Followers

Saturday, August 11, 2007

kesederhanaan bisa juga menjadi ketidak sederhanaan

Jika kau menyukai seseorang, nyatakan dengan perbuatan baik,iqbalsufi-mawar
tapi jika kau membenci seseorang nyatakanlah dengan kata-kata nasehat dan mengingatkan

Berawal di sebuah kondisi dimana Tuan Sufi sedang merenung. Sambil menapaki jalan-jalan keseharian kisah hidupnya, memenuhi setiap kewajiban-hak-rencana-maupun dorongan perenungannya sendiri tentang ke-universal-an Jagad raya ini. Tuan Sufi menciptakan sosok misteri yang turut berjalan disampingnya. Sesosok sederhana, belum dia ketahui pula detilnya, yang jelas secara sadar Tuan Sufi merekayasa sosok itu sebagai sosok lawan jenis dari manusia laki-laki seperti dirinya. Tuan Sufi mencoba memahami ketidaksederhanaan dari sosok wanita yang awalnya diset dalam level yang paling sederhana olehnya.

Waktu berlalu cepat sekali, tak disangka sudah jauh jalan mereka. Dua sosok itu menjelma menyatu dengan desir angin semilir, kericik sungai dan daun-daun yang berjatuhan dari pohon-pohon tua itu. Sudah banyak tapak-tapak mereka membekas di tanah yang ka dang kerontang, kadang basah oleh embun serta becek karena hujan, yang tiada terkira lagi banyaknya sudah tercurah dari langit, namun tiada sedikit pun yang Tuan Sufi rasakan menimpa mereka. Tuan Sufi sedang sangat berkonsentrasi kepada sosok cipta-nya itu, menasehati banyak-banyak, menjadi pendengar yang sangat baik serta membuat rencana-rencana masa depan mereka atas dasar ke-obyektifitasannya. Tuan Sufi sempat terkesima. Kisah hidup sosok itu sangat tak terduga. Telah banyak sekali peristiwa yang terjadi padanya yang merupakan sebuah cobaan yang sangat berat baginya. Sosok ini harus digembirakan dengan Iman. harus kubawa meniti jalan cahaya, untuk dapat lebih menguatkan lagi bathinnya. Diminta ataupun tidak diminta. Pikir Tuan Sufi.

Semenjak itulah akhirnya mengalir hikmah-hikmah pengisian tiap relung hati. Buah dari ruhhiyyah-fikriyyah-jasadiyyah yang terlatih itu mengalir sangat deras menemui ujung-ujung sebu ah penantian yang tiada disangka sudah sangat besar sekali dari sosok cipta Tuan Sufi itu. Satu fakta yang efeknya tak terduga cukup mengagetkan Tuan Sufi lagi. Sosok bernama wanita ternyata membutuhkan bermacam-macam kepastian, beribu-ribu perhatian serta berjuta-juta pengayoman. Kesemuanya itu balik memberondong Tuan Sufi dengan aliran yang lebih cepat dan jauh lebih dahsyat, berbanding terbalik dengan apa yang pertama-tama telah Tuan Sufi sambungkan beberapa waktu yang lalu, dan yang lebih membuat Tuan Sufi menjadi seperti agak tidak stabil adalah bahwasannya, apa yang memberondong jiwanya tersebut sangat memaksa atau paling tidak sangat mengiris beberapa prinsipnya, untuk segera memberikan jawaban pasti atas semua pertanyaan-pertanyaan sosok wanita di sampingnya itu. Padahal selama ini menurut pengertian Tuan Sufi, setiap jawaban yang mengandung kata ‘PASTI’ adalah hak Sang Maharaja alam semesta, bukan hak manusia sangat tak berarti seperti dirinya. Seketika itu pula dengan berjuta-juta kemakluman, Tuan Sufi langsung menyadari bahwa sebentuk jiwa disampingnya ini sebetulnya sedang mencari sebuah figur yang selama ini mungkin agak sulit ditemukan dikeseharian hidupnya. Figur itu telah datang dengan begitu saja dimulai saat dirinya dijelmakan Tuan Sufi dalam rangkaian renungannya, sehingga ada sebersit rasa tidak percaya pada dirinya, kok yang tadinya nggak pernah ada, tiba-tiba nongol begitu aja dengan cara yang amat sempurna. Sosok wanita itu ternyata segera terisi oleh sebentuk jiwa tipe seperti ini, dan karena itulah bentuknya tidak menjadi sesederhana yang Tuan Sufi kira pada awalnya.Tuan Sufi jadi menyadari, bahwa Ia telah menjadi figur bagi jiwa itu. Tuan Sufi juga mengetahui, jiwa itu telah mencoba-coba menganalisa figur-nya dengan metode TRY-AND-ERROR, dengan pengertiannya yang ternyata masih sesederhana yang Tuan Sufi jelmakan.

Dalam hal ini rupanya Tuan Sufi mendapatkan sesuatu lagi yang baru baginya. Segala yang selama ini dia yakini akan terjadi sesuai dengan yang pernah direncanakan sebelu mnya, ternyata tiba-tiba dibungkus oleh suatu hawa tertentu yang tidak dikenalnya, sehingga rantai-rantai kejadian selanjutnya menjadi tak terkendalikan lagi sepenuhnya. Tapi yang hebatnya meski pada akhirnya menjadi penuh tanda tanya dimana-mana, ternyat a jiwa dari sosok wanita disisinya itu ternyata tetap saja memiliki yang masih sesuai dengan yang direncanakannya sebelumnya, yaitu jiwa yang sederhana, hanya saja unsur-unsur yang mengelilinginya yang menyebabkan kejadiannya jadi tidak sederhana. Tuan Sufi akhirnya melihat bahwa kesederhanaan ternyata tidak sesederhana seperti kelihatannya. Masih banyak ternyata yang mampu mengemas kesederhanaan sehingga menjadi ketidaksederhanaan ataupun sebaliknya.Dalam hatinya Tuan Sufi bersyukur, Alhamdulillah Ya Allah… Jiwa yang kuhadirkan disisiku ini, ternyata mengajarkan sesuatu yang sangat tak terduga.

Walau pun begitu, walau Tuan Sufi telah memiliki berjuta-juta kemakluman, tetap saja dia adalah seorang manusia. Apalagi dia adalah manusia yang terlatih dan punya kemampuan bela diri tinggi, sehingga tiba-tiba saja unsur membela dirinya sudah membentuk benteng perlindungan yang segera menjelma menjadi kata-kata sangat menajam. Tuan Sufi telah memaksakan penerimaan renungannya sendiri kepada sesosok jiwa disisinya itu. Renungan tentang mahabbah, renungan cinta kasih sesama makhlu k yang ten tu saja di level Tuan Sufi menjadi berada di tempat yang begitu suci dan sangat tinggi, sehingga dalam pencapaiannya tidak bisa begitu saja digapai dalam waktu sekejap, dan mutlak harus melalui perjuangan yang menuntut pengorbanan-pengorbanan tertentu ser ta harus melalui metode-metode pencapaian yang sakral dan sangat khusus. Sehingga tetap saja dalam waktu yang sekejap ini, Tuan Sufi tidak bisa begitu saja memberi jawaban. Setiap urusan hati, menurut versi Tuan Sufi adalah suatu kerumitan tersendiri, karena itulah penanganannya tidak sesederhana binary number; nol atau satu, ya atau tidak , maupun jadi atau tidak jadi . Melainkan Who - What - Where - When - Why - How, yang jelas dan gamblang. Tuan Sufi menawarkan sebuah metode pendekatan dengan agak keras, namun dengan memakai bahasa sehari-hari dari sosok disampingnya itu. Rangkaian renungannya yang dicapai dalam perjalanan panjangnya mulai diisikannya dalam relung-relung jiwa sosok wanita i tu. Mau tidak mau, mengerti atau tidak mengerti, Tuan Sufi mencoba meneruskan renungannya itu kepada sosok yang juga merupakan bagian dari perenungan dirinya. Nyata sekali, bahwa di dalam renungan terdapat renungan, dan dapat pula di dalam suatu renungan untuk menyampaikan sebuah renungan. Amin.

Tuan Sufi akhirnya mengerti. Renungan biar bagaimana pun tidak bisa begitu saja dipaksakan. Biarkan sebuah renungan itu datang sendiri dan dimengerti sendiri secara alamiah. Renungan bukan untuk direkayasa, karena itulah dalam kancah kehidupan berpolitik, orang tidak pernah memakai renungannya.Tapi biar bagaimana pun, Tuan Sufi tetap maklum. Kita punya tugas untuk menyampaikan, masalah hidayah untuk mengerti dari orang yang disampaikan adalah hak Ilahi. Akhirnya dengan segala maaf Tuan Sufi menyampaikan perasaannya yang mendalam. Sesosok yang terjelma disampingnya adalah sesosok dari dunia nyata. Sesosok yang punya hari depan, sesosok yang punya metode-metode tersendiri.Dia adalah sesosok yang patut dihormati,sesosok yang dibangun dari pengalaman yang sangat bermakna.Dia punya hati yang lebih kuat dari yang diduga.Semoga apa yang telah kita jalani bersama, dapat membangun kerajaan jiwanya menjadi lebih megah dan bercahaya. Diliputi hawa Iman dan Taqwa, Sebentuk jiwa yang utama.Tuan Sufi terus melangkah. Sesosok wanita itu sudah tidak ada lagi disampingnya. Namun sesosok itu tidak hilang begitu saja. Sesosok yang tidak terlihat itu kini berada ditempat paling mulia yang ada pada makhluk bernama manusia, yaitu berada dalam nurani Tuan Sufi . Dilingkupi pengayoman, perhatian serta kepastian menurut definisi Tuan Sufi.

Anda akan bersama dengan yang anda cintai

Pada suatu hari, salah seorang pengikut Nabi Isa as berdakwah di sebuah kota kecil. Orang-orang memintanya untuk melakukan mukjizat; menghidupkan orang mati, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Isa.

Pergilah mereka ke pemakaman dan berhenti di sebuah kuburan. Santri Nabi Isa itu lalu berdoa kepada Tuhan agar mayat dalam kuburan tersebut dihidupkan kembali. Mayat itu bangkit dari kuburnya, melihat ke sekeliling, dan berteriak-teriak, ?Keledaiku! Mana keledaiku?? Ternyata semasa hidupnya, orang itu sangat miskin dan harta satu-satunya yang paling ia cintai adalah keledainya.

Santri Nabi Isa itu lalu berkata kepada orang-orang yang menyertainya, Engkau pun kelak seperti itu. Apa yang kau cintai akan menentukan apa yang akan terjadi denganmu saat engkau dibangkitkan. Anta ma'a man ahbabta. Di hari akhir nanti, engkau akan bersama dengan yang kaucintai.

Kisah Darwish dan saudagar

Pada suatu hari, seorang darwis sedang berdoa dengan khusyu. Seorang saudagar kaya mengamatinya dan tersentuh karena kekhusyuan dan ketulusan darwis itu. Kepada darwis itu, ia menawarkan sekantung penuh wang, “Aku tahu kau akan menggunakan wang ini di jalan Tuhan. Ambillah wang ini.”

“Sebentar,” jawab sang darwis, “aku tak yakin apakah aku berhak untuk mengambil wangmu. Apakah kau orang kaya? Apakah kau punya wang lebih di rumahmu?” “Oh, iya. Setidaknya aku punya seribu keping emas di rumahku,” saudagar itu mengakui dengan bangga.

“Apa kau ingin punya seribu keping emas lagi?” darwis itu bertanya. “Tentu saja. Setiap hari aku bekerja keras untuk mendapatkan lebih banyak lagi wang.”

“Dan setelah itu, apa kau ingin punya lebih banyak lagi ribuan keping emas?”

“Pasti. Setiap hari, aku berdoa agar aku dapat menghasilkan lebih banyak wang untukku.”

Darwis itu lalu menyerahkan sekantung keping emas kembali kepada saudagar. “Maaf, aku tak dapat mengambil emasmu,” jawab darwis itu, “seorang yang kaya tak berhak untuk mengambil wang dari seorang pengemis.”

“Bagaimana kau ini? Enak saja kau sebut dirimu orang kaya dan kau panggil aku pengemis!” saudagar itumarah-marah.

Sang darwis menjawab, “Aku adalah orang kaya karena aku puas dengan apa saja yang Tuhan berikan kepadaku. Sementara kau adalah pengemis, karena tidak peduli berapa banyak yang kau miliki, kau selalu tidak puas, dan selalu meminta lebih kepada Tuhan.”

Musa dan Wali Allah

Musa as meminta Tuhan menunjukkan salah satu wali-Nya. Tuhan memerintahkan Musa untuk pergi ke sebuah lembah. Di tempat itu, Musa menemukan seseorang yang berpakaian compang-camping, kelaparan, dan dikerubungi lalat.

Musa bertanya, “Adakah sesuatu yang dapat aku lakukan untukmu?”

Orang itu menjawab, “Wahai utusan Tuhan, tolong bawakan aku segelas air.” Ketika Musa kembali dengan segelas air, orang itu telah meninggal dunia. Musa pergi lagi untuk mencari sehelai kain untuk membungkus mayatnya, agar ia dapat menguburkannya. Ketika ia kembali ke tempat itu, mayatnya telah habis dimakan singa. Musa merasa tertekan, ia berdoa, “Tuhan, Engkau menciptakan semua manusia dari tanah. Ada yang berbahagia tapi ada juga yang tersiksa dan hidup menderita. Aku tak dapat mengerti ini semua.” Suara Yang Agung menjawab, “Orang itu bergantung kepada-Ku untuk semua hal. Tapi kemudian ia bergantung padamu untuk satu minuman. Dia tak boleh lagi meminta bantuan kepada orang lain kalau ia telah rida dengan-Ku.”

Nasihat darwis untuk raja zalim

Sa'di bercerita; Alkisah, Seorang raja yang zalim berkenan memanggil seorang darwis ke istananya untuk memberi nasihat. Ketika sufi itu datang, Raja Zalim berkata, "Berikan aku nasihat. Amal apa yang paling utama untuk aku lakukan sebagai bekalku ke akhirat nanti?"

Sang darwis menjawab, "Amal terbaik untuk baginda adalah tidur." Raja itu kehairanan, "Mengapa?" "Karena ketika tidur," jawab sufi itu, "baginda berhenti menzalimi rakyat. Ketika baginda tidur, rakyat dapat beristirahat dari kezaliman."

Kisah sufi ( rindu rasul )

Suatu saat, ada orang yang ingin sekali bertemu dengan Nabi saw di mimpinya, tetapi keinginannya itu tak pernah terkabul; meskipun ia telah berusaha amat kuat dan keras. Ia meminta nasihat kepada seorang sufi. Sufi itu menjawab, ?Anakku, pada Jumat malam nanti, banyak-banyaklah kau makan ikan asin, tunaikan salatmu, dan langsunglah engkau pergi tidur tanpa minum air setetes pun. Keinginanmu akan terpenuhi.

Orang itu pun melaksanakan anjuran sang sufi. Setelah itu, ia langsung tidur. Sepanjang malam ia bermimpi terus menerus minum air dari puluhan mata air. Ketika pagi menjelang, ia bergegas menemui sufi itu, ?Wahai Maulana, aku tak melihat Nabi dalam mimpiku. Aku begitu kehausan sehingga yang aku impikan hanyalah minum air dari puluhan mata air. Sekarang pun aku masih tersiksa dengan rasa dahaga.

Sang sufi berkata padanya, ?Makan ikan asin telah memberimu dahaga yang begitu menyiksa sehingga sepanjang malam engkau hanya bermimpi tentang air minum. Sekarang kau harus merasakan dahaga yang sama akan Rasul-Nya, barulah engkau boleh memeluk anugerah terindahnya!

Kisah pendeta senior Afsel yang masuk islam ( mimpi bertemu dengan Rasulullah saw )

“Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…”

Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-’Alam al-Islami di sana.

Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, “Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?” ia tersenyum dan berkata, “Ya, tentu saja boleh.”

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!

Sily berkata, “Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.

Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!

Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, “Bukankah anda seorang pendeta?” Aku jawab, “Benar.” Lantas ia bertanya kepadaku, “Siapa Tuhanmu?” Aku katakan, “Al-Masih.” Ia kembali berkata, “Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’.” Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.

Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, “Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab.” Aku katakan, “Kalau begitu, coba beri jawabannya!” Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, “Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…” lantas akupun tertidur.

Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, “Wahai Ibrahim!” Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, “Kamu Ibrahim… kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?” Aku jawab, “Benar.” Ia berkata, “Lihat ke sebelah kananmu!” Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!” Lanjut lelaki itu.

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, “Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat.” Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, “Selamat datang ya Ibrahim!” Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, “Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya yaitu Islam.” Aku katakan, “Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?” Ia menjawab, “Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW.” Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, “Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?” Ia berkata, “Benar.”

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah.” Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, “Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah menunjukkan kepadaku agama yang benar.” Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, “Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab.” Aku katakan, “Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam.” Mereka semua terdiam.

Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, “Sesungguhnya Vatikan me-mintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja.”

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, “Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku.” Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.

Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.

Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma’had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?” Ia menjawab, “Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam.”

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah… medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, “Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, ti-dakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!”

Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal… kami berjalan lamban… kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily, Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa’id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami.

Tiga kebenaran

Para Sufi dikenal sebagai Pencari Kebenaran, yang berupa kenyataan obyektif. Konon, seorang tiran yang bodoh dan dengki memutuskan untuk memiliki kebenaran ini. Namanya Rudarigh, seorang raja besar di Marsia, Spanyol. Ia menetapkan bahwa kebenaran akan bisa didengarnya kalau Umar al-Alawi dari Tarragona dipaksa untuk mengatakannya.

Umar pun di tangkap dan dibawa ke Istana. Kata Rudarigh, “Aku telah memutuskan agar kebenaran yang kau ketahui harus kaukatakan kepadaku dalam kata-kata yang bisa kumengerti, kalau tidak nyawamu harus kau pertaruhkan.”

Umar menjawab, “Apakah Tuan mengetahui kebiasaan dalam istana perkasa ini, apabila seorang yang ditahan mengungkapkan kebenaran sebagai jawaban atas suatu pertanyaan dan kebenaran itu tidak membuktikannya salah, maka ia akan dibebaskan kembali?”

“Memang demikian,” kata Raja.

“Saya minta semua yang hadir di sini menjadi saksi,” kata Umar, “dan saya tidak hanya akan mengungkapkan satu kebenaran, tetapi tiga.”

“Kami juga harus yakin,” kata Rudarigh, “bahwa yang kau sebut kebenaran itu memang benar-benar kebenaran. Harus ada bukti-bukti yang menyertainya.”

“Bagi Raja seperti baginda,” kata Umar, “yang pantas menerima tidak hanya satu kebenaran tetapi sekaligus tiga, kami juga akan bisa memberikan kebenaran yang nyata dengan sendirinya.”

Rudarigh sangat puas menerima pujian itu.

“Kebenaran pertama,” kata Si Sufi, “adalah, sayalah yang bernama Umar Si Sufi dari Tarragona. Yang kedua adalah bahwa Baginda akan melepaskan saya jika saya telah mengungkapkan kebenaran. Yang ketiga, Baginda ingin mendengarkan kebenaran yang bisa Baginda pahami.”

Karena kesan yang ditimbulkan oleh kata-kata tersebut, Rajapun terpaksa membebaskan kembali darwis itu.

Catatan :

Cerita ini menampilkan legenda lisan darwis yang biasanya disusun oleh Al-Mutanabbi. Cerita-cerita ini, menurut juru ceritanya, tidak boleh dituliskan selama 1.000 tahun.

Al-Mutanabbi, salah seorang penyair Arab terbesar, meninggal seribu tahun yang lalu.

Salah satu ciri kumpulan cerita ini adalah bahwa selalu mengalami perubahan, disebabkan oleh penceritaan kembali terus-menerus sesuai dengan “perubahan zaman.”

Si bodoh dan Unta yang sedang makan rumput

Seorang bodoh memperhatikan seekor unta yang sedang makan rumput. Katanya kepada binatang itu, “Tampangmu mencong. Kenapa begitu?”

Unta menjawab, “Dalam menilai kesan yang timbul, kau mengaitkan kesalahan dengan hal yang mewujudkan bentuk. Hati-hatilah terhadap hal itu! Jangan menganggap wajahku yang buruk sebagai suatu kesalahan.

Pergi kau menjauh dariku, ambil jalan lintas. Tampangku mengandung arti tertentu, punya alasan tertentu. Busur memerlukan yang lurus dan yang bengkok, pegangannya dan talinya.”

Orang bodoh, enyahlah: “Pemahaman keledai sesuai dengan sifat keledai.”

Catatan :

Maulana Majdud, yang dikenal sebagai Hakim Sanai, Sang Bijak Yang Gilang Gemilang dari Ghaznas menghasilkan banyak karangan mengenai tak bisa dipercayanya kesan subyektif dan penilaian bersyarat.

Salah satu petuahnya adalah, “Pada cermin rusak dalam fikiranmu, bidadari bisa tampak mempunyai wajah setan.”

Kisah perumpamaan itu dipetik dari Taman Kebenaran yang Berpagar, yang ditulis sekitar tahun 1130.

Mengenal Jin

” Sesungguhnya jin dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al Quran, surat Al A’raf : 27)

Makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan yang berarti istitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan setan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan. Iblis adalah gembongnya setan.

Apakah Jin itu?

Jin dinamakan jin karena wujudnya yang tersembunyi dari pandangan mata manusia. Firman Allah, “Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”(QS. Al A’raf 27).

Kalau pun ada manusia yang dapat melihat jin, jin yang dilihatnya itu adalah yang sedang menjelma dalam wujud makhkuk yang dapat dilihat mata manusia biasa. Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda, “Setan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena adanya doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia.”(HR Al Bukhari).
Asal kejadian Jin

Kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas. Allah berfirman, “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al Hijr: 27). “Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar Rahman : 15)

Rasulullah bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan (diceritakan) kepada kamu [yaitu dari air sperma dan ovum].” (HR Muslim dari Aisyah di dalam kitab Az- Zuhd dan Ahmad di dalam Al Musnad).

Bagaimana wujud api yang merupakan asal kejadian jin, Al Quran tidak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kita untuk meneliti-nya secara detail. Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhak berpendapat bahwa yang dimaksud “api yang sangat panas” (nar al-samum) atau “nyala api” (nar) dalam firman Allah di atas ialah “api murni”. Ibnu Abbas pernah pula mengartikannya “bara api”, seperti dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir.
Mengubah bentuk

Setiap makhluk diberi Allah kekhususan atau keistimewaan tersendiri. Salah satu kekhususan jin ialah dapat mengubah bentuk. Misalnya jin kafir (setan) pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama, ketika kaum Quraisy berkonspirasi untuk membunuh Nabi SAW di Makkah. Kedua, dalam Perang Badr pada tahun kedua Hijriah, seperti diungkapkan Allah di dalam surat Al Anfal: 48.
Apakah jin juga mati?

Jin beranakpinakdan berkembang biak. Allah memperingatkan manusia agar tidak terkecoh menjadikan iblis (yang berasal dari golongan jin) dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin sebab mereka telah mendurhakai perintah Allah (QS. Al Kahfi: 50).

Banyak orang menganggap bahwa jin bisa hidup terus dan tidak pernah mati, namun sebenarnya ada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi SAW berdoa: “Anta al-hayyu alladzi la yamutu, wa al-jinnu wa al-insu yamutuna - Ya Allah, Engkau hidup tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati.” (Bukhari: 7383, Muslim : 717)
Tempat-tempat Jin

Banyak perbedaan antara manusia dengan jin, namun persamaannya juga ada, di antaranya sama-sama menghuni bumi. Bahkan jin telah mendiami bumi sebelum adanya manusia dan kemudian jin juga bisa tinggal bersama manusia di rumah manusia, tidur di ranjang dan makan bersama manusia. Tempat yang paling disenangi jin adalah WC, tempat manusia membuka aurat. Agar aurat kita terhalang dari pandangan jin ketika kita masuk ke dalam WC, hendaknya kita berdoa yang artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari (gangguan) setan laki-laki dan setan perempuan.” (HR At-Turmudzi).

Setan suka berdiam di kubur dan di tempat sampah. Apa sebabnya, Quran sengaja tak menjelaskan secara rinci. Mungkin karena kuburan sering dijadikan sebagai tempat bermeditasi oleh tukang sihir (paranormal). Nabi SAW melarang kita tidur menyerupai setan. Setan tidur di atas perutnya (tengkurap) dan bertelanjang. Manusia yang tidur dalam keadaan bertelanjang menarik perhatian setan untuk mempermainkan auratnya.
Setan selalu mendampingi manusia

Sudah menjadi komitmen setan akan senantiasa menggoda manusia agar durhaka kepada Allah. Oleh karena itu setan terus menerus mengincar manusia, setiap saat menyertai manusia sehingga setan itu disebut pula sebagai qarin bagi manusia, artinya “yang menyertai” manusia. Setiap manusia disertai setan yang selalu memperdayakannya, bahkan manusia dan qarin-nya akan bersama-sama pada hari berhisab nanti. Allah berfirman, artinya: “Yang menyertai dia (qarin-nya) berkata (pula): “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” (QS. Qaf: 27).

Dialog Rasulullah saw dengan Iblis

Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.

Maka Malaikat itu pun menemui Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”

Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw.

Maka sambut Iblis (alaihi laknat),“Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.

Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?”

Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya.”

Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu.”

Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.

Pertanyaan Nabi (1):

“Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?”

Jawab Iblis:“Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini.” Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku.”

Pertanyaan Nabi (2):

“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”

Jawab Iblis:“Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram. Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak.

Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.

Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”

Pertanyaan Nabi (3):

“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?”

Jawab Iblis:“Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah.

Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia.

Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka.

Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain aripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”

Pertanyaan Nabi (4):

“Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?”

Jawab Iblis:“Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku”

Pertanyaan Nabi (5):

“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?”

Jawab Iblis:“Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya - matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain.

Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”

Pertanyaan Nabi (6):

“Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?”

Jawab Iblis:“Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”

Pertanyaan Nabi (7):

“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”

Jawab Iblis:“Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya.”

Pertanyaan Nabi (8):

“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”

Jawab Iblis:“Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa.

Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga.

Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa.”

Pertanyaan Nabi (9):

“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”

Jawab Iblis:“Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar - besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.”

Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.

Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, “Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.

Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid.”

Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ - dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata, “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.” Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”

Pertanyaan Nabi (10):

“Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?”

Jawab Iblis:“Umatmu itu ada tiga macam.

Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s, “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat.”

Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan.

Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat. Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur.”

Pertanyaan Nabi (11):

“Siapa yang serupa dengan engkau?”

Jawab Iblis:“Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam.”

Pertanyaan Nabi (12):

“Siapa yang mencahayakan muka engkau?”

Jawab Iblis:“Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji.”

Pertanyaan Nabi (13):

“Apakah rahasia engkau kepada umatku?”

Jawab Iblis:“Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari.”

Pertanyaan Nabi (14):

“Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?”

Jawab Iblis:“Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang.”

Pertanyaan Nabi (15):

“Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?”

Jawab Iblis:“Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya.”

Pertanyaan Nabi (16):

“Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”

Jawab Iblis:Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu.”

Pertanyaan Nabi (17):

“Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”

Jawab Iblis:“Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat.”

Pertanyaan Nabi (18):

“Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”

Jawab Iblis:“Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam.”

Pertanyaan Nabi (19):

“Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”

Jawab Iblis:“Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”

Pertanyaan Nabi (20):

“Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”

Jawab Iblis:“Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda, ‘Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’”

Pedagang ( Rahasia kebenaran)

Seorang guru mistik, setelah ia mencapai pengetahuan yang serba rahasia mengenai kebenaran sejati, yaitu pengetahuan yang hanya dapat dicapai oleh segelintir manusia, ia bermukim di Basrah.

Di sana ia memulai sebuah usaha dan dalam beberapa tahun saja telah memperoleh kemajuan.

Pada suatu hari seorang guru sufi yang telah mengenalnya beberapa tahun yang lalu, namun masih berada di atas jalan yang ditempuh oleh para pencari kebenaran, singgah di tempat kediamannya.

“Betapa gundah hatiku menyaksikan engkau yang telah meninggalkan pencarian dan jalan kaum mistik,” berkata sang guru sufi. Pedagang yang arif bijaksana itu hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa.

Sang guru sufi kemudian meneruskan perjalanan dan didalam wejangan-wejangannya dikemudian hari ia sering kisahkan, betapa seseorang bekas sufi yang kemudian beralih kepada cita-cita yang rendah dalam dunia perdagangan karena ia tampaknya tak memiliki tekad yang perlu untuk menyelesaikan perjalanan.

Tetapi sang guru sufi pengelana ini akhirnya bertemu dengan Khaidir, sang penunjuk jalan rahasia. Si guru sufi memohon kepada Khaidir untuk mengantarkannya kepada guru arif bijaksana pada zaman itu, yang akan memberkahi terang ke dalam hatinya.

Khaidir berkata:

“Jumpailah seseorang pedagang anu, duduklah di kakinya, dan laksanakanlah kerja kasar yang disuruhnya”.

Sang guru sufi tidak habis pikir, iapun berkata dengan tergagap:

“Tetapi betapa mungkin bahwa pedagang itu adalah salah seorang dari manusia-manusia terpilih, apalagi sebagai guru agung zaman kini?”

Khaidir menjawab:

“Karena ketika ia mendapatkan terang ia pun telah berhasil memperoleh pengetahuan duniawi. Untuk pertama kali ia rnenyadari bahwa sikap manusia suci menarik orang-orang tamak yang berpura-pura mencari pengetahuan spirituil dan menolak orang-orang tulus yang tidak takjub kepada penampilan lahiriah. Aku telah menunjukkan kepadanya betapa guru-guru yang saleh dapat ditenggelamkan oleh pengikut-pengikutnya. Maka ia memberi pengajaran dengan diam-diam dan bagi orang-orang yang dangkal penglihatan ia hanyalah seorang pedagang biasa.”

Rahasia hati

Hati laksana sebuah wadah. Jika kalian gunakan wadah itu, lalu memenuhinya dengan air maka kalian tidak bisa memasukkan susu di wadah yang sama.
Jika penuh dengan susu, kalian tak mampu mengisinya lagi dengan minyak.Jika kalian penuhi dengan minyak, maka teh tak dapat dimasukkan. Wadah itu hanya bisa terisi dengan salah satunya saja.

Salah satu dari sifat buruk dari tubuh fisik materi adalah melekatny cinta pada dunia dan segala hal diatas bumi ini. Kebanyakan manusia terpikat, mengejar, dan memenuhi hatinya dengan cinta akan dunia ini sehingga tidak ada tempat lagi akan cinta pada Tuhan. Walaupun mereka mengatakan : “Tuhan adalah cinta”, mereka semua pembohong. Tuhan bukanlah cinta dan cinta bukanlah Tuhan, namun ada cinta untuk Tuhan yang mampu membuat kalian mendekati Hadirat-Nya.

Jika kalian bersihkan hati dari cinta dunia yang sementara ini, maka cinta abadi itu akan memasuki hati kalian. Cinta abadi itu akan meningkatkankan kekuatan spiritual dan memudahkan kalian mencapai hadirat-Nya. Jika kalian mampu melakukannya, kalian akan menemukan manfaat yang hakiki dan abadi.

Rahasia Para Awliya

Sayyidina Abdul Qadir Jailani kala itu sedang berada di Baqhdad. Beliau dengan murid terbaiknya mendaki bukit yang sangat tinggi. Beliau ingin mengujinya. Didorongnya murid itu agar jatuh ke sungai. Murid itu menyerah, tunduk pada syaikhnya. Dia adalah bayangan syaikhnya. “Bayangan” berarti kalian menyerah, namun tidak secara total. Masih ada keraguan di dalam hati . Apakah yang dimaksud sebagai ‘menyerah secara total’ ?
Para syaikh mengatakan : “ Kami tidak ingin seseorang datang pada kami seperti mayat, karena meskipun sudah jadi mayat, mereka masih menyimpan keinginan.”

Ketika kalian meninggal, kalian masih mempunyai keinginan dan belum menyerah secara total. Nabi ( kedamaian tercurah pada beliau ) bersabda bahwa ketika seseorang meninggal dan kalian memandikannya dengan air dingin, maka jasad itu akan mengatakan : “ Ini terlalu dingin. Buatlah hangat sedikit.” Jika terlalu panas, jasad itupun mengatakan : “ Buatlah agak dingin sedikit.” Dan jika kalian menggosok mayat itu dengan kasar, diapun bisa merasakan sakit. Itulah mengapa Nabi mengatakan , ” Sayangilah jasad orang mati, karena meskipun tidak bisa bicara, dia bisa merasakan.”
Itulah mengapa dalam Islam tidak diizinkan memotong jasad atau melakukan otopsi apalagi membakarnya. Mereka merasakan apapun tanpa kalian sadari. Walaupun dalam keadaan seperti ini, mayat itu masih belum ada penyerahan total. Penyerahan diri yang benar adalah ibarat selembar daun. Jika mengering, diapun jatuh dan daun itu pergi kemanapun angin membawanya, ke utara atau selatan atau barat. Bahkan jika angin itu terseret ke dalam api, daun itu tidak mengatakan apapun. Menyerah total seperti inilah yang kami inginkan dari para murid. Tidak ada keinginan lagi. Ketika sayyidina Abdul Qadir mendorong muridnya, maka yang terjadi adalah dia memang menyerah, namun masih ada tanda tanya di dalam hatinya, “ Atas alasan apa syaikh mendorongku terjun ke sungai ?” Murid itu menerima apapun, jika syaikhnya menginginkan dia mati, diapun rela mati demi syaikhnya. Tapi dia masih bertanya : atas alasan apa ? apakah kearifan dibalik ini ?

Kearifannya, hai kalian murid-murid yang idiot ! adalah untuk memberikan rahasia kalian. Segera setelah murid sampai ke air, tangan syaikh berada di bawahnya. Syaikh mampu mendeteksi apa yang ada didalam hati muridnya. Itulah mengapa kami mengatakan bahwa duduk didekat syaikh seperti duduk di dekat api. Satu kesalahan saja mampu membakar kalian. Dan itulah sebabnya murid sayyidina ‘Ubaydu-l-Lah al-Ahrar selalu memilih duduk didekat deretan sepatu-sepatu daripada di dekat syaikhnya. Mereka sadar akan maqamnya, biarkan yang lain ingin mengambil apa yang ingin diambil, aku tidak tertarik. Batasku masih sampai sepatu, aku tidak lebih baik dari sepatu. Itulah maqamku di hadapan syaikhku, yaitu membersihkan sepatu.

Maqam seperti itulah yang dibutuhkan. Bukannya duduk dengan sombong agar dikira seorang alim besar. Kalian belum sampai tingkatan itu. Jika waktunya sampai, syaikh akan memberikan kekuatan itu. Jika belum siap, syaikhpun tidak akan memberikannya. Kalian masih harus berjalan terus sampai meraih pemahaman yang benar tentang syaikh. Bay’at sebenarnya bukanlah sesuatu yang mudah untuk diberikan. Di abad ini, sebagaimana saya katakan, para awliya bertanya pada Nabi : Ya Rasulullah, apa yang bisa kami lakukan ? ini sungguh sulit.

Para awliya ada di seluruh penjuru dunia. Sedikitnya sekali dalam seminggu, setiap manusia, walaupun dia sedang duduk di puncak gunung manapun pasti bertemu dengan seorang wali yang datang mengucapkan salam padanya. Kadang hanya melihatnya dan pergi. Kalian bahkan tidak sadar bahwa dia adalah seorang wali. Beliau mendatangi kalian dengan berbagai macam samaran. Beliau memandang kalian, mengambil dosa-dosa kalian dan pergi. Itulah tugas seluruh awliya dan mereka ada dimana-mana.

Ketika para awliya ini melihat segala macam kegelapan dan ketidak pedulian menutupi dunia ini, mereka meminta dan memohon pada Nabi dan Nabi memohonkannya pada Allah SWT agar diberi izin lebih dan kekuatan lebih bagi para wali untuk menanggung berbagai tanggung jawab murid-muridnya.

Wa min Allah at-Tawfiq bi hurmat al-Fatiha

Nasehat Abdullah bin mas'ud

Seorang laki-laki berada di sisi beliau dan berkata, “Aku tidak ingin menjadi golongan kanan, aku ingin termasuk golongan muqarrabun saja.” Abdullah berkata, “Bahkan disini ada orang yang apabila meninggal nanti tidak ingin dibangkitakan. ” (yakni beliau)

* Suatu saat beliau keluar dan diikuti oleh beberapa orang. Beliau bertanya kepada mereka, “Adakah kalian memiliki kepentingan sehingga mengikutiku? ” Mereka menjawab,”Tidak ada, kami hanya ingin berjalan bersama anda.” Abdullah berkata, “Kembalilah kalian, sesungguhnya yang demikian ini menyebabkan hina bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang diikuti.”

* Abdullah berkata, “Seandainya kalian mengetahui apa yang ada pada diriku sebagaimana yang aku ketahui tentang diriku, niscaya akan kalian taburkan tanah di kepalaku.”

* Abdullah berkata, “Barangsiapa mengerjakan kebaikan, niscaya Allah akan memberi kebaikan kepadanya dan barangsiapa menjaga dari kejahatan, niscaya Allah akan menjaganya.”

* Orang-orang yang bertakwa adalah pemuka, para ahli fiqih adalah pemimpin, bergaul dengan mereka akan menambah kebaikan.”

* Sebaik-baik perkara yang dibenci adalah kematian dan kefakiran. Demi Allah tidak ada lain kecuali kaya atau miskin. Aku tidak peduli, dengan yang mana aku diuji. Aku hanya berharap kepada Allah dalam keadaan kaya atau miskin. Bila kaya, semoga Allah memberiku kedermawanan. Apabila fakir, semoga Allah memberiku kesabaran.

* Selagi engkau dalam shalat, berarti engkau sedang mengetuk pintu Raja. Barangsiapa mengetuk pintu Raja, niscaya akan dibukakan baginya.

* Seringkali syahwat mengakibatkan sedih berkepanjangan.

* Bila zina dan riba telah dilakukan dengan terang-terangan di suatu desa, pertanda akan datang kehancurannya.

* Carilah hatimu di tiga tempat, saat mendengar Al-Qur’an, di tempat majelis dzikir dan saat-saat menyendiri. Bila engkau tidak mendapatinya, maka mohonlah kepada Allah agar Dia menganugerahkan hati (yang baru) kepadamu, karena sesungguhnya engkau sudah tidak lagi memiliki hati.

* Tiada sesuatupun di muka bumi yang lebih perlu untuk lama dipenjara daripada lisan.

* Ilmu bukanlah karena banyaknya menghafal riwayat, akan tetapi ilmu adalah rasa takut.

* Setiap pandangan yang haram adalah santapan bagi syetan

* Sudah sepantasnya bagi pembawa Al-Qur’an menghidupkan malamnya di saat manusia tidur, shaum di siang hari di saat manusia berbuka, menunjukkan kesedihannya saat manusia bersenang-senang, menangis di saat manusia tertawa, diam saat manusia banyak bicara, khusyu’ saat manusia sombong. Hendaknya seorang pembawa Al-Qur’an senantiasa menangis, sedih, bijaksana, lemah lembut dan tenang. Dan tidak sepantasnya seorang pembawa Al-Qur’an itu keras hati, lalai, banyak bicara dan kasar.

* Bersama kegembiraan pasti ada kesedihan. Tiada rumah yang mendapatkan kenikmatan, melainkan mendapatkan pula pelajaran. Masing-masing kalian adalah tamu, sedangkan hartanya adalah pinjaman. Setiap tamu akan segera pulang, sedangkan pinjaman dikembalikan kepada pemiliknya.

Diambil dari: Menjadi Kekasih Allah,karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah

Mawlana jalaludin Rumi

Mawlana Jalaluddin Rumi - Penyair dan tokoh sufi terbesar dari Persia

Ia berkata, “Siapa itu berada di pintu?”
Aku berkata, “Hamba sahaya Paduka.”
Ia berkata, “Kenapa kau ke mari?”
Aku berkata, “Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti.”
Ia berkata, “Berapa lama kau bisa bertahan?”
Aku berkata, “Sampai ada panggilan.”
Aku pun menyatakan cinta, aku mengambil sumpah
Bahwa demi cinta aku telah kehilangan kekuasaan.
Ia berkata, “Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan.”
Aku berkata, “Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku.”
Ia berkata, “Saksi tidak sah, matamu juling.”
Aku berkata, “Karena wibawa keadilanmu mataku terbebas dari dosa.”

Syair religius di atas adalah cuplikan dari salah satu puisi karya penyair sufi terbesar dari Persia, Jalaluddin Rumi. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Dua hal itulah—kedalaman makna dan keindahan bahasa—yang menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum maupun sesudahnya.

Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu tarekat Maulawiah—sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman pada sekitar tahun l648.

Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewa-dewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Pada zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu.

Bagi kelompok yang mengagul-agulkan akal, kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, cepat-cepat mereka ingkari dan tidak diakui.

Padahal, menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.

Rumi mengatakan, “Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu’tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya.”

Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. “Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?” tegas Rumi.

PENGARUH TABRIZ. Fariduddin Attar, seorang tokoh sufi juga, ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak bakal menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin itu tidak meleset.

Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207 Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).

Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru beruisa lima tahun.

Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.

Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.

Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.

Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz.

Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing—yakni Syamsi Tabriz—ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.

Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”

Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya.

Bak remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Rumi dirundung duka. Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.

Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.

Demi mengabulkan permintaan Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.

Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.

Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).

Bersama Syekh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

WAFAT. Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.

Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo’akan, “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit.”

Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya.

Nasehat sufi

Pada suatu hari, ada seseorang menangkap burung. Burung itu berkata kepadanya, Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku. Nanti aku beri kau tiga nasihat.Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada dalam genggaman orang itu. Yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah mencapai puncak bukit.

Orang itu setuju, lalu ia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun engkau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal.

Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke dahan. Disampaikannya nasihat yang kedua, Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.

Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia berkata, Wahai manusia malang! Dalam diriku terdapat dua permata besar, kalau saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya. Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun katanya, setidaknya, katakan padaku nasihat yang ketiga itu!

Si burung menjawab, Alangkah tololnya kau meminta nasihat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali. Sudah kukatakan padaku agar jangan kecewa kalau kehilangan dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku pun tidak cukup besar untuk menyimpan dua permata besar! Kau tolol! Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia.

(Catatan: Dalam lingkungan darwis, kisah ini dianggap sangat penting untuk mengakalkan fikiran siswa sufi, menyiapkannya menghadapi pengalaman yang tidak boleh dicapai dengan cara-cara biasa. Di samping penggunaannya sehari-hari di kalangan sufi, kisah ini terdapat juga dalam karya klasik Rumi, Matsnawi. Kisah ini juga ditonjolkan dalam Kitab Ketuhanan karya Fariduddin Aththar, salah seorang guru Rumi. Kedua tokoh sufi itu hidup pada abad ketiga belas.)

Kisah para sufi

kisah sufi (1)


Orang menghitung dengan tasbih banyaknya melafalkan asma Allah dengan puas diri, tetapi mereka tidak memakai tasbih untuk menghitung kata-kata kosong yang mereka ucapkan. Khalifah Umar berkata,”Hitunglah baik-baik kata dan perbuatanmu sebelum ditimbang di hari perhitungan.” [ Al Ghazzali ]


kisah sufi (2)

Seorang mengadu kepada sang guru, “Saya harus bagaimana? Saya terganggu karena orang-orang yang mengunjungi saya. Kedatangan dan kepergian mereka mengganggu waktu saya yang sangat berharga.” Sang guru menjawab,”Pinjamkan sesuatu yang kaupunya pada mereka semua yang miskin dan mintalah sesuatu dari mereka yang kaya. Dijamin mereka takkan mengunjungimu lagi.” [ Sa’di ]


kisah sufi (3)

Seorang bakhil menimbun seluruh kekayaannya dan tidak membelanjakan sepeser pun untuk keluarganya. Celakanya, suatu hari anaknya menemukan tempat penimbunan itu. Ia mengambil semua emas dan menggantinya dengan batu besar. Uangnya ia pakai foya-foya. Tak lama kemudian sang ayah menyadari kehilangannya dan jatuh sedih, tetapi anaknya malah berujar riang,”Emas itu untuk dibelanjakan, Yah. Kalau cuma untuk disembunyikan, batu juga tak kalah bagusnya dengan emas.” [ Sa’di ]


kisah sufi (4)

Seorang pria berkata kepada Junaid,”Sahabat sejati sungguh langka di jaman sekarang. Di manakah saya bisa menemukan seorang sahabat karena Allah?”

Junaid menjawab,”Jika kamu menghendaki seorang sahabat yang bersedia mengurusmu dan memikul bebanmu, memang jarang sekali. Tapi, kalau kamu menginginkan sahabat karena Allah yang hendak kau pikul bebannya, dan kau tanggung deritanya, banyak yang bisa kukenalkan padamu.” [ Al Ghazzali ]

Kisah para guru sufi

Kisah sufi (1)

Suatu saat murid-murid Abu al Bistami mengadukan kejahatan Setan kepadanya. Mereka berkata,”Setan telah mengambil iman kami.” Sang syeikh lalu memanggil Setan dan menginterogasinya. Kata Setan,”Aku tak bisa memaksa siapapun untuk melakukan apapun. Sebenarnya, kebanyakan orang membuang iman mereka untuk alasan yang remeh. Aku cuma memungut iman yang mereka buang.” [ Syeikh Muzaffir ]



kisah sufi (2)

Rabi’ah ditanya,”Apakah engkau mencintai Allah?”
Ia menjawab, “Ya.”
“Apakah engkau membenci Iblis?”
Ia menjawab,”Tidak! Cintaku kepada Allah tidak menyisakan waktu bagiku untuk membenci Iblis.” [ Rabi’ah ]


kisah sufi (3)

Sang Guru berujar , ”Saat kau jauh dari ka’bah memang sudah seharusnya menghadapkan wajahmu ke sana, agar dirimu tidak terlempar jauh ke tempat gelap. Tetapi mereka yang ada di dalamnya, bisa menghadap ke mana pun mereka suka.” Sang murid lalu bertanya, ”Bagaimana mungkin kami bisa memasuki ka’bah yang dikelilingi jutaan manusia?”
Sang Guru menjawab, “Ka’bah itu ada di dalam hatimu!” [ Bayazid Bistam

Ihya Ullumudin

Kitab Zikir Dan Doa

(VERSI DRAF _ MASIH DIEDIT)

Keutamaan zikir

Di antara ayat-ayat al-Quran, firman Allah Ta’ala

Maka berzikirlah (ingatlah) kepadaKu, niscaya Aku akan mengingati kamu sekalian…..” (al-Baqarah: 152)

Berzikirlah (ingatlah) kepada Allah dengan zikir yang banyak.”

(al-Ahzab: 41)

Mereka yang berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri duduk dan sedang berbaring.” (al-Imran: 191)

“Dan apabila kamu telah selesai menunaikan sembahyang maka berzikirlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan sedang berbaring.”

(an-Nisa’: 103)

Berkata Ibnu Abbas: Maksud ayat di atas, hendaklah seseorang itu berzikir kepada Allah pada malam hari dan siangnya, di daratan dan di lautan ketika dalam pelayaran dan di dalam keadaan kaya dan miskin, sakit dan sihat, sama ada dengan suara rendah (dalam hati) mahupun dengan suara keras yang didengar oleh ramai.

Allah berfirman:

Berzikirlah pada Tuhanmu dalam dirimu (hatimu) dengan penuh perasaan rendah hati dan takut dan bukan dengan suara keras di waktu pagi dan petang dan janganlah engkau sampai dikira orang-orang yang lalai.”

(al-A’raf: 205)

Allah berfirman lagi pada mencela orang-orang munafikin:

“Mereka itu tiada mengingati Allah melainkan sedikit sakali.”

(an-Nisa: 142)

Di antara Hadis-hadis yang membicarakan hal-hal ini ialah:

“Berfirman Allah azzawajalla: Aku sentiasa bersama hambaKu selagi ia mengingatiKu, dan selagi kedua belah bibirnya bergerak-gerak (kerana berzikir kepadaKu).”

Sabda Rasulullah s.a.w.:

“Barangsiapa yang ingin bersenang-senang di dalam taman-taman syurga maka hendaklah ia memperbanyakkan zikir Allah azzawajalla.”

Apabila Rasulullah s.a.w ditanya: Mana satu amalan yang paling utama sekali, baginda lalu menjawab:

“Iaitu apabila engkau menghadap maut sedangkan lidahmu lembut berzikir kepada Allah azzawajalla.

Sabda Rasulullah s.a.w.:

“Telah berfirman Allah Tabaraka Ta’ala. Andaikata hambaKu mengingatiKU dalam dirinya, niscaya Aku akan mengingatinya di dalam diriKu. Andaikata dia mengingatiKu di hadapan orang ramai, niscaya Aku akan mengingatinya di hadapan orang ramai yang lebih baik dari kumpulannya. Andaikata dia mendekatiKu sejengkal, niscaya Aku akan mendekatinya sehasta.”

Dari kata-kata atsar pula, berkata al-Hasan: Zikir itu ada dua macamnya: Berzikir kepada Allah azzawajalla di antara dirimu dan antara Allah azzawajalla. Alangkah baiknya ini dan besar pula pahalanya. Dan lebih utama dari itu ialah berzikir kepada Allah s.w.t pada ketika Allah mengharamkan sesuatu kepadanya.

Keutamaan majlis zikir.

Berkata Rasulullah s.a.w.

“Tiada sesuatu kaum pun yang duduk di dalam satu majlis sedang mereka berzikir kepada Allah azzawajalla, melainkan para Malaikat berkerumun di sisi mereka dan rahmat akan mencucuri mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada sesiapa yang ada di sisinya.”

Keutamaan bertahlil.

Bersabda Rasulullah s.a.w.

“Seutama-utama ucapan yang saya katakan, begitu juga para Nabi yang sebelumku ialah: Laa Ilaha Illallahu Wahdahuu Laa Sayariikalah (Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya),”

Bersabda Nabi s.a.w lagi:

“Barangsiapa mengucapkan: Laa Ilahaa Illallahu Wahdahuu Laa Syarikalah, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa ‘Alaa Kullu Syai’in Qadir (Tiada Tuhan melainkan Allah, yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya kepunyaanNya segala kerajaan dan bagiNya segala kepujian dan dia Berkuasa atas segala sesuatu) setiap kali 100 kali Pahalanya sama seperti pahala memerdekakan 10 hamba sahaya, dan dicatitkan baginya 100 hasanah (keabaikan) dan dipadamkan daripadanya 100 saiyi’ah (keburukan).”

Keutamaan tasbih, tahmid dan zikir-zikir lain.

Bersabda Rasulullah s.a.w:

“Barangsiapa membaca subhaanallah selepas setiap sembahyang 33 kali, dan membaca Alhamdulillaah 33 kali dan membaca Allahu Akhbar 33 kali, kemudian mencukupkan bilangan 100 dengan Laailaha Illallaahu Wahdahu Laa Syarikalah, Lahul Mulku Walahul hamdu Wahuwa ‘Alaa Kulli syai’in Qadir diampunkan dosa-dosanya.”

Rasulullah s.a.w bersabda lagi:

“Barangsiapa yang membaca: Subhaanallahi Wa Bihamdhi sehari 100 kali akan dileburkan segala kesalahan-kesalahannya.”

Rasulullah s.a.w bersabda lagi:

“Sebaik-baik pertuturan kepada Allah Ta’ala empat: (1) Subhaanallah, (2) Alhamdulilaah, (3) Laa Ilaha Illallaah, (4) Allaahu Akbar. Tidak ada halangannya untuk memmulakan yang mana satu dari empat itu terlebih dulu.”

Rasulullah s.a.w. bersabda lagi:

“Dua kalimah yang ringan disebutkan oleh lidah, tetapi amat berat dalam timbangan, juga amat dicintai oleh yang Maha Pengasih iaitu: (1) Subhaanallaahi Wa Bihamdihi (2) subhaanallahi ‘Azhiim.”

Rahsia Keutamaan zikir

Sekiranya ada berkata: Mengapa zikir kepada Allah itu, meskipun amat ringan disebutkan oleh lidah dan amat ringan disebutkan oleh lidah dan amat mudah untuk dilakukan, menjadi lebih utama dan lebih berfaedah dari berbagai-bagai ibadat yang lain yang lebih berat dan sukar melakukannya. Ketahuilah bahwa untuk mentahkikkan (menerangkan) perkara ini tidak sempurna, melainkan dengan ilmu mukasyafah (ilmu penyingkapan). Tetapi di dalam ilmu mu’amalah tentang tingkatan zikir kepada Allah s.w.t. bahwasanya zikir yang menginggalkan kesan dan yang berfaedah ialah zikir yang dilakukan dengan tetap dan berterusan dengan hati yang hadir. Adapun bezikir dengan lidah sedangkan hati lalai yang hadir. Adapun berzikir dengan lidah sedangkan hati lalai tidaklah memberikan apa-apa kesan atau faedah, malah ditetapkan bahwasanya kehadiran hati dengan mengingati Allah s.w.t selalu atau pada kebanyakkan waktum ialah lebih dipentingkan dari segala ibadatnya, bahkan dengannya jugalah dapat dijamin terpeliharanya seluruh peribadatan; dan yang dinamakan buah atau hasil dari peribadatan amaliah.

Dan bagi zikir itu ada permulaannya dan ada pula pengakhirannya. Permulaannya menimbulkan kelapangan dalam diri serta kecintaan dan pengakhirannya yakni sesudah dilakukan zikir itu berkali-kali dan menjadi kelazimannya pula, dia tidak akan merasakan ketenangan dan kesenangan diri serta kecintaannya melainkan dengan berzikir. Itulah peringkat yang harus dituntut dalam berzikir.

Keutamaan berdoa.

Allah telah berfirman:

“Apabila hamba-hambaKu bertanya engkau tentang ZatKu, maka (katakanlah) Aku amat hampir, sentiasa memperkenankan permohonan orang yang bermohon ketika bermohon kepadaKu. Oleh kerana itu, hendaklah mereka berkenaan memohon kepadaKu.” (al-Baqarah: 186)

Allah berfirman lagi:

“Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendahkan diri dan suara perlahan-lahan, sesungguhnya Dia (Allah) tiada suka kepada orang-orang yang melanggar batas.” (al-A’raf : 55)

Allah berfirman lagi:

“Dan Tuhan kamu telah berfirman: Mohonlah kepadaKu niscaya Aku memperkenankan permohonan kamu.” (al-Mu’minun: 60)

Berfirman Allah lagi:

Katakanlah: Berdoalah kamu kepada Allah atau berdoalah kepada ar-Rahman (Tuhan Pengasih) dengan nama yang mana pun kamu berdoa, (kerana) bagi Allah nama-nama yang terbaik.” (al-Isra’: 110)

Nabi s.a.w telah bersabda:

“Doa itu intinya segala ibadat.”

Nabi s.a.w bersabda lagi:

“Memohonkan kepada Allah Ta’ala dari kelebihan-kelebihanNya, sesungguhnya Allah Ta’ala suka jika Dia dimohoni, dan sebaik-baik ibadat itu menantikan kelapangan.”

Adab dan tertib berdoa

Dalam berdoa kepada Allah Ta’ala itu ada sepuluh adab iaitu:

(1) Sebaik-baiknya, ia memilih waktu-waktu yang mulia untuk memanjatkan doanya ke hadrat Allah Ta’ala. Misalnya di waktu wukuf di Hari Arafah setahun sekali, atau pada bulan Ramadhan di antara bulan-bulan yang lain. Atau pada hari Jum’at dari hari-hari yang lain dalam masa seminggu dan di waktu tengah malam dalam masa malam hari. Allah telah berfirman:

“Dan pada waktu-waktu tengah malam, mereka memohon keampunan.”

(as-Zariat: 18)

(2) Hendaklah ia mencari ketika dan keadaan yang baik, seperti masa berkecamuknya barisan-barisan hadapan pada sabiullah (peperangan untuk meninggikan syiar Allah), dan pada masa turunnya hujan lebat (di negara yang sukar dituruni hujan) dan pada masa mendirikan sembahyang-sembahyang fardhu dan sesudahnya dan masa-masa di antara azan dan iqamah, dan pada ketika bersujud dalam masa sembahyang. Pendekata dikira mulianya sesuatu waktu itu kembali kepada kemuliaan keadaannya. Misalnya di waktu tengah malam, ketika itu hati sedang dalam keadaan bersih suci dan ikhlas serta terjatuh daripada segala perkara yang meruncingkannya. Begitu juga waktu di Hari Arafah dan pada hari Jum’at, ketika itu seluruh perhatian sedang berkumpul dan hati sedang tolong-menolong pada mencapai kerahmatan yang menyeluruh dari Allah azzawajalla.

(3) Hendaklah menghadapkan mukanya ke arah kiblat ketika memohonkan sesuatu doa, mengangkat tinggi kedua belah tangan sehingga boleh terlihat bahagian ketiak, kemudian selesai berdoa, ia pun menyapu kedua belah tangan itu ke muka.

Berkata Umar Ibnul-Khattab r.a: Seringkali Rasulullah s.a.w ketika mengangkat kedua belah tangannya waktu berdoa tidak meleraikannya melainkan sesudah disapukan dengan kedua belah tangan itu kewajahnya.

Ibnul Abas pula berkata: Biasanya bila Rasulullah s.a.w berdoa dirapatkan kedua belah tapan tangannya dan dijadikan bahagian dalam tapak tangan itu bersetentangan dengan wajahnya. Demikianlah cara-cara tangan itu ketika dalam berdoa dan baginda tidak pula mengangkatkan pemandangannya ke arah langit.

(4) Hendaklah merendahkan suara antara perlahan dan kuat. Siti Aisyah berkata dalam memberikan penerangan tentang maksud ayat berikut:

“Dan janganlah engkau mengangkkat suaramu di dalam sembahyang dan jangan pula merendahkannya sangat.” (al-Isra’ 110)

Kata Siti Aisyah maksudnya ialah ketika membaca doa-doanya: Allah s.w.t telah memuji Nabi Zakaria a.s. dengan firmanNya:

“Ketika ia menyeru Tuhannya dengan seruan perlahan-lahan.”

(Maryam: 3)

Firman Allah Ta’ala lagi:

“Serulah Tuhan kamu dengan merendahkan diri dan suara perlahan-lahan.” (al-A’raf: 55)

(5) Janganlah sampai ia memaksa-maksakan dirinya dalam berdoa dengan bersajak-sajak. Sebaik-baiknya janganlah sampai malampaui doa-doa ma’tsurah (doa-doa yang dihafal dari Rasulullah s.a.w.) sebab dikhuatiri ia akan melampaui batas di dalam doanya, lalu ia meminta apa yang tak patut dimintanya. Perlu diketahui bahwa bukan semua orang pandai menyusun doa terhadap Allah s.w.t.

(6) Hendaklah ia berdoa dengan penuh perasaan rendah diri, penuh kekhusyu’an, penuh harapan dan kecenderungan dan juga penuh ketakutan.

Allah telah berfirman:

“Serulah Tuhan kamu dengan merendah diri dan suara perlahan-lahan.” (al-A’raf: 55)

(7) Hendaklah bersikap tetap d dalam doanya dan meyakini bahwa doanya itu akan di kabulkan oleh Allah s.w.t. serta membenarkan harapannya itu. Dalam hal ini, Rasulullah s.a.w. telah bersabda: Janganlah seseorang kamu berkata ketika berdoa: Ya Allah! Ya Tuhanku! Ampunilah aku jika Engkau menghendaki! Atau berkata: Ya Allah! Ya Tuhanku! Rahmatilah aku jika Engkau menghendaki Malah hendaklah menguatkan keazaman dalam doanya itu, kerana Allah tiada pernah di paksa atas pengabulan doa.

Berkata Rasulullah s.a.w

“Bila seseorang kamu berdoa, hendaklah ia memperbesarkan permohonannya, sebab tiada sesuatu pun yang dianggap besar di hadrat Allah s.w.t.

Bersabda lagi Rasulullah s.a.w.

“Berdoalah kepada Allah sedangkan kamu penuh keyakinan akan dikabulkan permintaan kamu itu dan ketahuilah bahwasanya Allah azzawajalla tidak akan mengabulkan doa orang yang lalai hatinya.”

(8) Hendaklah ia bersungguh-sungguh dan jangan berputus asa dalam doanya. Dan sebaik-baiknya diulang-ulangkan sampai tiga kali, dan jangan sampai merasa terlalu lambat menerima pengabulan.

(9) Hendaklah ia memulakan doanya dengan sebutan nama Allah dan janganlah sekali-kali memulakan dengan permintaan dulu. Sesudah menyebut nama Allah disebut pula salawat atas Nabi s.a.w. dan menutup doanya juga dengan sebutan salawat atas Rasulullah s.a.w juga.

(10) Mengerjakan adab kebatinan dan itulah punca pengabulan dalam semua doa; iaitu bertaubat dan menghentikan segala macam penganiayaan serta menuju kepada Allah azzawajalla dengan sepenuh hati dan perasaan. Yang demikian itu adalah sebab yang paling hampir kepada terkabulnya segala permintaan.

Keutamaan salawat atas nabi (s.a.w)

Allah telah berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya mengucapkan salawat ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, ucapkanlan salawat ke atasnya (Nabi) dan berikanlah salam dengan sempurna-sempurna salam.” (al:Azhab: 56)

Berkata Nabi s.a.w.

“Barangsiapa yang mengucapkan salawat ke atas ummatku, dituliskan baginya sepuluh hasanah (kebaikan). Para sahabat bertanya: Bagaimana boleh kamu mengucapkan salawat ke atasmu. Berkata Rasulullah: Ucapkanlah Ya Allah! Ya Tuhanku! Kurniakanlah salawat (kerahmatan) ke atas hambaMu Muhammad dan ke atas keluarganya dan isteri-isterinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau mengurniakan selawat keatas Muhammad dan isteri-isterinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.”

Diriwatkan bahwasanya Siyidina Umar Ibnul-Khattab r.a, apabila sampai kepadanya berita kewafatan Rasulullah s.a.w., terus meratap seraya berkata: Demi bapaku dan ibuku duhai Rasulullah! Sebenarnya keutamaanmu di sisi Tuhan telah sampai kemuncaknya sehingga dijadikan ketaatan kepadamu sama seperti ketaatan kepada Tuhan, sebagaimana firman Allah azzawajalla:

“Barangsiapa yang mentaati Rasul, maka sebenarnya dia telah mentaati Allah.” (an-Nisa’: 80)

Demi bapaku dan ibuku duhai Rasulullah! Sebenarnya keutamaanmu di sisi Allah telah meningkat sampai Dia (Allah) memberitahukan engkau keampunanNya terhadapmu, sebelum Dia memberitahukanmu tentang dosamu. Allah berfirman:

Allah telah mengampunimu (Muhammad) mengapa engkau izinkan mereka (tinggal) tidak menurut pergi berperang.” (at-Taubah: 43)

Demi bapaku dan ibuku duhai Rasulullah! Sebenarnya keutamaanmu telah memuncak di sisi Allah, sehingga ahli neraka berangan-angan hendak mentaatimu (menurutmu), padahal mereka berada di lapisan-lapisan neraka disiksa mereka berkata (dalam firman):

“Aduhai alangkah baiknya jika kita dulu mentaati Allah dan mentaati RasulNya.” (al-Ahzab: 66)

Demi bapaku dan ibuku duhai Rasulullah! Jika Musa dikurniakan oleh Allah batu yang memancar daripadanya matair-matair, maka adakah yang lebih menakjubkan lagi daripada jari-jemarimu, apabila terpancar daripadanya air, mudah-mudahan Allah merahmatimu.

Demi bapaku dan ibuku duhai Rasulullah! Jika sulaiman dikurnikan oleh Allah angin yang menerbangkannya sebulan perjalanan pergi dan sebulan pula perjalanan kembali, maka adakah yang lain lebih menakjubkan daripada Burak (kenderaan kilat) yang membawamu mendaki hingga langit ketujuh, kemudian kembali semula pada malam yang sama ke Abtah (Makkah) untuk bersembahyang subuh di situ pula moga-moga Allah merahmatimu.

Demi bapaku dan ibuku duhai Rasulullah! Jika Isa bin Maryam dikurniakan oleh Allah kuasa menghidupkan orang mati (dengan izin Allah), maka adakah lain perkara yang lebih menakjubkan lagi daripada kambing yang beracun ketika ia berkata-kata denganmu, padahal ia telah menjadi daging yang sudah dipanggang. Bukankah rusuk kambing itu telah berkata kepadamu: Jangan makan aku kerana aku ini telah disira dengan racun.

Demi bapamu dan ibuku duhai Rasulullah! Meskipun amat pendek umurmu dan amat sedikit masa kepimpinanmu, akan tetapi orang-orang yang menurutimu lebih jauh bandingannya dengan orang yang menuruti Nuh, padahal amat lanjut umurnya dan amat panjang pula masa kepimpinannya. Sebenarnya orang yang mempercayai risalahmu amat banyak sekali, padahal orang yang mempercayai risalahnya amat sedikit pula. Engkau telah mengenakan pakaian bulu, mengenderai keledai dan membiarkan orang lain menunggang di belakangmu pula. Engkau meletakkan makananmu di atas tanah bila memakannya, kemudian engkau menjilat pula jari-jemarimu sesudah makan sebagai tanda rendah diri. Moga-moga Allah mengurniakan ke atasmu salawat dan salam.

Keutamaan istighfar (mohon keampunan)

Berfirman Allah azzawajalla:

“Dan mereka pada ketika melakukan keburukan ataupun menganiyai diri, mereka segera mengingati Allah, maka mereka pun meminta keampunan di atas dosa-dosa mereka.” (ali-Imran: 135)

Berfirman Allah lagi:

“Barangsipa yang melakukan kejahatan ataupun menganiayai dirinya, kemudian ia meminta keampunan kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampunan dan Maha Mengasihani.”

(an-Nisa’: 110)

Allah berfirman:

“Maka bertasbihlah dengan kepujian terhadap Tuhanmu dan mintalah keampunan, sesungguhnya Ia Maha Pengampunan.” (an-Nasr: 3)

Berfirman Allah lagi:

“Dan orang-orang yang memohn keampunan pada waktu tengah malam.”

(ali-Imran 17)

Allah berfirman:

“Mereka itu sedikit sekali tidur di waktu malam, dan pada waktu tengah malam itu mereka meminta keampunan.” (adz-Dzariat: 17-18)

Rasulullah s.a.w. sendiri sering memperbanyakkan sebutan:

“Maha Suci Engkau, ya Allah, ya Tuhanku! Aku memujiMu. Ya Allah, ya Tuhanku! Ampunilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Maha Mengasihani.”

Sabda Rasulullah s.a.w. lagi:

“Barangsiapa memperbanyakkan memohon keampunan, niscaya Allah akan menukarkan segala kesulitannya menjadi kelapangan, dan segala kesempitannya diberikan jalan kelua, dan Dia akan memberinya rezeki tanpa terkira banyaknya”.

Berkata Rasulullah s.a.w.:

“Sesungguhnya aku sentiasa memohon keampunan kepada Allah Ta’ala dan bertaubat kepadaNya dalam sehari sebanyak 70 kali.”

Dalam istighfarnya, baginda Rasulullah sentiasa menyebut:

Ya Allah! Ya Tuhanku! Ampunilah aku terhadap semua dosa yang telah aku lakukan terdahulu dan kemudian yang tersembunyi dan yang terang, dan juga terhadap semua dosa yang Engkau Amat Mengetahui mengenainya. Engkaulah yang terdahulu dan yang terkemudian dan Engkau Berkuasa di atas setiap sesuatu.”

Dari al-Fudhail r.a katanya: Meminta keampunan tanpa berhenti dan membuat dosa adalah taubatnya para pendusta. Dan dari Rabi’ah al-Adawiah pula, katanya: Permohonan keampunan yang kami lakukan memerlukan kepada permohonan keampunan yang lebih banyak.

Adapun tentang wirid-wirid di pagi hari dan petangnya juga sesudah setiap sembahyang dan di waktu tengah malam, kami telah menyediakan bab yang tersendiri mengenainya. Bagi orang yang ingin mempelajarinya sila rujuk bab tersebut.

Tata-tertib tidur.

(1) Bersuci (berwudhu’) dan bersiwak

(2) Menyediakan penyuciannya (untuk wudhu’ atau tayamum) dan siwak, lalu berniat untuk melakukan ibadat di waktu bangun dari tidur nanti.

(3) Orang yang ingin mewasiatkan sesuatu untuk keluarganya jangan sampai tertidur, melainkan sesudah ditulis wasiat itu dan disimpan dibawah kepalanya sebab bukan mustahil ia boleh meninggal dunia di dalam tidur.

(4) Sebelum tidur, hendaklah terlebih dulu ia bertaubat dari segala dosa, bersih hati terhadap sekalian kaum Muslimin, tiada menyimpan dendam terhadap seseorang dan tiada berazam untuk melakukan maksiat kelak bila bangun dari tidur nanti.

(5) Hendaklah jangan terlalu mengambil berat sangat tentang tempat tidurnya supaya ia dari yang empuk dan halus.

(6) Jangan cuba tidur segera, selagi mata belum mengantuk dan jangan cuba memaksa-maksakan mata untuk tidur, kecuali jika bermaksud supaya senang bangun untuk beribadat di tengah malam.

(7) Hendaklah tidur berhadapan dengan kiblat.

(8) Hendaklah membaca doa-doa yang warid ketika hendak tidur. Di antaranya membaca doa-doa yang warid ketika hendak tidur. Di antaranya membaca Surah al-Ikhlas dan mu’ awwidzataini (Surah-surah al-Falaq dan an-Nas) dan sesudah baca, menyemburkan kedua tangan lalu menyapu dengan keduanya pada wajah dan seluruh tubuh. Selanjutnya boleh membaca pula Ayat Kursi dan membaca Subhaanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali juga.

(9) Hendaklah mengingat ketika mahu tidur, bahwa tidur itu adalah semacam mati, manakala bangun daripadanya semacam ba’ats. Dan hendaklah meyakini pula, bahwa manusia itu diwafatkan ats adat kebiasaannya sama ada di dalam hatinya mencintai Allah dan cinta untuk kembali kepadaNya ataupun bersarang di dalam hatinya kecintaannya dunia, dan kelak ia akan dibangkitkan seperti ketika diwafatkan.

(10) Berdoa ketika bangun dari tidur. Hendaklah ia dimulakan dengan:

“Segala kepujian bagi Allah yang telah menghidupkan kami sesudah mematikan kami da kepadaNyalah kami akan dikembalikan”

Kemudian membaca ayat terakhir dari Surah al-Imran iaitu ayat 190 hingga akhir ata 200, sebanuak sepuluh ayat kesemuanya.

190 Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah menjadi keterangan bagi orang-orang yang mengerti.

191 Iaitu orang-orang yang mengingati Tuhan ketika berdiri duduk dan berbaring serta memikirkan tentang kejadian petala langit dan bumi sambil berkata: Duhai Tuhan kami! Tiadalah Engkau menjadikan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau peliharalah kami dari siksa api neraka.

192 Duhai Tuhan kami, Sesiapa yang engkau masukkan ke dalam api neraka itu, sebenarnya Engkau telah menghinakannya. Dan tiadalah orang-orang yang zalim itu mempunyai penolong.

193 Duhai Tuhan kami! Sesungguhnya kami telah mendegar penyeru yang mengajak untuk beriman. Berimanlah dengan Tuhanmu! Maka kami segera beriman. Duhai Tuhan kami ampunlah dosa-dosa kami dan tebuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkankanlah kami bersama-sama orang–orang yang baik.

194 Duhai Tuhan kami kurniakanlah kami-kami apa-apa yang kau janjikan kami menerusi para Rasul Engkau, dan janganlah engkau tidak akan memungkiri janji.

195 Maka tuhan telah memperkenalkan permohonan mereka bahawa aku (Tuhan) tidak akan mengsia-siakan amalan sesaorang yang beramal diantara kamu dari kaum lelaki mahupun perempuan, setengah kamu kepad setengah yang lain. Sebab itu orang yang berpindah negeri atau orang-orang yang diusir dari rumah-rumah mereka dan mereka dianiaya pada jalan Aku, mereka yang berjuang mati-matain dan terbunuh, niscaya Aku akan menebus mereka dari segala keburukan-keburukan mereka. dan akan aku masukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai sebagai pahala dan balasan dari Allah dan pada Allah ada sebaik-baik pahala.

196 Janganlah engkau sampai terpengaruh tentang perubahan sikap orang-orang yang kafir dalam beberapa negeri.

197 Kesenangan yang sebentar (yang mereka rasakan), kemudian nanti akan disediakan bagi mereka tempat tinggal di Neraka Jahanam dan itulah tempat tinggal yang amat buruk.

198 Akan tetapi orang-orang yang patuh kepada Tuhannya akan memperoleh syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di situ. Mereka mendapat sambutan yang baik di sisi Allah, dan apa yang ada pada sisi Allah itu adalah baik bagi orang-orang yang baik.

199 Dan sesungguhnyaa orang-orang yang ahli kitab (Nasrani dan Yahudi) itu ada di antara mereka yang berimana kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kamu dan apa yang diturunkan kepada mereka, mereka tunduk kepada Tuhan, tiada menukarkan keterangan-keterangan Allah dengan harga yang murah. Mereka itu memperoleh pahala dari Tuhan mereka. Sesungguhnya Allah itu cepat perhitungannya.

200 Wahai orang-orang yang beriman bersabalah kamu serta anjurkanlah sabar kepada orang lain dan perteguhkanlah serta patuhlah kepada Allah, moga-moga kamu sekalian menjadi orang-orang yang beruntung.

Kemudian membaca pula subhaanallaah 10 kali, Alhamdulillaah 10 kali, Allahu Akbar 10 kali dan Laa Illaaha Illallaah 10 kali.

Berkata Siti Aisyah r.a.: Biasanya Rasulullah s.a.w. ketika bangun di tengah malam, baginda memulakan sembahyangnya dengan bacaan:

“Ya Allah! Ya Tuhanku! Tuhannya Jibril dan Mikail dan Israfil, Tuhan Pencipta petala langit dan bumi, Maha Mengetahui segala yang ghaib dan yang terang. Engkaulah yang memutuskan antara hamba-hambaMu tentang apa yang mereka perselisihkan. Oleh itu berikanlah aku petunjuk yang benar dari mana-mana yang di peselisihkan itu dengan izzinMu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.”

Kemudian baginda memulakan sembahyangnya dengan dua rakaat yang ringan dan sesudah itu barulah baginda bersembahyang terus dua rakaat, dua rakaat menurut kemahuannnya dan di akhiri dengan sembahyang witir kiranya baginda belum bersembahyang witir pada awal mala.

Dalam sembahyang tersebut kadang-kadang baginda membaca dengan suara tinggi dan kadang-kadang membaca perlahan-lahan saja. Kebanyakan riwayat yang sahih mengatakan sembahyang baginda di tengah malam itu ialah sebanyak 13 rakaat.

Wirid untuk orang beribadat semata-mata

Ketahuilah bahwa wirid-wirid dan zikir-zikir yang warid dan ibadat-ibadat yang ddibuat pada waktu malam dan siang itu, adalah sunnat yang dituntut bagi orang yang tidak mempunyai kerja lain selain beribadat. Orang itu kiranya bukan kerjanya beribadat dia tiada mempunyai kerja lain dan menganggur manakala semua waktunya terbuang sia-sia saja.

Adapun orang alim yang boleh memberikan manfaat kepada orang ramai dengan ilmunya seperti memberikan fatwa agama atau mengajar atau mengarang buku-buku, maka susunan wirid-wiridnya adalah berlainan dengan susunan wirid seorang abid atau orang yang kerjanya beribadat sepanjang masa. Orang alim itu memerlukan banyak masa lain untuk bermutalaah buku-buku dan memerlukan masa juga untuk mengarang buk-buku yang berfaedah. Kerja-kerja semacam ini tentulah memakan masa yang banyak. Oleh itu kalau semua masanya habis dalam kerja-kerja serupa itu, maka yang demikian itu aadlah lebih utama sesudah dikerjakan semua sembahyang-sembahyang yang fardhu dan sunnat-sunnatnya. Perkara ini telah saya sebutkan di dalam Kitab Ilmu Pengetahuan, mengenai keutamaan pelajaran dan pengajaran kerana dengan ilmu sajalah seseorang itu dapat mengamalkan zikir kepada Allah dengan sunguh-sunguh. Cubalah perhatikan apa yang difirmankan oleh Allah atau yang disabdakan oleh Rasulullah niscaya kita akan mendapati berbagai faedah dan manfaat bagi manusia yang boleh membimbingnya ke jalan akhirat.

Betapa tidak terkadang-kadang satu masalah saja yang dipelajari oleh seseorang pelajar boleh memberi manfaat untuk beribadat seumur hidupnya. Andaikata tiada dipelajari, tentulah segala amalannya itu akan menjadi sia-sia dan tidak berguna.

Adapun orang awam dan para penuntut maka hadirnya mereka di dalam majlis-majlis ilmu pengetahuan dan muhadharah-muhadharah agama adalah lebih utama daripada kerja berwirid semata-mata. Begitu juga dengan pekerja-pekerja yang memerlukan sara hidup untuk anak isteri maka tidak wajarlah baginya untuk menghabiskan semua masa kerana beribadat dan berwirid saja. Bahkan wiridnya dalam waktu bekerja itu ialah menghadirkan diri untuk bekerja di pasar-pasar ataupun mencari sara hiddup yang wajib, tetapi dalam pada itu janganlah sampai ia melupakan tuhan dan melupakan zikir kepadaNya di waktu pekerjaan dan mencari sara hidup itu.

Keutamaan bangun di tengah malam.

Bangun di tengah malam untuk beribadat memanglah menjadi perkara yang paling utama sekali. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan ini ialah ayat-ayat al-Quran berikut:

“Mereka meninggalkan tempat tidur kerana berdoa kepada Tuhan dengan perasaan penuh ketakutan dan penuh harapan, dan mereka membelanjakan dari rezeki yang Kami (Allah) kurniakan kepada mereka.” (as-Sajdah: 16)

Allah berfirman:

“Adakah orang yang merendahkan diri (kerana beribadat) selama beberapa masa di waktu malam.” (az-Zumar: 9)

Allah berfirman lagi:

“Dan mereka yang berbakti di waktu malam dalam keadaan bersujud dan berdiri.”

(al-Furqan: 64)

Berfirman Allah:

“Mereka itu sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan mereka memohonkan keampunan di sepanjang malamnya. Dalam harta benda mereka, ada ditentukan hak yang tertentu bagi orang yang meminta dan orang susah.”

(adz-Dzariat: 17-19)

Adapun Hadis-Hadis yang ada hubungannya dengan perkara yang dibicarakan ini ialah:

“Dua rakaat yang dilakukan oleh seseorang hamba di tengah malam, adalah lebih utama daripada dunia dan seisinya.”

“Sesungguhnya ada suatu masa di waktu malam, yang jika ditemui oleh seorang hamba Muslim, lalu dia meminta sesuatu yang baik kepada Allah Ta’ala, niscaya Allah akan mengurniakan kebaikan itu kepadanya.”

Akhir seklai Rasulullah s.a.w pernah bersabda:

“Beribadatlah kamu di waktu malam, kerana ia adalah perilaku para salihin sebelum kamu.”

Sebab yang memudahkan beribadat di tengah malam.

Di antara sebab-sebab yang boleh menggalakkan seseorang untuk beribadat di tengah malam ialah:

(1) Jangan mengenyangkan sangat perutnya, sehingga ia tidak banyak minum pula. Kerana yang demikian itu akan menyebabkan ia terlalu mengantuk dan akan menjadi beratlah baginya untuk bangun beribadat di tengah malam.

(2) Hendaklah ia melazimkan tidur sebentar di siang hari, kerana yang demikian itu dapat menolong ia bangun di tengah malam.

(3) Hendaklah ia memahamkan dirinya tentang keutamaan beribadat di tengah malam dengan mempelajari ayat-ayat al-Quran dan Hadis-hadi yang menerangkan peri keutamaannya, sehingga keazaman menjadi kuat dan kecenderungan untuk mendapatkan pahalanya tersemat di dalam hati. Di waktu itu tentulah keinginan bangun di tengah malam akan berlonjak-lonjak untuk menuntut kelebihan pahala dan untuk mencapai tingkatan-tingkatan syurga yang tinggi.

(4) Beribadat di tengah malam itu adalah suatu pertanda yang mulia, kerana ia menunjukkan kecintaan hati terhadap Allah dan membuktikan betapa kukuh keimanannya. Sebab kerjanya di waktu malam itu tiada lain melainkan semata-mata kerana bermunajat kepada Tuhan, sedangkan Allah menyaksikan segala gerak-lakunya dan menyingkap segala isi hatinya. Dan ketahuilah, bahwa segala gerak-laku hati di waktu itu adalah datangnya dari Allah Ta’ala, seolah-olah Allah sedang berkata-kata dengannya. Andaikata ia tergolong orang yang dikasihi Allah Ta’ala, tentulah dia akan berminat untuk berkhalwat ditengah malam dengan Tuhannya, dan ia akan merasa amal lazat bermunajat, manakala kelazatan bermunajat itu akan menyebabkan ia semakin cenderung dan kuat untuk bangun beribadat di tengah malam.

Kenikmatan bermunajat dengan hukum akal dan naqal.

Tiada syak laagi orang yang bermunajat itu merasakan sepenuh kelazatan dan kenikmatan dalam munajat-munajatnya, kerana yang demikian itu dapat dibuktikan dengan hukum-hukum akal dan naqal.

Adapun dengan hukum akal dapat diumpamakan seorang yang mencintai seorang lain kerana kecantikannya, ataupun terhadap seorang raja kerana kemurahan hatinya dan kerana banyak harta yang dibelanjakannya. Dalam kedua-dua misal tadi, dapat dibayangkan betapa orang yang tercinta itu merasa nikmat bila dapat bertemu dan berkhalwat dengan orang yang dikasihinya dan tidak mustahil juga, dia akan merasa redha untuk bercumbu-cumbuan dengannya sepanjang malam, tanpa tidur oleh kerana terlalu mendalam cintanya terhadap orang itu.

Andaikata ada orang berkata: Memang benar itu, tetapi jika orang yang cantik atau kekasihnya itu dapat dilihat dengan mata secara berhadapan-hadapan, bagaimana pula dengan Zat Allah yang tidak boleh dilihat itu?

Ketahuilah, bahwasanya jika kekasihnya itu memang benar-benar dicintai, tidak mengapa walaupun ia berada di balik tabir. Ataupun jika ia berada di tempay yang gelap-gelita. Namun orang yang mencintainya itu tetap merasakan kenikmatan dengan semata-ata berada dekat dengannya, meskipun tanpa dapat melihat kekasihnya itu. Manakala hatinya akan merasa puasa dengan yang demikian itu dan tiada mengharapkan selain dari itu. Memadalah merasa kenikmatan dengan melahirkan cintanya itu terhadap kekasihnya dan cukuplah menyebut-nyebutkan dengan lidah ketika berdekatan dengannya sehingga perkara itu menjadi termaklum.

Andaikata orang itu berkata lagi: Mungkin orang yang bercinta itu menunggu jawaban kekasihnya, dan tentu seklai dia akan merasa senang bila mendengar jawabannya itu, sedangkan orang yang mencintai Allah, tidak mungkin mendengar percakapan (firman) Allah Ta’ala?

Ketahuilah, kiranya ia mengetahui bahwa kekasihnya itu (Allah) tidak akan memberi jawaban dan akan terus berdiam diri, tentulah ia masih merasa nikmat juga dengan mendedahkan segala hal-ehwalnya serta membukakan segala rahsia hatinya kepada Allah yang dikasihiNya itu. Betapa tidak! Kerana orang yang hatinya penuh kayakinan terhadap Allah Ta’ala akan merasa sesuatu perasaan tindak balas di dalam sanubarinya di waktu bermunajat kepada Allah, maka tentulah ia akan merasa nikmat itu.

Contohnya yang semisal ialah orang yang berkhalwat dengn raja di waktu malam seraya mendedahkan segala hajat dan keperluannya kepada raja itu, tentulah ia akan merasa gembira kerana dapat berdua-duaan bersamanya, dengan berharap pula akan mendapat pengurniaan daripada raja itu.

Ini adalah satu harapan kepada seorang raja akan memberinya pengurniaan secara terbatas saja. Apatah lagi jika harapan itu ditujukan kepada Allah Ta’ala tentulah tiada terbatas sama sekali, kerana apa yang diberikan oleh Allah itu lebih kekal dan lebih banyak manfaatnya daripada yang diberikan oleh manusia. Jadi bagaimana boleh dikatakan seseorang itu tidak akan merasa nikmat dengan mendedahkan segala keperluannya kepada Allah di dalam khalwat dan munajatnya?

Adapun menurut hukum naqal, maka halnya dapat disaksikan oleh orang-orang yang bangun di tengah malam itu sendiri, betapa mereka merasa nikmatnya beribadat di waktu itu. Betapa pula mereka merasakan malam yang panjang itu menjadi pendek, laksana seorang yang bercinta bertemu dengan kekasihnya di tengah malam, sehingga setengah mereja berkata kepada kekasihnya setangahnya: Bagaimana anda dengan malam anda? Dijawabnya: Tak pernah dapat aku meraikannya sama sekali. Ia menunjukkan mukanya sekejap lalu pergi semula, sehingga tak sempat aku hendak memerhatikannya sama sekali.

Berkata Ali bin Bakkar: Selama 40 tahun tak pernah ada sesuatu yang menyedihkan aku selain daripada terbitnya fajar.

Berkata al-Fudhail bin Iyadh: Setiap kali matahari terbenam aku merasa gembira dengan tibanya kegelapan malam, kerana ketika itu ake dapat berkhalwat dengan Tuhanku. Kemudian apabila matahari itu terbit semula, berdukacitalah aku kerana aku terpaksa berhadapan dengan orang ramai.

Berkata Abu Sulaiman: Orang-orang yang beribadat di tengah malam lebih menikmati dengan waktu malamnya daripada orang yang bersukaria dengan alat- alat yang memerdukan jiwa. Dan kalaulah tidak kerana adanya malam, niscaya aku tiada ingin hidup di dunia ini.

Yang lain pula berkata: Tiada sesuatu barang di dunia ini yang dapat menyerupai kenikmatan ahli syurga, kecuali apa yang dirasakan oleh orang yang menggantungkan hatinya dengan waktu malam, disebabkan kelazatan bermunajat kepada Allah.

Yang lain lagi berkata: Kelazatan bermunajat itu bukanlah berasal dari duni, tetapi ia berasal dari syurga yang dirasakan Allah kepada para walinya, dan tiada seorang pun selain mereka yang dapat merasakan keindahan bermunajat itu.

Berkata Ibnul Munkadir pula: Tiada lagi yang tinggal dari kelazatan dunia melainkan tiga saja: (1) Bangun kerana beribadat di tengah malam, (2) Bertemu dengan sahabat, dan (3) Bersembahyang dengan berjemaah.

Ada yang bertanya pula, dan aku menggunakan kesempatan dengan fajarnya bila ia terbit dan kini aku masih belum penuh gembira dengannya sama sekali.*

_________________________

* Untuk menguatkan perbahasan yang dibicarakan oleh pengarang dalam pelajaran-pelajarannya untuk umum kamu suka menyebutkan apa yang dikutip oleh pengarang dalam karangannya yang lain dari Ibnul Qaiyim ad-Dimasyqi dalam kitab “Ighatsatul-Lahfaan” bunyinya: Berkata Ibnul Qaiyim: Hakikat manusia itu adalah hatinya dan rohnya dan tiada sempurna bagi manusia itu melainkan sengan mentauhidkan Tuhannya, beribadat kepadaNya, takut kepada sisksaNya serta berharap penuh kepada rahmatNya. Itulah kemuncak kelazatan manusia. Kebahagiaannya dan kenikmatannya, kerana tiada sesuatu benda pun di dalam alam ini selain Allah azzawajalla, yang mana hati akan merasa tenang dan tenteram kepadaNya manakala diri akan merasa senang dan nikmat bila menuju kepadaNya. Hakikat iman dengan Allah itu sendiri serta kecintaan, peribadatan, kebesaran dan berzikir kepada Allah itu adalah makanan jiwa bagi manusia. Disitulah terletaknya kekuatan, kebaikan dan ketulusan hati, sebagaimana yang telah ditunjuk oleh Hadis dan al-Quran serta disaksikan oleh fitrah manusia sendiri. Bukan seperti yang didakwakan oleh orang yang kurang penelitannya, bahwasanya beribadat dan berzikir itu adalah suatu perintah yang berat untuk tujuan menduga manusia, ataupun untuk tujuan memberi pahala, ataupun kerana mendidik jiwa dan membiasakannya, agar ia dapat meningkat daripada darjat kebinatangan. Oleh itu dikatakan, bahwa beribadat kepada Allah, mengenal dan mentauhidkan ZatNya serta mensyukuriNya diumpamakan sebagai cahaya mata manusia dan sebaik-baik nikmat yang boleh dirasakan oleh roh dan seluruh anggota. Bukanlah maksud dari ibadat dan perintah itu untuk menyusahkan dan memberatkan, sebagaimana yang diambil dari maksud pertama tadi, walaupun sebenarnya dalam menjalankan terdapat semacam keberatan, tetapi itu sudah menjadi semacam kelaziman. Oleh kerana itu maka segala perintah Allah s.w.t. dan kewajiban-kewaiban yang dibebankan ke atas hamba-hambaNya, dan juga syariat-syariatNya yang ditentukan ke atas mereka itu adalah sebagai cahaya mata dan kelazatan hati serta kenikmatan roh dan kegembiraannya. Padanya terselit kebahagian dan kemenangan serta kesempurnaan manusia dalam urusan dunia dan akhiratnya. Malah tiada kebahagiaan dan tiada kenikmatan yang hakiki, melainkan dengan semua itu sebagaimana Allah telah berfirman:

“Wahai sekalian manusia, sesunguhnya telah datang kepada kamu nasihat daripada Tuhan kamu serta penawar bagi hati yang di dalam dada, juga petunjuk dan rahmat bagi orang-orang Mu’minin. Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmatNya hendaklah dengan itu mereka bergembira. Hal itu adalah lebih baik dari (harta) yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 57-58)

Berkata Abu Said al-Khudri: Yang dimaksudkan dengan kurnia Allah itu ialah al-Quran dan rahmatNya, bahwa Dia (Allah) telah menjdikan kamu dari ahli al-Quran. Demikianlah kebanyakan pendapat para ulama yang lain, kesemuanya telah menafikan bahwa perintah-perintah Allah, kewajiban-kewajiban serta syariat-syariatNya sebagai bebanan ke atas manusia, sebab Allah Ta’ala telah berfirman:

“Allah tiada membebankan ke atas diri manusia, melainkan sekadat keampunannya.”

(al-Baqarah: 286)

Firman Allah ini telah membuktikan penafian bebanan ke atas manusia dan Allah tiada menamakan perintah-perintah wasiat-wasiat dan syariat-syariatNya, sebagai bebanan, malah dinamakannya sebagai rohani, nurani, penawar dan ubat, petunjuk, rahmat, kehidupan, perjanjian wasiat dan sebagainya dalam firman-firmanNya.

Pembahagian Waktu Malam

Menghidupkan malam, yakni memenuhkan waktu-waktunya dengan amalan-amalan ibadat ada tujuh peringkatnya:

(1) Menghidupkan sepanjang waktu malam. Yang dapat memenuhinya ialah orang-orang yang kuat keazamannya yang benar-benar telah menetapkan dirinya untuk beribadat kepada Allah azzawajalla. Kerjanya itu menjadi semacam makanan bagi jiwa dan kehidupan bagi hati. Sebab itu mereka tidak merasa letih atau lelah untuk beribadat di sepanjang malam, manakala tidurnya ditukarkan pada waktu siang pula. Dikatakan ada sebanyak 40 tabi’in terkenal dengan amalannya dalam cara ini.

(2) Bangun untuk beribadat separuh dari malam.

(3) Bangun untuk beribadat dalam sepertiga masa dari separuh malam yang terakhir.

(4) Bangun untuk beribadat dalam seperenam malam yang terakhir atau seperlimanya.

(5) Tidak menurut cara-cara yang telah lalu, dia tidur kemudian bangun malam pada masa-masa yang tidak tetap waktunya.

(6) Bangun malam setakat cukup untuk melakukan sembahyang empat rakaat ataupun dua rakaat saja.

(7) Kiranya memang sukar baginya untuk bangun malam, maka hendaklah jangan sampai terlalai terus, sehingga masuk waktu subuh, ia masih di atas tempat tidur juga. Tetapi sekurang-kurangnya, hendaklah ia bangun ketika masuk waktu subuh atau waktu orang bersahur.

Adapun bangun di waktu malam yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. maka caranya tidaklah tetap dalam tertib yang sama, tetapi ada kalanya baginda separuh malam dan adakalanya sepertiga malam dan ada kala dua pertiga malam dan ada juga seperenam malam saja, dan hal itu berbeda antara satu sama yang lain. Perkata ini dipandukan kepada ayat al-Quran dalam dua tempat, iaitu:

“Sesungguhnya Tuhanmu Mengetahui bahwa engkau bangun (mengerjakan sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, ada pula separuhnya dan sepertiganya.” (al-Muzammil: 20)

Perkataan kurang dari dua pertiga malam dalam ayat di atas itu, seolah-olah maksudnya ialah: Separuhnya dan separuh dari seperenamnya. Jika kalimat wanisghfahuu watsulutsihii, maka maksudnya ialah: Separuh dari dua pertiga dan sepertiga dari dua pertiga, jadi hampir mendekati sepertiga dan seperempat. Jika kalimat di atas itu diberikan baris fathah (atas) maka maksudnya ialah: Separuh malam dan sepertiganya.

Berkata Siti Aisyah r.a.: Rasulullah s.a.w. bangun dari tidur apabila baginda mendengar kokokan ayam, dan ini maknanya seperenam malam atau kurang sedikit daripadanya.