mereka adalah kekasih-kekasih-Nya, mereka adalah prantara-prantara kita menuju-Nya, mereka adalah pewaris-pewaris Rasul-Nya, dan mereka adalah para pembaharu dan imam masa.
Inilah suguhan ilmu para Auliya’-Nya…. yang diraih langsung dari-Nya… Subhanahu wa t’ala. Percaya atau tidak, diterima atau tidak, Allah telah berfirman :
" وقل الحق من ربكم فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر "
Katakanlah yang benar, yang telah kamu terima dari Tuhanmu. Selanjutnya………………………………… terserah mereka!
Referensi :
1. Pengajian-pengajian Maulana Syekh Mukhtar ra. (Syekh Tarekat Burhamiah)
2. Kitab Tabri’atuzzimmah oleh Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani ra.
3. Kitab Qiladatul-Jawahir oleh Syekh Abul-Huda Ashshayyadi al-Khalidi Arrifa’i ra.
" وآتيناك سبعا من المثاني والقرآن العظيم "
Jangan khawatir, Aku telah mengaruniakanmu Assab’ul-matsani dan al-Qur’an yang agung. Dengan keduanya maka umat islam sesudahmu akan selamat dari kesesatan (bila mereka berpegang kepadanya).
Assab’ul-matsani dan al-Qur’an, dua pegangan yang menyelamatkan kita dari kesesatan, dua perkara yang telah membuat Rasul tenang meninggalkan umat. Apakah Assab’ul-matsani itu? dan apakah al-Qur’an itu? Mungkin semua kita tahu apa itu al-Qur’an, sebuah kitab suci yang mengandung tuntunan-tuntunan Tuhan kepada para hamba-Nya, yang tentunya bila diamalkan dengan baik maka selamatlah kita.
Namun tentunya Qur’an saja tidak akan cukup? Lalu bagaimana dengan Assab’ul-matsani? apakah semua kita mengetahuinya? dan sudahkah kita mengamalkannya atau berpegang kepadanya? Dan mengapa Assab’ul-matsani menempati posisi pertama sebelum al-Qur’an? sedikit tidak itu menunjukkan bahwa Assab’ul-matsani merupakan pegangan yang sangat urgen, yang tanpanya keisalaman seseorang menjadi samar dan diragukan.
Ironinya, para ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan firman-Nya “Sab’an minal-matsani”. Ada yang mengatakan bahwa Assab’ul-matsani itu adalah surat Fatihah dengan alasan karena surat Fatihah adalah induknya al-Qur’an dan secara kebetulan jumlah ayatnya pun tujuh ayat.
Ada pula yang menafsirkannya dengan tujuh surat terpanjang dalam al-Qur’an, yaitu: Surat-surat Baqarah, Ali Imran. Annisa’, al-Ma’idah, al-An’am, al-A’raf dan al-Anfal (bersama Attaubah).
Ada yang berpendapat bahwa Assab’ul-matsani adalah al-Qur’an itu sendiri.
Dan masih banyak lagi penafsiran lain tentang apa itu Assab’ul-matsani. Sebagaimana mereka juga berbeda pendapat tentang; kapan malam Lailatul-qadr, apa itu Ism a’zam, apa itu Shalat wustha, kapan waktunya Sa’atul-ijabah, siapa itu wali Allah, apa itu Kaba’ir, dan lain sebagainya. Agaknya para ulama’ memang tak pernah lepas dari perbedaan. Apapun sebabnya, kita tetap meyakini adanya hikmah yang tersirat. Dan apapun faktanya, kita tetap harus mencari yang benar lalu menerimanya dan juga membelanya. Yang salah, kita maafkan bersama, mungkin saja bukan rizki mereka. Yang berijtihad dengan baik dan benar, tetap akan dapat pahala. Sementara mereka yang menjadikan hawa nafsu sebagai alat penafsir utama, tanpa landasan ilahi yang bisa diterima “Wa man lam yaj’alillahu lahu nuran fama lahu min nur”, maka laknat sudah menyelimuti mereka. Belum mendapat nur dan restu dari Allah, sudah seenak-enaknya menafsirkan firman Allah.
Bila kita teliti dengan seksama, kita akan melihat sejumlah penafsiran di atas ternyata belum mampu memberikan sebuah kepuasan, sebab walau tampak berbeda namun sebetulnya sama dan tak berbeda, semuanya menisbatkan Assab’ul-matsani itu kepada al-Qur’an itu sendiri, baik itu surat Fatihah, tujuh surat terpanjang maupun yang lainnya, semua itu adalah al-Qur’an (bagian dari al-Qur’an). Sebuah tanda tanya yang harus terungkap adalah: Bukankah Allah swt. telah menyebutkan “Aku telah mengaruniakanmu Assab’ul-matsani dan al-Qur’an yang agung”? bila Allah telah menyebut al-Qur’an setelah Assab’ul-matsani maka sudah tentu Assab’ul-matsani adalah perkara lain selain al-Qur’an. Tidakkah kita menyadari hal itu?
Bila Assab’ul-matsani adalah surat Fatihah, bukankah surat Fatihah merupakan bagian dari al-Qur’an itu sendiri? bukankah Allah telah menyebut al-Qur’an sesudahnya “wal-Qur’an al-azim”? yang mana surat Fatihah sudah terkandung di dalamnya? Ataukah surat Fatihah itu bukan bagian dari al-Qur’an?
Apabila Assab’ul-matsani itu adalah al-Qur’an atau sebagian dari isi al-Qur’an, tidakkah cukup Allah mengatakan: Aku telah memberimu al-Qur’an (saja, tanpa menyebut Assab’ul-matsani)? bukankah al-Qur’an telah mencakup semua surat-suratnya termasuk Fatihah dan tujuh surat terpanjang?
Lalu mengapa Assab’ul-matsani disebutkan oleh Allah? Walhasil, Assab’ul-matsani adalah perakra lain selain al-Qur’an. Bukan al-Qur’an, bukan pula beberapa surat atau ayatnya. Kalau anda masih bersikeras mengatakan Assab’ul-matsani itu adalah surat Fatihah, maka anda telah berani memisahkannya dari al-Qur’an! dan anda telah menodai kemukjizatan firman-Nya yang terlepas dari segala kecacatan, bahasa dan sastranya.
“Sab’an minal-matsani” terdiri dari tiga kata; Sab’an, Min dan al-Matsani. Sab’an berarti tujuh. Min berarti dari. Sementara al-Matsani adalah bentuk jama’ dari Matsna yang artinya dua-dua. Dengan demikian maka Matsani berarti empat-empat (berkelompok-kelompok, setiap kelompok terdiri dari empat).
Kelompok-kelompok itu amat banyak, namun Allah hanya menyebutkan / mengutus tujuh kelompok saja dari kelompok-kelompok itu (sebagai pemimpin matsani yang lain) “Sab’an minal-matsani”; Tujuh kelompok dari kelompok-kelompok al-Matsani.
Tujuh kelompok itulah yang disebut dan dimaksud dengan Assab’ul-matsani, yang mana setiap kelompok terdiri dari empat orang.
Tujuh kelompok itulah yang bertugas melayani Rasul dan umat sejak awal penciptaan sampai kiamat menjelang.
Tujuh kelompok itulah yang akan menunjuki umat ke jalan yang benar.
Tujuh kelompok itulah yang akan membimbing umat dalam mengamalkan al-Qur’an.
Tujuh kelompok itulah yang akan meneruskan dan mewarisi perjuangan Rasul saw.
Tujuh kelompok itulah yang akan melayani sandal Rasul saw. demi menjunjung tinggi siyadah beliau.
Tujuh kelompok itulah yang bila diikuti, dipegang dan ditaati umat maka selamatlah mereka dari kesesatan.
Tujuh kelompok itulah pelayan-pelayan Rasul dan umat sampai hari kiamat (maupun sesudahnya).
Allah berfirman: “Wa atainaka sab’an minal-matsani wal-Qur’anal-azim”; Aku telah mengutus demi kamu hai Muhammad tujuh kelompok matsani yang akan melayanimu dan melayani umatmu, Akupun telah menurunkan al-Qur’an agar menjadi pegangan kedua bagi umatmu.
Mengapa al-Qur’an dinomorduakan oleh Allah swt.? Jawabannya adalah karena seorang penunjuk lebih diutamakan dari pada sebuah buku petunjuk. Allah swt. berfirman:
" قد جاءكم من الله نور وكتاب مبين "
Telah datang kepadamu: (1) seorang Rasul, dan (2) al-Qur’an. Maka Rasul itu lebih penting dari pada al-Qur’an, sebab al-Qur’an (buku petunjuk) tidak akan difahami dengan benar tanpa Rasul (seorang penunjuk).
Allah swt. juga berfirman:
" فالذين آمنوا به وعزروه ونصروه واتبعوا النور الذي أنزل معه أولئك هم المفلحون "
Orang-orang yang beruntung adalah apabila mereka: (1) beriman kepada Nabi Muhammad, (2) memuliakannya (3) membelanya, kemudian (4) mengikuti kitab suci yang dibawanya. Maka haruslah kita mencari seorang penunjuk, kemudian mencintainya, menghormatinya, membelanya, mengagung-agungkannya dan mentaatinya, setelah itu barulah kita mengikuti buku petunjuk yang ia bawa.
Dari itulah Allah swt. mendahulukan Assab’ul-matsani sebelum al-Qur’an. Bukan karena al-Qur’an itu tidak penting, melainkan karena tanpa seorang penerang dan penunjuk maka al-Qur’an tak dapat difahami dengan benar dan tak dapat diamalkan dengan baik.
Lalu… siapakah Assab’ul-matsani itu? siapa saja kelompok-kelompok itu?
Maulana Syekh Mukhtar ra. menyebutkan bahwasanya tujuh kelompok (Assab’ul-matsani) tersebut adalah sebagai berikut :
1. Empat pemimpin para mala’ikat Kurubiyyin / Alin / Haffin hawlal-arsy.
2. Empat pemimpin para mala’ikat Falakiyyin : Jibril, Mika’il, Israfil dan Izra’il Alaihimussalam.
3. Empat pemimpin para nabi dan rasul yang disebut dengan Ulul-azmi : Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa Alaihimussalam.
4. Empat Pemimpin para sahabat Rasul yang disebut dengan Khulafa’ rasyidin : Saidina Abu Bakr, Saidina Umar bin Khaththab, Saidina Utsman bin Affan dan Saidina Ali bin Abi Thalib Radliallahu anhum ajma’in.
5. Empat pemimpin para penulis wahyu (al-Qur’an) yang disebut dengan al-Abadilah / Abadilatul-Qur’an : Saidina Abdullah bin Umar, Saidina Abdullah bin Azzubair, Saidina Abdullah bin Mas’ud dan Sadina Abdullah bin Abbas Radliallahu anhum ajma’in.
6. Empat pemimpin para imam syari’at (mazhab fiqh) yang disebut dengan al-A’immah al-Arba’ah / A’immatul-mazahibil-arba’ah : Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asysyafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal Radliallahu anhum ajma’in.
7. Empat pemimpin para imam tarekat (tasawuf), pemimpin para auliya’ullah yang disebut dengan al-Aqthab al-Arba’ah (empat wali kutub) / A’immatuththariqah wal-haqiqah : Syekh Ahmad Arrifa’i, Syekh Abdul-Qadir al-Jailani, Syekh Ahmad al-Badawi dan Syekh Ibrahim Addusuqi Radliallahu anhum ajma’in.
Tujuh kelompok di atas-lah Assab’ul-matsani itu, yang memimpin semua matsani yang lain, yang semuanya berjumlah 28 orang sebanyak huruf-huruf dalam bahasa arab.
Ketujuh kelompok itu dipimpin oleh tiga penguasa tertinggi yaitu: Imam al-Hasan, Imam al-Husain dan Imam al-Mahdi Radliallahu anhum.
Allah swt. berfirman: “Ha Mim, Ain Sin Qaf”. Ha Mim telah diulang dalam al-Qur’an sebanyak tujuh kali yang mana hal tersebut mengisyaratkan kepada Assab’ul-matsani di atas, sedangkan Ain Sin Qaf hanya disebut satu kali saja dalam al-Qur’an, yang mana ketiga huruf itu mengisyaratkan kepada tiga pemimpin Assab’ul-matsani (Imam al-Hasan, Imam al-Husain dan Imam al-Mahdi Radiallahu anhum ajma’in).
Sementara pemimpin tertinggi (Ra’is Akbar) yang mengepalai dan mengasuh mereka semua adalah: Rasulullah wa Habibullah Sayyiduna wa Maulana Muhamamd Shallallahu alaihi wa sallam.
Dalam sebuah hadits Rasul menyebutkan bahwa Assab’ul-matsani itu adalah surat Fatihah. Itu benar, namun yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah bahwasanya Assab’ul-matsani (tujuh kelompok) itu telah diisyaratkan oleh salah satu ayat dalam surat Fatihah, tepatnya pada firman-Nya :
" اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم "
Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau karuniai nikmat. Mereka itulah Assba’ul-matsani, sebagaimana firman Allah :
" الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا "
Orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan orang-orang shalih, mereka itulah sebaik-baik teman. Mereka itulah Assab’ul-matsani.
Di antara makna lain dari kata Matsani adalah : bentuk jama’ dari Matsniyyah yang artinya: besi yang dibengkokkan. Itu mengisyaratkan bahwa Assab’ul-matsani adalah orang-orang atau kelompok-kelompok yang telah sampai kepada Allah swt. lalu dikembalikan oleh-Nya ke bumi untuk membimbing umat kepada-Nya.
Kata Matsani juga berasal kata dari Tsana’ yang artinya pujian, tentunya tujuh kelompok di atas telah mendapat pujian suci dari Tuhan mereka, Allah Subhanahu wata’ala.
Di antara tujuh kelompok di atas, nampaknya kelompok terakhir-lah yang cukup asing bagi umat. Para mala’ikat kurubyyin, mala’ikat falakiyyin, nabi ulul-azmi, khulafa’ rasyidin, empat abadilah dan imam mazhab empat… sudah cukup populer. Sedangkan empat wali kutub tertinggi yang mengepalai semua auliya’ Allah di muka bumi ini dan mengimami tarekat dan hakekat sampai muncul Imam al-Mahdi, tidak begitu banyak diketahui atau dikenal orang. Mungkin saja karena salah satu ciri khas para wali adalah: tersembunyi. Namun walau demikian mereka cukup masyhur di kalangan orang-orang yang telah mendapatkan petunjuk Allah, yakni mereka para pecinta tasawuf dan pengikut tarekat. Mereka adalah pecinta Rasul dan Ahlul-bait.
Oleh karena itu, dalam hal ini penulis ingin mengutip perkataan Syekh Abul-Huda Ashshayyadi ra. dalam kitabnya Qiladatul-Jawahir yang berbunyi sebagai berikut :
قد اشتهر في المشرق والمغرب بين المسلمين شأن الأربعة الأقطاب المعظمين، أعني شيخنا ومفزعنا السيد أحمد الكبير الحسيني الرفاعي، وسيدنا السيد الشيخ عبد القادر الجيلاني الحسني، وسيدنا السيد الشيخ أحمد البدوي الحسيني، وسيدنا السيد الشيخ إبراهيم الدسوقي الحسيني . فهؤلاء الأربعة بلا ريب خلاصة بقية السلف، وأئمة جميع الخلف، وأعلام الأولياء، وأولياء الصلحاء، وأشياخ الخرقة والطريقة، وأقطاب الطريقة والحقيقة . ثبتت لدى المسلمين غوثيتهم وولايتهم، ووجبت عند الموحدين حرمتهم ورعايتهم، وهم رضي الله عنهم بمنزلة واحدة في النسب والمرتبة، إلا أن الأقوال تنوعت فيهم وفي مشاربهم وأحوالهم ومذاهبهم، وقد وفق الله لكل واحد منهم من أتباعه من جمع آثاره وذكر أخلاقه وأطواره
Beliau juga telah membuat sebuah nazam (sya’ir) tentang empat wali kutub, bunyinya :
والأوليا اذكرهم بخير أنهم # تبعوا الرسول بصحبة الآدابِ
خدموا شريعته وما اتبعوا الهوى # متمسكين بأشرف الأسبابِ
صحت ولايتهم بشاهد حالهم # فعلوا وصاروا وجهة الطلابِ
لهم الكرامات التي ظهرت بنا # كالشمس ما حجبت ببرد سحابِ
شهدت بها مذ شوهدت أهل الملا # وهي اختصاص الواهب السلابِ
ظهروا ببرهان الرسول تسلسلا # حتى لعهد الأربع الأقطابِ
ابن الرفاعي ثم عبد القادر الـ # ـجبلي وإبراهيم والعطابِ
قال الرفاعيون أحمد شيخنا # سلك الطريق بدق أنجح بابِ
ورأى الخضوع طريقة وحقيقة # تقضي بترك الزهور والإعجابِ
وسرى على سنن الحبيب ملازما # أحواله في السلب والإيجابِ
فلذاك قدمناه تقديما به # قام الدليل لنا بلا إسهابِ
والقادرية ثم فرقة أحمد آل # بدوي كل قال ذاك جوابِي
وكذاك أتباع الدسوقي ثم من # ينمى لغير طريقة ورحابِ
جزموا بصدق الأتباع لشيخهم # فراوه أعلا الأوليا الأنجابِ
فإذا توضحت الحقائق للذي # يدري بغير مسائل وجوابِ
ما كان من قول وفعل وارد # عن شيخ إرشاد رفيع جنابِ
زنه بميزان الشريعة واعتمد # في الأمر نص المصطفى الأوابِ
واعمل لحسن الظن بالتأويل في # ما دق من شطح لسد البابِ
وإذا نأى التأويل فانكر نسبة الـ # ـمنقول واحفظ حرمة الأحبابِ
واسلك طريق الهاشمي محمد # فسواه مردود بكل كتابِ
صلى عليه الله ما لمع الضحى # والآل والأزواج والأصحابِ
Masing-masing dari empat wali kutub itu mendirikan sebuah tarekat ra’isi (induk) yang memimpin semua tarekat sufi yang lain, Syekh Ahmad Arrifa’i ra. mendirikan Tarekat Rifa’iah, Syekh Abdul-Qadir al-Jailani ra. mendirikan Tarekat Qadiriah, Syekh Ahmad al-Badawi ra. mendirikan Tarekat Ahmadiah, dan Syekh Ibrahim Addusuqi ra. mendirikan Tarekat Burhamiah. Empat tarekat sufi tersebut lahir dari dua tarekat ibu-bapak yakni Tarekat Naqsyabandiah dan Tarekat Khalwatiah. Kedua tarekat ibu-bapak itu bersumber dari Saidina Abu Bakr ra. dan Saidina Ali ra. yang kemudian digabung oleh Imam al-Junaid ra. lalu bercabang lagi menjadi empat tarekat induk yang dipimpin oleh empat wali kutub. Pada zaman sekarang ini semua tarekat sufi yang ada mesti melalui salah satu dari empat wali kutub atau semuanya dalam silsilah terekat masing-masing, kalau tidak, maka tarekat tersebut masih diragukan keabsahannya.
Untuk mengenal lebih jauh empat wali kutub masyhur di atas maka pembaca boleh menelaah kitab-kitab di bawah ini :
1. Qiladatul-Jawahir fi Dzikril-Gautsirrifa'i wa Atba'ihil-Akabir oleh Syekh Abul-Huda Ashshayyadi ra.
2. Al-Ayatuzzahirah fi Manaqibil-Auliya' wal-Aqthabil-Arba'ah oleh Syekh Mahmud al-Ghirbawi.
3. Farhatul-Ahbab fi Akhbaril-Arba'atil-Aqthab oleh Syekh Muhammad bin Hasan al-Khalidi ra.
4. dan lain-lain.
Berbicara so’al tugas para wali kutub tertinggi itu, kita dapat melihat peran-peran para imam mazhab yang empat dalam membimbing umat dalam hal syari’at. Oleh karena islam terdiri dari tiga martabat; islam, iman dan ihsan, maka para imam mazhab bertugas untuk memperbaharui dan mempermudah urusan syari’at umat (islam) yang kemudian para wali kutub bertugas untuk memperbaharui dan mempermudah perjalanan spiritual / tarekat umat (iman), yang akhirnya dengan kemantapan dua martabat itu hamba dengan mudah mencapai hakekat (ihsan). Syari’at dan tarekat tidaklah berbeda atau saling bertentangan, melainkan ia merupakan tangga-tangga yang harus dilalui oleh setiap hamba secara bertahap demi meraih derajat yang mulia di sisi Allah dan demi sebuah kesempurnaan dalam pengabdian kepada-Nya (kamalul-iman). Keislaman seseorang tentu menjadi tidak sempurna bila dijalani tanpa dua asas tersebut. Bermazhab untuk kesempurnaan zahir dan bertarekat untuk kesempurnaan batin.
Sebagaimana seorang hamba layaknya bermazhab (bermazhabkan salah satu dari mazhab fiqh yang empat), maka di sisi lain ia juga mesti bertarekat, dengan mengikuti / menganut salah satu tarekat dari empat tarekat sufi di atas. Atau mengikuti tarekat lain yang menjadi cabang dari salah satu tarekat induk tersebut.
Bila keluar dari mazhab yang empat dalam bersyari’at, dan keluar dari tarekat induk yang empat dalam bertarekat, maka tidak akan diterima oleh-Nya. Pintu ijtihad mutlak sudah tertutup, dan izin untuk mendirikan tarekat (induk) sudah berakhir.
Apakah Rasul pernah bermazhab? Apakah Rasul pernah bertarekat? Tentu tidak, sebab beliau merupakan sumber dan asal semua mazhab dan tarekat yang ada. Tidaklah mungkin seorang Rasul menganut mazhab muridnya, tidaklah mungkin beliau mengikuti tarekat pewarisnya. Justru para imam dan wali kutub-lah yang mengikuti beliau dan melalui tuntunan dan restu beliaulah mereka membuat mazhab dan tarekat agar diikuti oleh umat sesudahnya.
Dari itu penulis menasehati mereka yang mengatakan; Tidak ada mazhab dalam islam. Ketahuilah bahwa empat mazhab dan empat tarekat itu telah direstui dan diutus oleh Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu kala demi kemudahan umat dalam menjalankan syari’at-Nya. Tanpa mereka, semuanya tidak akan pernah stabil. Ingin membuat mazhab sendiri atau tarekat sendiri, ingin menjalankan syari’at islam tanpa melalui mereka, ingin bersuluk menuju Allah tenpa melalui jalan mereka, ingin kembali langsung kepada Qur’an dan Sunnah tanpa melalui hasil ijtihad mereka, maka dijamin tidak akan menghasilkan buah yang memuaskan. Bukankah kita sendiri yang selalu berdo’a; “Ihdinashshirathal-mustaqim, shirathalladzina an’amta alaihim” Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan mereka yang Engkau karuniai nikmat (para nabi, para rasul, para sahabat, para imam mazhab dan para wali kutub)?
Sebagaimana Rasul telah mengutus Saidina Mu’az bin Jabal ra. ke Yaman sebagai makan (tempat) untuk menjadi penunjuk jalan / membawa hidayah, maka beliau-pun mengutus seorang hadi (penunjuk jalan) pada setiap zaman (waktu) sesuadah beliau wafat? agar umat beliau dapat menemukan hidayah-Nya… kapanpun, dan dimanapun.
Allah berfirman:
" من يهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا "
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu hai Muhammad tak akan mampu mempertemukannya dengan seorang wali mursyid (seorang penunjuk).
Tanpa seorang wali mursyid maka tenggelamlah hamba dalam lautan kesesatan. Qur’an dan Sunnah tidak akan pernah cukup tanpa seorang wali mursyid yang akan menuntun dan membimbing. Melalui restu dan petunjuk Allah maka Rasul-pun segera mempertemukan kita dengan wali mursyid yang menjadi pewarisnya, semoga Allah memberi hidayah kepada kita… amin.
Dengan niat yang suci, hati yang bersih dari segala sifat sombong dan angkuh, serta cinta yang mendalam kepada Rasul dan para auliya’ maka perjalanan menuju wali mursyid tidaklah jauh, sehingga hidayah Allah dapat kita nikmati dengan penuh ria.
Setelah empat wali kutub itu mendirikan tarekat induk masing-masing dan menanam bibit-bibit hidayah dan mahabbah dalam hati para pengikut setia, maka ajal-pun tak lupa menjemput mereka ke Rafiq A’la, yang kemudian muncullah para penerus-penerus sejati yang akan terus membimbing umat ke jalan-Nya, jalan penuh reda dan cinta. Para penerus sejati itulah para imam mujaddid setiap zaman, mereka adalah Auliya’ Mursyidun dan Ulama’ yang menjadi pewaris-pewaris Rasul, yang amat takut kepada Allah dan tahu rahasia-rahasia asma’ Allah.
Akhir kata… Disamping mengikuti tuntunan Qur’an dan Sunnah, semoga kita tidak lupa pula mengikuti dan berpegang teguh kepada Assab’ul-matsani (beserta para penerus) yang telah diutus oleh-Nya. Semoga kita tetap berlindung di bawah naungan mereka, agar selamat dari dunia sampai akhir masa… amin.
Mengikuti mereka adalah merupakan tuntutan Allah dalam Qur’an-Nya kepada kita, dan juga merupakan seruan Rasul dalam haditsnya “Udldlu alaiha binnawajiz”. Mereka adalah utusan-utusan-Nya, mereka adalah kekasih-kekasih-Nya, mereka adalah prantara-prantara kita menuju-Nya, mereka adalah pewaris-pewaris Rasul-Nya, dan mereka adalah para pembaharu dan imam masa.
Inilah suguhan ilmu para Auliya’-Nya…. yang diraih langsung dari-Nya… Subhanahu wa t’ala. Percaya atau tidak, diterima atau tidak, Allah telah berfirman :
" وقل الحق من ربكم فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر "
Katakanlah yang benar, yang telah kamu terima dari Tuhanmu. Selanjutnya………………………………… terserah mereka!
Referensi :
1. Pengajian-pengajian Maulana Syekh Mukhtar ra. (Syekh Tarekat Burhamiah)
2. Kitab Tabri’atuzzimmah oleh Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani ra.
3. Kitab Qiladatul-Jawahir oleh Syekh Abul-Huda Ashshayyadi al-Khalidi Arrifa’i ra.
Subscribe to:
Posts (Atom)


