Followers

Friday, February 23, 2007

KONTRADIKSI AL BANI DAN PARA PERAWI HADIST

KANAAN IBN ABDULLAH AN-NAHMY :- Al-Albani berkata dalam "Shahihah, 3/481" :
"Kanaan dianggap hasan, karena ia didukung oleh Ibn Mu'in''. Al-Albani
kemudian membuat pertentangan bagi dirinya dengan mengatakan, ''Hadis dhoif karena Kanaan" (Lihat Kitab "Dhoifah, 4/282")!!

No 39 : (Hal. 158 no. 2 )

MAJA'A IBN AL-ZUBAIR : - Al-Albani telah mendhoifkan Maja'a dalam "Irwaal-Ghalil, 3/242", dengan mengatakan bahwa: '' Sanad ini lemah karena Ahmad telah berkata : Tidak ada yang salah dari Maja'a, dan Daruqutni telah melemahkannya ...''.

Al-Albani kemudian membuat kontradiksi lagi dalam kitab "Shahihah, 1/613",dengan mengatakan : ''Orang ini (perawi hadis) adalah terpercaya kecuali Maja'a, dimana ia adalah seorang perawi hadis yang baik''. Sungguh kontradiksi yang 'menakjubkan' !?!

No 40 : (Hal. 158 no. 3 )

UTBA IBN HAMID AL-DHABI : - Al-Albani telah mendhoifkannya dalam kitab "Irwa Al-Ghalil, 5/237", dengan mengatakan : 'Dan ini adalah sanad yang dhoif karena tiga sebab ... Salah satunya adalah sebab kedua, karena lemahnya Al-Dhabi, Al-Hafiz berkata : ''perawi yang terpercaya namun sering salah (dalam meriwayatkan hadis -pent)''.

Al-Albani kembali membuat kontradiksi yang sangat aneh dalam kitab
"Shahihah, 2/432", dimana ia menyatakan bahwa sanad yang menyebutkan Utba : ''Dan ini adalah sanadnya hasan, Utba ibn Hamid al-Dhabi adalah perawi terpercaya namun sering salah, dan sisanya dalam sanad ini adalah para perawi yang terpercaya ??

No 41 : (Hal. 159 no. 4 )

HISHAM IBN SA'AD : Al-Albani berkata dalam kitab "Shahihah, 1/325" : "Hisham ibn Sa'ad adalah perawi hadis yang baik." Kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab "Irwa Al-Ghalil, 1/283" dengan menyatakan: "Akan tetapi Hisham ini lemah hafalannya". Lihat betapa 'menakjubkan' ??

No 42 : (hal. 160 no. 5 )

UMAR IBN ALI AL-MUQADDAMI :- Al-Albani telah melemahkannya dalam kitab "Shahihah, 1/371", dimana ia berkata : ''Ia sendiri sebetulnya adalah terpercaya namun ia pernah melakukan pemalsuan yang sangat buruk yang membuatnya tidak terpercaya..''. Al-Albani kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab "Sahihah, 2/259" dengan menerimanya dan menggambarkannya sebagai perawi yang terpercaya pada sanad yang didalamnya menyebutkan Umar ibn Ali. Al-Albani berkata : ''Dinilai oleh Al-Hakim, yang berkata : 'A shohih isnad (sanadnya shohih -pent)', dan Adz-Dzahabi menyepakatinya, dan hadis (statusnya -pent) ini sebagaimana yang mereka katakan (yaitu hadis shohih -pent).'' Sungguh 'menakjubkan' !?!

No 43 : (Hal. 160 no. 6 )

ALI IBN SA'EED AL-RAZI : Al-Albani telah melemahkannya dalam kitab "Irwa, 7/13", dengan menyatakan : "Mereka tidak mengatakan sesuatu yang baik tentang al-Razi." Al-Albani kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab-nya yang lain yang 'menakjubkan' yang ia karang yaitu kitab "Shahihah, 4/25", dengan berkata : "Ini sanad (hasan) dan para perawinya adalah terpercaya''. Maka berhati-hatilah ?!?

No 44 : (Hal. 165 no. 13 )

RISHDIN IBN SA'AD : Al-Albani berkata dalam kitabnya "Shahihah, 3/79" : "Didalamnya (sanad) ada perawi bernama Rishdin ibn Sa'ad, dan ia telah dinyatakan terpercaya". Tetapi ia kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa ia adalah 'Dhoif' dalam kitab "Dhoifah, 4/53"; dimana ia berkata : "Dan Rishdin ibn Sa'ad adalah Dhoif". Maka
berhati-hatilah dengan hal ini !!

No 45 : (Hal. 161 no. 8 )

ASHAATH IBN ISHAQ IBN SA'AD : Sungguh aneh pernyatan Syeikh Albani ini ?!? Dia berkata dalam kitab "Irwa A-Ghalil, 2/228": 'Statusnya tidak diketahui dan hanya Ibn Hibban yang mempercayainya''. Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri sebagaimana biasanya ! karena ia hanya menukil dari kitab dan tidak ada hal lain yang ia lakukan, kemudian ia sebatas menukilnya tanpa pengetahuan yang memadai, hal ini terbukti dalam kitab "Shahihah, 1/450", dimana ia berkata mengenai Ashath : ''Terpercaya''. Sungguh 'menakjubkan' apa yang ia lakukan !?!

No 46 : (hal.162 no. 9 )

IBRAHIM IBN HAANI : Yang mulia ! Yang Jenius ! Sang Peniru ! telah membuat Ibrahim Ibn Hani menjadi perawi terpercaya disatu tempat dan menjadi tidak dikenal (majhul) ditempat yang lain. Al-Albani berkata dalam kitab 'Shahihah, 3/426': "Ibrahim ibn Hani adalah terpercaya'', Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri seperti yang ia tulis didalam kitab "Dhoifah, 2/225", dengan menyatakan bahwa 'ia tidak dikenal dan hadisnya tertolak' ?!?

No 47 : (Hal. 163 no. 10 )

AL-IJLAA IBN ABDULLAH AL-KUFI : Al-Albani telah meneliti sebuah sanad
kemudian menyatakan bahwa sanad tersebut baik dalam kitab "Irwa, 8/7", dengan kalimat : ''Dan ini adalah sanad yang baik, para perawinya
terpercaya, kecuali untuk Ibn Abdullah Al-Kufi yang merupakan orang yang terpercaya''. Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri dengan mendhoifkan sanad yang didalamnya terdapat Al-Ijla dan menjadikan keberadaannya (yaitu Al-Ijla -pent) untuk dijadikan sebagai alasan bahwa hadis itu 'Dhoif' (Lihat kitab 'Dhoifah, 4/71'); dimana ia berkata :'' Ijla Ibn Abdullah adalah lemah ''. Al-Albani lalu menukil pernyataan Ibn Al-Jauzi (Rahimahullah), dengan mengatakan bahwa : ''Al-Ijla tidak mengetahui apa yang ia katakan'' ?!?

No 48 : (Hal. 67-69 )

ABDULLAH IBN SALIH : KAATIB AL-LAYTH :- Al-Albani telah mengkritik Al-Hafiz Al-Haitami, Al-Hafiz Al-Suyuti, Imam Munawi and Muhaddis Abu'l Fadl Al-Ghimari (Rahimahullah) dalam bukunya "Silsilah Al-Dhoifah, 4/302", ketika meneliti sebuah sanad hadis yang didalamnya terdapat Abdullah ibn Salih. Ia berkata di halaman 300 : ''Bagaimana sebuah hadis yang didalamnya terdapat Abdullah ibn Salih akan menjadi baik dan hadisnya menjadi bagus, meskipun ia banyak melakukan kesalahan dan ketelitiannya yang kurang, serta ia pernah memasukkan sejumlah hadis yang bermasalah dalam kitabnya, dan ia menukil hadis-hadis itu tanpa mengetahui (status -pent) darinya''. Ia tidak menyebutkan bahwa Abdullah Ibn Salih adalah salah seorang dari perawi Imam al-Bukhari (yaitu para perawi yang digunakan oleh Imam Bukhari dalam kitab
shohih-nya -pent), hanya karena hal ini 'tidak cocok dengan seleranya', dan ia juga tidak menyebutkan bahwa Ibn Mu'in dan sejumlah kritikus hadis ternama telah menyatakan bahwa mereka adalah 'terpercaya'. Tetapi kemudian ia menentang dirinya sendiri pada bagian lain dari kitabnya dengan menjadikan hadis yang didalam sanadnya terdapat Abdullah Ibn Salih sebagai hadis yang baik, dan inilah nukilannya :

Al-Albani berkata dalam Silsilah Al-Shahihah, 3/229" : "Dan sanad hadis ini baik, karena Rashid ibn Sa'ad adalah terpercaya menurut Ijma' (kesepakatan para Ulama hadis -pent), dan siapakah yang lebih darinya sebagai perawi dari hadis Shohih, dan didalamnya terdapat Abdullah Ibn Salih yang pernah mengatakan sesuatu yang tidak membahayakan dengan pertolongan Allah SWT'' ?!? Al-Albani juga berkata dalam "Sahihah, 2/406" tentang sanad yang didalamnya terdapat Ibn Salih : "Sanadnya baik dalam hal ketersambungannya'' dan ia katakan lagi dalam kitab "Shahihah 4/647" : ''Hadisnya baik karena bersambung''.

PENUTUP

Setelah kita menyimak berbagai contoh kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak oleh 'Yang Terhormat Al-Muhaddis Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani' oleh 'Al-Alamah Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof' dimana dalam kitab-nya tersebut beliau (Rahimahullah) menunjukkan ± 1200 kesalahan dan penyimpangan dari Syeikh Al-Albani dalam ki tab-kitab yang beliau tulis seperti contoh diatas. Maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa bidang ini tidak dapat digeluti oleh sembarang orang, apalagi yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai seorang yang layak untuk menyadang gelar 'Al-Muhaddis' (Ahli Hadis) dan tidak memperoleh pendidikan formal dalam bidang ilmu hadis dari Universitas-universitas Islam yang terkemuka dan 'Para Masyaik'h yang memang ahli dalam bidang ini. Dan Para Ulama telah menetapkan kriteria yang ketat agar hanya benar-benar hanya
'orang yang memang memenuhi kriteria sajalah' yang layak menyadang gelar ini seperti yang diungkapkan oleh Imam Sakhowi tentang siapa Ahli Hadis (muhaddis) itu sebenarnya : "Menurut sebagian Imam hadis, orang yang disebut dengan Ahli Hadis (Muhaddis) adalah orang yang pernah menulis hadis, membaca, mendengar, dan menghafalkan, serta mengadakan rihlah (perjalanan) keberbagai tempat untuk, mampu merumuskan beberapa aturan pokok (hadis), dan mengomentari cabang dari Kitab Musnad, Illat, Tarikh yang kurang lebih mencapai 1000 buah karangan. Jika demikian (syarat-syarat ini terpenuhi -pent) maka tidak diingkari bahwa dirinya adalah ahli hadis. Tetapi jika ia sudah mengenakan jubah pada kepalanya, dan berkumpul dengan para penguasa pada masanya, atau menghalalkan (dirinya memakai-pent )
perhiasan lu'lu (permata-pent) dan marjan atau memakai pakaian yang
berlebihan (pakaian yang berwarna-warni -pent). Dan hanya mempelajari hadis Al-Ifki wa Al-Butan. Maka ia telah merusak harga dirinya ,bahkan ia tidak memahami apa yang dibicarakan kepadanya, baik dari juz atau kitab asalnya. Ia tidak pantas menyandang gelar seorang Muhaddis bahkan ia bukan manusia. Karena dengan kebodohannya ia telah memakan sesuatu yang haram. Jika ia menghalalkannya maka ia telah keluar dari Agama Islam'' ( Lihat Fathu Al-Mughis li Al-Sakhowi, juz 1hal. 40-41). Sehingga yang layak menyandang gelar ini adalah 'Para Muhaddis' generasi awal seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa'I, Imam Ibn Majah, Imam Daruquthni, Imam
Al-Hakim Naisaburi ,Imam Ibn Hibban dll. Sehingga apakah tidak terlalu
berlebihan (atau bahkan termasuk Ghuluw -pent) dengan menyamakan mereka (Imam Bukhari, Imam Muslim, imam Abu Dawud dkk -pent) dengan sebagian Syeikh yang tidak pernah menulis hadis, membaca, mendengar, menghafal, meriwayatkan, melakukan perjalanan mencari hadis atau bahkan memberikan kontribusi pada perkembangan Ilmu hadis yang mencapai seribu karangan lebih !?!!. Sehingga bukan Sunnah Nabi yang dibela dan ditegakkan, malah sebaliknya yang muncul adalah fitnah dan kekacauan yang timbul dari pekerjaan dan karya-karyanya, sebagaimana contoh-contoh diatas. Ditambah lagi dengan munculnya sikap arogan, dimana dengan mudahnya kelompok ini menyalahkan dan bahkan membodoh-bodohkan para Ulama, karena berdasar penelitiannya (yang hasilnya (tentunya) perlu dikaji dan diteliti ulang seperti contoh diatas), mereka 'berani' menyimpulkan bahwa para Ulama Salaf yang mengikuti salah satu Imam Madzhab ini berhujah dengan hadis-hadis yang lemah atatu dhoif dan pendapat merekalah yang benar (walaupun klaim seperti itu tetaplah menjadi klaim saja, karena telah terbukti berbagai kesalahan dan penyimpangannya dari Al-Haq). Oleh karena itu para Ulama Salaf Panutan Umat sudah memperingatkan kita akan kelompok orang yang seperti ini sbb :

- Syeikh Abdul Ghofar seorang ahli hadis yang bermadzab Hanafi menukil
pendapat Ibn Asy-Syihhah ditambah syarat dari Ibn Abidin Dalam Hasyiyah-nya, yang dirangkum dalam bukunya 'Daf' Al-Auham An-Masalah AlQira'af Khalf Al-Imam', hal. 15 : ''Kita melihat pada masa kita, banyak orang yang mengaku berilmu padahal dirinya tertipu. Ia merasa dirinya diatas awan ,padahal ia berada dilembah yang dalam. Boleh jadi ia telah mengkaji salah satu kitab dari enam kitab hadis (kutub As-Sittah), dan ia menemukan satu hadis yang bertentangan dengan madzab Abu Hanifah, lalu berkata buanglah madzab Abu Hanifah ke dinding dan ambil hadis Rasul SAW. Padahal hadis ini telah mansukh atau bertentangan dengan hadis yang sanadnya lebih kuat dan sebab lainnya sehingga hilanglah kewajiban mengamalkannya. Dan dia tidak mengetahui. Bila pengamalan hadis seperti ini diserahkan secara mutlak
kepadanya maka ia akan tersesat dalam banyak masalah dan tentunya akan menyesatkan banyak orang ''.

- Al-Hafidz Ibn Abdil Barr meriwayatkan dalam Jami' Bayan Al-Ilmu, juz
2hal. 130, dengan sanadnya sampai kepada Al-Qodhi Al-Mujtahid Ibn Laila
bahwa ia berkata : '' Seorang tidak dianggap memahami hadis kalau ia
mengetahui mana hadis yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan''.

- Al-Qodhi Iyadh dalam Tartib Al-Madarik, juz 2hal. 427; Ibn Wahab berkata : ''Kalau saja Allah tidak menyelamatkanku melalui Malik Dan Laits, maka tersesatlah aku. Ketika ditanya, mengapa begitu, ia menjawab, 'Aku banyak menemukan hadis dan itu membingungkanku. Lalu aku menyampaikannya pada Malik dan Laits, maka mereka berkata : ''Ambillah dan tinggalkan itu''.

- Imam Malik berpesan kepada kedua keponakannya (Abu Bakar dan Ismail, putra Abi Uwais); ''Bukankah kalian menyukai hal ini (mengumpulkan dan mendengarkan hadis) serta mempelajarinya ?, Mereka menjawab : 'Ya' , Beliau berkata : Jika kalian ingin mengambil manfaat dari hadis ini dan Allah menjadikannya bermanfaat bagi kalian, maka kurangilah kebiasaan kalian dan pelajarilah lebih dalam ''. Seperti ini pula Al-Khatib meriwayatkan dengan sanadnya dalam Al-Faqih wa Al-Mutafaqih juz IIhal. 28.

- Al-Khotib meriwayatkan dalam kitabnya Faqih wa Al-Mutafaqih, juz IIhal.
15-19, duatu pembicaraan yang panjang dari Imam Al-Muzniy, pewaris ilmu Imam Syafi'i. Pada bagian akhir Al-Muzniy berkata : '' Perhatikan hadis yang kalian kumpulkan.Tuntutlah Ilmu dari para fuqoha agar kalian menjadi ahli fiqh''.

- Dalam kitab Tartib Al-Madarik juz Ihal. 66, dengan penjelasan yang
panjang dari para Ulama Salaf tentang sikap mereka terhadap As-Sunnah, a.l :

a- Umar bin Khotab berkata diatas mimbar: ''Akan kuadukan kepada Allah orang yang meriwayatkan hadis yang bertentangan dengan yang diamalkan''.

b- Imam Malik berkata : ''Para Ahli Ilmu dari kalangan Tabi'in telah
menyampaikan hadis-hadis, lalu disampaikan kepada mereka hadis dari orang lain, maka mereka menjawab : ''Bukannya kami tidak tahu tentang hal ini. Tetapi pengamalannya yang benar adalah tidak seperti ini'' .

c- Ibn Hazm berkata: Abu Darda' pernah ditanya : ''Sesungguhnya telah sampai kepadaku hadis begini dan begitu (berbeda dengan pendapatnya-pent). Maka ia menjawab: ''Saya pernah mendengarnya, tetapi aku menyaksikan pengamalannya tidak seperti itu" .

d- Ibn Abi zanad , "Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para Ulama dan Fuqoha untuk menanyai mereka tentang sunnah dan hukum-hukum yang diamalkan agar beliau dapat menetapkan. Sedang hadis yang tidak diamalkan akan beliau tinggalkan, walaupun diriwayatkan dari para perawi yang terpercaya''. Demikian perkataan Qodhi Iyadh.

e- Al- Hafidz Ibn Rajab Al-Hambali dalam Kitabnya Fadhl 'Ilm As-Salaf 'ala
Kholaf'hal.9, berkata: "Para Imam dan Fuqoha Ahli Hadis sesungguhnya
mengikuti hadis shohih jika hadis itu diamalkan dikalangan para Sahabat atau generasi sesudahnya, atau sebagian dari mereka. Adapun yang disepakati untuk ditinggalkan, maka tidak boleh diamalkan, karena tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali atas dasar pengetahuan bahwa ia memang tidak diamalkan''.

Sehingga cukuplah hadis dari Baginda Nabi SAW berikut untuk mengakhiri
kajian kita ini, agar kita tidak menafsirkan sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya :

Artinya : ''Akan datang nanti suatu masa yang penuh dengan penipuan hingga pada masa itu para pendusta dibenarkan, orang-orang yang jujur didustakan; para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yang amanah dianggap khianat, serta bercelotehnya para 'Ruwaibidhoh'. Ada yang bertanya : 'Apa itu 'Ruwaibidhoh' ?. Beliau menjawab : ''Orang bodohpandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak" (HR. Al-Hakim jilid 4hal. 512No. 8439 --- ia menyatakan bahwa hadis ini shohih; HR. Ibn Majah jilid 2hal. 1339no. 4036; HR. Ahmad jilid 2hal. 219,338No. 7899,8440; HR. Abi Ya'la jilid 6hal. 378no. 3715; HR. Ath-Thabrani jilid 18hal. 67No. 123; HR. Al-Haitsami jilid 7hal. 284 dalam Majma' Zawa'id).

NB : (Syeikh Saqqof kemudian melanjutkan dengan sejumlah nasihat yang penting, yang karena alasan tertentu tidak diterjemahkan, akan tetapi lebih baik bagi anda untuk menilik kembali kitab ini dalam versinya yang berbahasa arab).

Dengan pertolongan Allah, nukilan yang berasal dari kitab Syeikh Saqqof
cukup memadai untuk menyakinkan para pencari kebenaran, serta menjelaskan siapakah sebenarnya orang yang awam dengan sedikit pengetahuan tentang ilmu hadis. Perhatikan peringatan Al-Hafidz Ibn Abdil Barr berikut: '' Dikatakan oleh Al-Qodhi Mundzir, bahwa Ibn Abdil Barr mencela dua golongan, yang pertama , golongan yang tenggelam dalam ra'yu dan berpaling dari Sunnah, dan kedua, golongan yang sombong yang berlagak pintar padahal bodoh '' (menyampaikan hadis, tetapi tidak mengetahui isinya -pent) (Dirangkum dari Jami' Bayan Al-Ilm juz IIhal. 171). Syeikhul Islam Ibn Al-Qoyyim Al-Jawziyah berkata dalam I'lamu Al-Muwaqqi'in juz Ihal. 44, dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: '' Jika seseorang memiliki kitab karangan yang didalamnya termuat sabda Nabi SAW, perbedaan Sahabat dan Tabi'in, maka ia tidak boleh mengamalkan dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan benar".

THE IMAM AL-NAWAWI HOUSE

PO BOX 925393

AMMAN

JORDAN


NB : Dinukil dan disusun secara bebas dari kitab Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof yang berjudul 'Tanaqadat al- Albani al-Wadihat'
(Kontradiksi yang sangat jelas pada Al-Albani) oleh Syeikh Nuh Ha Mim Killer dan kawan-kawan, dalam versi bahasa Inggris dengan judul 'AL-ALBANI'S WEAKENING OF SOME OF IMAM BUKHARI AND MUSLIM'S AHADITH.-

AL BANI MENDHOIFKAN SEJUMLAH HADIST IMAM BUKHORI DAN MUSLIM

Oleh : Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof

Al-Albani berkata dalam kitab "Sharh al-Aqeedah at-Tahaweeah, hal. 27-28" (edisi kedelapan, Maktab al-Islami) oleh Syeikh Ibn Abi Al-Izz al-Hanafi (Rahimahullah), bahwa hadis apapun yang datang dari koleksi Imam Bukhori dan Imam Muslim adalah Shohih, bukan karena iadiriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, tetapi karena pada faktanya hadis-hadis ini memang shohih. Akan tetapi kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan apa yang ia katakan sebelumnya, setelah ia mendhoifkan sejumlah besar hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan imam Muslim !? Baik, marilah sekarang kita melihat bukti-buktinya :

SELEKSI TERJEMAHAN DARI JILID II

No. 1 : (Hal. 10 no. 1)

Hadis : Nabi SAW bersabda : ''Allah SWT berfirman bahwa 'Aku akan menjadi musuh dari tiga kelompok orang : 1). Orang yang bersumpah dengan nama Allah namun ia merusaknya, 2). orang yang menjual seseorang sebagai budak dan memakan harganya, 3). Dan orang yang mempekerjakan seorang pekerja dan mendapat secara penuh kerja darinya (sang pekerja -pent) tetapi ia tidak membayar gajinya (HR. Bukhori no. 2114 -versi bahasa arab, atau lihat juga versi bahasa inggris 3430 hal. 236). Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini dhoif dalam 'Dhoif Al-Jami' wa Ziyadatuhu', 4111 no. 4054'. Sedikitnya apakah ia tidak mengetahui bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhori dari Abu Hurairah ra. !!!

No. 2 : (Hal. 10 no. 2)

Hadis : 'Berkurban itu hanya untuk sapi yang dewasa, jika ini menyulitkanmu maka dalam hal ini kurbankanlah domba jantan !! (HR. Muslim no. 1963 - versi bahasa arab, atau lihat versi bahasa inggris 34836 hal. 1086). Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini 'Dhoif' dalam 'Dhoif Al-Jami' wa Ziyadatuhu', 664 no. 6222'. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Nasa'i dan Ibn Majah dari Jabir ra. !!!

No. 3 : (Hal. 10 no. 3)

Hadis : Diantara manusia yang terjelek dalam pandangan Allah pada hari
kiamat, adalah seorang lelaki yang mencintai istrinya dan istrinya
mencintainya juga, kemudian ia mengumumkan rahasia istrinya (HR. Muslim No. 1437 - versi bahasa arab). Al-Albani mengklaim bahwa hadis ini 'Dhoif' dalam 'Dhoif Al-Jami' wa Ziyadatuhu, 2197 no. 2005'. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abi Sayid ra. !!!

No. 4 (Hal. 10, no. 4)

Hadis : "Jika seseorang bangun pada malam hari (untuk sholat malam -pent), hendaknya ia mengawali sholatnya dengan 2 raka'at yang ringan (HR. Muslim No. 768). Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini 'Dhoif' dalam 'Dhoif Al-Jami' wa Ziyadatuhu I213 no. 718'. Walaupun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. !!

No. 5 : (Hal. 11 no. 5)

Hadis : 'Engkau akan dibangkitkan dengan kening ,tangan, dan kaki yang
bercahaya pada hari kiamat, dengan menyempurnakan wudhu ..' (HR. Muslim No. 246). Al-Albani mengklaim bahwa hadis ini 'Dhoif' dalam 'Dhoif Al-Jami' wa Ziyadatuhu' 2/14 no. 1425'. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. !!

No. 6 : (Hal. 11 no. 6)

Hadis : 'Kepercayaan paling besar dalam pandangan Allah pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang tidak mengumumkan rahasia antara dirinya danistrinya' (HR. Muslim no. 124 dan 1437). Al-Albani menyatakan bahwa hadisini 'Dhoif' dalam 'Dhoif Al-Jami' wa Ziyadatuhu, 2192 no. 1986'. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud dari Abi Sayidra. !!!

N o. 7 : (Hal. 11 no. 7)

Hadis : 'Jika seseorang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahfi,ia akan terlindungi dari fitnah Dajal' (HR. Muslim no. 809). Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini 'Dhoif' dalam 'Dhoif Al-Jami' wa Ziyadatuhu, 5233 no. 5772'. Kalimat yang digunakan oleh Imam Muslim adalah 'menghafal' dan bukan 'membaca' sebagaimana klaim Al-Albani ! Sungguh sebuah kesalahan yang sangat fatal ! Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, dan Nasa'i dari Abu Darda ra. (Juga dinukil oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin 21021 - versi bahasa inggris) !!!

No. 8 : (Hal. 11 no. 8 )

Hadis : 'Nabi SAW mempunyai seekor kuda yang dipanggil dengan 'Al-Lahif''(HR. Bukhori, lihat Fath Al-Bari li Al-Hafidz Ibn Hajar 658 no. 2855.Tetapi Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini 'Dhoif' dalam 'Dhoif Al-Jami' wa Ziyadatuhu, 4208 no. 4489'. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Sahl Ibn Sa'ad ra. !!!

Syeikh Al-Saqof berkata : 'Ini merupakan kemarahan dari orang yang sakit, sedikit dari (penyimpangan -pent) yang banyak dan jika bukan karena takut akan terlalu panjang dan membosankan pembaca, saya akan menyebutkan lebih banyak contoh dari Kitab-kitabnya Al-Albani ketika membacanya. Saya mencoba membayangkan apa yang akan saya temukan jika mengkaji ulang semua yang ia
tulis ?'.

KELEMAHAN AL-ALBANI DALAM MENELITI HADIS (jilid 1 hal. 20)

Syeikh Saqof berkata : 'Hal yang aneh dan mencengangkan adalah bahwa Syeikh
Al-Albani banyak menyalahpahami sejumlah besar hadis para Ulama dan tidak
mengindahkan mereka, diakibatkan pengetahuannya yang terbatas, baik secara
langsung atau tidak langsung. Ia memuji dirinya sendiri sebagai sumber yang
'tidak terbantahkan' dan seringkali mencoba meniru para Ulama Besar dengan
menggunakan sejumlah istilah seperti 'Lam aqif ala sanadih', yang artinya
'Saya tidak dapat menemukan sanadnya', atau menggunakan istilah yang serupa
! Ia juga menuduh sejumlah penghafal hadis terbaik dengan tuduhan 'kurang
teliti', meskipun ia sendiri (yaitu Al-Albani -pent) adalah contoh terbaik
untuk menggambarkannya (yaitu seorang yang bermasalah tentang
ketelitiannya -pent). Sekarang akan kami sebutkan beberapa contoh untuk membuktikan penjelasan kami :

No. 9 : (Hal. 20 no. 1)

Al-Albani menyatakan dalam 'Irwa Al-Gholil 6251 no. 1847' (dalam kaitannya dengan sebuah riwayat dari Ali ra.) : 'Saya tidak dapat menemukan sanadnya'.

Syeikh Saqof berkata : 'Sangat menggelikan ! Jika Al-Albani memang benar adalah salah satu dari Ulama dalam Islam, maka ia akan mengetahui bahwa hadis ini dapat ditemukan dalam kitab 'Sunan Baihaqi' 7121 : yang diriwayatkan oleh Abu Sayid Ibn Abi Amarah, yang berkata bahwa Abu al-Abbas Muhammad Ibn Yaqub, yang berkata kepada kami bahwa Ahmad Ibn Abdal Hamid berkata bahwa Abu Usama dari Sufyan dari Salma Ibn Kahil dari Muawiya Ibn Sua'id, 'Saya menemukan (hadis -pent) ini dalam kitab Ayahku dari Ali ra.'!!

No. 10 : (Hal. 21 no. 2)

Al-Albani menyatakan dalam 'Irwa Al-Gholil 3283 : hadis dari Ibn Umar ra. :'Ciuman adalah riba ('Kisses are Usury' - versi bahasa inggris). : 'Saya tidak dapat menemukan sanadnya'.

Syeikh Saqof berkata : 'Hal ini adalah kesalahan yang fatal, karena secara pasti hadis ini dinukil dalam 'Fatawa Al-Shaykh Ibn Taymiyya Al-Misriyah (3/295)' : 'Harb berkata Ubaidillah Ibn Muadz berkata kepada kami, Ayahku berkata kepadaku bahwa Sua'id dari Jiballa mendengar dari Ibn Umar ra. Berkata :'Ciuman adalah riba'. Dan seluruh perawi hadis ini adalah terpercaya menurut Ibn Taimiyah !!!

Hadis dari Ibn Mas'ud ra. : 'Al-Qur'an diturunkan dengan 7 dialek. Semua
yang ada dalam versi ini mempunyai makna eksplisit dan implisit dan semua larangan sudah pula dijelaskan'. Al-Albani menyatakan dalam penelitiannya atas kitab 'Mishkat Masabih 180 no. 238, bahwa penulis dari 'Mishkat' mengomentari sejumlah hadis dengan kalimat 'Diriwayatkan dalam Sharhus Sunnah', tetapi ketika ia meneliti 'Bab Ilm wa Fadhoil Al-Qur'an' ia tidak dapat menemukannya !

Syeikh Saqof berkata : Para Ulama Besar telah berbicara ! SALAH, sebagaimana biasanya. Saya berharap untuk meluruskan 'penyimpangan' ini, hanya jika ia (yaitu Al-Albani -pent) memang serius serta tertarik untuk mencari hadis ini, maka kami persilahkan ia untuk melihat Bab yang berjudul 'Al-Khusama fi al-Qur'an' dari Sharh-us-Sunnah' (1/262), dan diriwayatkan juga oleh Ibn Hibban dalam Shahih-nya (no. 74), Abu Ya'ala dalam Musnad-nya (no.5403), At-Tahawi dalam Sharh al-Mushkil al-Athar (4/172), Bazzar (3/90 Kashf al-Asrar) dan Haitami telah menyebutkannya dalam Majmu' al-Zawaid (7/152) dan ia menisbatkannya kepada Al-Bazzar, Abu Ya'la dan Tabarani dalam Al-Autsat, yang menyatakan bahwa para perawinya adalah terpercaya' !!!.

No. 12 : (Hal. 22 no. 4)

Al-Albani menyatakan dalam 'kitab Shohih-nya' ketika mengomentari Hadis no. 149 : 'Orang beriman adalah orang yang tidak memenuhi perutnya . . Hadis ini berasal dari Aisyah ra. sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Mundhiri (3/237) dan Al-Hakim dari Ibn Abas ra.. . Saya (Albani) tidak menemukannya dalam Mustadrak al-Hakim setelah mencarinya dalam 'bagian pemikiran' ('Thoughts' section - versi bahasa inggris).

Syeikh Saqof berkata : 'Tolong jangan mendorong masyarakat untuk jatuh dalam kebodohan dengan kekacauan yang engkau lakukan !! Jika engkau meneliti Kitab Mustadrak Al-Hakim (2/12), engkau akan menemukan hadis ini ! Hal ini membuktikan bahwa engkau tidak mampu untuk menggunakan indeks buku dan hafalan hadis !!!?.

No. 13 : (Hal. 23)

Penilaian yang lain yang juga menggelikan apa yang dilakukan oleh Albani dalam Kitab 'Shohih-nya 2/476', ketika mengklaim bahwa hadis : 'Abu bakar adalah bagian dariku, sambil memegang posisi dari telingaku', tidak ada dalam kitab 'Hilya'.

Syeikh Saqof berkata : Kami menyarankan engkau untuk kembali melihat kitab "Hilya , 4/73 !"

No. 14 : (Hal. 23 no. 5)

Al-Albani berkata dalam kitab "Shahihah, 1/638 no. 365, edisi keempat :
'Yahya ibn Malik telah diabaikan oleh enam Ulama Hadis yang Utama, karena ia tidak disebutkan dalam kitab Tahdzib, Taqrib atau Tadzhib'.

Syeikh Saqof berkata: 'Ini adalah menurut persangkaanmu ! Kenyataannya sebenarnya tidak seperti itu, karena secara pasti Ia (yaitu Al-hafidz Ibn Hajar -pent) telah menyebutkannya (yaitu Yahya ibn Malik -pent) dalam Tahdhib Al-Tahdhib li Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani (12/19 - Edisi Dar El-Fikr) dengan nama kuniyah Abu Ayub Al-Maraghi' !!!. Maka berhati-hatilah!!!

No. 15 : (Hal. 7)

Al-Albani mengkritik Imam Al-Muhadis Abu'l Fadl Abdullah Ibn Al-Siddiq
Al-Ghimari (Rahimahullah) ketika menyebutkan dalam kitabnya "Al-Kanz
Al-Thamin" sebuah hadis dari Abu Hurairah ra. yang berkaitan dengan perawi Abu Maimunah : 'Sebarkan salam, berilah makan faqir-miskin ...'.

Al-Albani menyatakan dalam 'Silsilah Al-Dhoifah, 3/492', setelah menisbatkan hadis kepada Imam Ahmad (2/295) dan lainnya, : 'Saya katakan bahwa sanad hadis ini 'Dhoif' (lemah), Daraqutni telah berkata bahwa 'Qatada dari Abu Maimuna dari Abu Hurairah : Tidak dikenal (Majhul), dan hadisnya ditinggalkan'. Al-Albani kemudian berkata pada paragraf yang sama : 'Sebagai catatan, sesuatu yang aneh terjadi diantara Imam Suyuti dan Al-Munawi ketika mereka meneliti hadis ini, dan saya juga telah menunjukkannya pada hadis no. 571, bahwa Al-Ghimari juga salah ketika menyebutkan hadis ini dalam 'Al-Kanz '.

Akan tetapi realitanya menunjukkan bahwa Al-Albani-lah yang sebenarnya paling sering melakukan kesalahan, ketika ia membuat kontradiksi yang besar dengan menggunakan sanad yang sama dalam "Irwa al-Ghalil, 3/238", tatkala ia berkata : 'Dinukil oleh Imam Ahmad (2/295), Al-Hakim . . . dari Qatada dari Abu Maimuna dan ia adalah perawi yang terpercaya dalam kitab 'Al-Taqrib', dan Hakim berkata : 'A Sahih Sanad', dan Al-Dhahabi setuju dengan penilaian Imam Hakim ! Semoga Allah SWT meluruskan kesalahan ini ! Lalu siapakan menurut pendapat anda yang melakukan kesalahan dan penyimpangan, apakah
Al-Muhaddis Al-Ghumari (termasuk Imam Suyuti and Munawi) ataukah Al-Albani ?

No. 16 : (Hal. 27 no. 3)

Al-Albani hendak melemahkan hadis yang membolehkan para wanita memakai perhiasan emas, dimana pada sanad hadis itu terdapat seorang perawi bernama Muhammad ibn Imara. Al-Albani mengklaim bahwa Abu Hatim berkata bahwa perawi ini adalah 'tidak begitu kuat (Laisa bi Al-Qowi)', lihat kitab "Hayat al-Albani wa-Atharu. . . jilid 1, hal. 207."

Yang sebenarnya bahwa Imam Abu Hatim Al-Razi menyatakan dalam Kitabnya 'Al-Jarh wa At-Ta'dil, 8/45': 'Perawi yang baik akan tetapi tidak begitu kuat (Laisa bi Al-Qowi)'. Oleh karena itu, perlu dicatat bahwa Al-Albani menghilangkan kalimat 'Perawi yang baik' ! .

NB - Al-Albani telah membuat sejumlah hadis yang melarang emas untuk para wanita menjadi hadis yang shohih, walaupun sebelumnya sejumlah Ulama telah menyatakan bahwa hadis-hadis ini adalah 'Dhoif' dan dihapus dengan hadis lain yang membolehkan emas bagi wanita. DR. Yusuf al-Qardawi berkata dalam bukunya : 'Islamic Awakening between Rejection and Extremism' (judul dalam versi bahasa Inggris -pent) hal. 85: 'Pada masa kami muncullah Syeikh Nasirudin Al-Albani dengan pendapat-pendapatnya, yang ternyata banyak bertentangan dengan kesepakatan (Ijma') yang membolehkan para wanita untuk menghiasi dirinya dengan emas, dimana pendapat ini telah diterima oleh seluruh Madzhab selama 14 abad lamanya. Ia (yaitu Al-Albani -pent) tidak hanya menyakini bahwa hadis-hadis ini adalah shohih, akan tetapi hadis ini
juga tidak dihapus (dinasakh ketentuan hukumnya -pent). Sehingga, ia
menyakini bahwa hadis-hadis itu melarang cincin dan anting emas bagi wanita. Sehingga kalau demikian faktanya, maka siapakah yang menetang Ijma' Umat dengan pendapat-pendapatnya yang ekstrim ?!? .

No. 17 : (Hal. 37 no. 1)

Hadis : Mahmud ibn Lubaid ra. berkata : 'Rasul SAW telah mendapat informasi tentang seorang lelaki yang telah menceraikan istrinya sebanyak tiga kali (dalam satu duduk), kemudian beliau menjadi marah dan berkata: ''Apakah ia hendak mempermainkan Kitab Allah , tatkala aku masih ada diantara kalian ? kemudian seorang lelaki berdiri dan berkata : 'Wahai Nabi Allah, apakah saya boleh membunuhnya ?'' (HR. An-Nasa'I).

Al-Albani menyatakan bahwa Hadith ini adalah 'Dhoif' dalam penelitiannya
pada "Mishkat al-Masabih, 2/981 (edisi ketiga, Beirut 1405 H; Maktab
Al-Islami)", ketika dia berkata : 'Orang ini adalah terpercaya, tetapi
sanadnya terputus karena ia tidak mendengar hadis ini dari ayahnya'.

Al-Albani kemudian melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia lakukan sebelumnya dalam Kitab-nya yang berjudul "Ghayatul Maram Takhrij Ahadith al-Halal wal Haram, no. 261, hal. 164, edisi ketiga, Maktab al-Islami, 1405 H"; dengan mengatakan bahwa hadis yang sama adalah hadis yang 'SAHIH' !!!

No. 18 : (Hal. 37 no. 2)

Hadis : 'Jika salah seorang dari kalian tidur dibawah (sinar) matahari dan
ada bayangan menutupi dirinya, dan sebagian dirinya berada dalam bayangan itu dan bagian yang lain terkena (sinar) matahari, hendaknya ia bangun'. Al-Albani menyatakan bahwa Hadith ini 'SAHIH' dalam penelitiannya pada "Shahih Al-Jami' Al-Shaghir wa Ziyadatuh (1/266/761)", tetapi kemudian melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya dengan dengan mengatakan bahwa hadis yang sama sebagai hadis 'Dhoif' pada penelitiannya atas kitab "Mishkat Al-Masabih, 3/1337 no. 4725, edisi ketiga", dan ia menisbatkan hadis ini pada kitab 'Sunan Abu Dawud' !"

No. 19 : (Hal. 38 no. 3)

Hadis : 'Sholat Jum'at adalah wajib bagi setiap muslim'. Al-Albani menilai
bahwa Hadith ini adalah hadis 'Dhoif', pada penelitiannya di kitab "Mishkat
Al-Masabih, 1/434", Dan berkata : 'Perawi hadis ini adalah terpercaya tetapi (sanadnya) tidak bersambung sebagaimana diindikasikan oleh Imam Abu Dawud'. Kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam Kitab "Irwa al-Ghalil, 3/54 no. 592", dengan menyatakan bahwa hadis ini adalah hadis yang 'SAHIH' !!! Maka berhati-hatilah, Wahai orang yang bijaksana !?!

No. 20 : (hal. 38 no. 4)

Al-Albani membuat kontradiksi yang lain. Ia menganggap Al-Muharrar ibn Abu Huraira sebagai perawi terpercaya di satu tempat dan didhoifkan ditempat yang lain. Al-Albani menyatakan dalam kitab "Irwa al-Ghalil, 4/301" bahwa 'Muharrar adalah terpercaya dengan pertolongan Allah SWT, dan Al-Hafiz (yaitu Ibn Hajar) mengomentarinya 'Dapat diterima', bahwa pernyataan ini (yaitu penilaian Al-Hafidz Ibn Hajar -pent) tidak dapat diterima, oleh karena itu sanadnya shohih'. Kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab "Sahihah 4/156" dimana ia menjadikan sanadnya 'Dhoif', dengan berkata : ''Para perawinya seluruhnya adalah para perawi Imam Bukhori'' , kecuali Al-Muharrar yang merupakan salah satu perawi Imam An-Nasa'I dan Ibn Majah saja. Ia tidak dipercaya kecuali hanya Ibn Hibban, dan karena sebab itulah Al-Hafidz Ibn Hajar tidak mempercayainya, hanya saja ia berkata 'Dapat Diterima' ?!? Berhati-hatilah dari penyimpangan ini !!
No. 21: (hal. 39 no. 5)

Hadis : Abdullah Ibn Amr ra. : 'Sholat Jum'at menjadi wajib bagi siapapun
yang medengar seruannya' (HR. Abu Dawud). Al-Albani menyatakan bahwa hadis adalah hadis 'Hasan' dalam "Irwa Al-Ghalil 3/58", Kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah 'Dhoif', dalam Kitab "Mishkatul Masabih 1/434 no 1375" !!!

No. 22 : (Hal. 39 no. 6)

Hadis : Anas Ibn malik ra. berkata bahwa Nabi SAW pernah bersabda :
'Janganlah menyulitkan diri kalian sendiri, kalau tidak Allah akan
menyulitkan dirimu. Tatkala ada manusia yang menyulitkan diri mereka, maka Allah-pun akan menyulitkan mereka' (HR. Abu Dawud).

Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini 'Dhoif' pada penelitiannya dalam kitab "Mishkat, 1/64", Kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah 'Hasan' dalam Kitab "Ghayatul Maram, Hal. 141" !!

No. 23 : (Hal. 40 no. 7)

Hadis dari Sayidah Aisyah ra. : 'Siapapun yang memberitahukan kepadamu bahwa Nabi SAW buang air kecil dengan berdiri, maka jangan engkau mempercayainya. Beliau tidak pernah buang air kecil kecuali beliau dalam keadaan duduk' (HR. Ahmad, An-Nasa'I dan At-Tirmidzi).

Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadis ini adalah 'Dhoif' dalam "Mishkat 1/117." Kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah 'SAHIH' dalam "Silsilat Al-Ahadis Al-Shahihah 1/345 no. 201" !!! Maka ambillah pelajaran dari ini, wahai pembaca yang mulia !?!

No. 24 : (Hal. 40 no.

Hadis : Ada 3 kelompok orang, dimana para Malaikat tidak akan mendekat : 1). Mayat dari orang kafir; 2). Laki-laki yang menggunakan parfum wanita; 3). Seseorang yang melakukan jima' (hubungan sex -pent) sampai ia membersihan dirinya' (HR. Abu Dawud).
Al-Albani meneliti hadis ini dalam "Shahih Al-Jami Al-Shaghir wa Ziyadatuh, 3/71 no. 3056" dengan menyatakan bahwa hadis ini 'HASAN' pada penelitian dalam kitab "Al-Targhib 1/91" [Ia juga menyatakan hadis ini 'Hasan' pada bukunya yang diterjemahkan dakam bahasa inggris dengan judul 'The Etiquettes of Marriage and Wedding, hal. 11]. Kemudian ia membuat pertentangan yang aneh dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah 'Dhoif' pada penelitiannya dalam kitab "Mishkatul-Masabih, 1/144 no. 464" dan menegaskan bahwa para perawi hadis ini adalah terpercaya, namun sanadnya ada yang terputus antara Al-Hasan Al-Basri dan Ammar ra., sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Mundhiri dalam Kitab 'Al-Targhib (1/91)' !?!

No. 25 : (Hal. 42 no. 10)

Imam Malik meriwayatkan bahwa 'Ibn Abbas ra. biasanya meringkas sholatnya pada jarak perjalanan antara Makkah dan Ta'if atau Makkah dan Usfan atau antara Makkah dan Jeddah' . . . .

Al-Albani mendhoif-kan hadis ini dalam kitab "Mishkat, 1/426 no. 1351",
tetapi kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya dengan dengan mengatakan bahwa hadis yang sama sebagai hadis 'SAHIH' dalam "Irwa Al-Ghalil, 3/14" !!

No. 26 : (Hal. 43 no. 12)

Hadis : 'Tinggalkan orang-orang Ethoipia selama mereka meninggalkanmu, karena tidak seorangpun akan mengambil harta yang berada di Ka'bah kecuali seseorang yang mempunyai dua kaki yang lemah dari Ethoipia'.

Al-Albani telah mendhoif-kan hadis ini dalam kitab "Mishkat 3/1495 no.
5429" dengan mengatakan bahwa : "Sanad hadis ini Dhoif''. Tetapi kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya (sebagaimana kebiasannya), dengan mengoreksi penilaiannya atas hadis yang sama dalam Kitab "Shahihah, 2/415 no. 772."

No. 27 : (Hal. 32)

Ia memuji Syeikh Habib al-Rahman al-Azami dalam kitab 'Shahih Al-Targhib wa Tarhib, hal. 63', dimana ia berkata : 'Saya ingin agar anda mengetahui satu hal yang membanggakan saya ..... dimana kitab ini telah dikomentari oleh Ulama yang terhormat dan terpandang yaitu Syeikh Habib al-Rahman al-Azami" . . . dan ia juga mengatakan pada halaman yang sama, ''Dan yang membuatku lebih merasa senang dalam hal ini, bahwa kajian serta hasil penelitian ini ditanggapi (dengan baik -pent) oleh Syeikh Habib Al-Rahman Al-Azami. . . ."

Al-Albani yang sebelumnya memuji Syeikh al-Azami dalam buku diatas, kemudian membuat pertentangan lagi dalam pengantar dari bukunya yang berjudul 'Adab Az-Zufaf' (The Etiquettes of Marriage and Wedding), edisi terbaru hal. 8, dimana ia disitu berkata : 'Al-Ansari telah menggunakan dalam akhir dari suratnya, salah satu dari musuh As-Sunnah, Hadis dan Tauhid, dimana orang yang terkenal dalam hal ini adalah Syeikh Habib Al-Rahman Al-Azami. . . . . disebabkan karena sikap pengecutnya dan sedikit mengambil dari para Ulama . . . . ."

NB : (Nukilan diatas berasal dari Kitab 'Adab Az-Zufaf' , tidak ditemukan
dalam terjemahan versi bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh para
pengikutnya, yang menunjukkan mereka dengan sengaja tidak menerjemahkan bagian tertentu dari keseluruhan kitab tersebut). Oleh karena itu perhatikan penyimpangan ini, Wahai para pembaca yang mulia ?!?


SELEKSI TERJEMAHAN DARI JILID II

No. 28 : (Hal. 143 no. 1)

Hadis dari Abi Barza ra. : 'Demi Allah, engkau tidak akan menemukan orang yang lebih (baik -pent) daripada diriku' (HR. An-Nasa'I 7/120 no. 4103).

Al-Albani mengatakan bahwa Hadis ini adalah 'SAHIH' dalam kitab "Shahih
Al-Jami wa Ziyadatuh, 6/105 no. 6978", dan secara aneh menentang dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa hadis yang sama adalah 'Dhoif' dalam kitab "Dhoif Sunan Al-Nasa'i, pg. 164 no. 287."Maka berhati-hatilah dari penyimpangan ini ?!?

No 29 : (Hal. 144 no. 2 )

Hadis dari Harmala Ibn Amru Al-Aslami dari pamannya : ''Melempar batu
kerikil saat 'Jimar' dengan meletakkan ujung ibu jari pada jari telunjuk''
(Shahih Ibn Khuzaimah, 4/276-277 no. 2874) .

Al-Albani sedikit saja mengetahui kelemahan dari hadis ini yang dinukil
dalam "Shahih Ibn Khuzaimah", (dengan berani -pent) ia mengatakan bahwa sanad hadis ini adalah 'Dhoif', kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa hadis yang sama adalah 'SAHIH' pada "Shahih Al-Jami' wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923 !"

No 30 : (Hal.144 no. 3 )

Hadis dari Sayyidina Jabir ibn Abdullah ra. : ''Nabi SAW pernah ditanya
tentang masalah 'junub' ... bolehkah ia (yaitu orang yang sedang
junub -pent) makan, minum dan tidur ...Beliau menjawab : 'Boleh', jika orang ini melakukan wudhu' " (HR. Ibn Khuzaimah no. 217 ; HR. Ibn Majah no. 592).

Al-Albani telah menuduh bahwa hadis ini 'Dhoif' dalam komentarnya dalam "Ibn Khuzaimah, 1/108 no. 217", kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan mengoreksi status dari hadis diatas dalam kitab "Shahih Ibn Majah, 1/96 no. 482 " !!

No. 31 : (Hal. 145 no. 4)

Hadis dari Aisyah ra. : 'Tong adalah tong (A vessel as a vessel), sedangkan makanan adalah makanan' (HR. An-Nasa'I , 7/71 no. 3957).

Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini 'SAHIH' dalam "Shahih Al-Jami' wa
Ziyadatuh, 2/13 no. 1462", kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab "Dhoif Sunan Al-Nasa'i, no. 263 hal. 157" dengan menyatakan
bahwa hadis ini adalah 'Dhoif' !!!

No. 32 : (Hal. 145 no. 5)

Hadis dari Anas ra. : Hendaknya setiap orang dari kalian memohon kepada Allah SWT untuk seluruh kebutuhannya, walaupun untuk tali sandal kalian jika ia putus'.

Al-Albani menyatakan bahwa Hadis diatas adalah 'HASAN' dalam penelitiannya pada kitab "Mishkat, 2/696 no. 2251 and 2252", kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan mengoreksi status hadis ini dalam kitab "Dhoif Al-Jami' wa Ziyadatuh, 5/69 no. 4947 dan 4948" !!!

No 33 : (Hal. 146 no. 6 )

Hadis dari Abu Dzar ra. : ''Jika engkau ingin berpuasa, maka berpuasalah
pada tengah bulan (antara tanggal -pent) 13,14 dan 15 (tiap bulan qomariyah -pent)''.

Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini 'Dhoif' dalam kitab "Dhoif Sunan
An-Nasa'i, hal. 84" dan pada komentarnya dalam kitab "Ibn Khuzaimah, 3/302 no. 2127", kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan mengoreksi status hadis ini sebagai hadis yang 'SAHIH' dalam kitab "Shahih Al-Jami' wa Ziyadatuh, 2/10 no. 1448" dan juga mengoreksinya dalam kitab "Shahih An-Nasa 'i, 3/902 no. 4021" !! Sungguh kontrdiksi yang sangat aneh ?!?

NB : (Al-Albani menyebutkan hadis ini dalam 'Shahih Al-Nasa'i' dan dalam
'Dhoif An-Nasa'I', yang membuktikan bahwa ia tidak memperhatikan apa yang telah ia lakukan dan kelompokkan). Betapa mengherankannya hal ini !?!.

No. 34 : (Hal. 147 no. 7)

Hadis dari Sayidah Maymunah ra. : ''Tidak seorangpun mengambil pinjaman, maka hal itu pasti berada dalam pengetahuan Allah SWT .. (HR. An-Nasa'I,7315 dan lainnya).

Al-Albani menyatakan dalam kitab "Dhoif An-Nasa'i, hal. 190": " Shahih,
kecuali bagian 'Al-Dunya' ''. kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dalam kitab "Shahih Al-Jami' wa Ziyadatuh, 5/156", dengan mengatakan bahwa seluruh hadis ini adalah 'SAHIH', termasuk bagian 'Al-Dunya'. Lihatlah sungguh sebuah kontradiksi yang menakjubkan ?!?

No 35 : (Hal. 147 no. 8 )

Hadis dari Buraida ra. : ''Kenapa aku melihat engkau memakai perhiasan para penghuni neraka'' (maksudnya adalah cincin besi) (HR. AN-Nasa'I 8/172 dan lainnya).

Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini adalah 'Shohih' dalam kitab "Shahih Al-Jami' wa Ziyadatuh, 5/153 no. 5540", kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan hadis yang sama sebagai hadis 'Dhoif' dalam kitab "Dhoif An-Nasa'I , hal. 230" !!!

No 36 : (Hal. 148 no. 9 )

Hadis dari Abu Hurairah ra. : ''Siapapun yang membeli karpet untuk tempat duduk, maka ia punya waktu 3 hari untuk meneruskan atau mengembalikannya dengan catatan tidak ada noda coklat pada warnanya '' (HR. An-Nasa'I 7/254 dan lainnya).

Al-Albani mendhoifkan hadis ini yang ditujukkan pada bagian lafadz '3 hari' yang terdapat dalam kitab "Dhoif Sunan An-Nasa'i, hal. 186", dengan
mengatakan : '' Benar, kecuali bagian '3 hari' ''. Akan tetapi kontradiksi
yang 'jenius' kembali ia lakukan dengan mengoreksi kembali status hadis ini dan termasuk bagian lafadz '3 hari' dalam kitab "Shahih Al-Jami' wa
Ziyadatuh, 5/220 no. 5804". Jadi sadarlah (Wahai Al-Albani) ?!?

No. 37 : (Hal. 148 no. 10)

Hadis dari Abu Hurairah ra. : 'Barangsiapa mendapatkan satu raka'at dari
sholat Jum'at maka ia telah mendapatkan (seluruh raka'at -pent)' (HR. Ibn Majah 1/356 dan lainnya).

Al-Albani mendhoifkan hadis ini dalam kitab "Dhoif Sunan An-Nasa'i, no. 78 hal. 49", dengan mengatakan : "Tidak normal (Syadz), dimana lafadz 'Jum'at' disebutkan'' (dalam hadis ini -pent). Kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan hadis yang sama sebagai hadis 'Shohih', termasuk bagian lafadz 'Jum'at' dalam kitab "Irwa, 3/84 no. 622 ." Semoga Allah SWT meluruskan kesalahan-kesalahanmu ?!?

WAHABI DAN TEXTUALISME (3)

Orang-orang Salafi tidak bisa menolak bukti bukti yang ada dari Quran dan Sunnah dengan hanya mengandalkan qiyas.

Pada saat kita bilang Allah bersifat Karim, maka ini mengandung arti mutlak sebenarnya. Dan pada saat kita bilang rasul juga mempunyai sifat Karim, ini bukan arti sebenarnya dalam hal ini kita harus memakai ta'wil, dan dalam hal ini ungakapan telah digunakan secara kiasan.

Dan jika Orang salafi tidak mau menerima bahwa terdapat kiasan di dalam al-Quran yang memerlukan ta'wil, maka mereka telah membuat semua orang Muslim shirik bersama Allah dan juga RasulNya tercinta.
Perbedaan sifat yang Khusus dan Umum yang ada pada Allah SWT

Untuk memahami apa itu Tauhid dan apa itu Shirik, sangatlah penting untuk memahami sifat sifat Khusus dan Umum yang ada pada Allah SWT.

Sifat sifat khusus yang mana Allah hanya menggunakan buat Allah sendiri. Contohnya Menyembah hanya diperuntukan bagi Allah sendiri (sementara untuk para Wali Allah hanyalah berupa penghormatan bukan penyembahan). Membuat syariat hanyalah dilakukan oleh Allah dan tidak seorangpun bisa membuat hokum sekecil apapun atas kemauannya sendiri.

yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Dan Allah SWT juga mengatakan tentang Samari, yang mengambil barakah dari tanah dimana Jubril as melaluinya. Ketika Samari mengambil manaruh tanah pada patung anak sapi yang dibuatnya, patung jadi bisa bicara, karena berkah dari tanah yang Allah ceritakan pada kita dalam Al-Quran.

Q.S. 20:96 Samiri menjawab: "Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku".

And also when one blind Sahabi asked Rasool Allah [saww] to pray in one part of his house, so that he can take that place as place of worship and attain benefit from it's barakah.

Catatan : Hampir semua Hadits Rasulullah menginformasikan bahwa yang dimaksud dengan rasul dalam ayat diatas adalah Jibril as. Harap diperhatikan bahwa Maulana Maududi bersebrangan dengan semua "Mufassirin" dari abad pertama hingga abad 14, disini menolak akan adanya barakah dalam jejak Jibril as.

Da juga hadis tentang orang buta yang meminta Rasulullah saww untuk solat dirumahnya untuk menetukan tempat sholat bagi dia supaya dia dapat barakah darinya.
Bukhari, Volume 1, Book 11, Number 636

Lihat juga hadits dibawah ini.:
1. Sahih Muslim Book 001, Number 0053
2. Malik's Muwatta book 9, Number 9.24.89

Dan lihat juga yang mencerotakan dimana sahabat percaya bahwa rumah yang pernah dimasuki Rasulullah ada barakahnya.Bukhari, Volume 5, Book 58, Number 159
1.Ahmad Musnad 3:98 #11947
2. Bukhari, Volume 7, Book 71, Number 647
3. Malik in al-Muwatta; Book 50; Number 50:4:10
4. Abu Dawud, 41: 5206


Para Sahabat Mencari Barakah dari Kuburan Rasulullah saww.

Dawud Ibn Salaih berkata : Marwan bin Hakam suatu hari melihat seseorang meletakan wajahnya diatas kuburan Nabi. Dia berkata pada orang itu â€Å“Tahukah kamu apa yang sedang kamu lakuakan”? Ketika sudah dekat dia sadar bahwa orang itu adalah Abu Ayub al-Anshari yang kemudian berkata "Ya saya datang menemui Nabi bukan batu"
1. Ibn Hibban in his Sahih, Ahmad (5:422)
2. Tabarani in his Mu`jam al-kabir (4:189) and his Awsat according to Haythami in al-Zawa'id (5:245)
3. al-Hakim in his Mustadrak (4:515); both the latter and al-Dhahabi said it was sahih.
4. al-Subki in Shifa' al-siqam (p. 126)
5. Ibn Taymiyya in al-Muntaqa (2:261f.)
6. Haythami in al-Zawa'id (4:2)

Muad Ibn Jabal dan Bilal datang ke makam Nabi duduk menangis dan mengusapi mukanya dengan tanah itu. Ibn Majah 2:1320

Coba perhatikan apa yang diucapkan oleh Aisyah dalam Bukhari, Volume 9, Book 92, Number 428. Jangan kubur aku bersama Nabi didalam rumah, saya tidak mau dianggap membawa berkah hanya karena dikubur disana.

Kata kata diatas mengatakan bahwa para sahabat sendiri menganggap bahwa kuburan rasulullah saww membawa berkah dan ini berlawanan dengan keyakinan Salafi yang beranggapan bahwa datang ke kuburan Rasulullah saww sama dengan menyembah berhala dan sumbernya Shirik. Naudzubillah)

Nabi memerintahkan para sahabat untuk mengambil berkah dari sumur dimana onta betina Nabi saleh minum lihat Bukhari, Volume 4, Book 55, Number 562

Menghoramati Lembah Tuwa dan mengambil berkah darinya tidak sama dengan menyembahnya.
Q.S. 20:12 Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.


Umar dan Hajar Aswad.
Umar ketika mengunjungi Ka'bah berkata sebelum Hajar Al Aswad "kamu tidak bisa apa apa, tapi saya menciummu untuk mengikuti Rasulullah saja". Ali berkata atas ucapan itu " Rasulullah saw berkata Di hari pengadilan hajar Al-Aswad akan menjadi perantara atas orang orang. (Hadits ini diriwayatkan oleh at Thirmidzi, an Nasai, al-Baihaki, at Tabharani dan al-Bukhari dalam kitab Risalahnya) dan Umar berterima kaish pada Ali.
See also: "Al-Farooq" by Shibli Naumani, page 323, published by Maktaba Rehmania, Pakistan
Bisa dilihat juga dalam "Al- Farooq" karangan Shibi Naumani hal. 323 dikeluarkan Maktaba Rehmania, Pakistan.


Catatan : Orang Salafi menyebarkan versi yang telah rubah dari riwayat diatas. Mereka menceritakan hanya sampai kata kata Umar. Dan membuang perkataan perkataan Ali kw yang menyatakan bahwa Hajar al-Aswad akan menjadi wasilah/perantara pada hari pengadilan nanti.

*Sikap Orang Salafi Terhadap Hadits Seperti di Atas*

Orang Salafi tidak siap untuk mengambil pengajaran dari sebagian Quran dan Sunnah karena bersebrangan secara langsung dengan keyakinan literalisme mereka. Sayangnya ulama ulama mereka berusaha sebisa mungkin menyembunyikan/menolak hadits hadits seperti diatas supaya orang orang tetap tidak tahu mengetahui hadits hadits seperti itu.

Itulah kenapa orang orang kebanyakan yang mengikuti pengajaran Salafi tidak memeprhatikan keberadaan sebagian dari ayat ayat al-Quran dan Hadits. Orang orang malang ini hanya mengikuti apa yang diucapkan para Ulam mereka kepadanya.

Meminta kepada Allah SWT secara langsung atau meminta kepada Allah secara tidak langsung atau melaui Rasulullah saww.

Orang Salafi berusaha meyakinkan dirinya bahwa Allah hanya bisa diminta secara langsung. Dan telah Shirik jika berkeyakinan bahwa Allah mempunyai beberapa perantara antara Dia dan mahlukNya.

- Apakah Allah tuli (Naudzubillah) sehingga Dia tidak bisa mendengar kita secara langsung.
- Atau apakah Dia buta sehingga Dia tidak bisa melihat kita.

Dan mereka menukil beberapa ayat Al-Quran untuk memepertahankan pendapatnya, seperti :

Q.S. 50:16 Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,


Dan Q.S. 2:186 Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Jadi logika mereka adalah jika Allah sangat dekat dengan kita, dan karena Dia dapat mendengar kita dan Dia punya semua kekuasaan, ..maka kenapa kita harus berpaling kepada orang lain untuk sampai kepadaNya. Bagi mereka Allah tidak menempatkan penghalang anatara Dirinya dan mahlukNya. Sehingga bisa dicapai secara langsung.

Jawaban : Orang salafi hanya menukil ayat ayat tertentu dalam Al-Quran. Mereka tidak mengambil keseluruhan Quran dan Sunnah sebagai dasar pertimbangan dan mereka hanya mengikuti logika mereka sementara kita mengikuti logika al-Quran. Mari kita lihat seluruh pesan al-Quran dan kita putuskan mana yang benar.

Allah berkehendak menempatkan RasulNya antara Dia dan mahlukNya, sementara orang Salafi ingin mengeluarkan Rasulullah saww antara mereka dan Allah

Allah SWT berkata di dalam Al-Quran :
Q.S.4:4:64 Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Semua Mufassir al-Quran termasuk Mufasir Salafi setuju bahwa ayat ini diturunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan. Yang kemudian mereka sadar atas kesalahannya dan ingin bertaubat.

Dan mereka meminta ampun secara langsung kepada Allah, tapi lihat bagaimana Allah telah meresponnya:

- Allah menolak untuk menerima permohonan ampun secara langsung
- Kemudian Allah memerintahkan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi Rasulullah saww dan kemudian memintakan ampun kepada Allah SWT.
- Dan Rasulullah saww juga diminta untuk memintakan ampun buat mereka.
Allah memerintahkan sahabat untuk bersikap seperti yang diperintahkan (menyertakan Rasulullah saw dalam permohonan ampun mereka) hanya setelah melakukan ini mereka akan benar benar mendapat pengampunan dari Yang Maha Penyayang.

Sekarang timbul beberapa pertanyaan di dalam benak kita:

- Terdapat masalah antara Allah dan para sahabat, yang tidak ada hubungannya dengan rasulullah saw. Tapi kenapa Rasulullah saww telah disertakan dalam hal ini ?
- Apakah Allah hanya menilai Istighfarnya Rasulullah saja untuk memberi ampun kepada setiap orang? Kenapa para sahabat tidak secara langsung meminta ampun, dan kenapa Allah SWT tidak mengampuni mereka secara langsung
- Allah sendiri meminta Muhammad saw untuk beristighfar buat orang lain. Tapi kenapa Allah memberi tugas tambahan kepada Muhammad saww ?. Yang jelas jelas tidak melakukan kesalahan . kenapa extra job ini dibebankan kepada dia untuk beristighfar buat orang lain.

Catatan : Bukan ditempat ini saja Allah SWT meminta RasulNya untuk meminta ampun buat orang lain, tapi secara berulang ulang Allah meminta RasulNya di dalam al-Quran utnuk beristighfar bagi ummah.

Q.S. 3:159 ... "Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka . "

Q.S. 4:106 Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Q.S. 8:33 Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.

Q.S.9: 80-84 Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka .... Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya.

Q.S. 9 : 103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Q.S. 9 :113 Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.

Q.S. 24:62 ...."maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ".

Q.S. 47:19 Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.

Q.S. 60:12 ..... "maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Q.S. 63:5. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka;

* Rasulullah saww bukan seorang Salafi *

Dengan adanya surat surat diatas, dahulu sedau menjadi kebiasaan diantara sahabat mengunjungi Rasulullah saw dan memintanya untuk berdoa kepada Allah SWT bagi mereka.

Kami yakin Rasul saww bukan Salafi , Kalau iya beliau tentu telah memerintahkan sahabat utnuk melakukan ini.

- Kenapa mereka telah menjadikan dia sebagai perantara antara Allah dan mereka, seperti yang telah dilakukan orang kafir dengan berhala berhalanya.
- Mereka tidak memerlukan dia saww untuk menyampaikan pesan kepada Allah SWT, karena Dia sendiri sanggup mendengar setiap ucapan dan panggilan mereka, Dia juga lebih dekat dibanding urat lehernya.
- Pergilah dan mintalah kepada Allah SWT secara langsung.

Berlawanan dengan pernyataan tersebut diatas Rasul secara pasti selalu berdua bagi mereka.

Nabi Musa as juga bukan seorang salafi.

Q.S. 7:160 Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu ! ". Maka memancarlah daripadanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman) " Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu". Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri

Apakah Nabi mengatakan kepada kaumnnya bahwa :

- Mereka telah shirik karena permintaannya kepada Nabi Musa as, Mereka seharunya meminta air langsung kepada Allah SWT. Karena hanya Dia yang mempunyai segalanya.
- Dan kenapa Allah tetap diam atas perbuatan shirik ini dan tidak membetulkannya. Berlawanan dengan hal itu, Allah memberi mereka Man o Salwa dan berkah berkah lainnya.

Akidah Salafi dan Akidah Ahlu Sunnah tentang Meminta kepada Allah melalui RasulNya.

Kita semua percaya bahwa Allah lebih dekat kepada dibanding urat leher kita dan Dia punya semua kekuasaan untuk mendengarkan kita secara langsung dan memenuhi semua permintaan kita dan tidaklah haram dengan meminta kepada Allah secara langsung.

Tapi kita juga percaya perantaraan Rasulullah saww juga termasuk permohonan kepada Allah, dan ini merupakan cara yang lebih baik untuk sampai kepada Allah SWT. Dan faktanya telah dibuktikan oleh Quran dan Hadits.

Kasusnya sama seperti kita berdoa di rumah kita. Tapi jika doa dilakukan di dalam Kabah maka barakah dari Masjidil Haram juga menyertainya dan kesempatan untuk dikabulkannya doa kita lebih besar.
Jika orang orang Salafi ingin menghapus kebiasan kebiasan Islam ini atas nama Shirik, maka tentu saja kita tidak akan terima bid'ah seperti ini.

Allah telah berjanji kepada RasulNya bahwa Dia telah meninggikan (Dhikr) bersama sama Dia. Allah SWT mengatakan dalam Al-Quran

Q.S. 94 :4. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.

Dibanding kebiasaan orang Salafi dalam menggunakan logika mereka dan penolakannya terhadap sebagian Quran dan Hadits yang berlawanan dengan akidah mereka. Kita tidak menggunakan kata-kata sendiri melainkan mengambil tuintunan dari Al-Quran dan Sunnah.

Kita tidak menjadikan segala sesuatu Haram buat kita atas nama Shirik dan Bid'ah, yang mana telah dihalalkan buat kita oleh Allah, Quran mengatakan :

Q.S. 7:32 Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik? "Katakanlah: " Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.-

WAHABI DAN TEXTUALISME (2)

Yang ini dari Ustadz Hakim, Hadits Jariyah (budak perempuan) ini bersama hadits-hadits yang lain yang sangat banyak dan berpuluh-puluh ayat Al-Qur'an dengan tegas dan terang menyatakan : "Sesungguhnya Pencipta kita Allah 'Azza wa Jalla di atas langit yakni di atas 'Arsy-Nya, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya". Maha Suci Allah dari menyerupai mahluk-Nya.!.
Dan Maha Suci Allah dari ta'wilnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada dimana-mana tempat !??.

Dapatlah kami simpulkan sebagai berikut :
1. Sesungguhnya bertanya dengan pertanyaan : "Dimana Allah ?, disyariatkan dan penanya telah mengikuti Rasulullah SAW.
2. Wajib menjawab : "Sesungguhnya Allah di atas langit atau di atas 'Arsy". Karena yang dimaksud di atas langit adalah di atas 'Arsy. Jawaban ini membuktikan keimanannya sebagai mu'min atau mu'minah. Sebagaimana Nabi SAW, telah menyatakan keimanan budak perempuan, karena jawabannya : Allah di atas langit !.
3. Wajib mengi'tiqadkan sesungguhnya Allah di atas langit, yakni di atas 'Arsy-Nya.
4. Barangsiapa yang mengingkari wujud Allah di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir.
5. Barangsiapa yang tidak membolehkan bertanya : Dimana Allah ? maka sesungguhnya ia telah menjadikan dirinya lebih pandai dari Rasulullah SAW, bahkan lebih pandai dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Na'udzu billah.
6. Barangsiapa yang tidak menjawab : Sesungguhnya Allah di atas langit, maka bukanlah ia seorang mukmin atau mukminah.
7. Barangsiapa yang mempunyai iti'qad bahwa bertanya :"Dimana Allah ?" akan menyerupakan Allah dengan mahluk-nya, maka sesunguhnya ia telah menuduh Rasulullah SAW jahil/bodoh !. Na'udzu billah !
8. Barangsiapa yang mempunyai iti'qad bahwa Allah berada dimana-mana tempat, maka sesunguhnya ia telah kafir.
9. Barangsiapa yang tidak mengetahui dimana Tuhannya, maka bukankah ia penyembah Allah 'Azza wa Jalla, tetapi ia menyembah kepada "sesuatu yang tidak ada".
10. Ketahuilah ! Bahwa sesunguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas langit, yakni di atas 'Arsy-Nya di atas sekalian mahluk-Nya, telah setuju dengan dalil naqli dan aqli serta fitrah manusia. Adapun dalil naqli, telah datang berpuluh ayat Al-Qur'an dan hadits yang mencapai derajat mutawatir. Demikian juga keterangan Imam-imam dan Ulama-ulama Islam, bahkan telah terjadi ijma' diantara mereka kecuali kaum ahlul bid'ah. Sedangkan dalil aqli yang sederhanapun akan menolak jika dikatakan bahwa Allah berada di segala tempat !. Adapun fitrah manusia, maka lihatlah jika manusia -baik muslim atau kafir- berdo'a khususnya apabila mereka terkena musibah, mereka angkat kepala-kepala mereka ke langit sambil mengucapkan 'Ya ... Tuhan..!. Manusia dengan fitrahnya mengetahui bahwa penciptanya berada di tempat yang tinggi, di atas sekalian mahluk-Nya yakni di atas 'Arsy-Nya. Bahkan fitrah ini terdapat juga pada hewan dan tidak ada yang mengingkari fitrah ini kecuali orang yang telah rusak fitrahnya.

Tambahan
Sebagian ikhwan telah bertanya kepada saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) tentang ayat :
Artinya :
"Dan Dia-lah Allah di langit dan di bumi, Dia mengetahui rahasia kamu dan yang kamu nyatakan, dan Dia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan ". (Al-An'am : 3)
Saya jawab : Ahli tafsir telah sepakat sebagaimana dinukil Imam Ibnu Katsir mengingkari kaum Jahmiyyah yang membawakan ayat ini untuk mengatakan :
"Innahu Fii Qulli Makaan"
"Sesungguhnya Ia (Allah) berada di tiap-tiap tempat !".
Maha Suci Allah dari perkataan kaum Jahmiyyah ini !

Adapun maksud ayat ini ialah :
1. Dialah yang dipanggil (diseru/disebut) Allah di langit dan di bumi.
2. Yakni : Dialah yang disembah dan ditauhidkan (diesakan) dan ditetapkan bagi-Nya Ilaahiyyah (Ketuhanan) oleh mahluk yang di langit dan mahluk yang di bumi, kecuali mereka yang kafir dari golongan Jin dan manusia.

Ayat tersebut seperti juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Artinya :
"Dan Dia-lah yang di langit (sebagai) Tuhan, dan di bumi (sebagai) Tuhan, dan Dia Maha Bijaksana (dan) Maha mengetahui". (Az-Zukhruf : 84)
Yakni : Dia-lah Allah Tuhan bagi mahluk yang di langit dan bagi mahluk yang di bumi dan Ia disembah oleh penghuni keduanya. (baca : Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 123 dan Juz 4 hal 136).
Bukanlah dua ayat di atas maksudnya : Allah ada di langit dan di bumi atau berada di segala tempat!. Sebagaimana ta'wilnya kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Atau perkataan orang-orang yang "diam" Tidak tahu Allah ada di mana !.

Mereka selain telah menyalahi ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi serta keterangan para sahabat dan Imam-imam Islam seluruhnya, juga bodoh terhadap bahasa Arab yang dengan bahasa Arab yang terang Al-Quran ini diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Imam Abu Abdillah Al-Muhasiby dalam keterangan ayat di atas (Az-Zukhruf : 84) menerangkan : "Yakni Tuhan bagi penduduk langit dan Tuhan bagi penduduk bumi. Dan yang demikian terdapat di dalam bahasa, (umpamanya ) engkau berkata : "Si Fulan penguasa di (negeri) Khirasan, dan di Balkh, dan di Samarqand", padahal ia berada di satu tempat". Yakni : Tidak berarti ia berada di tiga tempat meskipun ia menguasai ketiga negeri tersebut. Kalau dalam bahasa Indonesia, umpamanya kita berkata "Si Fulan penguasa di Jakarta, dan penguasa di Bogor, dan penguasa di Bandung". Sedangkan ia berada di satu tempat.

Bagi Allah ada perumpamaan/misal yang lebih tinggi (baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 73).
Adapun orang yang "diam" (tawaqquf) dengan mengatakan : "Kami tidak tahu Dzat Allah di atas 'Arsy atau di bumi", mereka ini adalah orang-orang yang telah memelihara kebodohan !. Allah Rabbul 'Alamin telah sifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat ini, yang salah satunya bahwa Ia istiwaa (bersemayam) di atas 'Arsy-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu "diam" darinya dengan ucapan "kita tidak tahu" nyata telah berpaling.-(Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikit pun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar".
Q.S.57:29

Mereka berusaha membuktikan dengan cara yang sama bahwa orang Kaffir dan Ahli Kitab telah Syirik karena percaya hal-hal seperti ini. Orang Ahlu Sunnah telah jatuh kedalam kemusrikan karenanya.

Sayangnya dengan melakukan ini mereka menolak sama sekali dengan ayat ayat Quran yang lain dan Sunnah Rasulullah saww. Mari kita lihat ayat dibawah ini:

"Jika mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah", (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)." (Q.S.9:59)

Apakah Allah telah syirik dengan mengatakan bahwa Rasulullah saww dapat memberikan karunia bersama dengan Dia.?

"Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi". (Q.S. 9:74)

Taktik dan Trik Orang salafi. Dikarenakan ayat ayat seperti ini bertentangan langsung dengan pengertian Shirik menurut mereka, mereka berusaha menolak dan mengenyampingkannya. Mereka menolak menyebutkan ayat ayat seperti karena takut orang orang akan menjadi shirik.

Kita sekarang berharap punya kemampuan yang lebih baik untuk memahami jahatnya pendekatan literal yang dipakai oleh mereka. Mari kita sekarang membahas tentang pertolongan datangnya dari Allah SWT.

Apakah hanya cukup Allah sendiri sebagai penolong?

Orang Salafi mengklaim bahwa cukup hanya Allah SWT sebagai penolong, kita orang Ahlu Sunnah setuju 100% dengan pernyataan ini.

Allah SWT berkata dalam Quran :
Q:S 4: 45, Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung(bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu).

Q.S. 33:17 Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.

Sekarang setelah mengatakan bahwa kita setuju dengan orang salafi untuk point ini (Cukup hanya Allah sebagai penolong). Kita akan bertanya sama mereka apakah mereka juga setuju dengan kita untuk poin dibawah ini.

Bahwa pada saat Allah berkata bahwa cukup hanya Allah sebagai penolong pada saat yang sama Rasulullah saww, Jibril orang orang beriman dan malaikat sudah termasuk didalamnya.

Mari kita lihat ayat berikut ini:
Q.S. 66:4 "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula".

Apakah kita benar benar menyekutukan sesuatu kepada Allahketika kita percaya bahwa Jibril as, Orang beriman dan para malaikat yang juga bisa sebagai Maula kita (pelindung) dan Naseer(Penolong) bersama sama dengan Allah.

Jika kita tetap memakai pengertian Shirik menuruk pendapat mereka dan kita secara otomatis telah membuat Allah sendiri Musrik (Na udzubillah) dan begitu pula dengan orang orang yang percaya terhadap seluruh ayat Al-Quran.

Mari kita lihat ayat dibawah ini:
Q.S. 4:75 "Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung (waliyan) dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong (nasira) dari sisi Engkau!".


Manakala Allah sudah cukup sebagai Pelindung(waliyan) dan Penolong (Nasira), kemudian kenapa orang minta kepada Allah supaya orang lain menjadi pelindungnya dan penolongnya.

Dan pada saat Allah memberikan sifat Wali(perlindungan) dan Nusrat(pertolongan) kepada orang ini, kenapa mengklaim bahwa tidak ada selain Allah yang bisa memberi manfaat pada kita (baik perlindungan maupun pertolongan). Sebenarnya ada beberapa orang saleh yang dapat memberi pertolongan atau mendapatkan manfaat kepada kita dengan seijinNya.

Dan tidaklah menjadi shirik untuk juga mengambil para Awliya sebagai pelindung dan penolong bersama sama dengan Allah. Dan lawanya dari ini adalah syaitan beserta kawan kawannya dan jika minta perlindungan atau pertolongan mereka maka tentu saja kita telah shirik.

Q.S. 2:153 Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Catatan: Masih terdapat banyak ayat al-Quran dan Hadits dimana mengatakan bahwa pertolongan dan manfaat bisa didapat (secara kiasan) dari selain Allah SWT. Dan orang tidak diperkenankan untuk mengartikan ayat ayat tersebut secara tektual, yang jika dilakukan akan menimbulkan kontradiksi .

Apakah Nabi Yusuf AS telah musrik ketika dia bilang Tuanku pada penguasa Mesir.

Dan jika orang salafi tidak siap untuk menerima penggunaan ungakapan secara kiasan , maka kita tantang mereka untuk menjawab kenapa Nabi Yusuf AS menggunakan kata Tuanku (Rabi) kepada penguasa Mesir.

Q.S. 12:23 "Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang lalim tiada akan beruntung".

Perlukah kita mengomentari lebih jauh tentang ungkapan secara majazi dalam al-Quran.
( Bagi kita sudah jelas bahwa Nabi Yusuf AS telah menggunakan kata kata kiasan, sebagaimana dia telah tumbuh di rumah penguasa Mesir)

Maulana Maududi berusaha merubah arti dari ayat ayat diatas untuk disesuaikan dengan keyakinan Salafi.

Ayat diatas tentang nabi Yusuf adalah hantaman paling besar terhadap keyakinan Salafi dan mereka tidak sanggup mengadaptasinya.

Maulana Maududi adalah adalah seorang ulama beasr dari Pakistan dan karyanya "Tafhim ul Quran" dikenal sebagai salah satu Tafsir terbaik dianggap sebagai masterpiece oleh orang yang berpaham seperti Salafi. Ketika sampai pada ayat tersebut diatas dia tidak dapat mengadaptasi dan berusaha dengan keras untuk merubah arti ayat tersebut supaya sesuai dengan keyakinannya.
Let's see what he wrote:

" Normally the "Mufassireen" (have committed a mistake and) taken from it that Yusuf (as) used the word of "rabi" (lord) for his Egyptian Master that how could he fornicate with his wife, as this would contravene his loyalty. But it is not suitable for the Prophets to commit a sin for the sake of others, instead of for the sake of Allah. And in the Qur'an too, there is no example that any of Rasool ever used the word of "lord" for anyone except Allah."

Sebuah pernyataan yang sangat rendah dari seorang alim seperti maulana maududi. Quran telah jelas dalam masalah ini dan hampir tidak satupun Mufasir hingga abad ini yang memahami ayat diatas seprti Maulana Maududi menyarankannya.

Mari kita lihat dua ayat sebelum ayat 12:23
Q.S. 12:21 Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya: "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak..dst

Q.S. 12:23 Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang lalim tiada akan beruntung.

Jadi jelas surat 12:21 telah cukup untuk menerangkan kepada siapa kata "rabi" ditujukan oleh Nabi Yusuf as dalam surat 12:23. itulah sebabnya sampai sekarang semua Mufasirin mempunyai kesimpulan yang sama tentang ayat itu. Tapi karena ayat ini secara tidak langsung bertentangan dengan keyakinan yand dibuat oleh orang salafi mengenai Tauhid dan literalisme, Maulana Maududi berusaha sebisanya untuk memberi gambaran yang lain, untuk ,enyelarsakan dengan pandanagan mahzabnya dan teman teman Salafinya.

Setelah membaca "Komentar AlQuran" oleh Maulana Maududi, hal ini menjadi jelas bahkan dalam masalah tawasul dia lebih extreme dari pada oeang Salafi dari Saudi Arabia. Ini bisa kita lihat dalam beberapa tempat.

Sebagai contoh ayat 20:29 mengatakan bahwa ada berkah dalam debu yang telah dilewati Jibril as. Saudi menerbitkan Quran dalam bahasa Urdu yang menerima tentang barakah ini walaupun hal itu berlawanan dengan keyakinan mereka. Tapi Maulana Maududi berusaha dengan keras merubah arti ayat dan menolak untuk menerima tentang barakah dalam ayat ini.
Beberapa contoh tentang ungkapan secara kiasan di dalam Al-Quran.

Allah menggunakan kata Karim untuk mensifati diriNya.
Q.S. 27:40 Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".

Juga Allah berkata dalam Quran tentang rasulNya.
Q.S.69:40 Sesungguhnya Al Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,
Sesungguhnya kata Karim (Yang Mulia), ketika disifatkan kepada Allah itu maka itu merupakan arti literal atau arti sebenarnya. Dan ketika disfatkan kepada Rasulullah arti disana mengandung arti kiasan. Atau kita beranggapan Allah telah shirik karena Allah telah memberi kan sifat yang sama kepada selainNya.?
Qawi adalah sifat Allah, dan Al Quran juga mengatakan bahwa Rasulullah saww juga mempunyai sifat Qawi.

Allah berkata tentang diriNya di dalam al-Quran:
Q.S. 22:74 "..Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa"
Pada saat yang sama di dalam Al-Quran Allah berkata tentang rasulNya.

Q.S. 81:20 "yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy".

Apakah dalam hal ini Allah telah melakukan shirik dengan mensifati RasulNya dengan sifatNya.?

Faktanya, didalam beberapa kesempatan dalam al-Quran Allah memberikan anugerah kepada para Nabi dengan mensifatinya dengan sifatNya. Contohnya;

Alim ; adalah sifat Allah, yang mana nabi Ismail juga dikenal dengan sifat Alimnya.
Halim ; adalah sifat Allah yang mana Nabi Ibrahim dan Isamil dengan sifat Halimnya
Shakur ; adalah sifat Allah yang nabi Nuh dikenal dengan sifat Shakurnya.

Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kesimpulan.
Sifat sifat yang ada pada Allah juga telah digunakan oleh Allah buat para nabiNya. Tapi ini tidak berarti bahwa para Nabi telah menjadi pemilik sifat sifat yang ada pada Allah. Mereka bukanlah pemilik, tapi hanya sekedar diberi sebagian sifat sifatNya.-

WAHABI DAN TEXTUALISME (1)

Orang Salafi mempercayai seluruh kandungan al-Quran secara textual atau literal dan jauh dari arti Majazi atau kiasan. Hasilnya, kita menyaksikan mereka mengartikan ayat ayat al-Quran secara tektual(apa adanya). Contoh dari pendekatan ini adalah:

- Memberikan sifat secara fisik kepada Allah SWT- mempercayai Allah SWT mempunyai tangan, kaki mata dll.
- Mengartikan Arasy atau kursi secara literal, sehingga mereka menyimpulkan bahwa terdapat kursi yang sangat besar dimana Allah SWT duduk diatasnya.
- Lebih menngartikan Bidah secara tektual dibanding secara syariat.
- Mereka mempercayai bahwa orang mati tidak dapat mendengar.

Dan terdapat banyak masalah lainnya yang diartikan secara tektual.

Hal ini telah membuat banyak fitnah diantara ummat Islam dan inilah yang paling pokok dari mereka yang membuat mereka berbeda dari Mahzab yang lain. Kita akan mencari dan mengarisbahawi dimana penyakit ini telah membuat kerusakan terhadap umat Muslim dengan cara seperti dibawah ini :

1. Salafisme berjalan atas tiga komposisi yaitu, Syirik Bid'ah dan Haram.

2. Penyakit ini membuat Salafisme atau orang Salafi hanya mengambil ayat ayat al-Quran yang sesuai dengan pengertial textual atau keyakinan mereka. Yang hasilnya mereka akan secara otomatis menolak atau menyembunyikan bagian dari Quran maupun Sunnah yang berlawanan dengan keyakinan mereka.

Dibawah ini akan dijelaskan secara detail bagaimana sikap mereka dalam menolak bagian bagaian dari Quran atau Sunnah yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka.

Apakah Rasulullah SAW bisa menolong kita dan memberi manfaat kepada kita?

Orang Salafi akan menjawab TIDAK untuk pertanyaan diatas. Mereka berkata bahwa Rasulullah SAW telah meninggal dan tidak ada hubunganya lagi dengan dunia. Dan jika seseorang meminta pertolongan dari Rasulullah saww maka orang itu telah Musyrik, sebagai contoh mereka memakai surat :

Al Fatihah ayat 5 "Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan"

"Katakan apakah kita akan menyeru selain daripada Allah yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada kita dan tidak(pula) mendatangkan madharat kepada kita dst" (QS. 6 : 71 )

Masalah yang ada pada interprestasi mereka adalah sebagai berikut :

1. Pertama tama, mereka mengambil kesimpulan hanya dari beberapa bagian al-Quran dan Sunnah yang selaras dengan keyakinan mereka dan mengacuhkan bagian dari surat - surat Al-Quran dan Sunnah yang lainnya. Pada kenyataannya terdapat banyak ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah saww yang secara jelas menunjukan bahwa pertolongan atau manfaat bisa dicari dari para wali Allah yang soleh dan juga dari mereka yang dikenal sebagai tanda tanda Allah .

2. Kedua mereka percaya bahwa Al-Quran hanya bisa diartikan secara literal dan tidak arti majazi atau kiasan didalamnya. Pada kenyataanya terdapat ayat al-Quran yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi atau kiasan, yang mana kata kata Allah SWT harus diartikan sesuai dengannya. Jika kita tidak dapat membedakan diantara keduanya maka kita akan menjumpai beberapa kontradiksi yang timbul didalam al-Quran.

Sangatlah penting untuk memahami fakta tersebut diatas, Mari kita lihat beberapa contoh mengenai hal ini didalam al-Quran.

Siapakah yang mencabut ruh pada saat kematian?

Didalam surat 39 : 42, Allah SWT mengatakan bahwa Dia yang mengambil ruh pada saat kematian. "Allah SWT memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati diwaktu tidurnya".dst.

Tapi dalam Q:S 4:97 Allah SWT mengatakan bahwa malaikatlah yang mencabut ruh orang pada saat kematiannya.
"Sesunggunhnya orang orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri,".dst.

Apakah mengatakan bahwa malaikat yang mencabut nyawa itu syirik? Ataukah kita harus percaya bahwa ada kontradiksi dalam al-Quran?, tentu saja tidak!.

Aturannya sudah jelas; bahwa tidak ada Syirik ataupun knotradiksi, pada saat Allah SWT mengatakan bahwa Dia mencabut nyawa, secara kiasan malaikat termasuk didalamnya yang mencabut nyawa dengan seizinNya.

Juga didalam masalah pertolongan dan manfaat, banyak surat yang mengatakan bahwa cukup hanya Dia sebagai penolong yang mutlak. Orang Salafi hanya menukil ayat ayat ini dan mengartikannya secara literal dan menglklaim bahwa meminta pertolongan kepada Rasulullah saww adalah Syirik.

Sayangnya mereka lupa pada ayat ayat al-Quran dan Hadits yang secara jelas menunjukan bahwa para wali Allah juga dapat memberi pertolongan dan manfaat buat kita. Taktik lupa ini adalah cara paling aman bagi mereka untuk menhindari dari kontradiksi yang ada pada kepercayaan mereka.

Apakah hanya Allah sendiri senagai wali (penolong)?
Didalam Q;S 4 : 123 dan 4:45 Allah SWT mengatakan bahwa Dialah satu satunya sebagai pelindung. "Barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah".

Q:S 4: 45, Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung(bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu).

Tetapi dalam Q.S 5:55 dan Q.S 66:4, Allah mengatakan bahwa dia adalah Wali dan beserta Dia ada RasulNya saw dan orang beriman yang mengerjakan shalat serta membayar Zakat sambil ruku adalah juga sebagai penolong.

QS 5:55 "Sesungguhnya penolong kamu (Waliukum) adalah Allah, RasulNya dan orang orang yang beriman yang mendirikan salat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk kepada Allah".

QS 5:56 "Dan barang siapa mengambil Allah, RasulNya dan orang orang beriman menjadi penolongnya maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah lah yang pasti menang".

Apakah kita sedang menyekutukan sesuatu dengan Allah ketika kita bilang bahwa Rasulullah saw dan orang orang beriman juga sebagai para wali bersama Allah.?
Dan pada saat kita menerima Rasulullah saw dan orang orang beriman juga sebagai Wali kita. Apakah ini berarti Allah bukan satu satunya wali (disamping Dia ada wali wali yang lainnya)? Dan apakah ini berarti bahwa tidak cukup hanya Dia sebagai wali?

Jawaban sederhana untuk perntanyaan diatas, bertolak belakang dengan pendapat orang Salafi yang mengartikan Quran secara literal, bahwa terdapat pernyataan yang diungkapkan secara kiasan. Yang mana kita harus mengartikannya juga secara kiasan.

Kaidahnya adalah: Pada saat Allah berkata bahwa hanya Dia lah satu satunya dan cukuplah hanya Dia sebagai Wali(Penolong/Penjaga) maka disaat yang Rasulullah saw dan orang orang beriman termasuk didalamnya.

Allah SWT telah memakai istilah Wali dalam al-Quran sebanyak 34 kali, dalam pengertian bahwa hanya Dia satu satunya Pelindung, atau jangan ambil Pelindung selain Dia, atau cukuplah Dia sebagai Pelindung. Dan dalam empat tempat didalam al_Quran Allah SAW telah berkata bahwa Rasulullah, orang orang beriman dan juga malaikat juga sebagai wali kita.

Trik atau Taktik Orang Salafi, kita akan melihat bahwa orang orang Salafi hanya akan menukil ayat ayat yang mana Allah menyatakan bahwa hanya dialah sebagai Wali. Dan dengan hanya merujuk ayat ayat ini (dengan mengenyampingkan ayat ayat lainnya). Orang Salafi mencoba menciptakan kesan bahwa mempercayai Rasulullah sebagai Wali adalah syirik.

Sayangnya banyak saudara saudara kita yang kurang begitu mendalam pemahamannya tentang al-Quran gampang terkecoh oleh taktik orang Salafi seperti ini.

Dapatkah seseorang menjadi perantara antara kita dengan Allah SWT.

Dalam Q:S 39: 43-44 Allah SWT mengatakan bahwa tidak ada perantara disamping Allah.
"Bahkan mereka mengambil syafaat selain Allah. Katakanlah : Dan apakah kamu mengambilnya juga meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal. Katakanlah: Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya dst"

Tetapi dalam Q.S. 19:87 dan Q.S.43:86 Allah SWT mengatakan ada beberapa orang yang bisa menjadi perantara dengan ijinNya.

"Mereka tidak berhak mendapat syafaat kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian disisi Tuhan yang Maha Pemurah".

"Dan sesembahan sesembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memebrii syafaat akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah orang yang mengakui yang hak(tauhid) dan mereka meyakininya".

Apakah kita sedang menyekutukan Allah ketika berkata bahwa Rasulullah juga dapat memberi syafaat atas ijinNya.? Apakah ada kontradiksi dalam al-Quran?

Kaidahnya adalah: pada saat Allah SWT berkata bahwa hanya Dia lah perantara. Maka orang orang soleh yang bisa menjadi perantara atas ijinNya telah termasuk didalamnya.

Terdapat dalam 10 tempat dalam al-Quran yang mana Allah SWT menyatakan bahwa hanya Dialah sebagai satu satunya perantara. Dan terdapat dalam 7 tempat yang menyatakan bahwa orang orang saleh dan malaikat dapat menjadi perantara kita atas ijin Allah.

Taktik dan Trik orang Salafi. Mereka selalu menukil hanya ayat ayat yang menyatakan bahwa hanya Allah sebagai satu satunya perantara. Tapi mereka menolak dan mengacuhkan ayat ayat yang menyatakan bahwa beberapa orang dan malaikat telah diberi kuasa oleh Allah untuk menjadi perantara kita atas ijinNya.

Karunia hanya ditangan Allah.

Orang Salafi selalu menukil ayat ini dengan penekanan, dengan menukil ayat ayat seperti ini Orang salafi ingin membandingkan pengikut mahzab Ahlu Sunnah yang percaya bahwa Rasulullah saww diberi kuasa oleh Allah untuk memberi karunia sebagai Kaffir dan mnyerupai Ahli Kitab.-

TENTANG WAHABI (3)

AS-Sayyid Ahmad ibn Zayni As Syafii (d. 1304/1886) Mufti Mekkah dan
syaikhul Islam dan pemimpin agama tertinggi untuk daerah Hijaz dalam
kitabnya Fitnat al-Wahhabiyyah menulis hadist2 Nabi SAW telah sangat2
jelas menerangkan :

Fitnah itu datangnya dari sini, fitnah itu datangnya dari arah sini,
sambil memberikan ke arah timur (Najed, tempat lahirnya dajjal
muhammad bin abdul wahab - pen )

Akan ada dalam ummatku perselisihan dan perpecahan kaum yang indah
perkataannya namun jelek perbuatannya. Mereka membaca Al Qur'an,
tetapi keimanan mereka tidak sampai mengobatinya, mereka keluar dari
agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya, yang tidak akan
kembali seperti tidak kembalinya anak panah ketempatnya. Mereka adalah
sejelek-jelek makhluk, maka berbahagialah orang yang membunuh mereka
atau dibunuh mereka. Mereka menyeruh kepada kitab Allah, tetapi
sedikitpun ajaran Allah tidak terdapat pada diri mereka. Orang yang
membunuh mereka adalah lebih utama menurut Allah. Tanda-tanda mereka
adalah bercukur (Addarus Sunnia, pp/49)

Di Akhir zaman nanti akan keluar segolongan kaum yang pandai bicara
tetapi bodoh tingkah lakunya, mereka berbicara dengan sabda Rasulullah
dan membaca Al Qur'an namun tidak sampai pada kerongkongan mereka,
meraka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, maka
apabila kamu bertemu dengan mereka bunuhlah, karena membunuh mereka
adalah mendapat pahala disisi Allah pada hari kiamat (ada satu lagi
yg panjang riwayat Ibnu Abbas dalam Shahih Bukhari yg menyebut Kaum
ini sebagai dari Najed iaitu dalam Vol 4 Bk 55 No 558).

Kepala kafir itu seperti (orang yang datang dari) arah timur (najed),
sedang kemegahan dan kesombongan (nya) adalah (seperti kemegahan dan
kesombongan orang-orang yang) ahli dalam (menunggang) kuda dan onta.

Hati menjadi kasar, air bah akan muncul disebelah timur dan keimanan
di lingkungan penduduk Hijaz (pada saat itu penduduk Hijaz terutama
kaum muslimin Makkah dan Madinah adalah orang-orang yang paling gigih
melawan profokator Wahabi dari sebelah timur / Najed - pen).

(Nabi s a w berdo'a) Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam
dan Yaman, para sahabat berkata : Dan dari Najed, wahai Rasulullah,
beliau berdo'a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan
Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau s a w bersabda : Di sana
(Najed) akan ada keguncangan fitnah serta disana pula akan muncul
tanduk syaitan (muhammad bin abdul wahab - pen). (Shahih Bukhari Vol 2
Bk 17 No 147 dan juga Vol 9 Bk 88 No 214)

Akan keluar dari arah timur (najed-pen) segolongan manusia yang
membaca Al Qur'an namun tidak sampai membersihkan meraka. Ketika putus
dalam satu kurun, maka muncul lagi dalam kurun yang lain, hingga
adalah mereka yang terakhir bersama-sama dengan dajjal.

mengenai sabda Nabi s a w yang mengisyaratkan bahwa akan ada dari arah
timur (Najed - pen) keguncangan dan dua tanduk syaithon (Sahih
al-Bukhari), maka sebagian besar ulama mengatakan bahwa yang dimaksud
dengan dua tanduk syaithon itu tiada lain adalah Musailamah
Al-Kadzdzab dan Muhammad bin abdul wahab.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan peperangan BANY HANIFAH, mengatakan
: Di akhir zaman nanti akan keluar di negeri Musailamah seorang lelaki
yang menyerukan agama selain agama Islam. Ada beberapa hadits yang
didalamnya menyebutkan akan timbulnya fitnah, diantaranya adalah :
Darinya (negeri Musailamah dan Muhammad bin Abdul Wahab) fitnah yang
besar yang ada dalam ummatku, tidak satupun dari rumah orang Arab yang
tertinggal kecuali dimasukinya, peperangan bagaikan dalam api hingga
sampai keseluruh Arab, sedang memeranginya dengan lisan adalah lebih
sangat (bermanfaat - pen) daripada menjatuhkan pedang.

Akan ada fitnah yang menulikan, membisukan dan membutakan, yakni
membutakan penglihatan manusia didalamnya sehingga mereka tidak
melihat jalan keluar, dan menulikan dari pendengaran perkara hak,
barang siapa meminta dimuliakan kepadanya maka akan dimuliakan.
Akan lahir tanduk syaithon dari Najed, Jazirah Arab akan goncang
lantaran fitnahnya (shahih Muslim volume 4 no's 6938+, hadist dengan
pengertian yang sama juga ditemukan di Shahih Muslim volume 1 no's 83,
juga Imam Nawawi dalam Sharh Shahih Muslim 2/29)

Al-Allamah Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub As-Sayyid
Abdullah Al-Haddad Ba'Alawi didalam kitabnya :"Jalaa'uzh zhalaam fir
rarrdil Ladzii adhallal 'awaam" sebuah kitab yang agung didalam
menolak faham wahabi, beliau r a menyebutkan didalam kitabnya sejumlah
hadits, diantaranya ialah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin
abdul Muthalib r a sbb :

"Akan keluar di abad ke-12H nanti (muhammad bin abdul wahab lahir 1115
-H / tepat abad 12H) dilembah BANY HANIFAH seorang lelaki, tingkahnya
seperti pemberontak, senantiasa menjilat (kepada penguasa Sa'ud - pen)
dan menjatuhkan dalam kesusahan, pada zaman dia hidup banyak kacau
balau, menghalalkan harta manusia, diambil untuk berdagang dan
menghalalkan darah manusia, dibunuhnya manusia untuk kesombongan, dan
ini adalah fitnah, didalamnya orang-orang yang hina dan rendah menjadi
mulia (yaitu para petualang & penyamun digurun pasir - pen), hawa
nafsu mereka saling berlomba tak ubahnya seperti berlombanya anjing
dengan pemiliknya".

Kemudian didalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang
yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahhab dari
Tamim. Oleh sebab itu hadits tersebut mengandung suatu pengertian
bahwa Ibnu Abdul Wahhab adalah orang yang datang dari ujung Tamim,
dialah yang diterangkan hadits Nabi s a w yang diriwayatkan oleh
Al-Buhari dari Abu Sa'id Al-Khudri r a bahwa Nabi s a w bersabda :

"Sesungguhnya diujung negeri ini ada kelompok kaum yang membaca Al
Qur'an, namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka, mereka keluar
dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka membunuh
pemeluk Islam dan mengundang berhala-berhala (Amerika, Inggeris dan
kaum Zionis baik untuk penggalian minyak ,militer , atau yang lain-
pen), seandainya aku menjumpai mereka tentulah aku akan membunuh
mereka seperti dibunuhnya kaum 'Ad.

Ada hadits yang diriwayatkan oleh Abubakar R.A didalamnya disebutkan
BANY HANIFAH, kaum Musailamah Al-Kadzdzab, Beliau s a w berkata :
"Sesungguhnya lembah pegunungan mereka senantiasa menjadi lembah
fitnah hingga akhir masa dan senantiasa terdapat fitnah dari para
pembohong mereka sampai hari kiamat".

Dalam riwayat lain disebutkan :
"Celaka-lah Yamamah, celaka karena tidak ada pemisah baginya" Di dalam
kitab Misykatul Mashabih terdapat suatu hadits berbunyi sbb : "Di
akhir zaman nanti akan ada suatu kaum yang akan membicarakan kamu
tentang apa-apa yang belum pernah kamu mendengarnya, begitu juga
(belum pernah) bapak-bapakmu (mendengarnya), maka berhati-hatilah
jangan sampai menyesatkan dan memfitnahmu".

Allah SWT telah menurunkan ayat Al Qur'an berkaitan dengan BANY TAMIM
(Muhammad bin `Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad
bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi) sbb :
"Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu)
kebanyakan mereka tidak mengerti". (QS. 49 Al-Hujurat : 4). (Imam
Muhammad ibn Ahmad ibn Juzayy, al-Tashil [Beirut, 1403], p.702. See
also the other tafsir works; also Ibn Hazm, Jamharat ansab al-`Arab
[Cairo, 1382], 208, in the chapter on Tamim).

Juga Allah SWT menurunkan ayat yang khitabnya ditujukan kepada mereka
sbb : "Jangan kamu semua mengangkat suaramu diatas suara Nabi". (QS.
49 Al-Hujurat 2)

Sayyid Alwi Al-Haddad mengatakan : "Sebenarnya ayat yang diturunkan
dala kasus BANY HANIFAH dan mencela BANY TAMIM dan WA"IL itu banyak
sekali, akan tetapi cukuplah sebagai bukti buat anda bahwa kebanyakan
orang-orang Khawarij itu dari mereka, demikian pula Muhammad bin Abdul
Wahhab dan tokoh pemecah belah ummat, Abdul Aziz bin Muhammad bin
Su'ud adalah dari mereka".

Al-Allamah Syeikh Thahir Asy-Syafi'i, telah menulis kitab menolak
faham wahabi ini dengan judul : "AL-INTISHARU LIL AULIYA'IL ABRAR".
Dia berkata : "Mudah-mudahan lantaran kitab ini Allah memberi mafa'at
terhadap orang-orang yang hatinya belum kemasukan bid'ah yang datang
dari Najed (faham Wahabi / salafi), adapun orang yang hatinya sudah
kemasukan maka tak dapat diharap lagi kebahagiannnya, karena ada
sebuah hadits riwayat Buhari : 'Mereka keluar dari agama dan tak akan
kembali'. Sedang yang dinukil sebagian kecil ulama yang isinya
mengatakan bahwa dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) adalah semata-mata
meluruskan perbuatan orang-orang Najed, berupa anjuran terhadap
orang-orang Badui untuk menunaikan sholat jama'ah, meninggalkan
perkara-perkara keji dan merampok ditengah jalan, serta menyeru
kemurnian tauhid, itu semua adalah tidak benar.

Diantara kekejaman dan kejahilan kaum Wahabi /salafi adalah
meruntuhkan kubah-kubah diatas makam sahabat-sahabat Nabi s a w yang
berada di Mu'ala (Makkah), di Baqi' & Uhud (Madinah) semuanya
diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit
penghancur. Demikian juga kubah diatas tanah dimana Nabi s aw
dilahirkan, yaitu di Suq al Leil di ratakan dengan tanah dengan
menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, saat ini karena
gencarnya desakan kaum muslimin international maka kabarnya dibangun
perpustakaan. Benar-benar kaum Wahabi itu golongan paling jahil diatas
muka bumi ini. Tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan
menghormati nilai-nilai luhur Islam

Semula Alkubbatul Khadra atau kubah hijau dimana Nabi Muhammad s a w
dimakamkan juga akan didinamit dan diratakan dengan tanah tapi karena
ancaman international maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan
mengurungkan niatnya. Semula seluruh yang menjadi manasik haji itu
akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena
banyak yang menentang termasuk Sayyid Almutawalli Syakrawi dari Mesir
maka diurungkanya.

Kesukaan mereka menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka
dengan tuduhan kafir, syirik dan ahlil bid'ah, itulah ucapan yang
didengung-dengungkan disetiap mimbar dan setiap kesempatan, mereka tak
pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka
sendiri. Di negeri kita mereka menaruh dendam dan kebincian mendalam
kepada para Wali Songo , para habaib (keturunan arab dari anak cucu
Nabi saw) , dan para kyai yang menyebarkan dan meng Islam kan penduduk
indonesia.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan
Hindu dan Budha, padahal para Wali itu jasanya telah meng Islam kan 85
% penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng Islam kan yang
15 % sisanya ? Mempertahankan yang 85 % dari terkapan orang kafir saja
tak bakal mampu, apalagi mau menambah 15 % sisanya. Jika bukan karena
Rahmat dan Karunia Allah SWT yang mentakdirkan para Wali Songo untuk
berdakwa ke negeri kita tentu orang-orang yang asal bunyi dan menjadi
corong/sumbang bicara kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan
animisme, penyembah berhala atau masih kafir lainnya (Naudzu Billah
min Dzalik).

Claim Wahabi bahwa mereka penganut As-Salaf, As-Salafushsholeh dan
Ahlussunnah wal Jama'ah serta sangat setia pada keteladanan sahabat
dan tabi'in adalah omong kosong dan suatu bentuk penyerobotan HAK
PATEN SUATU MAZHAB.

Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-ngaku sebagai
faham yang hanya berpegang pada Al Qur'an adan As-Sunnah serta
keteladanan Salafushsholeh apalagi mengaku sebagai GOLONGAN YANG
SELAMAT DSB, itu semua omong kosong dan kedok untuk menjual barang
dagangan berupa akidah palsu yang disembunyikan. Sejarah hitam mereka
dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah, Iraq, serta
daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang di namakan Saudi, suatu
nama bid'ah karena nama negeri Rasulullah s a w diganti dengan nama
satu keluarga kerajaan yaitu As-Sa'ud). Yang terbantai itu terdiri
dari para ulama-ulama yang sholeh dan alim, anak-anak yang masih
balita bahkan dibantai dihadapan ibunya.

Memang ada orang2 yang dibayar untuk mempublikasikan /
mempropagandakan "kebaikan" madzhab dajjal wahabi / salafi ini ,
mereka itulah PARA PENDUSTA AGAMA yang telah menjual akhirat untuk
dunia.