Followers

Wednesday, October 29, 2008

*Temukan Sumber Awet Muda - Manfaat dari Menjaga Lidah dengan Zikrullah*


Fenton, Michigan-Amerika Serikat
Mawlana Syaikh Muhammad Hisham Kabbani ( Suhaba Hari Sabtu Tanggal 13 September 2008)

*SubhanAllah, idzaa zulzilat al-ardhu zilzaalahaa* dan apa yang ada di
dalam bumi dikeluarkan.

Di Indonesia, mereka sedang mencari minyak bumi. Mereka membor 300
meter ke bawah tanah hingga membentur lapisan bumi berisi lumpur
mendidih. Dan selama 2 tahun sampai hari ini, tempat itu memuntahkan
lumpur panas yang menggenangi desa-desa. Sudah 2 tahun tidak berhenti.
Lima ratus ribu dolar Amerika kerugiannya dalam sehari.

Jadi, saat Allah SWT berfirman, "*wa akhrajatil ardhu atsqaalahaa* ,"
lumpur naik ke atas dan menenggelamkan semua desa.

Ketika kami bersama Mawlana Syaikh di Jepang, kami bertemu seorang
laki-laki. Dia punya kartu nama. Dikartu namanya itu tertulis *laa
ilaaha illa-Allah Muhammadan Rasulullah* dan "Bacalah ini, Anda akan
masuk surga". Dia berkata, "Inilah tugas saya." Siapapun yang
membacanya, maka mendapatkannya.

Jadi, buatlah kupon rumah makan – memberikan diskon 10% pada semua
orang yang punya kupon itu. Beritahukan kepada mereka untuk membacanya
(*Laa ilaaha illa Allah*) kemudian berilah diskon.

*A'udzu billah min ash-shaytan ir-rajiim
Bismillahir- Rahmanir- Rahim

Nawaytu'l-arba` in, nawaytu'l-`itikaaf, nawaytu'l-khalwah,
nawaytu'l-riyaada, nawaytu's-suluk, nawaytu'l-`uzlah lillahi ta`ala
fii hadza'l-masjid
*
Itu artinya, jika hati secara istiqamah terus menerus dalam keadaan
zikrullah dan tidak ada apapun yang dapat mengalihkan perhatiannya,
sehingga hatimu selalu terjaga dengan zikrullah, *abwab ul-ma`rifah* ,
pintu ma`rifah mulai terbuka dan begitu juga 6 Haqiqat kepada kalian.
Sebagaimana yang sudah kami jelaskan pada pertemuan sebelumnya.
Konsistenlah dalam cinta kepada Allah SWT dan Sayyidina Muhammad SAW.
Jadi, orang-orang mungkin bertanya apakah definisi dari cinta. Karena
ada mereka yang tidak mau menerima definisi cinta kecuali yang
didefinisikan budaya barat.

Apakah cinta itu? Cinta sangatlah sederhana. Yakni, mencintai segala
sesuatu bagi Akhirat karena Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan membenci
segala sesuatu yang diperuntukkan bagi dunya, demi kepentingan Allah
SWT dan Rasul-Nya. Artinya, jika kalian mencintai anak kalian, maka
kalian harus mencintainya karena Allah SWT. Jika mencintai istri
kalian, maka cintailah karena Allah SWT. Jika mencintai sesuatu yang
kalian miliki, maka cintailah karena Allah SWT, cinta itu harus ada di
Jalan Allah SWT.

Jadi, jika hati selalu berada dijalur yang lurus maka Allah SWT
membukakan keenam haqiqat ke hati kalian.

Jadi, sepanjang waktu kami menjelaskan. Namun yang kita butuhkan
adalah praktek. Seperti dokter. Tanpa melakukan 3 tahun latihan, para
dokter tidak akan didatangi satu pasienpun. Jika kita tidak melatih
apa yang kita pelajari, maka saya rasa kita hanya membuang-buang
waktu.

Namun* alhamdulillah* kita dapat melihat apa yang orang-orang praktekkan
meski pada basis yang minimal. Mereka mempraktekkan dengan
menyeberangi lautan (untuk datang kesini) karena cinta yang dibukakan
kepada mereka. Apakah dari cinta kepada dunya? Sehingga mereka datang
untuk mendengar dan belajar, mengendarai mobil selama berjam-jam,
untuk apa semua itu? Untuk sebuah sebab yang sejati. Jika didalam hati
mereka tidak ada cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW serta
Syaikh kita, mengapa mereka datang mengemudikan kendaraannya
bermil-mil ke...

Ini menunjukkan bahwa kita berada dijalur yang benar. Kita harus tetap
berada dijalur ini kemudian Allah SWT akan membukakan ma`rifah kepada
kalian. Saat ma`rifah dibuka, maka *`ilm* datang.

ÝóæóÌóÏóÇ ÚóÈúÏðÇ ãøöäú ÚöÈóÇÏöäóÇ ÂÊóíúäóÇåõ ÑóÍúãóÉð ãöäú ÚöäÏöäóÇ
æóÚóáøóãúäóÇåõ ãöä áøóÏõäøóÇ ÚöáúãðÇ

*Fa wajadaa 'abdam min 'ibaadinaa aatainaahu rahmatan min 'indinaa wa
'allamnaahu mil ladunnaa 'ilmaa* - Lalu mereka bertemu dengan seorang
hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya
rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari
sisi Kami. [Al Kahfi (18):65]

Mengapa Dia mengajarkan pengetahuan surgawi-Nya? Karena beliau
menemukan sumber awet muda. Mengapa Dia mengajari Sayyidina Khidr?
Karena Sayyidina Khidr mencari dan mencari sumber tersebut. Apakah
kita punya sebuah sumber untuk diri kita? Ya, kita punya sebuah
sumber. Namun kita belajar dari sumber itu dari waktu ke waktu. Tapi
tidak terus menerus.

Kita punya sumber, Allah Maha Kuasa akan menjadikan hatimu sebuah
sumber. *Qalb al-mu'min bayt ar-rabb*- hati orang beriman adalah Rumah
Tuhan. Rumah Allah tidak akan menjadi kosong, tapi akan menjadi penuh.

Jadi, ingatlah Allah (zikrullah) sebagaimana Rasulullah SAW ucapkan,
"Jagalah lidahmu dengan zikrullah. *Ija`l lisanak ratban bi zikrullah*".
Jadi, zikrullah adalah satu-satunya yang akan membawa kalian ke sumber
sejati yang akan menempatkan pengetahuan ke dalam hatimu.

Ma`rifah dalam bahasa Arab artinya "untuk mengetahui sesuatu, *'Ilm
*yang lebih tinggi. Ma`rifah lebih tinggi. Ketika tahu sesuatu, maka
kalian mulai menyelidiki dan kemudian Allah SWT akan mengirimkan *'ilm
*pada kalian.

Begini, banyak orang di basement rumahnya… [adzan berkumandang] Allahu
Akbar. Banyak orang mempunyai sistem alarm di basement, jika ada
banjir maka alarm akan berbunyi memberikan peringatan. Atau kalau ada
kebakaran, alarm akan segera berbunyi. Api, api, api. Banjir, banjir,
banjir. Kita harus menaruh sebuah alarm di hati kita. Yang akan
memberi peringatan jika kita tidak berada dijalur yang benar.

Hati-hati kalau alarm berbunyi, artinya setan ada disana. Apakah alarm
tersebut? Itulah zikrullah. Ketika kita melakukan zikir dengan
dizaharkan atau disuarakan, maka segera alarm akan datang. Suara-suara
tidak setuju bermunculan, kemudian dengan segera hatimu mengingatkan untuk
ber-zikrullah. Lalu terserah kalian apakah akan membuka pintu bagi
pengacau atau tidak.

Jangan berusaha mencari-cari alasan, "Oh aku sudah melakukan ini atau
aku sudah melakukan itu dan aku tidak tahu apa-apa." Semua orang tahu
berdasarkan pada pikirannya mana yang baik dan tidak baik. Jangan
berkata, "Aku tidak tahu." Kalian tahu, *fa alhamaha fujuuraha*. Tapi
ucapkan, "Aku memang melakukannya, semoga Allah mengampuniku! "

Jadi ma`rifah lebih tinggi - itu akan membawa kalian lebih tinggi.
Bersungguh-sungguhl ah dan Allah SWT akan mengajari kalian. Apalagi hal
yang lebih baik yang kalian inginkan? Apakah ingin seseorang mengajari
kalian? Jika Allah SWT berfirman, "Bersungguh- sungguhlah dan Aku akan
mengajarimu, " kalian harusnya sangat senang. Kalian akan menemukan
guru seperti itu.

Ketika kalian memuat iklan dikoran dan ingin mendapat seseorang
bergelar Ph.D, maka kalian akan memilih yang terbaik bukan?

Jadi, Allah SWT berfirman, "Aku akan mengajarimu. Tapi kau harus
bersungguh-sungguh. "

Ada lubang-lubang peluru yang harus kita bersihkan dalam pikiran kita.

Allah SWT adalah Maha Guru. Ketika Allah SWT mengutus Sayyidina Khidr
untuk memperlihatkan kepada Sayyidina Musa beberapa pengalaman yang
dilakukannya kepada orang-orang, kemudian malah Sayyidina Musa tidak
sanggup bersabar … "*innaka lan tastati` maya sabra*". Itu untuk seorang
nabi.

Tapi di zaman Ummat Sayyidina Muhammad SAW, kitalah ummmatan marhuma -
Allah memberkahi ummat Muhammad dengan rahmat. Allah SWT berfirman,
"Aku akan menjadi gurumu. Bersungguh-sungguhl ah dan Aku akan
mengajarimu. "

Apa yang akan Allah SWT ajarkan? Allah SWT akan mengajarkan sesuatu
yang tidak seorang pun bisa ajarkan. Dia tidak akan duduk seperti itu
dan mengajar kalian. *Laa tadrikahu al-absaar -* ada suatu cara untuk
dapat melihat Dia. Namun Allah SWT akan memberi inspirasi kepada
kalian, mengirimkan inspirasi ke hati kalian dan menjadikannya seperti
sebuah sumber; kalian mampu bicara dan bicara dan bicara dan orang
mendengarkan serta mengambil hikmah dari kalian.

Grandsyaikh Maulana Syaikh Abdullah Daghestani, semoga Allah merahmati
jiwa beliau, tidak pernah membuka sebuah buku. Beliau tidak belajar.
Tapi dari hari ketika beliau dilahirkan oleh ibunya, mata hati beliau
terbuka. Grandsyaikh tidak membutuhkan seorang pun untuk mengajarinya,
beliau mengambil dari Sayyidina Muhammad SAW. Kalian akan terkejut
saat beliau masih hidup, para ulama datang untuk mendengarkan
ceramah-ceramah yang disampaikannnya. Dalam majelis Grandsyaikh ada
100, 50, 70 orang ulama datang untuk mendengarkan.

Para ulama tersebut dari ulama Syari'ah dan ulama yang mempelajari
Islam. Saat Grandsyaikh bicara memberikan ajaran-ajaran, mereka
menemukan jawaban atas pertanyaan mereka. Salah satu dari mereka
adalah pamanku; dia adalah pimpinan seluruh ulama diwilayah tersebut.

Satu waktu, kami membawa paman menghadap Grandsyaikh setelah berbagai
upaya. Paman selalu menolak, karena dia merasa dirinya ulama. Paman
berkata, "Aku tahu lebih banyak dari semua orang, mengapa aku harus
mengunjunginya? " Itulah kesombongan. Jadi sebagai seorang ulama dan
mereka biasa memanggil pamanku dengan sebutan 'allama, yang artinya
"orang yang mengetahui banyak hal dari setiap pengetahuan. " Segala
sesuatu yang kalian tanyakan, pasti dia tahu.

Dua tahun yang lalu, saya sedang di Lebanon. Dan saya bertemu dengan
salah satu imam tertinggi, Mitron Khidr, dia sangat terkenal. Dia
kenal pamanku dan ketika saya menyebutkan nama pamanku dia berkata,
"Aku akan menceritakan sesuatu kepada anda." Ada istri Perdana Menteri
dan seluruh komunitas elit. Dan saua memberitahunya sebuah cerita
mengenai pamanku yang terjadi kepadaku.

Apakah kalian senang mendengar cerita?

Saya masih muda waktu itu dan akan menghadapi ujian akhir sejarah.
Saat itu saya masih SMA. Hari terakhir adalah ujian sejarah. Pelajaran
itu sangat susah dan bukunya banyak sekali. Saya menghampiri paman dan
dia bertanya, "Ada apa?" Saya menjawab, "Saya akan menghadapi ujian
akhir dan banyak buku yang harus dibaca." Kemudian pamanku berkata,
"Biarkan aku melakukan sholat* istikharah* dan lihatlah jenis pertanyaan
apa saja yang akan dikeluarkan untuk ujian."

Ada ribuan pertanyaan yang mungkin dipakai untuk ujian, bukan hanya
satu. Paman membuka sebuah buku, dia punya sebuah buku tapi bukan buku
sihir. Itu merupakan salah satu buku terkenal di perpustakaan Islam.
Paman punya satu salinannya yang umurnya sudah sangat tua, sebuah
manuskrip. Paman berkata, "Aku akan melakukan sholat* istikharah* dan
hasilnya akan aku beritahukan padamu." Aku berpikir, "Apa maksud
paman?!"

Paman membuka buku itu. Dia tidak tahu sejarah apa yang akan diujikan
esok hari dan dia memberitahuku -setelah dia membuka dan membaca
buku-, "Ujian yang besok akan kau hadapi adalah sebuah pertanyaan
mengenai Sulaiman al-Qanuni [yang Terindah] seorang kaisar dari
dinasti Utsmani dan penguji akan menanyakan kepadamu mengenai sejarah
hidupnya."

Saya percaya pada paman. Kemudian saya pergi dan mempelajari soal itu
sebaik-baiknya dan kami pun pergi ke kelas. Dan saya memberitahu
seorang teman, yang lain memberitahu yang lain dan desas-desus ini
menyebar ke seluruh kelas. Sampai pula ke telinga guru. Dan pada ujian
sejarah adalah 15 halaman mengenai Sulaiman al-Qanuni. Jadi, mereka
menyangka bahwa aku telah mencuri soal ujian dari tempat penyimpanan.
Pak Guru menuduh dan saya menjawab, "Tidak! Ini ceritaku."

Guru itu adalah seorang mahasiswa PhD yang sedang menulis thesisnya.
Saya berkata, "Tidak, pamanku yang mengatakannya. Saya tidak tahu
kalau Anda memberi soal ujian mengenai Sulaiman al-Qanuni." Jadi, dia
pun berkata, "Baiklah, aku akan menulis pertanyaan dikertas-kertas
kecil, dilipat dan dibungkus. Lalu dimasukkan ke dalam kendi. Semuanya
ambil satu kertas dan jawablah pertanyaan yang tertera didalamnya."

Jadi, dia membuat satu per satu pertanyaan, ada 200 pertanyaan. Dia
punya 60-70 orang murid sehingga dia membuat banyak ekstra kertas.
Kemudian tiba giliranku dan saya mengambil satu kertas. Kertas itu
berisi sebuah pertanyaan mengenai Sulaiman al-Qanuni.

Guru itu tidak punya pilihan lain kecuali membiarkan aku menjawab
pertanyaan yang ada. Jadi, aku mendapat nilai A+.

Setelah ujian, dia menyuruhku, "Jangan pulang dulu setelah kelas
selesai." Saya menunggu dan beliaupun menghampiriku seraya bertanya,
"Aku ini mahasiswa PhD dan sebentar lagi akan menghadapi ujian.
Dapatkah pamanmu memberitahuku jawaban ujian?"

Lalu guruku itu pergi bersamaku ke tempat paman. Dan pamanku sangat
ahli dalam bahasa Arab dan dia menyukai ini.

Paman melakukan *istikharah. * Dan paman memberikan 3 buah pertanyaan yang
dia perlukan untuk lulus dari ujian. Setelah saya selesai bercerita,
Mitron (sang uskup) memberitahuku sebuah cerita tentang pamanku.
Katanya:

Suatu kali aku pergi dan kami mendiskusikan sebuah kata dalam bahasa
Arab. Kata yang tidak pernah terpikir oleh seorang pun. Kata ini
sangat dalam maknanya tata bahasa Arab. Bagaimana mereka menggunakan
kata itu digunakan antar suku dizaman sebelum Rasulullah SAW diutus.
Jadi, aku memberikan pamanmu jawabannya, dia juga memberikan jawaban.
Dan aku tahu bahwa jawabannya benar dan jawabanku mungkin hanya
setengahnya yang benar. Akhirnya, dia marah padaku. Dia berkata,
"Dengar, tidak ada lagi argumentasi! " Pamanku punya sebuah
perpustakaan seperti masjid ini dan semua temboknya dijejali
buku-buku. Dan paman duduk dilantai perpustakaan -tidak pernah disofa-
ditemani secangkir teh didepannya.

Dia berkata, "Uskup besar, masuklah. Aku tidak bisa berdiri. Pergi dan
hitunglah 25 buah lemari buku yang ada dan pergilah ke lemari buku
ke-25. Disana ada 6, 7 lapis buku dan ambillah yang ke-15, halaman
552, dan baris 27. Kau akan melihat apa yang aku beritahukan padamu.
Sang uskup besar pergi dan menemukannya.

Jadi, hal itu terlintas dipikiran. Bagaimana paman mengingat buku itu
yang ada dilemari yang mana, lapisan ke berapa, halaman dan baris ke
berapa?

Jadi, uskup mengambil buku dan menemukan halaman dan baris yang
dimaksud. Dibuku itu tertera, apa yang sebelumnya paman katakan.

Kami membicarakan mengenai *`ilm*. Kalian tidak butuh seorang guru.
Allah SWT memberimu sesuatu yang tidak Dia berikan kepada yang lain.
Itulah mengapa dalam hadist Rasulullah SAW, "Hamba-Ku terus berusaha
mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan ibadah* nawafil,* sehingga
Aku pun mencintainya. Apabila ia telah Aku cintai, Aku menjadi
pendengarannya yang dengan Aku ia mendengar, (Aku menjadi)
penglihatannya yang dengan Aku ia melihat, (Aku menjadi) tangannya
yang dengan Aku ia keras memukul, dan (Aku menjadi) kakinya yang
dengan Aku ia berjalan. Jika ia memohon kepadaku-Ku, sungguh, akan Aku
beri dia, dan jika ia memohon perlindungan- Ku, Aku benar-benar akan
melindunginya. [1]

Jadi, kami mendorong paman agar menemui Grandsyaikh. Dan akhirnya
paman setuju. Kami menyetir selama 3 jam dari Beirut ke Damaskus.
Paman tidak senang pergi bepergian, paman tidak pernah meninggalkan
bantal alas duduknya. Paman selalu ada dilantai dengan buku-buku dan
tehnya.

Pada umur 5 tahun, paman sudah menghafal seluruh Kitab Suci al Qur'an
di Mesir. Pada umur 7 tahun, paman duduk didalam ban truk dan meluncur
dari bukit. Mereka datang dan bertanya fatwa kepada paman. Paman
berkata, "Biasanya aku sedang duduk/meluncur dalam ban."

Jadi paman pergi bersama kami, dia tidak berkata apa-apa dan hanya
menggumam. Sampai kami tiba -dan kami tidak memberitahu paman bahwa
ada lereng yang harus didaki- dan paman pun menggumam sepanjang jalan.
Dan Grandsyaikh sedang menunggu didepan pintu meskipun kami tidak
memberitahu beliau akan berkunjung dan membawa paman. Dan kami semua
berjumlah 5 orang. Grandsyaikh memeluk paman dan berkata, "Masuklah." Dan
kemudian Grandsyaikh membuka sebuah sohbet dan bicara selama 3 jam.
Ketika paman datang bersama kami, paman menggumam. Ketika kami
menyetir, paman menggumam. Saat berjalan, paman menggumam. Namun
ketika Grandsyaikh mulai bicara, paman berhenti menggumam. Paman
terkesima. Ketika Grandsyaikh selesai bicara, paman mendatangi dan
mencium tangan Mawlana. Seorang ulama seperti itu, memeluk dan mencium
tangan seorang syaikh -itu sangat berarti.

Kemudian Grandsyaikh menawarkan makanan dan berkata, "Kau tidak bisa
pergi." Paman makan dan kemudian saat kami hendak pulang, paman
mencium kaki dan tangan Grandsyaikh. Untuk ulama saat ini, mencium
kaki adalah masalah besar, mereka sebut itu bid'ah. Begitu juga untuk
pamanku, mencium kaki itu adalah masalah yang sangat besar.

Jadi, paman berkata dalam perjalanan kembali ke Beirut, "Aku sudah
membaca ribuan buku." Dan hati paman bagaikan sebuah mesin fotokopi,
apapun yang paman baca, paman mengingatnya.

Paman melanjutkan, "Ada 7 buah pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh
ulama Muslim dimasa lalu. Aku menaruh pertanyaan ini dipikiranku bahwa
itulah yang akan aku tanyakan kepada beliau dan untuk memojokkan
beliau agar memperlihatkan bahwa aku lebih tahu darinya."

"Dan saat aku datang, beliau mulai bicara dan tidak memberikan aku
kesempatan untuk bertanya. Dan beliau membawa jawaban atas ketujuh
pertanyaan dalam pembicaraannya dan memberikan jawaban untuk
pertanyaan itu seakan-akan tidak ada artinya bagi beliau." Paman
meneruskan, "Pada tiap kata yang beliau sampaikan kepadaku, aku dapat
menulis sebuah buku. Aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti
beliau."

Ketika Allah SWT hendak memberikan 'ilm, ma'rifah, Dia memberi. Hal
itu tidak datang dengan belajar. Kalian memperoleh sesuatu namun
terbatas. Namun kalian harus belajar, sebagaimana perintah pertama
dalam Qur'an yaitu "Iqra!" Dan Rasulullah SAW pernah berkata,
"Timbalah ilmu hingga ke negeri Cina." Hal ini mempunyai 2 makna.
Timbalah ilmu dimanapun kau bisa menemukan ilmu. Dan makna lainnya
adalah: carilah ilmu dan teruslah mencari; bahkan bila perjalanan yang
ditempuh begitu jauh, janganlah lelah. Carilah cinta Allah SWT,
carilah cinta Rasulullah SAW. Carilah cinta Awliyaullah. Jangan
berkata, "Ini terlalu banyak. Aku tidak bisa menampungnya. Terlalu
banyak masalah. Terlalu banyak kesulitan."

Tentu saja ada banyak kesulitan. Kalian hidup di kehidupan yang penuh
dengan kesulitan.

Apakah Sayyidina 'Isa tidak berada dalam kesulitan? Apakah Sayyidina
Musa tidak berada dalam kesulitan? Apakah Sayyidina Muhammad SAW tidak
berada dalam kesulitan? Ya, Rasulullah SAW bersabda, "Akulah Nabi yang
paling disiksa oleh sukunya sendiri."

Ya, ada rintangan-rintangan . Dan rintangan ini berbuah pahala. Apakah
Allah SWT menghukum Sayyidina Muhammad SAW dengan kesulitan-kesulitan
itu, atau justru Allah SWT mengangkat beliau? Jadi Allah SWT memberi
dan mengajari Awliyaullah. Jagalah hati kalian dengan zikrullah,
apakah yang pertama-tama akan kalian peroleh? Pengetahuan tentang
sesuatu. Ketika kalian tahu pengetahuan, maka pengetahuan akan
mengarahkan kalian untuk memahami kebesaran pencipta kalian lalu kita
akan tiba di tingikat ketiga yaitu, *Maqam at-Tauhid*. Pemahaman sejati
mengenai Ke-Esa-an Allah SWT. Kemudian ketika kalian mengucapkan* laa
ilaaha illa-Allah* maka *insya-Allah* diterima namun kita memohon kepada
Allah SWT untuk mengubah dari yang imitasi ke yang asli.

Ketika Awliyaullah mengucap *laa ilaaha illa-Allah*, mereka berada di
Hadirat ilahiah; itulah arah mereka. Menyaksikan bahwa tidak ada Rasul
penghabisan kecuali Sayyidina Muhammad SAW. Menurut kalian jika kalian
mengucapkannya dengan hati yang tulus, apakah Allah SWT tidak akan
melimpahkan pengetahuan ke hati kita, apakah Sayyidina Muhammad SAW
tidak akan melimpahkan pengetahuan ke hati kita; apakah *syuyukh* tidak
akan melimpahkan pengetahuan ke hati kita?

Pada saat itu, kita akan memahami makna ketulusan: Surat al-Ikhlash.
Itu artinya kalian tulus terhadap Tuan kalian yang Maha Esa, Dia tidak
membutuhkan siapa pun dan Dia bergantung pada segala sesuatu dan Dia
tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan kemudian kalian paham
*maqam at-tauhid*. Lalu kalian tahu bahwa kalian bergantung kepada Allah
SWT. Itulah Maqam *at-Tawwakul* , bergantung. "*Tawakaltu `ala-Allah* -
Engkau-lah yang membantuku, ya Allah! Aku pasrahkan segalanya
kepada-Mu!"

Jadi, hal itu membawa kalian dari *Maqam al-`Ilm* ke *Maqam al-Ma`rifah*
ke *Maqam at-Tauhid* dan kemudian ke *Maqam at-Tawakul* dan kemudian ke
maqam kelima yaitu, *Maqam `Iraad `Amman Siwa* - meninggalkan segalanya
kecuali Allah. Alihkan wajah kalian dari segala sesuatu kecuali Allah
SWT dan Rasulullah SAW.

Semoga Allah SWT membimbing dan mengarahkan kita.

Itulah mengapa Allah SWT berfirman, "*Dawam al-dzikri sababan li dawam
al-khair fii ad-dunya wal-akhira*. "

Itulah yang Rasulullah SAW berikan kepada seorang sahabat saat dia
berkata kepada Rasulullah, "*katsurat 'alaya syari'a al-islam* –
aturan-aturan Islam jadi terlalu banyak bagiku, berikan aku sesuatu
yang dapat aku lakukan…"

Rasulullah SAW menjawab sahabat itu, "Jagalah lidahmu dengan mengingat
Allah."

Zikrullah menyelamatkan dan membawa kita kepada zikr an-Nabi (SAW). *Wa
min Allah at-Taufiq, bi hurmatil habib al-Fatiha*.

Semua hujan ini berasal dari badai itu. Apa yang akan mereka lakukan
saat terjadi *zilzala *(gempa bumi)? Allah SWT dapat mengirimkan apa
saja, kapan saja. Kita mohon kepada Allah SWT agar melindungi kita
semua. Amin

Al Fatihah

PENJELASAN TENTANG BUKU AMALAN HARIAN

Diambil dari Naqshbandi Book of Devotion (www.Naqshbandi. net)

Bismillahir rahmaanir rahiim

Allahumma shalli 'alaa Muhammadin wa 'alaa aali Muhammadin wa sallim

Surat al-Faatihah

Grandsyaikh Abdullah Fa'iz ad-Daghesani berkata, "Bila seseorang membaca al-Faatihah, dia tidak akan meninggalkan dunia ini tanpa memperoleh Kenikmatan Ilahiah yang tersembunyi di balik arti surat al-Faatihah yang membuatnya bisa mencapai keadaan pasrah kepada Allah . Berkah yang Allah berikan bersama surat al-Faatihah sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad tidak akan berhenti, dan akan berlangsung selamanya, dengan orang yang membaca surat al-Faatihah. Hanya Allah dan Rasulullah yang mengetahui banyaknya berkah yang terdapat dalam surat al-Faatihah. Siapa pun yang membaca surat ini dengan niat untuk mendapatkan tajjali-nya, dia akan mendapat stasiun yang tinggi dan peringkat yang baik. Sedangkan bagi yang membacanya tanpa niat seperti itu, dia hanya mendapat Kenikmatan Ilahiah yang umum. Surat ini memiliki maqamat (stasiun) yang tidak terhitung dan tidak terbatas dalam pandangan Allah , Yang Maha Perkasa dan Mahaagung.

Ayat Amana-r-Rasul (Qs 2:285-286)

Siapa pun yang membaca ayat ini, akan mendapat peringkat yang tinggi dan stasiun yang baik. Dia akan mendapat Keselamatan dari al-Aman (Yang Maha Memberi Keamanan), dalam kehidupan di dunia dan kehidupan akhirat. Dia akan memasuki Lingkaran Keamanan dalam Kehadirat Ilahi Yang Maha Tinggi dan Maha Perkasa, dan dia akan mencapai semua stasiun dalam Thariqat Naqshbandi yang mulia. Dia akan menjadi pewaris Rashasia Rasulullah dan para Awliya dan akan sampai stasiun Bayazid al-Bistami , Imam thariqat, yang berkata, "Aku adalah Kebenaran (al-Haqq)" Ini merupakan tajjali (manifestasi) yang luar biasa yang dimiliki oleh ayat ini, dan juga ayat-ayat yang lain. Grandsyaikh Khalid al-Baghdadi , salah satu Imam thariqat ini, menerima Panorama Spiritual dan Rahasia dari ayat ini, yang dengannya Allah membuat beliau seorang yang istimewa di masanya.

Surat al-Insyirah (Qs 94)

Pada setiap huruf dan masing-masing ayat terdapat tajjali yang berbeda dengan ayat-ayat pada surat lainnya. Siapa pun yang membaca sebuah ayat atau satu huruf al-Qur'an, dia akan mendapat Kasih Ilahiah yang khusus dan bersifat khas terhadap ayat atau huruf tersebut.

Jika seseorang membaca surat ini, dia akan menerima Kasih Ilahiah, tajjali dan kebaikan. Siapa pun yang mengharapkan kebaikan tersebut, dia harus menjaga awrad ini setiap hari bersama dengan kewajiban lainnya. Barulah dia akan mendapat Kehidupan yang Sejati dan Kehidupan yang Abadi.

Stasiun dan Kasih Ilahiah yang terus-menerus ini adalah satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan, jadi satu kekurangan dalam awrad secara otomatis akan mengurangi banyaknya Kasih Ilahiah yang akan diterima. Sebagai contoh, jika kita ingin mencuci tangan, kita bisa menunggu di depan keran sampai air keluar. Tetapi jika pipanya tidak tersambung dengan baik, sehingga air tidak sampai ke keran, berapa pun lamanya kita menunggu, air tidak akan pernah keluar. Jadi kita harus menjaga jangan sampai terjadi kekurangan dalam dzikir kita sampai kita mendapat semua tajjali dan Kasih Ilahiah.

Surat al-Ikhlash (Qs 112)

Siapa pun yang membacakan surat ini dengan sungguh-sungguh akan mendapat tajjali dari dua Nama Allah , al-Ahad (Yang Maha Esa) dan as-Shamad (Yang Maha Dibutuhkan). Siapa pun yang membacanya akan mendapat sebagian dari tajjali tersebut.

Surat al-Falaq (Qs 113) dan an-Naas (Qs 114)

Realitas dari Rahasia dan Kesempurnaan yang menyeluruh (kamal) dari Kebesaran Nama-Nama Allah dihubungkan dengan kedua surat ini. Karena keduanya menjadi surat penutup al-Qur'an, keduanya terhubung dengan seluruh tajjali dan Kasih Ilahiah. Melalui awrad ini, para guru thariqat Naqshbandi menjadi Samudra Pengetahuan dan seorang yang ahli. Grandsyaikh Abdullah Fa'iz ad-Daghestani berkata, "Kalian sekarang telah mencapai awalnya, di mana setiap ayat, huruf dan surat dalam al-Qur'an mempunyai tajjali-nya masing-masing, yang tidak bertumpang tindih satu sama lain." Untuk itu Rasulullah bersabda, "Aku telah meninggalkan tiga hal untuk ummatku, kematian yang akan membuat mereka takut, mimpi yang benar yang akan membawa berita gembira bagi mereka, dan al-Qur'an yang akan menjadi pedoman bagi mereka." Melalui al-Qur'an Allah akan membuka pintu Kasih Ilahiah pada saat-saat terakhir, sebagaimana ketika al-Qur'an diturunkan pada
masa

Rasulullah dan para sahabat, pada masa kalifah dan di masa para Awliya.

Awrad / Dzikir Harian

Awrad untuk tiga tingkatan murid ini harus dilakukan sekali dalam 24 jam bersama dengan kewajiban lainnya sesuai dengan syari'ah Rasulullah . Semua yang dibawa oleh beliau dapat ditemukan dalam awrad ini. Ini adalah cara bagi para hamba untuk mencapai kunci kedekatan dengan Allah . Dengan awrad tersebut para Rasul, Anbiya dan Awliya mencapai Sang Penciptanya dan melalui awrad ini pula kita dapat mencapai seluruh stasiun dalam thariqat Naqshbandi yang mulia.

Para guru thariqat Naqshbandi mengatakan bahwa siapa pun yang menganggap dirinya tergabung dalam salah satu dari 40 thariqat atau menjadi pengikut thariqat Naqshbandi yang mulia tetapi tidak pernah melakukan khalwat walaupun sekali seumur hidup, maka seharusnya orang itu malu untuk berhubungan dengan murid-murid yang lain.

Grandsyaikh Syaikh 'Abdullah Fa'iz ad-Daghestani berkata, "Siapa pun yang hidup di akhir zaman dan berharap untuk mendapat posisi yang tinggi dan terhormat serta ingin mendapat apa yang didapatkan oleh orang yang berkhalwat dan melakukan latihan-latihan spiritual (dzikir), maka dia harus mengerjakan awrad ini. Dengan awrad ini, berarti kita telah meletakkan pondasi untuk stasiun yang lebih tinggi yang akan dibangun di atasnya. Seorang murid harus menyadari bahwa jika dia gagal mencapai posisi yang tinggi dan terhormat di dunia ini karena kurang berusaha, maka seharusnya dia tidak terpisah dari dunia ini, tetapi Syaikh membuat dia dapat mencapainya dan mendapatkan stasiunnya baik selama dia hidup atau pada saat 7 nafas terakhir menjelang kematiannya. "

"Jika seorang melakukan awrad (dzikir) ini tetapi kemudian melakukan tindakan yang tidak pantas, berarti dia bagaikan membangun rumah di tepi karang yang terjal, kemudian rumahnya itu jatuh sehingga hancur berantakan. Jadi kita harus selalu waspada dan awas terhadap segala tindakan kita, menimbangnya dengan cermat apakah tindakan tersebut halal atau haram, atau apakah Allah akan marah terhadap tindakan tersebut atau tidak. Kita juga harus mengetahui bahwa segala hal yang haram akan melemahkan pondasi kita. Oleh karena itu kita harus berpikir sebelum melakukan sesuatu. Rasulullah bersabda, "Satu jam berpikir (kontemplasi) lebih baik dari 70 tahun beribadah." Kita harus bisa melakukan segala aktivitas kita dengan cara yang benar, tanpa ada intervensi dari sesuatu yang diharamkan."

"Dalam kehidupan ini, Allah telah membagi hari ke dalam 3 bagian, 8 jam untuk beribadah, 8 jam untuk bekerja, dan 8 jam untuk tidur. Seseorang yang tidak menerima dan mengikuti pembagian energi ini akan menjadi contoh yang tepat bagi hadits yang berbunyi, 'Barang siapa yang kehidupannya kacau, dia juga akan mengalami kekacauan di neraka.' Siapa yang hanya mengikuti kemauannya tidak akan mencapai kemajuan dan siapa yang ingin mencapai stasiun yang tinggi dan terhormat sebagaimana yang berusaha didapatkan oleh generasi sebelumnya dengan berkhalwat, maka dia harus mengingat Allah setiap saat."

Grandsyaikh melanjutkan, "Mereka yang membaca awrad secara rutin akan mendapat air dari Kehidupan yang Sejati, yang dengan air itu dia akan melakukan pembersihan diri. Dia akan mandi di dalamnya dan akan meminumnya, dengan jalan itu dia akan mencapai tujuannya. Ada orang yang mengaku telah mengikuti thariqat selama 30 tahun, tetapi dia belum bisa melihat sesuatu dan tidak mendapat sesuatu yang istimewa. Jawaban bagi orang itu adalah melihat kembali ke belakang, berapa banyak kekurangan yang telah dilakukannya?

Pada saat kalian mengetahui kekurangan tersebut, segeralah hindari hal tersebut, dengan demikian kalian akan mencapai Allah . Ketika murid meninggalkan tugas harian (wazifa) yang diperintahkan oleh Syaikhnya, maka dia akan terhambat dalam mencapai kemajuan dan dia tidak akan mampu mencapai satu stasiun apa pun yang telah dicapai sebelumnya. Tidak ada Nabi yang mencapai kenabiannya atau tidak seorang pun Wali yang mencapai kewaliannya, dan tidak ada seorang Mukmin yang mencapai tahapan keimanan tanpa menggunakan waktunya untuk melakukan dzikir harian."

Wa min Allah at taufiq

Penjelasan Buku Amalan Haria

Diambil dari Naqshbandi Book of Devotion (www.Naqshbandi. net)

Bismillahir rahmaanir rahiim

Allahumma shalli 'alaa Muhammadin wa 'alaa aali Muhammadin wa sallim

Surat al-Faatihah

Grandsyaikh Abdullah Fa'iz ad-Daghesani berkata, "Bila seseorang membaca al-Faatihah, dia tidak akan meninggalkan dunia ini tanpa memperoleh Kenikmatan Ilahiah yang tersembunyi di balik arti surat al-Faatihah yang membuatnya bisa mencapai keadaan pasrah kepada Allah . Berkah yang Allah berikan bersama surat al-Faatihah sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad tidak akan berhenti, dan akan berlangsung selamanya, dengan orang yang membaca surat al-Faatihah. Hanya Allah dan Rasulullah yang mengetahui banyaknya berkah yang terdapat dalam surat al-Faatihah. Siapa pun yang membaca surat ini dengan niat untuk mendapatkan tajjali-nya, dia akan mendapat stasiun yang tinggi dan peringkat yang baik. Sedangkan bagi yang membacanya tanpa niat seperti itu, dia hanya mendapat Kenikmatan Ilahiah yang umum. Surat ini memiliki maqamat (stasiun) yang tidak terhitung dan tidak terbatas dalam pandangan Allah , Yang Maha Perkasa dan Mahaagung.

Ayat Amana-r-Rasul (Qs 2:285-286)

Siapa pun yang membaca ayat ini, akan mendapat peringkat yang tinggi dan stasiun yang baik. Dia akan mendapat Keselamatan dari al-Aman (Yang Maha Memberi Keamanan), dalam kehidupan di dunia dan kehidupan akhirat. Dia akan memasuki Lingkaran Keamanan dalam Kehadirat Ilahi Yang Maha Tinggi dan Maha Perkasa, dan dia akan mencapai semua stasiun dalam Thariqat Naqshbandi yang mulia. Dia akan menjadi pewaris Rashasia Rasulullah dan para Awliya dan akan sampai stasiun Bayazid al-Bistami , Imam thariqat, yang berkata, "Aku adalah Kebenaran (al-Haqq)" Ini merupakan tajjali (manifestasi) yang luar biasa yang dimiliki oleh ayat ini, dan juga ayat-ayat yang lain. Grandsyaikh Khalid al-Baghdadi , salah satu Imam thariqat ini, menerima Panorama Spiritual dan Rahasia dari ayat ini, yang dengannya Allah membuat beliau seorang yang istimewa di masanya.

Surat al-Insyirah (Qs 94)

Pada setiap huruf dan masing-masing ayat terdapat tajjali yang berbeda dengan ayat-ayat pada surat lainnya. Siapa pun yang membaca sebuah ayat atau satu huruf al-Qur'an, dia akan mendapat Kasih Ilahiah yang khusus dan bersifat khas terhadap ayat atau huruf tersebut.

Jika seseorang membaca surat ini, dia akan menerima Kasih Ilahiah, tajjali dan kebaikan. Siapa pun yang mengharapkan kebaikan tersebut, dia harus menjaga awrad ini setiap hari bersama dengan kewajiban lainnya. Barulah dia akan mendapat Kehidupan yang Sejati dan Kehidupan yang Abadi.

Stasiun dan Kasih Ilahiah yang terus-menerus ini adalah satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan, jadi satu kekurangan dalam awrad secara otomatis akan mengurangi banyaknya Kasih Ilahiah yang akan diterima. Sebagai contoh, jika kita ingin mencuci tangan, kita bisa menunggu di depan keran sampai air keluar. Tetapi jika pipanya tidak tersambung dengan baik, sehingga air tidak sampai ke keran, berapa pun lamanya kita menunggu, air tidak akan pernah keluar. Jadi kita harus menjaga jangan sampai terjadi kekurangan dalam dzikir kita sampai kita mendapat semua tajjali dan Kasih Ilahiah.

Surat al-Ikhlash (Qs 112)

Siapa pun yang membacakan surat ini dengan sungguh-sungguh akan mendapat tajjali dari dua Nama Allah , al-Ahad (Yang Maha Esa) dan as-Shamad (Yang Maha Dibutuhkan). Siapa pun yang membacanya akan mendapat sebagian dari tajjali tersebut.

Surat al-Falaq (Qs 113) dan an-Naas (Qs 114)

Realitas dari Rahasia dan Kesempurnaan yang menyeluruh (kamal) dari Kebesaran Nama-Nama Allah dihubungkan dengan kedua surat ini. Karena keduanya menjadi surat penutup al-Qur'an, keduanya terhubung dengan seluruh tajjali dan Kasih Ilahiah. Melalui awrad ini, para guru thariqat Naqshbandi menjadi Samudra Pengetahuan dan seorang yang ahli. Grandsyaikh Abdullah Fa'iz ad-Daghestani berkata, "Kalian sekarang telah mencapai awalnya, di mana setiap ayat, huruf dan surat dalam al-Qur'an mempunyai tajjali-nya masing-masing, yang tidak bertumpang tindih satu sama lain." Untuk itu Rasulullah bersabda, "Aku telah meninggalkan tiga hal untuk ummatku, kematian yang akan membuat mereka takut, mimpi yang benar yang akan membawa berita gembira bagi mereka, dan al-Qur'an yang akan menjadi pedoman bagi mereka." Melalui al-Qur'an Allah akan membuka pintu Kasih Ilahiah pada saat-saat terakhir, sebagaimana ketika al-Qur'an diturunkan pada
masa

Rasulullah dan para sahabat, pada masa kalifah dan di masa para Awliya.

Awrad / Dzikir Harian

Awrad untuk tiga tingkatan murid ini harus dilakukan sekali dalam 24 jam bersama dengan kewajiban lainnya sesuai dengan syari'ah Rasulullah . Semua yang dibawa oleh beliau dapat ditemukan dalam awrad ini. Ini adalah cara bagi para hamba untuk mencapai kunci kedekatan dengan Allah . Dengan awrad tersebut para Rasul, Anbiya dan Awliya mencapai Sang Penciptanya dan melalui awrad ini pula kita dapat mencapai seluruh stasiun dalam thariqat Naqshbandi yang mulia.

Para guru thariqat Naqshbandi mengatakan bahwa siapa pun yang menganggap dirinya tergabung dalam salah satu dari 40 thariqat atau menjadi pengikut thariqat Naqshbandi yang mulia tetapi tidak pernah melakukan khalwat walaupun sekali seumur hidup, maka seharusnya orang itu malu untuk berhubungan dengan murid-murid yang lain.

Grandsyaikh Syaikh 'Abdullah Fa'iz ad-Daghestani berkata, "Siapa pun yang hidup di akhir zaman dan berharap untuk mendapat posisi yang tinggi dan terhormat serta ingin mendapat apa yang didapatkan oleh orang yang berkhalwat dan melakukan latihan-latihan spiritual (dzikir), maka dia harus mengerjakan awrad ini. Dengan awrad ini, berarti kita telah meletakkan pondasi untuk stasiun yang lebih tinggi yang akan dibangun di atasnya. Seorang murid harus menyadari bahwa jika dia gagal mencapai posisi yang tinggi dan terhormat di dunia ini karena kurang berusaha, maka seharusnya dia tidak terpisah dari dunia ini, tetapi Syaikh membuat dia dapat mencapainya dan mendapatkan stasiunnya baik selama dia hidup atau pada saat 7 nafas terakhir menjelang kematiannya. "

"Jika seorang melakukan awrad (dzikir) ini tetapi kemudian melakukan tindakan yang tidak pantas, berarti dia bagaikan membangun rumah di tepi karang yang terjal, kemudian rumahnya itu jatuh sehingga hancur berantakan. Jadi kita harus selalu waspada dan awas terhadap segala tindakan kita, menimbangnya dengan cermat apakah tindakan tersebut halal atau haram, atau apakah Allah akan marah terhadap tindakan tersebut atau tidak. Kita juga harus mengetahui bahwa segala hal yang haram akan melemahkan pondasi kita. Oleh karena itu kita harus berpikir sebelum melakukan sesuatu. Rasulullah bersabda, "Satu jam berpikir (kontemplasi) lebih baik dari 70 tahun beribadah." Kita harus bisa melakukan segala aktivitas kita dengan cara yang benar, tanpa ada intervensi dari sesuatu yang diharamkan."

"Dalam kehidupan ini, Allah telah membagi hari ke dalam 3 bagian, 8 jam untuk beribadah, 8 jam untuk bekerja, dan 8 jam untuk tidur. Seseorang yang tidak menerima dan mengikuti pembagian energi ini akan menjadi contoh yang tepat bagi hadits yang berbunyi, 'Barang siapa yang kehidupannya kacau, dia juga akan mengalami kekacauan di neraka.' Siapa yang hanya mengikuti kemauannya tidak akan mencapai kemajuan dan siapa yang ingin mencapai stasiun yang tinggi dan terhormat sebagaimana yang berusaha didapatkan oleh generasi sebelumnya dengan berkhalwat, maka dia harus mengingat Allah setiap saat."

Grandsyaikh melanjutkan, "Mereka yang membaca awrad secara rutin akan mendapat air dari Kehidupan yang Sejati, yang dengan air itu dia akan melakukan pembersihan diri. Dia akan mandi di dalamnya dan akan meminumnya, dengan jalan itu dia akan mencapai tujuannya. Ada orang yang mengaku telah mengikuti thariqat selama 30 tahun, tetapi dia belum bisa melihat sesuatu dan tidak mendapat sesuatu yang istimewa. Jawaban bagi orang itu adalah melihat kembali ke belakang, berapa banyak kekurangan yang telah dilakukannya?

Pada saat kalian mengetahui kekurangan tersebut, segeralah hindari hal tersebut, dengan demikian kalian akan mencapai Allah . Ketika murid meninggalkan tugas harian (wazifa) yang diperintahkan oleh Syaikhnya, maka dia akan terhambat dalam mencapai kemajuan dan dia tidak akan mampu mencapai satu stasiun apa pun yang telah dicapai sebelumnya. Tidak ada Nabi yang mencapai kenabiannya atau tidak seorang pun Wali yang mencapai kewaliannya, dan tidak ada seorang Mukmin yang mencapai tahapan keimanan tanpa menggunakan waktunya untuk melakukan dzikir harian."

Wa min Allah at taufiq

The Miracle of Sayidina Syaikh Naqshbandi

Mawlana, Imam al Tariqat wa Hujat Allahi Shaykh al-Akbar

Miracles of Shah Naqshband

Audhu billahi min ash-Shaytan ir-rajeem. Bismillah ir-rahman ir-raheem. Dastoor ya sayyidi madad. Nawaytul arba`een, nawaytul ‘itikaf, nawaytul khalwa, nawaytul `uzla, nawatul riyaada, nawaytus suluk, fee hadhal masjid lillahi ta`ala al-`adheem.

By Mawlana Shaykh Hisham Al-Kabbani

I will now narrate one of the stories of Sayyidina Shah Naqshband {q}, who is the imam of the Naqshbandi Sufi Order and a great `alim[57] in his time.

  • He was a rare scholar of `ilm ash-shari’ah[58], and in `ilm al-Haqiqat[59].

  • He was known as dhu-janahayn, possessor of two wings, keeping two sorts of knowledge: one he shares with all, and one he keeps for his followers.

  • He was also known as Sultan al-`Arifeen, King of the Gnostics.

Sayyidina Shaykh Sharafuddin relates the hadith inda dhikr as-sulaha tanzal ar-rahma. It means, whenever the awliya[60] are mentioned the mercy of Allah descends on that group, because they are mentioning His saints. Where that mercy descends is one of the secrets revealed by Sayyidina Grandshaykh Sharafuddin and Grandshaykh AbdAllah al-Faiz during their seclusions, when they received secrets from their shaykhs and from the Prophet .

Grandshaykh Sharafuddin ad-Daghestani said, “When the stories of the saints and details of their lives are mentioned, the sins of the listeners will be shattered away as the shattering of glass.”

Being a great scholar in his time, he mentioned that Ibn Hajar al-Haytami often traveled one or two days (then they measured distance in time or days), to hear the stories narrated by Naqshbandi shaykhs. One such story is regarding Muhammad Bahauddin an-Naqshband (Shah Naqshband) of Bukhara, presently known as Uzbekistan.

When he reached the age of seven years, Shah Naqshband was brought to meet with all spirits of anbiya-ullah[61] and messengers, in the presence of Sayyidina Muhammad {s}. In the presence of the Prophet age is not significant, only the spirit is significant.

Thus Shah Naqshband arrived in that holy presence at age seven: he was unique, for no one could match his level among all Naqshbandis of that time.

There in the presence of the Prophet , Sayyidina Musa [62] asked Shah Naqshband, Ya fard al-`alam,

  • “When were you chosen as a guide for humanity?”[63]

  • Shah Naqshband {q} replied, “I was a Murshid when Awliya were in complete non-existence[64].”

  • (Meaning, “I was Murshid before Allah created the Awliya.”)

  • He was not speaking about himself, but rather of the secret of the Prophet which was passed to him, at that level, in that unique state of ecstasy.

  • Then Sayyidina Musa said, “Explain; we want to know.”

  • Sayyidina Shah Naqshband {q} receives from the line of Sayyidina Abu Bakr as-Siddiq , so out of adab[65] for Sayyidina Musa,

  • Abu Bakr as-Siddiq answered, “O Musa! When Shah Naqshband spoke to you, it was from the level he inherited from Prophet Muhammad {s}, and from that level it is one of forty-nine parts of nubuwwat.[66]

  • From the secret of that level, he answered you.” Then Abu Bakr looked at Sayyidina Shah Naqshband, indicating permission to respond to the questions.

Shah Naqshband {q} replied,

  • “I was a murshid[67] when there were no Awliya, before granting the Awliya their position in yawma alastu birabbikum[68].

  • Even then I was a Murshid, and Allah allowed me to look after my followers and their sustenance, and guide them when the awliya were yet in void.”

Sayyidina Musa repeated, “Explain.”

  • Sayyidina Naqshband continued,

  • “I was given my station of sainthood before every wali was given his station of sainthood from the Naqshbandi Order.

  • And I received that when I was still in the world of atoms[69].

  • Allah created me before He had yet created the Naqshbandi awliya by twenty-thousand years, and I was under the tarbiyya and inayat[70] of the Prophet .

  • Allah then created all other awliya and they appeared after 17,000 years.

  • There is a difference of 10,000 years between my reality’s appearance and theirs. That is what I meant.”

That occurred when Shah Naqshband was seven years old, and it was his first irshad[71] in the presence of anbiya, the awliya-ullah and sahaba[72].

Allah granted Shah Naqshband 12,000 specialties.

  • One of these specialties, in order to give you an idea of the others (and this is one of the ordinary ones) is the power to focus his vision around this universe 363 times in twenty-four hours, encompassing the entire universe.

  • He is able to look at 363 times each day at every creation, upon human beings, observing what they are doing, including the state of their sustenance, their affairs, their problems and difficulties.

  • Not only that, he is able to look after every baby in the womb of its mother.

  • This is one of his basic specialties.

  • On that occasion of his first visit he asked, “O my Lord, don’t let any one who takes me as a guide and those who came after me or before me exist without support from You.”

  • All the angels of the skies[73] said, “Ameen[74].”

Grandshaykh said the baraka of that du`a[75] appears four times a year, and its protection is sent to the followers of Shah Naqshband four times a year.

  • One is the fourteenth of Muharram[76], Shah Naqshband’s birthday;

  • on the first day of Ramadan[77],

  • the fifteenth of Ramadan and

  • Laylat al-Qadr[78].

On these special days of the year, Allah sends that special protection to the followers of Shah Naqshband. Whoever entered the Naqshbandi tariqat[79] will be protected from all sides.

  • When Allah I created the Awliya after 17,000 years (10,000 years after Shah Naqshband’s creation),

  • they came to the World of Essence, spoke to the essence of Shah Naqshband, and asked him for the sake of Prophet Muhammad {s} to be accepted in the Naqshbandi Way.

  • He accepted 7007 of them to be saints, and each of them were granted 12,000 knowledge's from every letter of Qur`an they read.

  • Shah Naqshband sought this distinction for the sake of Prophet Muhammad, and when he requested it the Prophet looked at him and raised him for every letter of Qur`an multiplied by the 12,000 knowledges given on each letter to these awliya.

  • For each of those 7007 awliya Shah Naqshband was raised that many levels.

  • We say there are 70,000 veils of darkness between us and the presence of the Prophet.

  • As much as you become nearer to the Prophet , the last veil makes you feel you are very far from the Prophet’s reality.

  • For to be near to the presence of the Prophet, your ishq[80] will make you feel even farther away from him.

From that station of knowledge Shah Naqshband {q}revealed,

  • “When awliya-ullah destroy those veils and approach the presence of the Prophet, there are 700,000 more veils to overcome to reach the essence of the Presence of the Prophet.

  • I crossed where no one reached before.”

  • That is similar to the story of Sayyidina Bayazid al-Bistami.

  • When he was stoned and tortured by his tribe he went onboard a ship and prayed, “O My Lord! Take me to a place where I will feel happy.”

  • Thereafter, the ship began to toss about on the high waves.

  • The ship’s captain said, “There must be a great sinner on board who is causing this calamity!” Sayyidina Bayazid al-Bistami said, “I am that sinner; throw me in the ocean.”

  • He said to himself, “I am going into that ocean and I am going to seek the Presence of Allah.” As soon as he was thrown in, the water stopped tossing about, and Sayyidina Bayazid, without thinking of any other purpose and using his utmost spiritual power, began to plunge into that Ocean of (realities?)

  • at a speed greater than the speed of light, until he reached a place of ultimate darkness and void. There he heard a voice which Grandshaykh described as, “Huuuuuuuuuuuuuuuuuuu.

  • Sayyidina Bayazid was granted extraordinary spiritual powers, similar to those of Shah Naqshband, powers which he tried to use to count the number of all the people at that location saying “Huuuu…”

  • Despite using all his power, he could not count them. Grandshaykh says Sayyidina Bayazid then realized this was a presence he could not reach, and he knew it was Shah Naqshband and his followers reciting “Huuuu…”

Although Shah Naqshband came many centuries after Sayyidina Bayazid al-Bistami, still he reached Shah Naqshband’s spiritual presence and that of his murids[81]. And Sayyidina Bayazid al-Bistami was worried, anticipating that Shah Naqshband would ask him, “Why are you here?” and then send him away, for awliya guard their followers and don’t want another wali in their territory. «

Bihurmat al habeeb wa bi hurmat al-Fatiha. For the sake of the Beloved, for his sake we recite the Opening Chapter of Qur`an.

The Positions of Prayer ( mawlana syaikh hisham kabbani )

Yoga -is union of the individual soul with the ultimate Reality.

It is also the method by which this union is achieved.}

The Positions of Prayer

The movements of the prayer identify the one praying with all other forms of creation, for the prayer’s postures are designed to remind the worshipper of mortality and the traversal through the different stages of life. They also resemble the rising and setting of the celestial bodies, as well as the rotation of the planets upon their axes and the orbits of the moons, planets and suns. These are signs which demonstrate the hierarchical nature of creation and its submission to Divine regulation at every level, for as the Holy Qur’an states:

Among His Signs are the night and the day, and the sun and the moon. Adore not the sun and the moon, but adore God, Who created them, if it is Him ye wish to serve.

God further draws our attention to their submissive nature, saying:


Hast thou not seen that before God prostrate whosoever is in the heavens and whosoever is on the earth, and the sun, and the moon, and the stars, and the hills, and the trees, and the beasts, and many of mankind…?

The postures of prayer, then, are symbolic of humanity’s relationship to the Divine,

  • moving as they do from standing in assertion of existence and strength,
  • to the bowing of humility and servitude,
  • to prostration in the face of God’s overwhelming Magnificence and Power and the corresponding realization of one’s own utter nonexistence.
  • From this station of utter abasement, the worshipper returns to the intermediate position, between annihilation and independence, to sit between the hands of the Prophet Muhammad, greeting the one who is the intermediary between the Divinity and His creation.
  • The Prophet stands at the Station of Perfect Servanthood and is the ultimate exemplar of the condition of servanthood to God.
  • Unlike all other creations, Prophet Muhammad was divested of all selfhood, dissolved in the Presence of God.

Whithersoever ye turn, there is the presence of God.

For God is all-Pervading, all-Knowing.

The Peak of Prayer is Prostration [Meem]


The Prophet said, “Nothing brings the servant of God nearer to the Divine Presence than through his secret prostration (al-khafi).” [ In Prostration the Body is like a Throne and the Soul is the King Sitting at the Highest Point /The Heart ]

The Prophet also said, “Any believer who prostrates himself, will be raised one degree by God.” As for what that degree consists of, know that it is not something small, for each heaven might consist of one degree.


For these reasons, many among the pious observe extra voluntary prostrations to God after completing their obligatory prayers. Whenever they encounter a difficulty, whether spiritual or worldly, they seek refuge in their Lord through prostration to Him.


One must cut down self-pride and make the inner-self prostrate, for one who truly submits to his Lord can no longer submit to his or her self. Once that state is reached, prayer is purely for God.

That is why the Prophet said, “What I fear most for my Community is the hidden polytheism.” He feared for his community not the outward polytheism of idol-worship, for he was informed by God that his community was protected from that forever, but the secret polytheism, which is to do something for the sake of showing-off.


A man came and asked the Prophet, “O Prophet of God, pray for me to be under your intercession on Judgment Day and grant me to be in your company in Paradise.” The Prophet replied, “I will do so, but assist me in that.” The man asked, “How so?” The Prophet said, “By frequent prostration [before God].”


The Prophet related that, on the Day of Judgment, as the believers emerge from their graves, angels will come to them to brush the dust from their foreheads. However, despite the best efforts of the angels, some of that dust will remain. Both the resurrected believers and their angelic helpers will be surprised that this dust cannot be removed. Then a voice will call out,

“Leave that dust and do not try to remove it, for that is the dust of their prayer-niches, thus will it be known in Paradise that they are My [devout] servants.”


This Prophetic Tradition indicates the spiritual value of the prostration of the believers, making as it does even the dust touched by their foreheads hallowed. The power of prayer has a similar effect on the place of prayer itself, as exemplified in the story of the Virgin Mary, as mentioned in the Holy Qur’an:

Whenever Zachariah went into the prayer-niche where she was, he found that she had food. He said: O Mary! Whence cometh unto thee this (food)? She answered: It is from God. God giveth without stint to whom He will.

It was there, in the Virgin Mary’s hallowed sanctuary, where she used to find her daily provision in the form of fruits out-of season, that the Prophet Zachariah went to prostrate himself before God and beseech Him for a child, and it was there that God granted his request.


The places where a Sufi prostrates will bear witness to his or her devotion on the Day of Judgment. It is for this reason that one often sees Sufis changing the location of their prayers, praying the obligatory cycles in one spot and then moving to another area to observe the voluntary cycles (sunnah).


Ibn Abbas, a cousin of the Prophet and the greatest early exegete of the Qur’an, said, “When God commanded Adam to descend to Earth, as soon as he arrived, he went into prostration, asking God’s forgiveness for the sin he had made. God sent the archangel Gabriel to him after forty years had passed, and Gabriel found Adam still in prostration.” He had not raised his head for forty years in sincere and heartfelt repentance before God.
The Holy Qur’an tells us that, after God created Adam, He ordered the angels to prostrate before the first man.

When We said to the angels, “prostrate yourselves to Adam”, they prostrated themselves, but not Iblis [Satan]: he refused.

Imam al-Qurtubi, one of the great commentators on the Holy Qur’an, writes in his exegesis, at-Tadhkira, that one of the four Archangels, Rafael, had the entire Qur’an written on his forehead.

God had given Rafael knowledge of the Holy Qur’an and wrote all of it between his eyes, and he is the angel who inscribed the destinies of all things in the Preserved Tablets before they were created.

Rafael’s name in Arabic, which differs from his Assyrianic name Israfil, is Abdur-Rahman, servant of The Merciful. This theme of mercy pervades Islamic thought, for it was through God’s Mercy that the Holy Qur’an was sent down to the Prophet, about whom The Merciful

said: We sent thee not but as a Mercy for all creatures.


When God ordered the angels to make prostration to Adam, Rafael was the first to obey, making prostration and placing his forehead, containing the entire Qur’an, on the earth, out of respect and honor for Adam, for he perceived the whole of Qur’an written on Adam’s forehead. [Nur Muhammad (S)]

Other commentators say the angels fell prostrate before Adam for they perceived the Light of Prophet Muhammad shining from his form. There is in reality no discrepancy here, for God said in the Holy Qur’an:


Yasin, By the Qur’an, full of Wisdom.


The Prophet Muhammad said that Yasin, the thirty-sixth chapter of the Holy Qur’an as well as one of his own blessed names, is the heart of the Holy Qur’an, the very Qur’an that the Prophet was carrying in his breast.

Thus, the light that shone forth from Adam was the Light of the Prophet within him, who in turn was blazing with God’s Holy Words.

The Inner-Meanings of the Different Positions of Prayer


Shah Waliullah ad-Dihlawi said:
Know that one is sometimes transported, quick as lightning, to the Holy Precincts (of the Divine Presence), and finds one’s self attached, with the greatest possible adherence, to the Threshold of God.

There descend on this person the Divine transfigurations (tajalli) which dominate his soul. He sees and feels things which the human tongue is incapable of describing. Once this state of light passes away, he returns to his previous condition, and finds himself tormented by the loss of such an ecstasy.

Thereupon he tries to rejoin that which has escaped him, and adopts the condition of this lowly world which would be nearest to a state of absorption in the knowledge of the Creator. This is a posture of respect, of devotion, and of an almost direct conversation with God, which posture is accompanied by appropriate acts and words…

Worship consists essentially of three elements:

(1) humility of heart (spirit) consequent on a feeling of the Presence of the Majesty and Grandeur of God,

(2) recognition of this superiority (of God) and humbleness (of man) by means of appropriate words, and

(3) adoption by the organs of the body of postures of necessary reverence…
Still greater respect is displayed by laying down the face, which reflects in the highest degree one’s ego and self-consciousness, so low that it touches the ground in front of the object of reverence.
[ We are Created in Gods Image and Granted The Highest Esteem in Divine Presence all that is asked of this Honor is in Gods Presence Bow Down subject the Holy Head to the Essence of the Divine Mirror from which you were formed]

Al-Jili says:
The secrets and inner-meanings of prayer are uncountable so what is mentioned here is limited for the sake of brevity.

Prayer is a symbol of the uniqueness of the Divine Reality (al-Haqq), and the

[position of The Alif ] standing in it is a symbol of the establishment of the uniqueness of mankind in possessing something from the Divine Names and Attributes, for as the Prophet said, “Verily God created Adam in His Image.” [Alif is Upright and symbolizes the Heavens, in the beginning there was the essence and then an opening of Creation of heavens- Alif opens to Alif, Lam/kingdom, Fa/Fatiha.]

  • Then the standing towards the Qiblah is an indication of the universal direction in the quest of the Divine Reality. [ We are Like the Electrons Curcumbulating the Center Nucleus, we are under the authority of these 4 forces of the atom/adam that is why 4 Takbirs. Nucleus is Kabah and we are electrons]
  • The intention therein is an indication of the connection of the heart in this direction. The opening magnification of God’s Greatness (takbir) is an indication that the Divine Proximity is larger and more expansive than what may manifest to him because nothing can limit its perspective. Even so, it is vaster still than every perspective or vision that manifests to the servant for it is without end.


    The recitation of the Opening Chapter, al-Fatihah,

  • is an indication of the existence of His Perfection in man because man is the opening of creation, for God initiated creation by him when He brought from nothingness the first creation.
  • What al-Jili is referring to here is the Light of Muhammad, known also as the First Mind, the Universal Man, and the Microcosm of the Macrocosm.

He continues:
[Ha Al-Hayat ]Then there is bowing, which is an indication of acknowledging the nonexistence of all creation under the existence of divine emanations and power. [ Fana and Hamd/Praise]

Then Re-standing in the prayer is an indication of the station of subsistence (al-baqa). [Alif is Upright and symbolizes the Heavens, in the beginning there was the essence and then an opening of Creation of World of Form- Alif opens to Alif, Lam/kingdom Fa/Fatiha.]

Therefore, one says in his prayer,

God hears the one who praises Him,” …

an indication of subsistence in that he is the Vicegerent of the Divine Reality. In this way, God relates about Himself by Himself by relating on hearing its truth through the praising of His creation. [ Prophet is Li wal Hamd /Flag of Praise]

[Meem] The prostration is an expression of pulverization of the traits of humanness and their extermination before the unending manifestation of the sanctifying essence.

The sitting between the two prostrations is an indication of obtaining the realities of the Divine Names and Attributes. This is because the sitting is being firmly positioned in a place as indicated by the verse where God says:

The Merciful was established on the Throne

The second prostration is the indication of the station of servanthood and it is the returning from the Divine Reality to creation.

The salutations [upon the Prophet] are an indication of the attainability of human perfection, for they are an expression of praising God, His Messenger and His righteous servants. This is the station of perfection, for the saint is not complete except by his attainment of the Divine realities, by his accord with the Messenger and accord with all of the servants of God.


The two sections of the testimony of faith are La ilaha ill-Allah, “there is no diety except the one God” and Muhammadun rasulullah, “and Muhammad is the Prophet of God.”

Scholars say that La ilaha ill-Allah represents the Creator and Muhammadun rasulullah symbolizes the entirety of creation.

The prayer is considered a dual communication: one is between worshipper and God, the second is between the worshipper and God’s perfect servant, Prophet Muhammad, the archetype of all the prophets and messengers. Thus one part of the prayer is a communication with the Divine, by means of God’s Holy Words revealed in the Qur’an and through bowing and prostration, reciting God’s glorification, magnification and praise.

The other part is the salutation on the Prophet, in which the worshipper addresses the Prophet personally and directly, as leader of the worshippers and the believers, followed by invoking the Lord’s blessings on him and on his family.


These realities in fact reflect the doctrine of the Prophet’s having attained the zenith of servanthood (‘ubudiyyah) to God, and thus the entirety of prayer in itself is built around his person. For the Words of God recited are the words revealed to the Prophet and the remainder of the prayer is acknowledging his leadership and spiritual primacy in both this life and the next.

Thus scholars assert that even the positions of the prayer are an indication of the Muhammadan Station, for the physical positions reflect the shapes of the letters of the Prophet’s heavenly name, Ahmad, where the first letter Alif is represented by the standing position, Ha by the bowing stance, Mim in the prostration and Dal in sitting for salutation.