Sunday, April 27, 2008
Tidak Ada Istirahat Dalam Agama ( Mawlana Syaikh Hisham Kabbani )
Ya Allah, Engkaulah Sultan,
Engkaulah Raja bagi seluruh raja
Hanya Engkaulah yang nyata dimanapun dan kapanpun
Engkaulah Yang memberi kami kehidupan
Engkaulah Yang menganugerahi kami kehormatan
untuk menjadi hamba-hamba-Mu
Setinggi apapun kehidupan kami,
sebanyak apapun pengetahuan kami,
kami tetap hamba-hamba-Mu,
tidak pernah lebih dari itu
Satu-satunya Yang mampu menjadi Pencipta
hanyalah Engkau, ya Allah.
Aku sedang berusaha mengikuti jalan Nabi, sayyidina Muhammad saw, sebagaimana kalian juga sedang mengusahakannya. Jalan itu penuh dengan kesulitan, beban berat dan badai kehidupan. Karena ketika kita akan memetik bunga mawar, kadang tangan kita terluka. Nabi-pun bersabda : “La rahata fi-d-din.” Tidak ada istirahat dalam agama. Kalian harus selalu maju dan berkembang. Ketika mencapai suatu tempat atau maqam, kalian tidak boleh mengatakan :” Aku telah sampai.” kemudian berhenti dan tidak berlatih lagi.
Mengapa kita hidup di dunia ini? Mengapa Tuhan menciptakan kita? Apa alasannya? Untuk membayar tagihan telepon, membayar tagihan mobil, atau membayar hutangkah ? Di negara ini kalian berlari mengejar dan terus mengejar sampai kalian mati dan tidak mampu membayar hipotek. Dan nantinya bank akan mengambil alih dan menendang kalian keluar dari rumah. Tidak ada seorangpun yang ingat kalau kita disini bukan hanya untuk kebutuhan harian kita, tapi juga kebutuhan harian akan Allah. Sebagaimana kita melakukan apa yang membuat kita bahagia, kita harus melakukan apa yang membuat Allah bahagia.
Kalian harus menjaga keseimbangan keduanya, sebagaimana sabda Nabi : Khayru-l-umuri awasituha, cara yang terbaik adalah seimbang / cukup.
Jangan terlalu ekstrim di satu sisi, sehingga membuat orang berlari menjauh karena keyakinan dan kepercayaanmu. Namun juga jangan terlalu lengah di sisi lain, meninggalkan segala kewajiban sambil mengatakan : “ Aku mencintai Tuhan, aku pasti masuk surga.” Itu tidak dibenarkan. Raihlah keseimbangan dalam segala hal.
Jika kalian percaya akan kehidupan akhirat, alhamdulillah, itu hal yang baik. Namun jika kalian tidak mempercayainya, ingatlah bahwa kalian tidak akan membawa apapun dari dunia ini menuju akhirat. Kalian akan ke sana dengan tangan kosong. Alexander Agung pernah berkata pada para menterinya, “ Saat meninggal nanti, aku ingin ingin dikubur dengan kedua tanganku berada di luar peti mati. “ Hal ini sebagai pesan pada umat manusia - hai kalian manusia, aku pernah menjadi raja terbesar di bumi ini, aku tinggalkan dunia ini dengan tangan kosong. Aku tidak membawa apapun.-
Janganlah kalian terkecoh oleh kehidupan ini. Berlarian siang dan malam mengejar dunia dan sama sekali tidak ingat akan kehidupan ke-2, karena masa itu akan segera tiba, tak seorangpun mampu menghindarinya. Semuanya akan mati, dan hari itu pasti akan datang. Jika kalian berbuat baik di dunia ini, kalian akan bahagia menyambut hari kematian itu. Namun jika kalian berkelakuan buruk di dunia ini, kalian akan merasa depresi menghadapi hari itu.
Nabi amat takut akan hari itu. Para Awliya takut akan hari itu. Orang-orang yang baik dan alim juga amat takut akan hari itu. Sebagaimana Rabi’a al-Adawiyya pernah mengatakan : “ Jika kalian tidak mampu menjawab bagaimana keadaan kita ketika malaikat Munkar dan Nakir menanyai kita di alam kubur, dan bagaimana malaikat maut akan mencabut nyawa kita, dengan kepedihan atau dengan kasih sayang ? maka duduklah kalian selamanya dipojok kamar, beribadahlah pada Tuhan sampai kalian mencapai maqam yang membuat hati kalian tenang. “
Tidak ada waktu yang terbuang dalam hidup ini. Dia terus berjalan meninggalkan kita. Tidak adapun yang perlu dibawa ke akhirat kecuali amal dan perbuatan baik kita. Berusahalah selalu agar terus dijalan Allah, jalan yang benar. Dengarkan sisi positif ego dan bukan sisi yang buruk, karena hal itu akan mengecoh kita, memperdaya kita agar berada di jalan setan.
Tidak cukup hanya duduk sambil mengatakan : “ Kami hanya ingin memikirkan Allah.”
Kalian tidak bisa “hanya memikirkan” tentang anak kalian, namun kalian harus membesarkan mereka, menolong mereka, melakukan sesuatu bagi mereka. Kalian tidak bisa mengatakan,” Biarkan mereka tumbuh dengan sendirinya.” Ayah dan ibu wajib menyayangi dan memelihara begitu anaknya lahir. Perbuatan ini lebih dari sekedar kerja sukarela. Sang ibu tidak bisa meninggalkan anaknya, karena bayi itu adalah bagian dari dirinya. Walaupun anak itu menimbulkan kesusahan bagi orang tuanya, mengganggu tidur malamnya, bagaimanapun juga mereka harus menjaga mereka.
Sayangi diri kalian sendiri. Kalian harus tahu bagaimana mengoreksi diri sendiri karena bukan orang lain yang harus bertanggung jawab pada kalian, namun kalian sendiri. Kalian harus mampu meraih apa yang Allah janjikan bagi kebahagiaan kalian. Allah telah mengirim pembimbing, utusan-utusan untuk menunjukan kalian jalan-Nya, dan Allah telah menginspirasi hati-hati kalian agar menuju para awliya-Nya. Seperti hadist Nabi :
La yu’minu ahadukum hatta yakunu huwahu tabqan lima ji’ tu bihi, tidak seorangpun dianggap sebagai orang beriman sampai keinginannya sejalan dengan keinginanku. Cintailah apa yang dicintai Nabi, bencilah apa yang dibenci beliau. Jangan menyukai apa yang beliau benci dan sebaliknya membenci apa yang beliau cintai.
Dan janganlah kalian menerima siapapun yang melawan para Awliya. Lindungi diri kalian sendiri dan katakan dalam hati : “ Kami harus melawan musuh-musuh para Awliya Allah.” - “ Ala anna awliya’a-l- Lahi la khawfun alayhim wa la hum yahzanun.”
Para awliya Allah tidak takut pada apapun yang menyerang mereka.
Kita semua, para Naqsybandi harus tunduk dan menerima keputusan bahwa setiap dari kita adalah Syaikh Nazim – yaitu dengan mengibarkan bendera beliau, cahaya beliau di luar dan didalam hati, di rumah, di jalan, di masjid dan dimanapun. Janganlah duduk malas sambil mengatakan : “ Kami sedang berdzikir, siapapun yang mau, biarkan mereka datang.” Lihatlah orang-orang Tabligh, penganut kesaksian Yehovah, atau berbagai kelompok yang pergi dari satu pintu ke pintu lain. Jadi mengapa kalian hanya duduk bermalas-malasan ?
Persiapkan diri kalian akan “hari itu”, misalnya dengan mengirimkan dan menyebarkan pesan moral Mawlana Syaikh Nazim kemanapun, dari hati ke hati, dari teman ke teman lain, dari sekolah ke sekolah lain, melalui publikasi, dari mulut ke mulut. Metode seperti itu digunakan apabila tidak ada rahasia. Namun jika kalian membawa rahasia syaikh, ada daya tarik. Masyarakat akan datang tanpa butuh usaha dan persiapan selama 6 bulan sebelumnya untuk mengatur acara-acara. Dengan para Awliya, kalian tidak perlu mempersiapkan seminar-seminar. Orang akan berbondong-bondong datang karena ada rahasia dibalik daya tarik beliau.
Namun jika kalian tidak memilikinya, lakukanlah dengan cara yang umum digunakan. Mari kita berkeliling dan menggunakan kertas-kertas serta mengaturnya. Mari kita melakukan apa yang mampu kita lakukan, dan jangan hanya duduk diam. Kita harus membawa tanggung jawab itu.
“Siapapun yang menyebarkan ajaran Naqsybandi akan mendapatkan imbalan dari para Siddiqin.”
Semoga Allah menerima niat kita dan mengampuni kita semua.
Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.
Engkaulah Raja bagi seluruh raja
Hanya Engkaulah yang nyata dimanapun dan kapanpun
Engkaulah Yang memberi kami kehidupan
Engkaulah Yang menganugerahi kami kehormatan
untuk menjadi hamba-hamba-Mu
Setinggi apapun kehidupan kami,
sebanyak apapun pengetahuan kami,
kami tetap hamba-hamba-Mu,
tidak pernah lebih dari itu
Satu-satunya Yang mampu menjadi Pencipta
hanyalah Engkau, ya Allah.
Aku sedang berusaha mengikuti jalan Nabi, sayyidina Muhammad saw, sebagaimana kalian juga sedang mengusahakannya. Jalan itu penuh dengan kesulitan, beban berat dan badai kehidupan. Karena ketika kita akan memetik bunga mawar, kadang tangan kita terluka. Nabi-pun bersabda : “La rahata fi-d-din.” Tidak ada istirahat dalam agama. Kalian harus selalu maju dan berkembang. Ketika mencapai suatu tempat atau maqam, kalian tidak boleh mengatakan :” Aku telah sampai.” kemudian berhenti dan tidak berlatih lagi.
Mengapa kita hidup di dunia ini? Mengapa Tuhan menciptakan kita? Apa alasannya? Untuk membayar tagihan telepon, membayar tagihan mobil, atau membayar hutangkah ? Di negara ini kalian berlari mengejar dan terus mengejar sampai kalian mati dan tidak mampu membayar hipotek. Dan nantinya bank akan mengambil alih dan menendang kalian keluar dari rumah. Tidak ada seorangpun yang ingat kalau kita disini bukan hanya untuk kebutuhan harian kita, tapi juga kebutuhan harian akan Allah. Sebagaimana kita melakukan apa yang membuat kita bahagia, kita harus melakukan apa yang membuat Allah bahagia.
Kalian harus menjaga keseimbangan keduanya, sebagaimana sabda Nabi : Khayru-l-umuri awasituha, cara yang terbaik adalah seimbang / cukup.
Jangan terlalu ekstrim di satu sisi, sehingga membuat orang berlari menjauh karena keyakinan dan kepercayaanmu. Namun juga jangan terlalu lengah di sisi lain, meninggalkan segala kewajiban sambil mengatakan : “ Aku mencintai Tuhan, aku pasti masuk surga.” Itu tidak dibenarkan. Raihlah keseimbangan dalam segala hal.
Jika kalian percaya akan kehidupan akhirat, alhamdulillah, itu hal yang baik. Namun jika kalian tidak mempercayainya, ingatlah bahwa kalian tidak akan membawa apapun dari dunia ini menuju akhirat. Kalian akan ke sana dengan tangan kosong. Alexander Agung pernah berkata pada para menterinya, “ Saat meninggal nanti, aku ingin ingin dikubur dengan kedua tanganku berada di luar peti mati. “ Hal ini sebagai pesan pada umat manusia - hai kalian manusia, aku pernah menjadi raja terbesar di bumi ini, aku tinggalkan dunia ini dengan tangan kosong. Aku tidak membawa apapun.-
Janganlah kalian terkecoh oleh kehidupan ini. Berlarian siang dan malam mengejar dunia dan sama sekali tidak ingat akan kehidupan ke-2, karena masa itu akan segera tiba, tak seorangpun mampu menghindarinya. Semuanya akan mati, dan hari itu pasti akan datang. Jika kalian berbuat baik di dunia ini, kalian akan bahagia menyambut hari kematian itu. Namun jika kalian berkelakuan buruk di dunia ini, kalian akan merasa depresi menghadapi hari itu.
Nabi amat takut akan hari itu. Para Awliya takut akan hari itu. Orang-orang yang baik dan alim juga amat takut akan hari itu. Sebagaimana Rabi’a al-Adawiyya pernah mengatakan : “ Jika kalian tidak mampu menjawab bagaimana keadaan kita ketika malaikat Munkar dan Nakir menanyai kita di alam kubur, dan bagaimana malaikat maut akan mencabut nyawa kita, dengan kepedihan atau dengan kasih sayang ? maka duduklah kalian selamanya dipojok kamar, beribadahlah pada Tuhan sampai kalian mencapai maqam yang membuat hati kalian tenang. “
Tidak ada waktu yang terbuang dalam hidup ini. Dia terus berjalan meninggalkan kita. Tidak adapun yang perlu dibawa ke akhirat kecuali amal dan perbuatan baik kita. Berusahalah selalu agar terus dijalan Allah, jalan yang benar. Dengarkan sisi positif ego dan bukan sisi yang buruk, karena hal itu akan mengecoh kita, memperdaya kita agar berada di jalan setan.
Tidak cukup hanya duduk sambil mengatakan : “ Kami hanya ingin memikirkan Allah.”
Kalian tidak bisa “hanya memikirkan” tentang anak kalian, namun kalian harus membesarkan mereka, menolong mereka, melakukan sesuatu bagi mereka. Kalian tidak bisa mengatakan,” Biarkan mereka tumbuh dengan sendirinya.” Ayah dan ibu wajib menyayangi dan memelihara begitu anaknya lahir. Perbuatan ini lebih dari sekedar kerja sukarela. Sang ibu tidak bisa meninggalkan anaknya, karena bayi itu adalah bagian dari dirinya. Walaupun anak itu menimbulkan kesusahan bagi orang tuanya, mengganggu tidur malamnya, bagaimanapun juga mereka harus menjaga mereka.
Sayangi diri kalian sendiri. Kalian harus tahu bagaimana mengoreksi diri sendiri karena bukan orang lain yang harus bertanggung jawab pada kalian, namun kalian sendiri. Kalian harus mampu meraih apa yang Allah janjikan bagi kebahagiaan kalian. Allah telah mengirim pembimbing, utusan-utusan untuk menunjukan kalian jalan-Nya, dan Allah telah menginspirasi hati-hati kalian agar menuju para awliya-Nya. Seperti hadist Nabi :
La yu’minu ahadukum hatta yakunu huwahu tabqan lima ji’ tu bihi, tidak seorangpun dianggap sebagai orang beriman sampai keinginannya sejalan dengan keinginanku. Cintailah apa yang dicintai Nabi, bencilah apa yang dibenci beliau. Jangan menyukai apa yang beliau benci dan sebaliknya membenci apa yang beliau cintai.
Dan janganlah kalian menerima siapapun yang melawan para Awliya. Lindungi diri kalian sendiri dan katakan dalam hati : “ Kami harus melawan musuh-musuh para Awliya Allah.” - “ Ala anna awliya’a-l- Lahi la khawfun alayhim wa la hum yahzanun.”
Para awliya Allah tidak takut pada apapun yang menyerang mereka.
Kita semua, para Naqsybandi harus tunduk dan menerima keputusan bahwa setiap dari kita adalah Syaikh Nazim – yaitu dengan mengibarkan bendera beliau, cahaya beliau di luar dan didalam hati, di rumah, di jalan, di masjid dan dimanapun. Janganlah duduk malas sambil mengatakan : “ Kami sedang berdzikir, siapapun yang mau, biarkan mereka datang.” Lihatlah orang-orang Tabligh, penganut kesaksian Yehovah, atau berbagai kelompok yang pergi dari satu pintu ke pintu lain. Jadi mengapa kalian hanya duduk bermalas-malasan ?
Persiapkan diri kalian akan “hari itu”, misalnya dengan mengirimkan dan menyebarkan pesan moral Mawlana Syaikh Nazim kemanapun, dari hati ke hati, dari teman ke teman lain, dari sekolah ke sekolah lain, melalui publikasi, dari mulut ke mulut. Metode seperti itu digunakan apabila tidak ada rahasia. Namun jika kalian membawa rahasia syaikh, ada daya tarik. Masyarakat akan datang tanpa butuh usaha dan persiapan selama 6 bulan sebelumnya untuk mengatur acara-acara. Dengan para Awliya, kalian tidak perlu mempersiapkan seminar-seminar. Orang akan berbondong-bondong datang karena ada rahasia dibalik daya tarik beliau.
Namun jika kalian tidak memilikinya, lakukanlah dengan cara yang umum digunakan. Mari kita berkeliling dan menggunakan kertas-kertas serta mengaturnya. Mari kita melakukan apa yang mampu kita lakukan, dan jangan hanya duduk diam. Kita harus membawa tanggung jawab itu.
“Siapapun yang menyebarkan ajaran Naqsybandi akan mendapatkan imbalan dari para Siddiqin.”
Semoga Allah menerima niat kita dan mengampuni kita semua.
Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.
Operasi Spiritual ( mawlana Syaikh Hisham Kabbani )
Ke-wali-an adalah sebuah pemahaman yang tidak akan pernah bisa ditulis di dalam buku-buku. Kewalian adalah rahasia-rahasia dibalik rahasia-rahasia. Sesuatu yang berasal dari Nabi saw pada hati-hati para Awliya, bukan pengetahuan lewat kata-kata namun lewat perbuatan. Jangan mengira para Awliya menerima dirinya untuk menjadi Awliya jika tidak untuk meningkatkan para pengikutnya ke maqam mereka, khususnya ketika sedang memberi nasihat. Mereka tidak mau meninggalkan murid-muridnya tertinggal. Mereka meningkatkan maqam pengikutnya ke tahap topik yang sedang diajarkan melalui kehidupan spiritual mereka. Kalian tidak merasakannya pada tubuh fisik kalian, karena roh kalian masih terkungkung dalam sangkar tubuh.
Namun beliau mampu membuat roh kalian merasakannya tanpa kalian menyadarinya. Seperti seorang dokter yang mengoperasi pasiennya. Pasien tidak merasakan apapun, namun merasakan dirinya telah sembuh. Itulah yang Awliya lakukan. Beliau mengoperasi kalian, namun kalian tidak merasakan apapun. Tetapi dalam kehidupan spiritual kalian, dalam realitas, kalian telah sembuh.
Jika kalian sedang mencium spiritualitas, maka aroma itu membuat kalian mabuk cinta akan Syaikh. Jika Syaikh membuka lebih lagi, kalian tidak hanya mabuk, kalian akan seperti tetangga Nabi Musa as. Salah seorang tetangga Musa pernah berkata,” Musa, karena engkau akan pergi ke bukit Sinai dan berdialog dengan Tuhanmu – tolong katakan pada-Nya agar mengirimi aku cinta, karena aku tidak memiliki rasa cinta bagimu dan Dia. Biarkan Dia kirimkan cinta, agar hatiku bahagia.”
Ketika sampai di Sinai dan telah menyelesaikan apa yang Musa ingin lakukan, beliau lupa akan pesan tetangganya, Allah-lah Yang mengingatkan beliau.
“ Ya Musa, mengapa engkau lupakan tetanggamu ? Bukankah engkau berjanji padanya untuk menyebutnya dalam Hadirat-Ku ? “
“ Ya Tuhan, maafkan saya.”
“ Apa yang dia minta ?”
“ Dia membutuhkan cinta.”
“ Pulanglah dan katakan pada tetanggamu, Aku sedang mengirim cinta sekecil atom ke dalam hatinya.”
“Ya Allah, mohon kirimkan lebih dari itu, Engkaulah Yang Maha Pemurah.”
“Tidak. Itu sudah cukup.”
Musa kembali ke rumahnya dan mencari tetangganya. Ketika beliau menemukannya, tetangga itu tidak lagi berada didunia ini. Matanya terbuka lebar, kedua tangannya terangkat ke atas, mulutnya menganga. Dia tidak bergerak sedikitpun ataupun merasakan sesuatu. “ Oh tetanggaku,” kata Musa “ Kabar baik, Tuhan sedang mengirimkan sebutir cinta pada hatimu.” Namun tetangga itu demikian asyiknya sehingga tidak merasakan kehadiran Musa. Allah-pun memanggil Musa dan mengatakan : “ Ya Musa, walaupun engkau menggiling tubuhnya, dia tidak akan merasakan apapun, dia hanya merasakan Aku.”
Cinta seperti itulah yang Syaikh ingin kirimkan pada hati murid-muridnya. Murid-murid akan meninggalkan apapun dan lari mengejar Syaikhnya tanpa menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Syaikh masih memegang kunci akan cinta itu dan belum membukanya. Beliau membukanya sedikit, setetes demi setetes. Itulah yang kini sedang mengendalikan kita, aroma dari setetes cinta. Belum lagi setetes, belum pula sekecil atom, hanya aromanya saja. Jika beliau membuka satu tetes cinta saja, kalianpun akan meleleh.
Ada pelajaran disini, bahwa jika kalian menghilangkan eksistensi kalian di hadapan Syaikh, maka beliau akan membuat kalian ‘mati sebelum mati’. Namun tidak seorangpun yang siap membawa rahasia besar itu agar Syaikh dapat menghiasi muridnya dengan segala kekuatan beliau. Syaikh tidak menahan kekuatan spiritual itu bagi diri beliau sendiri. Beliau ingin memberikannya. Namun kalian harus datang dan mengambilnya. Setiap orang sadar akan dirinya sendiri, apakah dia sedang mengambilnya atau tidak.
Syaikh muncul dalam mimpi-mimpi, muncul dalam penampakan spiritual, ataupun muncul sekilas saja. Namun ketika kalian mampu melihat syaikh sedang duduk bersama kalian secara nyata ( tanpa kehadiran tubuh fisiknya ) maka kalian telah mencapai apa yang beliau inginkan. Itulah caranya agar bisa duduk dengan Syaikh walaupun beliau telah meninggal dunia. Jangan mengira para Awliya sedang duduk di makam dimana dulu kalian terakhir meninggalkannya. Mereka sudah tidak lagi berada disana, mereka telah berpindah tempat. Namun bila kalian datang, memberi salam dan memanggil beliau, mereka akan datang dan muncul disana. Mereka berada di hadirat Nabi saw dan malaikat-malaikat yang memindahkan tubuh-tubuhnya.
Itulah bagaimana Awliya mentransfer kekuatan mereka dan mendatangi para pengikutnya. Bagi mereka, kehidupan ini dan akhirat adalah sama saja. Mereka dapat duduk-duduk dan mengundang yang lain untuk ikut serta. Bagi mereka hal itu amat mudah, namun bagi kita amat susah. Kita harus melatih diri kita dalam asuhan mereka. Cara yang paling ampuh bertemu dengan syaikh adalah dengan meditasi / muraqobah . Jagalah konsentrasi hati pada syaikh kalian di sepanjang malam hari. Beliau akan mulai nampak dan akan semakin sering muncul. Penampakan itu akan semakin jelas sampai kalian mampu berbicara dengan beliau secara langsung, bahkan bersalaman dengan beliau. Sebenarnya tidak susah.
Awliya asal mesir, Ahmad ar-Rufa’I al-Kabir datang ke makam Nabi dan mengatakan :
”Inilah sang pemerintah para hantu sedang bertemu dengan Manusia yang paling nyata ! Mohon ulurkan tangan Anda agar saya dapat menciumnya.” Dari makam Nabi, sebuah tangan putih mulai muncul dan sayyidina Ahmad menciumnya tiga kali. Setiap beliau menciumnya, Nabi mentransfer pengetahuan dari hatinya pada hati Ahmad. 3 samudra pengetahuan-pun telah dialirkan pada beliau.
Jika kalian mencapai maqam ini- kalian akan sangat beruntung. Kalian akan memahami rahasia-rahasia Syaikh. Dan bila belum mencapainya, kalian masih dianggap anak-anak yang masih harus diberi permen. Semoga Allah memberi kita kedewasaan di hadapan Syaikh dan membantu kita memberi kekuatan yang setiap Syaikh inginkan murid-murid mencapainya.
Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.
Namun beliau mampu membuat roh kalian merasakannya tanpa kalian menyadarinya. Seperti seorang dokter yang mengoperasi pasiennya. Pasien tidak merasakan apapun, namun merasakan dirinya telah sembuh. Itulah yang Awliya lakukan. Beliau mengoperasi kalian, namun kalian tidak merasakan apapun. Tetapi dalam kehidupan spiritual kalian, dalam realitas, kalian telah sembuh.
Jika kalian sedang mencium spiritualitas, maka aroma itu membuat kalian mabuk cinta akan Syaikh. Jika Syaikh membuka lebih lagi, kalian tidak hanya mabuk, kalian akan seperti tetangga Nabi Musa as. Salah seorang tetangga Musa pernah berkata,” Musa, karena engkau akan pergi ke bukit Sinai dan berdialog dengan Tuhanmu – tolong katakan pada-Nya agar mengirimi aku cinta, karena aku tidak memiliki rasa cinta bagimu dan Dia. Biarkan Dia kirimkan cinta, agar hatiku bahagia.”
Ketika sampai di Sinai dan telah menyelesaikan apa yang Musa ingin lakukan, beliau lupa akan pesan tetangganya, Allah-lah Yang mengingatkan beliau.
“ Ya Musa, mengapa engkau lupakan tetanggamu ? Bukankah engkau berjanji padanya untuk menyebutnya dalam Hadirat-Ku ? “
“ Ya Tuhan, maafkan saya.”
“ Apa yang dia minta ?”
“ Dia membutuhkan cinta.”
“ Pulanglah dan katakan pada tetanggamu, Aku sedang mengirim cinta sekecil atom ke dalam hatinya.”
“Ya Allah, mohon kirimkan lebih dari itu, Engkaulah Yang Maha Pemurah.”
“Tidak. Itu sudah cukup.”
Musa kembali ke rumahnya dan mencari tetangganya. Ketika beliau menemukannya, tetangga itu tidak lagi berada didunia ini. Matanya terbuka lebar, kedua tangannya terangkat ke atas, mulutnya menganga. Dia tidak bergerak sedikitpun ataupun merasakan sesuatu. “ Oh tetanggaku,” kata Musa “ Kabar baik, Tuhan sedang mengirimkan sebutir cinta pada hatimu.” Namun tetangga itu demikian asyiknya sehingga tidak merasakan kehadiran Musa. Allah-pun memanggil Musa dan mengatakan : “ Ya Musa, walaupun engkau menggiling tubuhnya, dia tidak akan merasakan apapun, dia hanya merasakan Aku.”
Cinta seperti itulah yang Syaikh ingin kirimkan pada hati murid-muridnya. Murid-murid akan meninggalkan apapun dan lari mengejar Syaikhnya tanpa menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Syaikh masih memegang kunci akan cinta itu dan belum membukanya. Beliau membukanya sedikit, setetes demi setetes. Itulah yang kini sedang mengendalikan kita, aroma dari setetes cinta. Belum lagi setetes, belum pula sekecil atom, hanya aromanya saja. Jika beliau membuka satu tetes cinta saja, kalianpun akan meleleh.
Ada pelajaran disini, bahwa jika kalian menghilangkan eksistensi kalian di hadapan Syaikh, maka beliau akan membuat kalian ‘mati sebelum mati’. Namun tidak seorangpun yang siap membawa rahasia besar itu agar Syaikh dapat menghiasi muridnya dengan segala kekuatan beliau. Syaikh tidak menahan kekuatan spiritual itu bagi diri beliau sendiri. Beliau ingin memberikannya. Namun kalian harus datang dan mengambilnya. Setiap orang sadar akan dirinya sendiri, apakah dia sedang mengambilnya atau tidak.
Syaikh muncul dalam mimpi-mimpi, muncul dalam penampakan spiritual, ataupun muncul sekilas saja. Namun ketika kalian mampu melihat syaikh sedang duduk bersama kalian secara nyata ( tanpa kehadiran tubuh fisiknya ) maka kalian telah mencapai apa yang beliau inginkan. Itulah caranya agar bisa duduk dengan Syaikh walaupun beliau telah meninggal dunia. Jangan mengira para Awliya sedang duduk di makam dimana dulu kalian terakhir meninggalkannya. Mereka sudah tidak lagi berada disana, mereka telah berpindah tempat. Namun bila kalian datang, memberi salam dan memanggil beliau, mereka akan datang dan muncul disana. Mereka berada di hadirat Nabi saw dan malaikat-malaikat yang memindahkan tubuh-tubuhnya.
Itulah bagaimana Awliya mentransfer kekuatan mereka dan mendatangi para pengikutnya. Bagi mereka, kehidupan ini dan akhirat adalah sama saja. Mereka dapat duduk-duduk dan mengundang yang lain untuk ikut serta. Bagi mereka hal itu amat mudah, namun bagi kita amat susah. Kita harus melatih diri kita dalam asuhan mereka. Cara yang paling ampuh bertemu dengan syaikh adalah dengan meditasi / muraqobah . Jagalah konsentrasi hati pada syaikh kalian di sepanjang malam hari. Beliau akan mulai nampak dan akan semakin sering muncul. Penampakan itu akan semakin jelas sampai kalian mampu berbicara dengan beliau secara langsung, bahkan bersalaman dengan beliau. Sebenarnya tidak susah.
Awliya asal mesir, Ahmad ar-Rufa’I al-Kabir datang ke makam Nabi dan mengatakan :
”Inilah sang pemerintah para hantu sedang bertemu dengan Manusia yang paling nyata ! Mohon ulurkan tangan Anda agar saya dapat menciumnya.” Dari makam Nabi, sebuah tangan putih mulai muncul dan sayyidina Ahmad menciumnya tiga kali. Setiap beliau menciumnya, Nabi mentransfer pengetahuan dari hatinya pada hati Ahmad. 3 samudra pengetahuan-pun telah dialirkan pada beliau.
Jika kalian mencapai maqam ini- kalian akan sangat beruntung. Kalian akan memahami rahasia-rahasia Syaikh. Dan bila belum mencapainya, kalian masih dianggap anak-anak yang masih harus diberi permen. Semoga Allah memberi kita kedewasaan di hadapan Syaikh dan membantu kita memberi kekuatan yang setiap Syaikh inginkan murid-murid mencapainya.
Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.
Memahami Spiritualitas Dengan Hati ( Mawlana Syaikh muhamma Hisham Kabbani )
Khidir as : “ Kapan Adam diciptakan ?”
Jibril as : “Adam yang mana yang kamu bicarakan ?”
Khidir as : “ Bukankah Adam-mu sama dengan Adam-ku ?”
Jibril as : “ Itu Adam yang terakhir. Ada 124.000 Adam-Adam yang telah datang dan pergi. Setiap dari mereka mempunyai Hari Kiamat, dan sekarang kita sedang berada di masa Adam yang terakhir.”
Khidir as : “ Jadi kapan sebenarnya Allah menciptakan dunia ini ?”
Jibril as : “ Aku akan memberitahumu apa yang aku tahu saja.”
Khidir as : “ Aku sedang mendengarkan. Ceritakanlah!”
Jibrilpun mulai bercerita, “ Suatu ketika, aku bertanya pada Allah agar menunjukkan Ciptaan-Nya padaku. Allah berkata padaku, ‘Ya Jibril, pergilah ke tempat itu dimana kamu akan mendapat pengetahuan.’ “
Ketika turun membawa wahyu untuk Nabi, Jibril hanya menggunakan 2 sayap dari 600 sayap-sayap yang beliau punyai. Hanya dengan kedua sayapnya, cukup untuk menutupi tempat antara tempat asalnya sampai ke bumi. Beliau tidak membuka seluruh sayapnya, karena terlalu kecil jaraknya. Namun ketika Allah memintanya untuk pergi ke suatu tempat, Jibril mengatakan :
“Aku buka seluruh sayapku untuk pergi ke tempat itu, dengan kecepatan yang Allah berikan padaku yang tidak seorangpun mengetahuinya. Aku terus terbang dan terbang dalam Waktu Allah. Ketika aku merasa lelah, akupun berhenti. Ketika aku berhenti, aku melihat semua waktu dan jarak yang telah kutempuh seperti lautan pasir kristal. Kristal-kristal itu amat kecil dan bercahaya. Lalu aku bertanya pada Allah :’Tempat apakah ini ?’ Tuhan-pun menjawab : ‘Ini hanyalah sudut yang sangat kecil dari tempat yang Aku maksud. Ini belum sampai di pertengahan ‘tempat’ itu.’
“Aku kembali membuka sayap-sayapku dan terbang menjelajah ‘Waktu’ lainnya, dua kali besarnya dari waktu yang pertama. Namun masih saja aku belum sampai di tengah ‘tempat’ yang aku tuju, dimana-mana hanya terlihat kristal-kristal kecil dan mengkilap. Pada akhirnya, Allah berkata kepadaku, ‘ Ya Jibril, sekarang mintalah untuk terbang dengan Kekuatan-KU.” Lalu dengan Kekuatan Allah, aku bergerak dengan kecepatan yang tidak akan pernah terbayangkan oleh manusia. Sampailah aku di pertengahan ‘tempat ‘ itu. Aku melihat sebuah pohon berwarna hijau dan seekor burung yang juga berwarna hijau bertengger disana. Setiap detik burung itu terbang turun, kemudian mengambil sebutir kristal, memakannya dan terbang kembali ke atas pohon. Akupun bertanya,
’Ya Allah, apakah itu ? ‘
‘Burung itu adalah kekasih-Ku Muhammad saw.’
‘Dan apakah kristal-kristal itu ?’
‘Setiap butir kristal itu adalah sebuah jagad raya yang berbeda-beda. Muhammad adalah Nabi bagi seluruh jagad raya itu. Apa yang sedang kamu lihat adalah Ciptaan-Ku yang tiada batas akhirnya. Dan Muhammad saw adalah Nabi-Nabi mereka, Awliyanya adalah 124.000 awliya. Begitu Nabi memakan butiran jagad raya itu, Akupun menciptakan yang baru, dan hal itu tidak akan pernah berakhir.’
Itulah kebesaran Nabi kita, jangan pernah meremehkan kekuatan beliau. Kadang ketika saya mengatakan apa yang saya dengar dari Syaikh, saya menggunakan ‘ kata-kata yang menyilaukan’ sehingga membuat hati bahagia, namun dibalik itu ada ribuan dan ribuan rahasia serta hikmah yang tiada batas dari Samudra Pengetahuan yang tidak akan pernah berakhir. Kami tidak akan berhenti berbicara dan pengetahuan itu tidak akan pernah ada akhirnya. Sebagaimana Ciptaan Allah tidak pernah berakhir, pengetahuanpun tidak akan pernah berakhir ; karen a ilmu pengetahuan adalah Ciptaan Allah juga.
Pikiran kita adalah pikiran yang diciptakan. Dengan pikiran yang terbatas, kalian tidak akan mampu memahami apa yang tidak terbatas. Pikiran hanya terbatas pada pengetahuan yang dimilikinya. Kalian tidak akan mampu memahami Tuhan dengan pikiran itu. Pikiran tidak mungkin memahami Yang menciptakannya. Sesuatu yang diciptakan tidak akan mampu memahami Penciptanya. Namun hati mampu.
Wa quli-r-ruhu min amri Rabbik. Firman Allah dalam Qur’an : “Ya Nabi, katakan pada umatmu bahwa ruh dan jiwa berasal dari-Ku.” Karena itulah, kita mampu memahaminya. Pikiran dan tubuh berasal dari bumi sedang ruh berasal dari Allah. Wa nafakhtu fihi min ruhi “ Telah Aku tiupkan Ruhku pada Adam.” Itulah mengapa Tuhan memerintahkan iblis untuk bersujud, bukan bagi tubuh Adam, namun bagi ruhnya, karena ruh itu berasal dari Allah.
Jadi, dengan memusatkan diri melalui roh. kita bisa memahami kearifan dan pengetahuan yang tersembunyi. Apakah penghalang antara kita dalam menggunakan roh? yaitu ego kita. Saya menghadapi masalah di Amerika ini, mereka selalu mengatakan,
“ Kami telah diajari untuk bangga pada diri sendiri sejak kami kecil. Untuk meninggikan ego kami.” Saya katakan bahwa itu adalah senjata setan yang paling merusak untuk menyerang kalian. Hal itu dibenarkan bila kalian bangga karena melakukan sesuatu yang baik. Namun ego-pun akan mengecoh kalian dengan senjata itu – kesombongan – agar kalian jauh dari spiritualitas.
Seperti menatap sebuah cermin. Pecahkan cermin itu dalam hati kalian dan jangan pernah lagi memandang diri sendiri pada cermin itu. Yang nyata bukanlah gambaran yang ada di cermin, tapi yang diluar cermin. Tanpa ego, kalian akan mencapai kenyataan hakiki.
Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.
Jibril as : “Adam yang mana yang kamu bicarakan ?”
Khidir as : “ Bukankah Adam-mu sama dengan Adam-ku ?”
Jibril as : “ Itu Adam yang terakhir. Ada 124.000 Adam-Adam yang telah datang dan pergi. Setiap dari mereka mempunyai Hari Kiamat, dan sekarang kita sedang berada di masa Adam yang terakhir.”
Khidir as : “ Jadi kapan sebenarnya Allah menciptakan dunia ini ?”
Jibril as : “ Aku akan memberitahumu apa yang aku tahu saja.”
Khidir as : “ Aku sedang mendengarkan. Ceritakanlah!”
Jibrilpun mulai bercerita, “ Suatu ketika, aku bertanya pada Allah agar menunjukkan Ciptaan-Nya padaku. Allah berkata padaku, ‘Ya Jibril, pergilah ke tempat itu dimana kamu akan mendapat pengetahuan.’ “
Ketika turun membawa wahyu untuk Nabi, Jibril hanya menggunakan 2 sayap dari 600 sayap-sayap yang beliau punyai. Hanya dengan kedua sayapnya, cukup untuk menutupi tempat antara tempat asalnya sampai ke bumi. Beliau tidak membuka seluruh sayapnya, karena terlalu kecil jaraknya. Namun ketika Allah memintanya untuk pergi ke suatu tempat, Jibril mengatakan :
“Aku buka seluruh sayapku untuk pergi ke tempat itu, dengan kecepatan yang Allah berikan padaku yang tidak seorangpun mengetahuinya. Aku terus terbang dan terbang dalam Waktu Allah. Ketika aku merasa lelah, akupun berhenti. Ketika aku berhenti, aku melihat semua waktu dan jarak yang telah kutempuh seperti lautan pasir kristal. Kristal-kristal itu amat kecil dan bercahaya. Lalu aku bertanya pada Allah :’Tempat apakah ini ?’ Tuhan-pun menjawab : ‘Ini hanyalah sudut yang sangat kecil dari tempat yang Aku maksud. Ini belum sampai di pertengahan ‘tempat’ itu.’
“Aku kembali membuka sayap-sayapku dan terbang menjelajah ‘Waktu’ lainnya, dua kali besarnya dari waktu yang pertama. Namun masih saja aku belum sampai di tengah ‘tempat’ yang aku tuju, dimana-mana hanya terlihat kristal-kristal kecil dan mengkilap. Pada akhirnya, Allah berkata kepadaku, ‘ Ya Jibril, sekarang mintalah untuk terbang dengan Kekuatan-KU.” Lalu dengan Kekuatan Allah, aku bergerak dengan kecepatan yang tidak akan pernah terbayangkan oleh manusia. Sampailah aku di pertengahan ‘tempat ‘ itu. Aku melihat sebuah pohon berwarna hijau dan seekor burung yang juga berwarna hijau bertengger disana. Setiap detik burung itu terbang turun, kemudian mengambil sebutir kristal, memakannya dan terbang kembali ke atas pohon. Akupun bertanya,
’Ya Allah, apakah itu ? ‘
‘Burung itu adalah kekasih-Ku Muhammad saw.’
‘Dan apakah kristal-kristal itu ?’
‘Setiap butir kristal itu adalah sebuah jagad raya yang berbeda-beda. Muhammad adalah Nabi bagi seluruh jagad raya itu. Apa yang sedang kamu lihat adalah Ciptaan-Ku yang tiada batas akhirnya. Dan Muhammad saw adalah Nabi-Nabi mereka, Awliyanya adalah 124.000 awliya. Begitu Nabi memakan butiran jagad raya itu, Akupun menciptakan yang baru, dan hal itu tidak akan pernah berakhir.’
Itulah kebesaran Nabi kita, jangan pernah meremehkan kekuatan beliau. Kadang ketika saya mengatakan apa yang saya dengar dari Syaikh, saya menggunakan ‘ kata-kata yang menyilaukan’ sehingga membuat hati bahagia, namun dibalik itu ada ribuan dan ribuan rahasia serta hikmah yang tiada batas dari Samudra Pengetahuan yang tidak akan pernah berakhir. Kami tidak akan berhenti berbicara dan pengetahuan itu tidak akan pernah ada akhirnya. Sebagaimana Ciptaan Allah tidak pernah berakhir, pengetahuanpun tidak akan pernah berakhir ; karen a ilmu pengetahuan adalah Ciptaan Allah juga.
Pikiran kita adalah pikiran yang diciptakan. Dengan pikiran yang terbatas, kalian tidak akan mampu memahami apa yang tidak terbatas. Pikiran hanya terbatas pada pengetahuan yang dimilikinya. Kalian tidak akan mampu memahami Tuhan dengan pikiran itu. Pikiran tidak mungkin memahami Yang menciptakannya. Sesuatu yang diciptakan tidak akan mampu memahami Penciptanya. Namun hati mampu.
Wa quli-r-ruhu min amri Rabbik. Firman Allah dalam Qur’an : “Ya Nabi, katakan pada umatmu bahwa ruh dan jiwa berasal dari-Ku.” Karena itulah, kita mampu memahaminya. Pikiran dan tubuh berasal dari bumi sedang ruh berasal dari Allah. Wa nafakhtu fihi min ruhi “ Telah Aku tiupkan Ruhku pada Adam.” Itulah mengapa Tuhan memerintahkan iblis untuk bersujud, bukan bagi tubuh Adam, namun bagi ruhnya, karena ruh itu berasal dari Allah.
Jadi, dengan memusatkan diri melalui roh. kita bisa memahami kearifan dan pengetahuan yang tersembunyi. Apakah penghalang antara kita dalam menggunakan roh? yaitu ego kita. Saya menghadapi masalah di Amerika ini, mereka selalu mengatakan,
“ Kami telah diajari untuk bangga pada diri sendiri sejak kami kecil. Untuk meninggikan ego kami.” Saya katakan bahwa itu adalah senjata setan yang paling merusak untuk menyerang kalian. Hal itu dibenarkan bila kalian bangga karena melakukan sesuatu yang baik. Namun ego-pun akan mengecoh kalian dengan senjata itu – kesombongan – agar kalian jauh dari spiritualitas.
Seperti menatap sebuah cermin. Pecahkan cermin itu dalam hati kalian dan jangan pernah lagi memandang diri sendiri pada cermin itu. Yang nyata bukanlah gambaran yang ada di cermin, tapi yang diluar cermin. Tanpa ego, kalian akan mencapai kenyataan hakiki.
Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.
Keakraban ( mawlana Syaikh Nazim Al Haqqani )
Seorang manusia cenderung untuk membuat konflik. Ia ingin menjadi seseorang yang unik, lain daripada yang lain, namun dia juga ‘hewan’ yang bersosial. Keunikan adalah salah satu Sifat Tuhan yang dianugerahkan pada kita, dimana secara fisik dan kepribadian berbeda satu sama lain. Sesungguhnya, ada sebuah Nama Ilahiah yang Allah anugerahkan disetiap manusia, sebuah Nama Ilahiah sebagai pembeda antara satu dengan lainnya. Karena inilah kita punya kecenderungan melihat diri sendiri sebagai pribadi yang unik, hal ini memang benar ; namun menjadi salah bila menganggap diri sendiri “lebih” dari yang lain. Ketika menyatukan diri dengan yang lain, maka akan tercipta potensi kesempurnaan. Karena nama-nama unik kita juga berasal dari manifestasi gabungan dari keseluruhan Sifat-Sifat Ilahi. Cara untuk menyempurnakan potensi agung ini adalah melalui keakraban dengan yang lain. Siapapun yang mampu menyentuh hati-hati manusia, dia akan menemukan Hadirat Ilahiah Tuhan-nya. Itulah alasan mengapa Nabi suci kita merangkul orang-orang dalam pertemuan yang tidak resmi (penuh keakraban). Jangan dikira ini sebuah pekerjaan mudah ! Kekuatan menarik masyarakat luas adalah sebuah anugerah Surga.
Nabi-Nabi dan para pewarisnya di anugerahi kemampuan menyentuh hati manusia secara langsung. Mereka bukanlah orang-orang yang hatinya terbuat dari batu, namun hatinya terbuka dan tersentuh oleh pesan-pesan Surga. Biasanya orang-orang yang rendah hati mudah terbuka dalam merespon pesan-pesan Nabi saw. Mereka mendekati hal-hal alamiah dan mampu membedakan sesuatu yang berasal dari kepalsuan. Secara umum, para wanita juga lebih terbuka akan pesan-pesan para Nabi dibanding laki-laki. Hati wanita lebih mudah terbuka sedang hati para lelaki sering terkunci rapat.
Tanda aliran spiritualitas yang benar adalah bahwa hati mereka menjadi terpengaruh dan melembut, sehingga keakraban dan kasih sayang tumbuh diantara penerima pesan-pesan itu. Seperti itulah langkah awal dari keimanan. Kalian bukan seorang yang benar-benar beriman sampai kalian menginginkan orang lain mendapatkan kebaikan seperti yang juga kalian inginkan. Kalian harus bisa memasukkan diri sendiri dalam posisi mereka, bahkan bila orang itu sedang berkonflik dengan kalian.
Sampai kalian merasakan kasih sayang dan keakraban pada sesama para pencari, maka mustahil bersimpati pada mereka yang sedang memusuhi kalian. Bagaimana cara membuka hati kalian pada sesama manusia ? Selaraskan hati kalian dengan hati dari salah satu Awliya Allah. Karena di dalam hati mereka ada Daya Tarik Ilahiah, dan itulah kekuatan yang mampu menjadikan mereka sebagai medium untuk mempersatukan hati orang-orang. Jika tidak ada hubungan dengan Sumber segala cinta, yaitu Sang Pencipta seluruh mahluk – maka tidak akan ada keakraban berkembang diantara mereka. Yang ada hanya keakraban pada permukaannya saja dan akan begitu mudahnya di lecehkan oleh orang lain ketika niat pribadi tercampur didalamnya.
Jika seorang manusia belum menjalani pelatihan di tangan seorang pewaris Nabi, tidak akan mungkin baginya menghadapi orang-orang yang akan cenderung membebaninya dengan berbagai masalah. Dia akan seperti sebuah semak berduri, tidak bisa disentuh, tidak bisa didekati, selalu siap mencakar siapapun yang mendekat, teman atau lawan. Biasanya, orang-orang seperti itu tidak mampu menerima bahwa mereka sebenarnya ‘berduri’. Ini tidak mengejutkan, sebuah mekanisme biasa bagi jiwa manusia untuk menolak orang lain yang punya karakteristik buruk yang tidak disukainya. Kita semua adalah cermin-cermin, kita tidak menyadari bahwa keburukan kita sendirilah yang membuat kita jijik saat kita melihatnya ada pada pribadi orang lain.
Tuhan bersimpati atas ciptaan-ciptaan-Nya, dan siapapun yang telah menerima percikan sifat itu akan merasakan hatinya cenderung bersimpati pada orang lain. Keakraban adalah aliran dari hati ke hati, jangan pedulikan kata-kataku, terimalah aliran dariku saja. Keakraban dengan sesama pencari hanyalah tahap pertama dari manifestasi Keakraban Ilahiah. Karena jiwa-jiwa penyayang juga tumbuh, bahkan dari binatang-binatang buas.
Suatu ketika aku sedang bersama Grandsyaikh di suatu desa. Begitu memasuki rumah yang baru pertama kali kami kunjungi, seekor anjing penjaga yang galak bergegas menghampiri kami dengan ekor melingkari kakinya seperti seekor kalajengking. Aku mengira kami akan digigit dan dikoyak olehnya. Itu karena anjing itu belum melihat kami dengan jelas. Ketika anjing itu mulai mendekat, segala sifat kebinatangannya hilang. Anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya. Grandsyaikh mengelus kepalanya. Anjing penjaga galak itu berubah menjadi anjing lucu yang melompat-lompat kegirangan. Kemudian Grandsyaikh mengatakan padaku “ Anjing itu mengenalku. Aku tidak asing bagi siapapun.”
Nabi-Nabi dan para pewarisnya di anugerahi kemampuan menyentuh hati manusia secara langsung. Mereka bukanlah orang-orang yang hatinya terbuat dari batu, namun hatinya terbuka dan tersentuh oleh pesan-pesan Surga. Biasanya orang-orang yang rendah hati mudah terbuka dalam merespon pesan-pesan Nabi saw. Mereka mendekati hal-hal alamiah dan mampu membedakan sesuatu yang berasal dari kepalsuan. Secara umum, para wanita juga lebih terbuka akan pesan-pesan para Nabi dibanding laki-laki. Hati wanita lebih mudah terbuka sedang hati para lelaki sering terkunci rapat.
Tanda aliran spiritualitas yang benar adalah bahwa hati mereka menjadi terpengaruh dan melembut, sehingga keakraban dan kasih sayang tumbuh diantara penerima pesan-pesan itu. Seperti itulah langkah awal dari keimanan. Kalian bukan seorang yang benar-benar beriman sampai kalian menginginkan orang lain mendapatkan kebaikan seperti yang juga kalian inginkan. Kalian harus bisa memasukkan diri sendiri dalam posisi mereka, bahkan bila orang itu sedang berkonflik dengan kalian.
Sampai kalian merasakan kasih sayang dan keakraban pada sesama para pencari, maka mustahil bersimpati pada mereka yang sedang memusuhi kalian. Bagaimana cara membuka hati kalian pada sesama manusia ? Selaraskan hati kalian dengan hati dari salah satu Awliya Allah. Karena di dalam hati mereka ada Daya Tarik Ilahiah, dan itulah kekuatan yang mampu menjadikan mereka sebagai medium untuk mempersatukan hati orang-orang. Jika tidak ada hubungan dengan Sumber segala cinta, yaitu Sang Pencipta seluruh mahluk – maka tidak akan ada keakraban berkembang diantara mereka. Yang ada hanya keakraban pada permukaannya saja dan akan begitu mudahnya di lecehkan oleh orang lain ketika niat pribadi tercampur didalamnya.
Jika seorang manusia belum menjalani pelatihan di tangan seorang pewaris Nabi, tidak akan mungkin baginya menghadapi orang-orang yang akan cenderung membebaninya dengan berbagai masalah. Dia akan seperti sebuah semak berduri, tidak bisa disentuh, tidak bisa didekati, selalu siap mencakar siapapun yang mendekat, teman atau lawan. Biasanya, orang-orang seperti itu tidak mampu menerima bahwa mereka sebenarnya ‘berduri’. Ini tidak mengejutkan, sebuah mekanisme biasa bagi jiwa manusia untuk menolak orang lain yang punya karakteristik buruk yang tidak disukainya. Kita semua adalah cermin-cermin, kita tidak menyadari bahwa keburukan kita sendirilah yang membuat kita jijik saat kita melihatnya ada pada pribadi orang lain.
Tuhan bersimpati atas ciptaan-ciptaan-Nya, dan siapapun yang telah menerima percikan sifat itu akan merasakan hatinya cenderung bersimpati pada orang lain. Keakraban adalah aliran dari hati ke hati, jangan pedulikan kata-kataku, terimalah aliran dariku saja. Keakraban dengan sesama pencari hanyalah tahap pertama dari manifestasi Keakraban Ilahiah. Karena jiwa-jiwa penyayang juga tumbuh, bahkan dari binatang-binatang buas.
Suatu ketika aku sedang bersama Grandsyaikh di suatu desa. Begitu memasuki rumah yang baru pertama kali kami kunjungi, seekor anjing penjaga yang galak bergegas menghampiri kami dengan ekor melingkari kakinya seperti seekor kalajengking. Aku mengira kami akan digigit dan dikoyak olehnya. Itu karena anjing itu belum melihat kami dengan jelas. Ketika anjing itu mulai mendekat, segala sifat kebinatangannya hilang. Anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya. Grandsyaikh mengelus kepalanya. Anjing penjaga galak itu berubah menjadi anjing lucu yang melompat-lompat kegirangan. Kemudian Grandsyaikh mengatakan padaku “ Anjing itu mengenalku. Aku tidak asing bagi siapapun.”
Pilih Asli atau palsu
Shaykh Nazim Adil Haqqani
Damaskus 1980
Seorang murid bertanya pada Mawlana Shaykh Nazim, “ Mawlana, ketika Qur’an di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris apakah rahasia (sirr) yang dikandungnya akan mengalami degradasi?atau bahkan sirna?”
Shaykh Nazim menjawab, “ Dari sebuah terjemahan anda hanya mendapatkan sangat sedikit rahasia yang ada. Terjemahan itu apa sebenarnya? Perumpamaannya seperti anda dengan foto anda. Apa hubungan antara ke duanya?Apakah anda adalah ‘foto anda’?orang lain yang melihat pada foto itu tentu menyimpulkan bahwa itu adalah ‘anda’ meskipun bukan, tapi.....apakah anda mengajak tidur ‘foto istri’, atau istri anda yang sesungguhnya?Perbedaan yang asli dengan terjemahan adalah seperti ini, karya Shakespeare, Hamlet, ketika di translasi ke bahasa Jerman. Apakah akan sama?Tidak mungkin. Penampilannya akan tanpa spirit (ruh).”
Shaykh Nazim melanjutkan, “ Grandshaykh kita, Shaykh Abdullah Faiz ad Daghestani mengatakan bahwa seluruh rahasia yang terkandung dalam al Qur’an terbuka kelak saat Imam Mahdi a.s hadir sebagai penyelamat. Al Qur’an akan dimengerti seluruh umat manusia. Tidak akan ada yang luput dari sentuhan rahasia Qur’an saat itu, baik secara individu atau umum.”
Damaskus 1980
Seorang murid bertanya pada Mawlana Shaykh Nazim, “ Mawlana, ketika Qur’an di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris apakah rahasia (sirr) yang dikandungnya akan mengalami degradasi?atau bahkan sirna?”
Shaykh Nazim menjawab, “ Dari sebuah terjemahan anda hanya mendapatkan sangat sedikit rahasia yang ada. Terjemahan itu apa sebenarnya? Perumpamaannya seperti anda dengan foto anda. Apa hubungan antara ke duanya?Apakah anda adalah ‘foto anda’?orang lain yang melihat pada foto itu tentu menyimpulkan bahwa itu adalah ‘anda’ meskipun bukan, tapi.....apakah anda mengajak tidur ‘foto istri’, atau istri anda yang sesungguhnya?Perbedaan yang asli dengan terjemahan adalah seperti ini, karya Shakespeare, Hamlet, ketika di translasi ke bahasa Jerman. Apakah akan sama?Tidak mungkin. Penampilannya akan tanpa spirit (ruh).”
Shaykh Nazim melanjutkan, “ Grandshaykh kita, Shaykh Abdullah Faiz ad Daghestani mengatakan bahwa seluruh rahasia yang terkandung dalam al Qur’an terbuka kelak saat Imam Mahdi a.s hadir sebagai penyelamat. Al Qur’an akan dimengerti seluruh umat manusia. Tidak akan ada yang luput dari sentuhan rahasia Qur’an saat itu, baik secara individu atau umum.”
*Peringatan Malaikat Datang ke Suara Hatimu!*
*As-salamu 'alaikum*!.. . Jika kau sedang duduk (seperti ini)... melihat ke
semua orang, karena lebih baik mendengar dan melihat... (Kemudian kau)
mengambil lebih banyak bagian dari pembicaraan kita, dimana-mana juga begitu
*Destur, ya Sultanu-l Awliya, Madad! Ya Rijalallah, Madad!*
*As-salamu 'alaikum*! Ini (sebuah) perintah dari Rasulullah saw agar
diantara kita semua mengucap: *As-salamu 'alaikum*, karena dengan 'Salam'
datang lebih banyak berkah. 'Salam' membawa berkah-berkah. Atau berdiri,
bukan datang. Seperti, beberapa awan yang datang dan pergi tetapi tidak
memberi hujan. Beberapa dari awan mendekat dan menurunkan hujan.
Oleh karena itu, siapa yang memohon Hujan-hujan surgawi dengan Berkah-berkah
Allah yang Maha Kuasa, ucapkan lebih banyak: *As-salamu 'alaikum*! Ini
begitu penting karena Allah yang Maha Kuasa memerintahkan: *Idha dakhaltum
buyut, fa sallimu 'ala ahlih*a... Ketika kau masuk ke sebuah tempat, sebuah
rumah, ucapkan: '*As-salamu 'alaikum*'! Oleh karena itu, sebelum masuk, ini
adab kita yang baik, jika (seseorang) datang dan mengetuk pintu, dari dalam
rumah seseorang akan bertanya: Siapa itu? (Dan:) *As-salamu'alaikum* ,
diucapkan orang yang bertamu itu.
Bahkan- (ini) sangat penting mengucap: Salam- ketika kau tiba disuatu
tempat, di rumah, (dan) tidak ada seorang pun didalamnya: *Fa sallimu 'ala
ahliha*. Meskipun tidak ada seorangpun, kau masih harus mengucap: *As-salamu
'alaikum! As-salamu 'alaikum wa 'ala 'ibadi-llahi salihin*! Ini sangat
penting dan ini "*bi shaililla*h (?)", merupakan tanda-tanda atau sebuah
simbol Islam dengan mengucap: *As-salamu 'alaikum*! Apabila tidak seorangpun
mengucap ('Salam'), dapat kau pahami bahwa dia bukanlah seorang Muslim!
Oleh karena itu kami mengucap kepada para tamu- semoga Allah memberkahimu
dari Samudera-samudera Berkah-Nya yang tidak berkesudahan: sebanyak mungkin
berusahalah mengambil lebih banyak lagi rahmat-rahmat dari Allah yang Maha
Kuasa! Namun manusia justru mengejar untuk meraih sesuatu dari dunia
material, mereka tidak berpikir untuk menyimpan lebih banyak rahmat. Jadi,
kini manusia menjadi serakah! Bahkan termasuk golongan kaum Muslim, mereka
begitu serakah untuk memohon lebih banyak berkah.
Untuk apa kau hidup? Untuk Allah swt atau untuk egomu? Untuk apa kau hidup?
Kau berusaha menyenangkan egomu atau kau berusaha untuk menyenangi egomu?
Manusia minta kesenangan bagi diri, tidak memohon untuk menjadikan Tuhan
mereka ridho kepada mereka.
Sebanyak apapun yang dapat kau lakukan untuk dirimu sendiri, (itu) akan
hilang, selesai… selesai! Tetapi apapun yang kau lakukan bagi Allah yang
Maha Kuasa akan tetap: '*Amalu salih yabqa*, perbuatan-perbuatan baik tetap
berbekas, namun perbuatan-perbuatan buruk tidak akan pernah ada bekasnya
-untuk apa!
Aku minta maaf mengatakan kalau seluruh Dunia Muslim menuju arah yang salah!
Ide, target mereka bukanlah untuk memohon rahmat-rahmat dari Surga tetapi
mereka meminta (sesuatu) bagi diri sendiri: untuk membuat ego mereka lebih
senang dan memperoleh lebih banyak kesenangan. Namun ini (sebuah) kesalahan
besar, jalan yang salah, jalan yang salah!
Aku telah melihat sebuah instrumen baru, mengajari huruf-huruf kecil dan
juga kata-kata. Aku hanya mengingat dari instrumen kecil itu kadang-kadang
kau menekan sebuah tombol dan terdengarlah suara: Salah! Salah jalan! Salah!
Itulah dalam ingatanku. Ya.
Berapa kali para Malaikat menunjuk ke jiwamu: Salah! Salah melangkah!
Tingkah laku yang salah? Berapa kalikah mereka berkata ini?
Saat instrumen itu mengeluarkan suara: Salah, cepat perbaiki! Tetapi
milyaran manusia, saat Perhatian surgawi datang kepada mereka, Peringatan
(surgawi) datang ke jiwa mereka, namun tidak pernah mereka perbaiki! Begitu
banyak peringatan! Untuk segala sesuatu ada: Salah atau benar. Surga tidak
meninggalkan seorangpun sendiri di muka bumi. Peringatan itu selalu datang
dari Surga ke hati nurani kita dengan berkata: Salah! Namun manusia malah
menjawab: Aku tidak peduli! Aku tidak peduli!
Seperti Fir'aun. Berapa kalikah Musa berkata: Datang ke Tuhan-mu dan
menyerahlah, Fir'aun menjawab: Aku tidak peduli! Berapa kalikah Ibrahim
berseru kepada Nimrod: Datang dan menyerahlah kepada Pencipta-mu, Tuhan
Penguasa Surga dan dia menjawab: Aku tidak peduli! Aku tidak peduli! Aku
tidak peduli!
Dan oleh karena itu sang Nabi (saw) pernah bersabda: Wahai manusia! Apabila
Allah yang Maha Kuasa meninggalkan semua orang bersama egonya, dan
memberikan ego sebuah kesempatan untuk menjadi Fir'aun atau Nimrod, aku
tidak berpikir kalau orang-orang itu akan menjadi Muslim! Semua orang akan
berkata: 'Akulah Tuhan semesta alam!' - *Astaghfirullah* !- atau berkata:
'Akulah pemilik seluruh benua! Seluruh negara milikku, kepunyaanku! ' Semua
orang harus mengukuhkan bahwa dirinya pemilik Langit dan bumi!
Namun Allah yang Maha Kuasa tidak memberikan kepada mereka satu kesempatan
penuh. Tidak diberikan! Jika Dia memberikan, maka semua orang akan
mengklaim: Akulah tuhan! Akulah tuhanmu! Bukan hanya tuhan biasa, namun dia
akan berkata: *Ana Rabbukum al 'ala*! Dia tidak terima hanya sebagai berhala
biasa bagi orang lain, dia malahan berkata: Aku yang terpenting! Aku berada
dipuncak! Bahkan kau melayani, menyembah begitu banyak 'ilah', dewa-dewa,
namun akulah yang paling agung! Itulah Nimrod! Oleh karena itu, semua orang
akan berkata seperti itu!
Kini, itulah gelarnya, mereka berkata: Kamilah masyarakat paling beradab,
paling sempurna dibandingkan masyarakat sebelum kami! Kau tidak dapat
menemukan seorang yang tidak berkata: Akulah yang begini! Semua orang hanya
mengambil suatu kondisi atau... untuk menjadi seperti seorang Nimrod. Semua
orang menginginkan itu: Apa yang aku inginkan, dituruti! Apa yang aku
inginkan, harus kau berikan! (Mereka) bertengkar dengan orang tua,
bertengkar dengan para guru, bertengkar dengan pemerintahan. .. bertikai
terhadap semuanya seraya berkata: Apa yang aku katakan, apa yang aku
inginkan, harus kau berikan!
Gelar dan tabiat terkenal, (atribut)... mereka dijalan itu, tidak bedanya
dengan Nimrod yang telah tiada dengan yang kini hidup dimuka bumi!
Oleh karena itu Allah yang Maha Kuasa menjadikan '*nufur*'', kebencian
diantara mereka. Membenci; semua orang saling membenci: anak-anak membenci
orang tuanya, laki-laki dan wanita saling membenci, anak-anak saling
membenci, tetangga saling membenci, bangsa-bangsa saling membenci... *
Subhanallah* ! Kebencian itu ditanamkan dalam hati manusia. Siapakah yang
menanamnya, 'sari'? Siapakah petani yang menanam kebencian dalam hati
manusia?
Kebencian!
Kini Cinta yang Allah Maha Kuasa telah anugerahkan kepada bangsa-bangsa,
kepada manusia diangkat. Bukan diangkat, tapi ditendang oleh orang-orang dan
mereka mengejar kebencian. Oleh karena itu, mereka berkata: Kini (kamilah)
masyarakat paling beradab, namun mereka masyarakat yang dikutuk, siapa
mereka yang berani berkata-kata seperti itu!
Bagaimana? Kau membunuh, menghancurkan, membakar -bagaimana kau berkata:
Kami adalah masyarakat paling beradab? Kebodohan apakah itu? Dan kau
membunuh orang tak berdosa dan tidak percaya bahwa pada Hari Kebangkitan kau
akan ditanyai, saat Allah yang Maha Kuasa bertanya:... *Bi ayi thanbin
kutilat*? O para pembunuh! Bagaimana kau membunuh yang kecil itu? Bagaimana,
kesalahan apa yang dilakukannya sehingga kau membunuhnya, makhluk kecil itu?
Allah akan bertanya! Bagaimana mereka berkata: Kamilah masyarakat paling
beradab?
Mereka para pembohong, lebih-lebih dari setan! Setan lebih mempunyai
kehormatan dibandingkan orang-orang yang hidup sekarang, orang-orang abad
21! *Jahannamiyun* ! Setan bisa berada ditingkat pertama neraka, namun
orang-orang ini bisa berada ditingkat ke-7, tingkat terendah dari *Jahannam*,
api neraka!
Itulah panorama yang aku pikir tidak akan dibicarakan kepada kalian, namun
saat hatiku sedang berhubungan dengan Kekuatan surgawi, mereka membuatku
berkata seperti ini. Namun kebenaran sejati inilah yang kami bicarakan!
Kami tidak menerima orang-orang itu! Para pembunuh harus dihukum dalam
tingkat terendah api neraka! Itulah yang paling layak bagi mereka!
Wahai manusia, waspadalah terhadap Setan! Waspadalah, jangan mengikuti
ego-egomu! Allah swt telah menciptakanmu dan memberimu Cinta surgawi-Nya
dengan menciptakanmu, meletakkan. Kau tidak menggunakan Cinta itu, (kau)
menendangnya dan mengambil kebencian dari Setan dan rasa permusuhan serta
membunuh manusia, orang-orang yang tak berdosa, membakar mereka, menembak
mereka -apa itu!
Aku berseru kepada semua bangsa! Kita hanyalah segenggam manusia -tidak
masalah! Allah yang Maha Kuasa melakukan sesuatu untuk mencapai ke Timur dan
Barat!
Aku bukan siapa-siapa! Aku bukan siapa-siapa, tetapi mereka membuat bahasaku
(lidah?) untuk bicara kebenaran! Tidak seorangpun berkata: Kau salah! Aku
bisa menendangnya!
Semoga Allah mengampuni kita! Wahai manusia, waspadalah terhadap egomu!
Waspadalah terhadap Setan, karena setan menggiringmu ke api neraka - api
neraka di Dunya, api neraka kehidupan abadi. Berusahalah menggapai Keabadian
dengan Kesenangan Tuhan-mu! Waspadalah, jangan sampai melalui
kondisi-kondisi terburuk: kesengsaraan dalam api neraka!
Oh Tuhan, ampunilah kami!...
Ini cukup. Kami tidak meraih untuk mengucap: *A'udzu bi-llahi mina syaitani
rajim,* *Bismillahir Rahmanir Rahim*, namun ini datang bagaikan
samudera-samudera berkekuatan penuh, peringatan-peringat an, kepada seluruh
manusia! Mereka harus datang untuk menerima apa yang Tuhan kirimkan dan
mereka harus berusaha menjaga hak-haknya!
Hak-hak binatang! Ehhh, hak-hak binatang! Apa yang kau lakukan? Aku
memelihara anjing. Kami begitu suka dengan anjing, oleh karenanya kami
pembela hak-hak binatang.
*Tu *atasmu! *Astaghfirullah* ! Kau bukannya memikirkan tentang hak-hak
manusia, malah membuat hak-hak anjing.
Syaikh Effendi! Apa itu?
Ada kios-kios tukang cukur disana Hah? Untuk apa tukang cukur? Untuk
mencukur kepalaku?
Tidak, ada... karena kini kita orang-orang yang begitu bisa berimprovasi
sehingga kami berusaha menjaga hak-hak binatang. Eh? Untuk?
Dan kami memelihara beberapa ekor anjing... beberapa dari mereka juga
dinamakan 'Churchill'. Siapakah dia? Dari dimana dibawa 'Churchill'
ini? *Taubat,
Astaghfirullah* ...
Maksudku, Syaikh Efendi, kami manusia yang sangat sangat sangat lambat...
Kau pastilah tidak dari masa ini, karena kau tidak tahu (tentang) hak-hak
binatang... Berapa usiamu! Ditempatku ada 40 ekor kucing!
Eh, kau membawa kucing-kucingmu ke tukang cukur? Hah?
Mereka membuat seperti ini, seperti ini, seperti ini, mereka menjadikan diri
mereka begitu baik. Tidak perlu!
Tidak, kami memelihara anjing kami dan membawa mereka ke tukang cukur dan
kami datang... pastilah beberapa dari mereka, saat (kami) sedang membawa
anjing itu - *ajallahuhumullah* - tongkat kami (pastilah ada) 7 buah! Untuk
apa?
Untuk menjaga anjing, anjing kami karena kami membawa anjing itu ke tukang
cukur agar penampilannya bagus. Namun kadang-kadang anjing itu datang dan
mengigit oleh karenanya 2 orang harus memegang kepalanya, beberapa dari
mereka dipegang ekornya dan kami butuh 2 orang untuk memegang kaki-kakinya,
kadang anjing itu juga mengonggong. Kadang-kadang satu dari anjing itu
diberi tulang ke mulutnya ketika sedang dicukur. Kami menjaga hak-hak
binatang!
Bagaimana dengan umat manusia?
Aku tidak peduli! Aku tidak peduli, anjing-anjingku lebih penting bagiku dan
kucing-kucing kami lebih penting. Yang lain tidak penting. Kami suka bila
nama kami dituliskan sebagai 'penjaga hak-hak binatang kelas satu' dan kami
berharap mungkin saja pemerintah memberikan kami sebuah medali. Dan ketika
kami wafat, mereka meletakkan di peti mati kami: 'Di adalah seorang penjaga
hak-hak binatang'. Bagaimana dengan umat manusia?
Eh, apa itu umat manusia! Bahkan seekor kucing pun harus diberikan
hak-haknya oleh semua manusia!
Kini, makna dari tingkat peradaban tertinggi bagi mereka adalah menjadi
tingkat binatang. Dan hal terburuk adalah: beberapa kotamadya memerintah:
Barang siapa yang membawa anjing harus juga membawa sebuah tas dan sebuah
sekop! Jika anjing itu membuang hajatnya, orang itu harus mengambil dan
membawa kotorannya. Apa ini? Inikah kehormatan umat manusia? Mereka bangga
dengan cara seperti ini? Aku sedih, sangat sedih, kepada manusia yang jatuh
ke makhluk tingkat terendah.
Semoga Allah mengampuni kita!
Demi kehormatan yang paling terhormat dalam Hadirat Ilahiah-Nya, Sayyidina
Muhammad saw, Fatiha
*Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Aziz Allah,*
*Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Karim Allah,*
*Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhan Allah,*
*Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sultan Allah Sultan Sensin, ya
Allah! *
*Allahumma shalli wa sallim 'ala Nabiyina Muhammad, alayhi salam, *
*shalatan tadumu wa tughda ilay, mamarra layali wa tula dawam *
*Fatiha ziyadatan li sharfin Nabi saw Fatiha.*
semua orang, karena lebih baik mendengar dan melihat... (Kemudian kau)
mengambil lebih banyak bagian dari pembicaraan kita, dimana-mana juga begitu
*Destur, ya Sultanu-l Awliya, Madad! Ya Rijalallah, Madad!*
*As-salamu 'alaikum*! Ini (sebuah) perintah dari Rasulullah saw agar
diantara kita semua mengucap: *As-salamu 'alaikum*, karena dengan 'Salam'
datang lebih banyak berkah. 'Salam' membawa berkah-berkah. Atau berdiri,
bukan datang. Seperti, beberapa awan yang datang dan pergi tetapi tidak
memberi hujan. Beberapa dari awan mendekat dan menurunkan hujan.
Oleh karena itu, siapa yang memohon Hujan-hujan surgawi dengan Berkah-berkah
Allah yang Maha Kuasa, ucapkan lebih banyak: *As-salamu 'alaikum*! Ini
begitu penting karena Allah yang Maha Kuasa memerintahkan: *Idha dakhaltum
buyut, fa sallimu 'ala ahlih*a... Ketika kau masuk ke sebuah tempat, sebuah
rumah, ucapkan: '*As-salamu 'alaikum*'! Oleh karena itu, sebelum masuk, ini
adab kita yang baik, jika (seseorang) datang dan mengetuk pintu, dari dalam
rumah seseorang akan bertanya: Siapa itu? (Dan:) *As-salamu'alaikum* ,
diucapkan orang yang bertamu itu.
Bahkan- (ini) sangat penting mengucap: Salam- ketika kau tiba disuatu
tempat, di rumah, (dan) tidak ada seorang pun didalamnya: *Fa sallimu 'ala
ahliha*. Meskipun tidak ada seorangpun, kau masih harus mengucap: *As-salamu
'alaikum! As-salamu 'alaikum wa 'ala 'ibadi-llahi salihin*! Ini sangat
penting dan ini "*bi shaililla*h (?)", merupakan tanda-tanda atau sebuah
simbol Islam dengan mengucap: *As-salamu 'alaikum*! Apabila tidak seorangpun
mengucap ('Salam'), dapat kau pahami bahwa dia bukanlah seorang Muslim!
Oleh karena itu kami mengucap kepada para tamu- semoga Allah memberkahimu
dari Samudera-samudera Berkah-Nya yang tidak berkesudahan: sebanyak mungkin
berusahalah mengambil lebih banyak lagi rahmat-rahmat dari Allah yang Maha
Kuasa! Namun manusia justru mengejar untuk meraih sesuatu dari dunia
material, mereka tidak berpikir untuk menyimpan lebih banyak rahmat. Jadi,
kini manusia menjadi serakah! Bahkan termasuk golongan kaum Muslim, mereka
begitu serakah untuk memohon lebih banyak berkah.
Untuk apa kau hidup? Untuk Allah swt atau untuk egomu? Untuk apa kau hidup?
Kau berusaha menyenangkan egomu atau kau berusaha untuk menyenangi egomu?
Manusia minta kesenangan bagi diri, tidak memohon untuk menjadikan Tuhan
mereka ridho kepada mereka.
Sebanyak apapun yang dapat kau lakukan untuk dirimu sendiri, (itu) akan
hilang, selesai… selesai! Tetapi apapun yang kau lakukan bagi Allah yang
Maha Kuasa akan tetap: '*Amalu salih yabqa*, perbuatan-perbuatan baik tetap
berbekas, namun perbuatan-perbuatan buruk tidak akan pernah ada bekasnya
-untuk apa!
Aku minta maaf mengatakan kalau seluruh Dunia Muslim menuju arah yang salah!
Ide, target mereka bukanlah untuk memohon rahmat-rahmat dari Surga tetapi
mereka meminta (sesuatu) bagi diri sendiri: untuk membuat ego mereka lebih
senang dan memperoleh lebih banyak kesenangan. Namun ini (sebuah) kesalahan
besar, jalan yang salah, jalan yang salah!
Aku telah melihat sebuah instrumen baru, mengajari huruf-huruf kecil dan
juga kata-kata. Aku hanya mengingat dari instrumen kecil itu kadang-kadang
kau menekan sebuah tombol dan terdengarlah suara: Salah! Salah jalan! Salah!
Itulah dalam ingatanku. Ya.
Berapa kali para Malaikat menunjuk ke jiwamu: Salah! Salah melangkah!
Tingkah laku yang salah? Berapa kalikah mereka berkata ini?
Saat instrumen itu mengeluarkan suara: Salah, cepat perbaiki! Tetapi
milyaran manusia, saat Perhatian surgawi datang kepada mereka, Peringatan
(surgawi) datang ke jiwa mereka, namun tidak pernah mereka perbaiki! Begitu
banyak peringatan! Untuk segala sesuatu ada: Salah atau benar. Surga tidak
meninggalkan seorangpun sendiri di muka bumi. Peringatan itu selalu datang
dari Surga ke hati nurani kita dengan berkata: Salah! Namun manusia malah
menjawab: Aku tidak peduli! Aku tidak peduli!
Seperti Fir'aun. Berapa kalikah Musa berkata: Datang ke Tuhan-mu dan
menyerahlah, Fir'aun menjawab: Aku tidak peduli! Berapa kalikah Ibrahim
berseru kepada Nimrod: Datang dan menyerahlah kepada Pencipta-mu, Tuhan
Penguasa Surga dan dia menjawab: Aku tidak peduli! Aku tidak peduli! Aku
tidak peduli!
Dan oleh karena itu sang Nabi (saw) pernah bersabda: Wahai manusia! Apabila
Allah yang Maha Kuasa meninggalkan semua orang bersama egonya, dan
memberikan ego sebuah kesempatan untuk menjadi Fir'aun atau Nimrod, aku
tidak berpikir kalau orang-orang itu akan menjadi Muslim! Semua orang akan
berkata: 'Akulah Tuhan semesta alam!' - *Astaghfirullah* !- atau berkata:
'Akulah pemilik seluruh benua! Seluruh negara milikku, kepunyaanku! ' Semua
orang harus mengukuhkan bahwa dirinya pemilik Langit dan bumi!
Namun Allah yang Maha Kuasa tidak memberikan kepada mereka satu kesempatan
penuh. Tidak diberikan! Jika Dia memberikan, maka semua orang akan
mengklaim: Akulah tuhan! Akulah tuhanmu! Bukan hanya tuhan biasa, namun dia
akan berkata: *Ana Rabbukum al 'ala*! Dia tidak terima hanya sebagai berhala
biasa bagi orang lain, dia malahan berkata: Aku yang terpenting! Aku berada
dipuncak! Bahkan kau melayani, menyembah begitu banyak 'ilah', dewa-dewa,
namun akulah yang paling agung! Itulah Nimrod! Oleh karena itu, semua orang
akan berkata seperti itu!
Kini, itulah gelarnya, mereka berkata: Kamilah masyarakat paling beradab,
paling sempurna dibandingkan masyarakat sebelum kami! Kau tidak dapat
menemukan seorang yang tidak berkata: Akulah yang begini! Semua orang hanya
mengambil suatu kondisi atau... untuk menjadi seperti seorang Nimrod. Semua
orang menginginkan itu: Apa yang aku inginkan, dituruti! Apa yang aku
inginkan, harus kau berikan! (Mereka) bertengkar dengan orang tua,
bertengkar dengan para guru, bertengkar dengan pemerintahan. .. bertikai
terhadap semuanya seraya berkata: Apa yang aku katakan, apa yang aku
inginkan, harus kau berikan!
Gelar dan tabiat terkenal, (atribut)... mereka dijalan itu, tidak bedanya
dengan Nimrod yang telah tiada dengan yang kini hidup dimuka bumi!
Oleh karena itu Allah yang Maha Kuasa menjadikan '*nufur*'', kebencian
diantara mereka. Membenci; semua orang saling membenci: anak-anak membenci
orang tuanya, laki-laki dan wanita saling membenci, anak-anak saling
membenci, tetangga saling membenci, bangsa-bangsa saling membenci... *
Subhanallah* ! Kebencian itu ditanamkan dalam hati manusia. Siapakah yang
menanamnya, 'sari'? Siapakah petani yang menanam kebencian dalam hati
manusia?
Kebencian!
Kini Cinta yang Allah Maha Kuasa telah anugerahkan kepada bangsa-bangsa,
kepada manusia diangkat. Bukan diangkat, tapi ditendang oleh orang-orang dan
mereka mengejar kebencian. Oleh karena itu, mereka berkata: Kini (kamilah)
masyarakat paling beradab, namun mereka masyarakat yang dikutuk, siapa
mereka yang berani berkata-kata seperti itu!
Bagaimana? Kau membunuh, menghancurkan, membakar -bagaimana kau berkata:
Kami adalah masyarakat paling beradab? Kebodohan apakah itu? Dan kau
membunuh orang tak berdosa dan tidak percaya bahwa pada Hari Kebangkitan kau
akan ditanyai, saat Allah yang Maha Kuasa bertanya:... *Bi ayi thanbin
kutilat*? O para pembunuh! Bagaimana kau membunuh yang kecil itu? Bagaimana,
kesalahan apa yang dilakukannya sehingga kau membunuhnya, makhluk kecil itu?
Allah akan bertanya! Bagaimana mereka berkata: Kamilah masyarakat paling
beradab?
Mereka para pembohong, lebih-lebih dari setan! Setan lebih mempunyai
kehormatan dibandingkan orang-orang yang hidup sekarang, orang-orang abad
21! *Jahannamiyun* ! Setan bisa berada ditingkat pertama neraka, namun
orang-orang ini bisa berada ditingkat ke-7, tingkat terendah dari *Jahannam*,
api neraka!
Itulah panorama yang aku pikir tidak akan dibicarakan kepada kalian, namun
saat hatiku sedang berhubungan dengan Kekuatan surgawi, mereka membuatku
berkata seperti ini. Namun kebenaran sejati inilah yang kami bicarakan!
Kami tidak menerima orang-orang itu! Para pembunuh harus dihukum dalam
tingkat terendah api neraka! Itulah yang paling layak bagi mereka!
Wahai manusia, waspadalah terhadap Setan! Waspadalah, jangan mengikuti
ego-egomu! Allah swt telah menciptakanmu dan memberimu Cinta surgawi-Nya
dengan menciptakanmu, meletakkan. Kau tidak menggunakan Cinta itu, (kau)
menendangnya dan mengambil kebencian dari Setan dan rasa permusuhan serta
membunuh manusia, orang-orang yang tak berdosa, membakar mereka, menembak
mereka -apa itu!
Aku berseru kepada semua bangsa! Kita hanyalah segenggam manusia -tidak
masalah! Allah yang Maha Kuasa melakukan sesuatu untuk mencapai ke Timur dan
Barat!
Aku bukan siapa-siapa! Aku bukan siapa-siapa, tetapi mereka membuat bahasaku
(lidah?) untuk bicara kebenaran! Tidak seorangpun berkata: Kau salah! Aku
bisa menendangnya!
Semoga Allah mengampuni kita! Wahai manusia, waspadalah terhadap egomu!
Waspadalah terhadap Setan, karena setan menggiringmu ke api neraka - api
neraka di Dunya, api neraka kehidupan abadi. Berusahalah menggapai Keabadian
dengan Kesenangan Tuhan-mu! Waspadalah, jangan sampai melalui
kondisi-kondisi terburuk: kesengsaraan dalam api neraka!
Oh Tuhan, ampunilah kami!...
Ini cukup. Kami tidak meraih untuk mengucap: *A'udzu bi-llahi mina syaitani
rajim,* *Bismillahir Rahmanir Rahim*, namun ini datang bagaikan
samudera-samudera berkekuatan penuh, peringatan-peringat an, kepada seluruh
manusia! Mereka harus datang untuk menerima apa yang Tuhan kirimkan dan
mereka harus berusaha menjaga hak-haknya!
Hak-hak binatang! Ehhh, hak-hak binatang! Apa yang kau lakukan? Aku
memelihara anjing. Kami begitu suka dengan anjing, oleh karenanya kami
pembela hak-hak binatang.
*Tu *atasmu! *Astaghfirullah* ! Kau bukannya memikirkan tentang hak-hak
manusia, malah membuat hak-hak anjing.
Syaikh Effendi! Apa itu?
Ada kios-kios tukang cukur disana Hah? Untuk apa tukang cukur? Untuk
mencukur kepalaku?
Tidak, ada... karena kini kita orang-orang yang begitu bisa berimprovasi
sehingga kami berusaha menjaga hak-hak binatang. Eh? Untuk?
Dan kami memelihara beberapa ekor anjing... beberapa dari mereka juga
dinamakan 'Churchill'. Siapakah dia? Dari dimana dibawa 'Churchill'
ini? *Taubat,
Astaghfirullah* ...
Maksudku, Syaikh Efendi, kami manusia yang sangat sangat sangat lambat...
Kau pastilah tidak dari masa ini, karena kau tidak tahu (tentang) hak-hak
binatang... Berapa usiamu! Ditempatku ada 40 ekor kucing!
Eh, kau membawa kucing-kucingmu ke tukang cukur? Hah?
Mereka membuat seperti ini, seperti ini, seperti ini, mereka menjadikan diri
mereka begitu baik. Tidak perlu!
Tidak, kami memelihara anjing kami dan membawa mereka ke tukang cukur dan
kami datang... pastilah beberapa dari mereka, saat (kami) sedang membawa
anjing itu - *ajallahuhumullah* - tongkat kami (pastilah ada) 7 buah! Untuk
apa?
Untuk menjaga anjing, anjing kami karena kami membawa anjing itu ke tukang
cukur agar penampilannya bagus. Namun kadang-kadang anjing itu datang dan
mengigit oleh karenanya 2 orang harus memegang kepalanya, beberapa dari
mereka dipegang ekornya dan kami butuh 2 orang untuk memegang kaki-kakinya,
kadang anjing itu juga mengonggong. Kadang-kadang satu dari anjing itu
diberi tulang ke mulutnya ketika sedang dicukur. Kami menjaga hak-hak
binatang!
Bagaimana dengan umat manusia?
Aku tidak peduli! Aku tidak peduli, anjing-anjingku lebih penting bagiku dan
kucing-kucing kami lebih penting. Yang lain tidak penting. Kami suka bila
nama kami dituliskan sebagai 'penjaga hak-hak binatang kelas satu' dan kami
berharap mungkin saja pemerintah memberikan kami sebuah medali. Dan ketika
kami wafat, mereka meletakkan di peti mati kami: 'Di adalah seorang penjaga
hak-hak binatang'. Bagaimana dengan umat manusia?
Eh, apa itu umat manusia! Bahkan seekor kucing pun harus diberikan
hak-haknya oleh semua manusia!
Kini, makna dari tingkat peradaban tertinggi bagi mereka adalah menjadi
tingkat binatang. Dan hal terburuk adalah: beberapa kotamadya memerintah:
Barang siapa yang membawa anjing harus juga membawa sebuah tas dan sebuah
sekop! Jika anjing itu membuang hajatnya, orang itu harus mengambil dan
membawa kotorannya. Apa ini? Inikah kehormatan umat manusia? Mereka bangga
dengan cara seperti ini? Aku sedih, sangat sedih, kepada manusia yang jatuh
ke makhluk tingkat terendah.
Semoga Allah mengampuni kita!
Demi kehormatan yang paling terhormat dalam Hadirat Ilahiah-Nya, Sayyidina
Muhammad saw, Fatiha
*Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Aziz Allah,*
*Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Karim Allah,*
*Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhan Allah,*
*Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sultan Allah Sultan Sensin, ya
Allah! *
*Allahumma shalli wa sallim 'ala Nabiyina Muhammad, alayhi salam, *
*shalatan tadumu wa tughda ilay, mamarra layali wa tula dawam *
*Fatiha ziyadatan li sharfin Nabi saw Fatiha.*
Siapakah Muhammad Salallahu Alayhi Wasalam?*
*Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani qs*
Sabtu Tanggal 3 Maret 2008, London-UK
Minhaj ul-Qur'an, London
Moderator:
Sang Nabi Suci -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- memerintahkan kaum Anshar,
"*Quumuu li-sayyidikum* - Wahai kaum Anshar, pergi dan berdirilah dan
terimalah pemimpinmu." Kini aku akan memanggil Tanda Allah *ayatun min
ayatollah* dialah lagu Allah. Beliaulah sebuah simbol Allah. Dan ini
dikatakan dalam hadits ketika kau melihat sahabat-sahabat Alla, maka kau
mengingat? [Allah!], kau ingat? [Allah] Mohon berdiri untuk menghormati
syaikh dan mengingat beliau dalam mengingat Allah. Allah, Allah...Allah, *Naray
takbir* [Allahu Akbar!!!] *Naray Risalah* [Ya Rasulullah!! !] *Naray
Haydari*[Ya Ali!!!]
Aku minta maaf, aku bukanlah orang yang dimaksud. Mohon maafkanlah aku dan
mohon berdo'alah bagi syuyukh kita agar Allah swt memberikan mereka umur
yang panjang. Aku ingin berterima kasih kepada Minhaj ul-Qur'an dan terutama
mengirimkan salam hangatku atas namaku dan atas nama Syaikhku Mawlana Syaikh
Nazim al-Haqqani kepada Mawlana Syaikh Tahir ul-Qadri Syaikh al-Islam untuk
peristiwa indah ini bukan hanya ditempat ini namun
dimana-mana dipelosok dunia. Dan aku juga ingin mengatakan bahwa kita
mempunyai tamu-tamu sangat penting dalam pertemuan, yang kita kirimkan semua
salam hormat kita kepada mereka dari para pembicara dan dari para hadirin.
Dan kepada semua orang, semoga Allah swt merahmati beliau (laki-laki) dan
beliau (perempuan) beserta keluarganya.
Cukup mengucapkan "berbahagialah" . [Mawlana menangis] Berbahagialah karena
Allah swt telah menjadikan kita dari ummat Sayyidina Muhammad-*sall- Allahu
'alayhi wa sallam*-. Berbahagialah karena Allah swt telah menciptakan kita
dan Dia memanggil kita para hamba-Ku, dimana Rasul-Nya, kekasih-Nya pernah
berujar, "Hanya satu kali aku merasa bahagia ketika Allah memanggilku
'hamba-Ku'. Jika Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-
bahagia dipanggil 'hamba'. Bagaimana dengan kita? Oh Allah swt, kami
memanggil-Mu dari tempat ini, demi kepentingan Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*- yang telah Kau utus sebagai *rahmatan lil-`alamiin* ,
ampunilah kami. Ampunilah kaum yang malang sebelum dan sesudah kami.
Kirimkan semua orang ke Surga karena mereka semua adalah para hamba-Mu. Kau
sudah menciptakan kami dan kami mengetahui akan hal itu, ya Allah. Aku tahu
kami bertanggung jawab atas kesalahan-kesalahan kami namun kami hamba yang
tak berdaya dan lemah, kami tidak bisa melakukan itu. …kami memohon
ampunan-Mu.
*Alhamdulillah *ini adalah hari pertama di bulan Rabi`ul-Awwal dan kita
memperingati peristiwa itu. Apakah makna dari peristiwa itu? Aku mencari
tahu dan berpikir serta bertanya-tanya mengapa kita mengadakan pertemuan?
Apakah alasannya? Apakah untuk memanggil Sayyidina Muhammad* sall-Allahu
'alayhi wa sallam* dan merayakan hari kelahiran beliau? Itukah pesan kami
atau itukah kecintaan kami? Sebagaimana Syaikh Abu Bakr berkata, "Mudah
sekali diucapkan oleh lidah." Mudah mengatakan kalau Allah swt menaruh
nama-Nya bersama nama Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-.
Ketika kau hadir ke suatu even, katakanlah di istana, kau sudah diundang
datang ke istana atau diundang sebelumnya untuk bertemu dengan presiden. Kau
tidak bisa duduk sembarangan. Ada sebuah protokol dimana tempatmu dan namamu
sudah dicantumkan disana. Jika namamu tidak ada, maka kau tidak berhak untuk
duduk. Artinya kursi itu bukan tempatmu. Jika namamu ada disana artinya
itulah tempat kau duduk.
Jadi, jika kita pikir sedikit mendalam dan kita perhatikan bahwa nama
Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- berada disamping nama
Allah swt, dimana kalau diucapkan* la ilaha ila-Allah Muhammadun Rasulullah*,
tempat itu milik Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-. Kita
tidak melihat nama lain ditemukan disana kecuali nama Sayyidina
Muhammad -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*-. Jadi, kita tahu bahwa Allah swt memberikan haqiqat itu
kepada kekasih-Nya yang sudah Dia ciptakan sebelum penciptaan yang lainnya.
Siapakah yang Dia ciptakan dari cahaya-Nya dan siapakah yang Dia jadikan
seorang nabi sebelum Adam dan apakah panggilan yang diberikan padanya? Apa
panggilan beliau dalam Kitab Suci Qur'an? Dan kita semua mengetahuinya. Dia
memanggil beliau *rahmatan lil-`alamiin* . Apakah arti dari *rahmatan
lil-`alamiin* ?
Saat kau menjadi orang yang dermawan: seorang tuan besar atau anggota
kongres atau seorang raja, atau seorang ratu, saat kau minta mereka
melakukan sesuatu maka mereka dengan murah hati memberimu segala sesuatu
yang mereka bisa kepadamu. Jadi kemurahan hati, *Allah Huwa al-Karim*,
kemurahan hati/kedermawanan adalah ketika Allah swt menghendaki untuk
memberi dan Dia tidak akan memberi batasan atas pemberian-Nya. Ketika Dia
memberikan Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- sebagai
rahmat, satu dari Nama-nama Indah-Nya (*Asmaul Husna)* *ar-Rahman ar-Rahim*,
Dia sudah mendandani beliau dari rahmat itu yang sudah Allah swt berikan
kepada beliau melalui *tajalli* sebagai hamba-Nya. Dia telah menjadikan
beliau rahmat, Nama-nama Indah (*Asmaul Husna*) itu, sudah memberi beliau
rahmat.
Itu artinya Dia telah menjadikan beliau segala sesuatu yang mungkin sesuai
dengan Kebesaran Allah swt. Bukan sesuai dengan kebesaran manusia. Seorang
raja mungkin memberi, seorang ratu mungkin memberi; seorang tuan besar
mungkin memberi; pemberian mereka sesuai dengan tingkat kedermawanan mereka.
Tetapi mereka tidak memberikan apa yang Allah swt berikan.
Jadi Allah swt sudah memberikan kepada Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*- sesuai dengan tingkat kedermawanan Dia. Tanpa batasan.
Dan itu artinya apapun yang sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- minta
akan diberikan. Dan sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- pernah
berkata, "Akulah tuan dari anak-anak Adam dan aku mengatakannya tanpa
kebanggaan."
Apakah yang beliau ingin ungkapkan? Artinya, "Oh Allah berikan mereka
kepadaku..." Apa menurutmu jikalau pada Hari Pembalasan sang Nabi -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*- mengatakan "berikan mereka kepadaku?" Apa? Allah swt
akan mengatakan "tidak" kepada beliau? Lalu mengapa beliau kan *rahmatan
lil-`alamiin* . Akankah Allah tidak mengabulkan yang beliau inginkan? Lalu
jika tidak maka Dia bukanlah yang maha dermawan.
Kursi itu milik sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-. Dan tiap kursi
di Surga merupakan milik sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-.
Saat Adam melakukan kesalahan karena makan dari pohon itu dan kemudian dia
memohon ampun demi kehormatan Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa
sallam*-Allah swt bertanya kepada beliau, "Apakah yang kau tahu tentang
Muhammad?"
Adam menjawab, "Oh Allah kemanapun aku mengalihkan pandangan, bahkan
diseluruh Surga yang Kau berikan padaku, aku melihat nama Muhammad pada tiap
daun pada sebuah pohon; aku lihat pada tiap tembok surga nama Muhammad; aku
lihat dalam tiap atom terkecil yang dapat terlihat aku melihat nama
Muhammad."
Nama tersebut dituliskan pada tembok-tembok, pada tiap lembar daun pada tiap
pohon, bahkan pada tiap atom. Untuk alasan itu yang aku tahu Ya Rabbii
beliau seseorang yang sangat penting bagi-Mu; bukan bagi kami."
Allah swt berfirman, "Oh Adam, jika bukan karena Muhammad aku tidak akan
menciptakan makhluk. Aku sudah memberikan makhluk kepada Muhammad; dialah
rasul-Ku bagi mereka." Apakah artinya? Alam semesta dimana kita tinggali;
alam semesta yang sangat luas dimana kita tinggal.
[Artinya:] "Oh Adam, Aku telah menciptakan mahkluk untuk dia."
Allah swt berfirman dan aku sudah menyebutkan sebelumnya bahwa *wa in min
shayin illa yusabihuu bi-hamdihi wa lakin*... Tiap atom memuji Allah dengan
cara berbeda, bukan dengan cara yang sama, tiap atom yang sudah Allah swt
ciptakan, tiap makhluk yang sudah Allah swt hidup dan tidak hidup, tiap sel
dalam tubuh manusia ada 3 trilyun sel dalam tubuh manusia, mereka
beregenerasi sepenuhnya tiap 6 bulan. Setiap sel mengucap *tasbih*. Setiap
benda yang tidak hidup, tiap tetesan air memuji Allah… Kita tidak mengenrti
mereka. Siapakah yang mengerti pujian mereka?
Dia yang mendengar pujian mereka ketika sedang berjalan di Jabal Uhud, saat
pepohonan dan batu-batu kerikil memuji Allah dan semuanya memuji Sayyidina
Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-. Allah swt memerintahkan: *inna
Allah wa mala'ikaatahu yushalluuna 'alan-Nabi Yaa ayyuhalladziina aamanuu
shalluu 'alayhi wa sallimuu tashliimaa. *Allah swt memerintahkan tiap
malaikat memuji Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-. Allah
swt swt memerintahkan tiap manusia memuji sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa
sallam*-.
Jadi, alam semesta ini hidup termasuk benda-benda didalamnya baik besar
maupun kecil. Para ilmuwan berkata ada 6 milyar galaksi dan dalam tiap
galaksi ada 80 milyar bintang. Dan tiap bintang lebih besar dari sistem
matahari kita ini. Dan tiap atom dalam tiap bintang dalam tiap galaksi
memuji Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-. Allah swt sudah
memberikan mereka kepada Sayyidina Muhammad* sallallahu alayhi wasalam.*
Wahai manusia bersenang-senanglah . Berbahagialah, jangan bersedih,
berbahagialah. Apapun yang menghadang, datang, hanyalah yang baik dan
pujilah sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-. Kau akan selamat. Kau
pikir semua orang akan masuk ke api nereka. Allah swt akan mengaruniai
beliau dengan *syafa`at* untuk semua orang agar dapat masuk Surga. Kau pikir
Allah swt telah menciptakan makhluk untuk membakar, menghukum, menggilas
mereka. Untuk apa? Allah swt hanya, Allah swt penuh kasih sayang. Ketika Dia
melihat para hamba-Nya menangis dan memohon ampunan dari-Nya, akankah Dia
menolak dengan tidak mengampuni mereka? Aku berkata bukan hanya bagi Muslim.
Barang siapa ada yang keberatan, mereka boleh menyangkalnya!
Kami ingin semua orang masuk ke dalam Surga. Sejak zaman Adam hingga Hari
Pembalasan. Itulah Islam. Itulah pesan Islam. Aku merasa tidak enak karena
kami tidak cukup melakukan kebaikan. Kami merasa tidak enak, kaum Muslim dan
non-Muslim dipelosok dunia. Mengapa mereka merasa tidak enak? Karena ada
sesuatu pada diri kita dan sesuatu yang mengingatkan akan
kesalahan-kesalahan kita.
Kami merasa bersalah. Oh Muslim nikmati hidup ini dengan patuh kepada
Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- dan semua nabi. Sebelum
selesai aku hendak mengatakan satu hal. Bahwa ketika Adam mengamati dan
melihat semua nama Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- pada
tiap daun pada sebuah pohon atau tiap atom di alam semesta di surga dia
mengetahui bahwa semua ini milik Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa
sallam*-.
Adam menangis dan menangis dan bersujud. Dan dia menangis dan tangisannya
bagaikan air bah dan Allah swt meninggalkan dia selama 40 tahun. Dan Allah
swt berkata kepada Adam, "Oh Adam, cukup, angkat kepalamu."
Adam bertanya, "Oh Allah apakah Kau mengampuni aku?"
Allah swt menjawab," Oh Adam, tentu Aku mengampunimu, namun Aku biarkan kau
menangis selama 40 tahun. Mengapa? Karena Nabi terkasih-Ku memohon kepada-Ku
untuk memberi *syafa'at *kepada tiap manusia dalam dirimu Adam. Dan pada
saat itu Aku meninggalkanmu untuk menomori air mata-air mata cucu-cucu Adam.
Dan sampai itu selesai Aku memerintahmu untuk mengangkat kepalamu."
Kami adalah *ummatan marhuuma*. Allah swt sudah merahmati kita dan
mengirimkan rahmat-Nya atas kita demi kepentingan Sayyidina Muhammad
-*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*-.
Apakah deskripsi *tasawwuf* tentang sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa
sallam*-? Kami banyak sekali mendengar tentang Sufi, Sufi, Sufi dan kini
begitu banyak institut diseluruh pelosok dunia bertanya apakah Sufisme itu.
Dan syuyukh kami semoga Allah swt memberikan mereka umur panjang, dan semua
syuyukh kami dan aku tidak bisa menyebutkan semua nama mereka dan semua
syuyukh kami Syaikh Tahir ul-Qadri, mereka… mengajarkan murid-murid mereka
tentang *tasawwuf*.
Itu adalah sebuah kebudayaan yang datang dari zaman sang Nabi -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*- hingga hari ini. Kini mereka membuka mata pada *tasawwuf
* karena apa yang orang lain kerjakan. Sehingga mereka berkata, "Ada sebuah
masalah." Dan Syaikh Abu Bakr pernah menyebutkan berkali-kali mengenai hal
itu. Namun aku ingin menyebutkan satu hal. Siapakah sang Nabi -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*-? Apakah kita tahu? Kita tahu foto kuburan beliau. Apakah
kita melihat Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-? Ya atau
tidak??! [tidak] Mengapa? Kau pikir beliau tidak hadir dalam aula ini. Kau
pikir jika kau memanggil beliau "*Ya Rasulullah Ya rahmatan lil-`alamiin* "
akankah beliau hadir dalam aula ini?
Masalahnya kita buta, tidak dapat melihat. Beliau hadir disini, tentu saja.
Beliau ada disini. Tentu saja beliau melihat kita. Mengapa? Karena
sebagaimana
*awliyaullah* besar ini jelaskan, sebagaimana guru-guru Sufi jelaskan, bahwa
Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- adalah cermin untuk
makhluk. Kau tidak bisa melihat dirimu sendiri kecuali melalui cermin.
Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- adalah cermin dalam
Hadirat Ilahiah yang merefleksikan segala sesuatu yang sudah Allah swt
ciptakan di dunia ini dari tiada menjadi ada. [*naray takbir… naray risalah…
naray…Ahmadi Mustafa marhaba, marhaba. Jaana-e Mustafa nuur Mustafa*…]
Oh Muslim, Oh manusia! Kita adalah refleksi dari Hadirat Ilahiah melalui
cermin *Muhammadun Rasulullah*. Kami masih disini. Inilah gambaran-gambaran
kami. Ini bukanlah realitas (haqiqat) kami. Haqiqat-haqiqat masih berada
dalam Hadirat Ilahiah. Allah swt tidak melepaskannya. Dia sudah
melepaskannya melalui cermin Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa
sallam*- untuk direfleksikan ke bumi. Itulah mengapa Sayyidina Muhyidin Ibn
`Arabi dan banyak guru Sufi, serta Imam Ghazali, pernah berkata, waktu yang
sesungguhnya ketika aku tidak buta adalah saat aku meninggal. Disana aku
membuka mata dan melihat kebenaran.
Muhyidin Ibn 'Arabi pernah berkata bahwa cermin yang merefleksikan segala
sesuatunya dari Hadirat Ilahiah (dari tiada) menjadi ada adalah
direfleksikan dari *Muhammadun Rasulullah*. Jika cermin itu lenyap, maka kau
tidak bisa melihat apa-apa disini, itu akan menjadi sebuah harta tersembunyi
sepenuhnya dalam Hadirat Ilahiah. Dia ingin muncul, Dia jadikan untuk
direfleksikan dalam kehidupan ini melalui cermin Muhammad -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*-. Karena kita adalah refleksi dalam cermin lalu siapakah
yang bertanggung jawab? Cermin atau refleksi/pantulanny a? Cermin adalah
satu-satunya yang bertanggung jawab. Kita hanya membuat retakan-retakan
terhadap cermin ini.
Menurutmu Allah swt, ketika bebatuan datang ke sebuah mobil, tidakkah kau
lihat kaca mobil pecah? Tidak, kau hanya melihat retakan-retakan. . Kaca
tidak pecah tapi retak-retak. Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa
sallam*- tidak menerima walau hanya retak-retak pada cermin beliau. Itulah
mengapa kita masih berada dalam hadirat ilahiah yang murni. Itulah mengapa *
awliyaullah* berkata kau belum melihat apa-apa. Apa yang kau lihat hanyalah
gambar-gambar. Tunggu. Tunggu sampai kau meninggalkan* dunya ini*.
Kami memohon, "Oh Allah, perlihatkan kepada kami haqiqat beliau. Jangan
tinggalkan kami di *akhirat**. *Di *akhirat* semua orang akan melihat
beliau. Kami ingin melihat beliau disini. Namun kami memohon,* "Ya *Rasulullah,
biarkan kami melihat anda. Muncullah kepada kami! Kami adalah hamba yang
lemah. Muncullah kepada kami, muncullah dalam hati kami. Anda muncul kepada
*awliyaullah. * Tetaplah bersama kami dalam tiap kesempatan hidup kami."
Itulah apa yang kami mohon, Oh Allah, demi kepentingan *awliya*-Mu dan demi
kepentingan Sayyidina Muhammad, ijinkan kami berada dalam hadirat Sayyidina
Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- dalam tiap kesempatan dalam hidup
kita. Biarkan hati kita berkata Muhammad, Muhammad, Muhammad -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*-. Semoga Allah mengampuni kita.
Cinta dari Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani kami dan selamat-selamat kepada
kalian semua dan kepada Syaikh Tahir al-Qadiri dan kepada semua yang
berpartisipasi dalam pertemuan yang dirahmati ini.
*Wa min Allah at tawfiq*
Sabtu Tanggal 3 Maret 2008, London-UK
Minhaj ul-Qur'an, London
Moderator:
Sang Nabi Suci -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- memerintahkan kaum Anshar,
"*Quumuu li-sayyidikum* - Wahai kaum Anshar, pergi dan berdirilah dan
terimalah pemimpinmu." Kini aku akan memanggil Tanda Allah *ayatun min
ayatollah* dialah lagu Allah. Beliaulah sebuah simbol Allah. Dan ini
dikatakan dalam hadits ketika kau melihat sahabat-sahabat Alla, maka kau
mengingat? [Allah!], kau ingat? [Allah] Mohon berdiri untuk menghormati
syaikh dan mengingat beliau dalam mengingat Allah. Allah, Allah...Allah, *Naray
takbir* [Allahu Akbar!!!] *Naray Risalah* [Ya Rasulullah!! !] *Naray
Haydari*[Ya Ali!!!]
Aku minta maaf, aku bukanlah orang yang dimaksud. Mohon maafkanlah aku dan
mohon berdo'alah bagi syuyukh kita agar Allah swt memberikan mereka umur
yang panjang. Aku ingin berterima kasih kepada Minhaj ul-Qur'an dan terutama
mengirimkan salam hangatku atas namaku dan atas nama Syaikhku Mawlana Syaikh
Nazim al-Haqqani kepada Mawlana Syaikh Tahir ul-Qadri Syaikh al-Islam untuk
peristiwa indah ini bukan hanya ditempat ini namun
dimana-mana dipelosok dunia. Dan aku juga ingin mengatakan bahwa kita
mempunyai tamu-tamu sangat penting dalam pertemuan, yang kita kirimkan semua
salam hormat kita kepada mereka dari para pembicara dan dari para hadirin.
Dan kepada semua orang, semoga Allah swt merahmati beliau (laki-laki) dan
beliau (perempuan) beserta keluarganya.
Cukup mengucapkan "berbahagialah" . [Mawlana menangis] Berbahagialah karena
Allah swt telah menjadikan kita dari ummat Sayyidina Muhammad-*sall- Allahu
'alayhi wa sallam*-. Berbahagialah karena Allah swt telah menciptakan kita
dan Dia memanggil kita para hamba-Ku, dimana Rasul-Nya, kekasih-Nya pernah
berujar, "Hanya satu kali aku merasa bahagia ketika Allah memanggilku
'hamba-Ku'. Jika Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-
bahagia dipanggil 'hamba'. Bagaimana dengan kita? Oh Allah swt, kami
memanggil-Mu dari tempat ini, demi kepentingan Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*- yang telah Kau utus sebagai *rahmatan lil-`alamiin* ,
ampunilah kami. Ampunilah kaum yang malang sebelum dan sesudah kami.
Kirimkan semua orang ke Surga karena mereka semua adalah para hamba-Mu. Kau
sudah menciptakan kami dan kami mengetahui akan hal itu, ya Allah. Aku tahu
kami bertanggung jawab atas kesalahan-kesalahan kami namun kami hamba yang
tak berdaya dan lemah, kami tidak bisa melakukan itu. …kami memohon
ampunan-Mu.
*Alhamdulillah *ini adalah hari pertama di bulan Rabi`ul-Awwal dan kita
memperingati peristiwa itu. Apakah makna dari peristiwa itu? Aku mencari
tahu dan berpikir serta bertanya-tanya mengapa kita mengadakan pertemuan?
Apakah alasannya? Apakah untuk memanggil Sayyidina Muhammad* sall-Allahu
'alayhi wa sallam* dan merayakan hari kelahiran beliau? Itukah pesan kami
atau itukah kecintaan kami? Sebagaimana Syaikh Abu Bakr berkata, "Mudah
sekali diucapkan oleh lidah." Mudah mengatakan kalau Allah swt menaruh
nama-Nya bersama nama Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-.
Ketika kau hadir ke suatu even, katakanlah di istana, kau sudah diundang
datang ke istana atau diundang sebelumnya untuk bertemu dengan presiden. Kau
tidak bisa duduk sembarangan. Ada sebuah protokol dimana tempatmu dan namamu
sudah dicantumkan disana. Jika namamu tidak ada, maka kau tidak berhak untuk
duduk. Artinya kursi itu bukan tempatmu. Jika namamu ada disana artinya
itulah tempat kau duduk.
Jadi, jika kita pikir sedikit mendalam dan kita perhatikan bahwa nama
Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- berada disamping nama
Allah swt, dimana kalau diucapkan* la ilaha ila-Allah Muhammadun Rasulullah*,
tempat itu milik Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-. Kita
tidak melihat nama lain ditemukan disana kecuali nama Sayyidina
Muhammad -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*-. Jadi, kita tahu bahwa Allah swt memberikan haqiqat itu
kepada kekasih-Nya yang sudah Dia ciptakan sebelum penciptaan yang lainnya.
Siapakah yang Dia ciptakan dari cahaya-Nya dan siapakah yang Dia jadikan
seorang nabi sebelum Adam dan apakah panggilan yang diberikan padanya? Apa
panggilan beliau dalam Kitab Suci Qur'an? Dan kita semua mengetahuinya. Dia
memanggil beliau *rahmatan lil-`alamiin* . Apakah arti dari *rahmatan
lil-`alamiin* ?
Saat kau menjadi orang yang dermawan: seorang tuan besar atau anggota
kongres atau seorang raja, atau seorang ratu, saat kau minta mereka
melakukan sesuatu maka mereka dengan murah hati memberimu segala sesuatu
yang mereka bisa kepadamu. Jadi kemurahan hati, *Allah Huwa al-Karim*,
kemurahan hati/kedermawanan adalah ketika Allah swt menghendaki untuk
memberi dan Dia tidak akan memberi batasan atas pemberian-Nya. Ketika Dia
memberikan Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- sebagai
rahmat, satu dari Nama-nama Indah-Nya (*Asmaul Husna)* *ar-Rahman ar-Rahim*,
Dia sudah mendandani beliau dari rahmat itu yang sudah Allah swt berikan
kepada beliau melalui *tajalli* sebagai hamba-Nya. Dia telah menjadikan
beliau rahmat, Nama-nama Indah (*Asmaul Husna*) itu, sudah memberi beliau
rahmat.
Itu artinya Dia telah menjadikan beliau segala sesuatu yang mungkin sesuai
dengan Kebesaran Allah swt. Bukan sesuai dengan kebesaran manusia. Seorang
raja mungkin memberi, seorang ratu mungkin memberi; seorang tuan besar
mungkin memberi; pemberian mereka sesuai dengan tingkat kedermawanan mereka.
Tetapi mereka tidak memberikan apa yang Allah swt berikan.
Jadi Allah swt sudah memberikan kepada Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*- sesuai dengan tingkat kedermawanan Dia. Tanpa batasan.
Dan itu artinya apapun yang sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- minta
akan diberikan. Dan sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- pernah
berkata, "Akulah tuan dari anak-anak Adam dan aku mengatakannya tanpa
kebanggaan."
Apakah yang beliau ingin ungkapkan? Artinya, "Oh Allah berikan mereka
kepadaku..." Apa menurutmu jikalau pada Hari Pembalasan sang Nabi -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*- mengatakan "berikan mereka kepadaku?" Apa? Allah swt
akan mengatakan "tidak" kepada beliau? Lalu mengapa beliau kan *rahmatan
lil-`alamiin* . Akankah Allah tidak mengabulkan yang beliau inginkan? Lalu
jika tidak maka Dia bukanlah yang maha dermawan.
Kursi itu milik sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-. Dan tiap kursi
di Surga merupakan milik sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-.
Saat Adam melakukan kesalahan karena makan dari pohon itu dan kemudian dia
memohon ampun demi kehormatan Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa
sallam*-Allah swt bertanya kepada beliau, "Apakah yang kau tahu tentang
Muhammad?"
Adam menjawab, "Oh Allah kemanapun aku mengalihkan pandangan, bahkan
diseluruh Surga yang Kau berikan padaku, aku melihat nama Muhammad pada tiap
daun pada sebuah pohon; aku lihat pada tiap tembok surga nama Muhammad; aku
lihat dalam tiap atom terkecil yang dapat terlihat aku melihat nama
Muhammad."
Nama tersebut dituliskan pada tembok-tembok, pada tiap lembar daun pada tiap
pohon, bahkan pada tiap atom. Untuk alasan itu yang aku tahu Ya Rabbii
beliau seseorang yang sangat penting bagi-Mu; bukan bagi kami."
Allah swt berfirman, "Oh Adam, jika bukan karena Muhammad aku tidak akan
menciptakan makhluk. Aku sudah memberikan makhluk kepada Muhammad; dialah
rasul-Ku bagi mereka." Apakah artinya? Alam semesta dimana kita tinggali;
alam semesta yang sangat luas dimana kita tinggal.
[Artinya:] "Oh Adam, Aku telah menciptakan mahkluk untuk dia."
Allah swt berfirman dan aku sudah menyebutkan sebelumnya bahwa *wa in min
shayin illa yusabihuu bi-hamdihi wa lakin*... Tiap atom memuji Allah dengan
cara berbeda, bukan dengan cara yang sama, tiap atom yang sudah Allah swt
ciptakan, tiap makhluk yang sudah Allah swt hidup dan tidak hidup, tiap sel
dalam tubuh manusia ada 3 trilyun sel dalam tubuh manusia, mereka
beregenerasi sepenuhnya tiap 6 bulan. Setiap sel mengucap *tasbih*. Setiap
benda yang tidak hidup, tiap tetesan air memuji Allah… Kita tidak mengenrti
mereka. Siapakah yang mengerti pujian mereka?
Dia yang mendengar pujian mereka ketika sedang berjalan di Jabal Uhud, saat
pepohonan dan batu-batu kerikil memuji Allah dan semuanya memuji Sayyidina
Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-. Allah swt memerintahkan: *inna
Allah wa mala'ikaatahu yushalluuna 'alan-Nabi Yaa ayyuhalladziina aamanuu
shalluu 'alayhi wa sallimuu tashliimaa. *Allah swt memerintahkan tiap
malaikat memuji Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-. Allah
swt swt memerintahkan tiap manusia memuji sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa
sallam*-.
Jadi, alam semesta ini hidup termasuk benda-benda didalamnya baik besar
maupun kecil. Para ilmuwan berkata ada 6 milyar galaksi dan dalam tiap
galaksi ada 80 milyar bintang. Dan tiap bintang lebih besar dari sistem
matahari kita ini. Dan tiap atom dalam tiap bintang dalam tiap galaksi
memuji Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-. Allah swt sudah
memberikan mereka kepada Sayyidina Muhammad* sallallahu alayhi wasalam.*
Wahai manusia bersenang-senanglah . Berbahagialah, jangan bersedih,
berbahagialah. Apapun yang menghadang, datang, hanyalah yang baik dan
pujilah sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-. Kau akan selamat. Kau
pikir semua orang akan masuk ke api nereka. Allah swt akan mengaruniai
beliau dengan *syafa`at* untuk semua orang agar dapat masuk Surga. Kau pikir
Allah swt telah menciptakan makhluk untuk membakar, menghukum, menggilas
mereka. Untuk apa? Allah swt hanya, Allah swt penuh kasih sayang. Ketika Dia
melihat para hamba-Nya menangis dan memohon ampunan dari-Nya, akankah Dia
menolak dengan tidak mengampuni mereka? Aku berkata bukan hanya bagi Muslim.
Barang siapa ada yang keberatan, mereka boleh menyangkalnya!
Kami ingin semua orang masuk ke dalam Surga. Sejak zaman Adam hingga Hari
Pembalasan. Itulah Islam. Itulah pesan Islam. Aku merasa tidak enak karena
kami tidak cukup melakukan kebaikan. Kami merasa tidak enak, kaum Muslim dan
non-Muslim dipelosok dunia. Mengapa mereka merasa tidak enak? Karena ada
sesuatu pada diri kita dan sesuatu yang mengingatkan akan
kesalahan-kesalahan kita.
Kami merasa bersalah. Oh Muslim nikmati hidup ini dengan patuh kepada
Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- dan semua nabi. Sebelum
selesai aku hendak mengatakan satu hal. Bahwa ketika Adam mengamati dan
melihat semua nama Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- pada
tiap daun pada sebuah pohon atau tiap atom di alam semesta di surga dia
mengetahui bahwa semua ini milik Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa
sallam*-.
Adam menangis dan menangis dan bersujud. Dan dia menangis dan tangisannya
bagaikan air bah dan Allah swt meninggalkan dia selama 40 tahun. Dan Allah
swt berkata kepada Adam, "Oh Adam, cukup, angkat kepalamu."
Adam bertanya, "Oh Allah apakah Kau mengampuni aku?"
Allah swt menjawab," Oh Adam, tentu Aku mengampunimu, namun Aku biarkan kau
menangis selama 40 tahun. Mengapa? Karena Nabi terkasih-Ku memohon kepada-Ku
untuk memberi *syafa'at *kepada tiap manusia dalam dirimu Adam. Dan pada
saat itu Aku meninggalkanmu untuk menomori air mata-air mata cucu-cucu Adam.
Dan sampai itu selesai Aku memerintahmu untuk mengangkat kepalamu."
Kami adalah *ummatan marhuuma*. Allah swt sudah merahmati kita dan
mengirimkan rahmat-Nya atas kita demi kepentingan Sayyidina Muhammad
-*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*-.
Apakah deskripsi *tasawwuf* tentang sang Nabi -*sall-Allahu 'alayhi wa
sallam*-? Kami banyak sekali mendengar tentang Sufi, Sufi, Sufi dan kini
begitu banyak institut diseluruh pelosok dunia bertanya apakah Sufisme itu.
Dan syuyukh kami semoga Allah swt memberikan mereka umur panjang, dan semua
syuyukh kami dan aku tidak bisa menyebutkan semua nama mereka dan semua
syuyukh kami Syaikh Tahir ul-Qadri, mereka… mengajarkan murid-murid mereka
tentang *tasawwuf*.
Itu adalah sebuah kebudayaan yang datang dari zaman sang Nabi -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*- hingga hari ini. Kini mereka membuka mata pada *tasawwuf
* karena apa yang orang lain kerjakan. Sehingga mereka berkata, "Ada sebuah
masalah." Dan Syaikh Abu Bakr pernah menyebutkan berkali-kali mengenai hal
itu. Namun aku ingin menyebutkan satu hal. Siapakah sang Nabi -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*-? Apakah kita tahu? Kita tahu foto kuburan beliau. Apakah
kita melihat Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*-? Ya atau
tidak??! [tidak] Mengapa? Kau pikir beliau tidak hadir dalam aula ini. Kau
pikir jika kau memanggil beliau "*Ya Rasulullah Ya rahmatan lil-`alamiin* "
akankah beliau hadir dalam aula ini?
Masalahnya kita buta, tidak dapat melihat. Beliau hadir disini, tentu saja.
Beliau ada disini. Tentu saja beliau melihat kita. Mengapa? Karena
sebagaimana
*awliyaullah* besar ini jelaskan, sebagaimana guru-guru Sufi jelaskan, bahwa
Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- adalah cermin untuk
makhluk. Kau tidak bisa melihat dirimu sendiri kecuali melalui cermin.
Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- adalah cermin dalam
Hadirat Ilahiah yang merefleksikan segala sesuatu yang sudah Allah swt
ciptakan di dunia ini dari tiada menjadi ada. [*naray takbir… naray risalah…
naray…Ahmadi Mustafa marhaba, marhaba. Jaana-e Mustafa nuur Mustafa*…]
Oh Muslim, Oh manusia! Kita adalah refleksi dari Hadirat Ilahiah melalui
cermin *Muhammadun Rasulullah*. Kami masih disini. Inilah gambaran-gambaran
kami. Ini bukanlah realitas (haqiqat) kami. Haqiqat-haqiqat masih berada
dalam Hadirat Ilahiah. Allah swt tidak melepaskannya. Dia sudah
melepaskannya melalui cermin Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa
sallam*- untuk direfleksikan ke bumi. Itulah mengapa Sayyidina Muhyidin Ibn
`Arabi dan banyak guru Sufi, serta Imam Ghazali, pernah berkata, waktu yang
sesungguhnya ketika aku tidak buta adalah saat aku meninggal. Disana aku
membuka mata dan melihat kebenaran.
Muhyidin Ibn 'Arabi pernah berkata bahwa cermin yang merefleksikan segala
sesuatunya dari Hadirat Ilahiah (dari tiada) menjadi ada adalah
direfleksikan dari *Muhammadun Rasulullah*. Jika cermin itu lenyap, maka kau
tidak bisa melihat apa-apa disini, itu akan menjadi sebuah harta tersembunyi
sepenuhnya dalam Hadirat Ilahiah. Dia ingin muncul, Dia jadikan untuk
direfleksikan dalam kehidupan ini melalui cermin Muhammad -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*-. Karena kita adalah refleksi dalam cermin lalu siapakah
yang bertanggung jawab? Cermin atau refleksi/pantulanny a? Cermin adalah
satu-satunya yang bertanggung jawab. Kita hanya membuat retakan-retakan
terhadap cermin ini.
Menurutmu Allah swt, ketika bebatuan datang ke sebuah mobil, tidakkah kau
lihat kaca mobil pecah? Tidak, kau hanya melihat retakan-retakan. . Kaca
tidak pecah tapi retak-retak. Sayyidina Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa
sallam*- tidak menerima walau hanya retak-retak pada cermin beliau. Itulah
mengapa kita masih berada dalam hadirat ilahiah yang murni. Itulah mengapa *
awliyaullah* berkata kau belum melihat apa-apa. Apa yang kau lihat hanyalah
gambar-gambar. Tunggu. Tunggu sampai kau meninggalkan* dunya ini*.
Kami memohon, "Oh Allah, perlihatkan kepada kami haqiqat beliau. Jangan
tinggalkan kami di *akhirat**. *Di *akhirat* semua orang akan melihat
beliau. Kami ingin melihat beliau disini. Namun kami memohon,* "Ya *Rasulullah,
biarkan kami melihat anda. Muncullah kepada kami! Kami adalah hamba yang
lemah. Muncullah kepada kami, muncullah dalam hati kami. Anda muncul kepada
*awliyaullah. * Tetaplah bersama kami dalam tiap kesempatan hidup kami."
Itulah apa yang kami mohon, Oh Allah, demi kepentingan *awliya*-Mu dan demi
kepentingan Sayyidina Muhammad, ijinkan kami berada dalam hadirat Sayyidina
Muhammad -*sall-Allahu 'alayhi wa sallam*- dalam tiap kesempatan dalam hidup
kita. Biarkan hati kita berkata Muhammad, Muhammad, Muhammad -*sall-Allahu
'alayhi wa sallam*-. Semoga Allah mengampuni kita.
Cinta dari Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani kami dan selamat-selamat kepada
kalian semua dan kepada Syaikh Tahir al-Qadiri dan kepada semua yang
berpartisipasi dalam pertemuan yang dirahmati ini.
*Wa min Allah at tawfiq*
Subscribe to:
Posts (Atom)


